Memahami Teologi dan Spiritualitas Prapaskah

User Rating:  / 7
PoorBest 

Pengantar

Sebagai orang Katolik, kita mengenal Masa Prapaskah. Memasuki masa Prapaskah biasanya kita mulai dengan sikap tobat. Kendati, selama masa liturgi dan sepanjang tahun kita juga membina sikap tobat, namun dalam masa prapaskah penekanan tobat amat penting. Karena itu, kita perlu memahami: Apa itu teologi dan spiritualitas Prapaskah? Mengapa kita memahami? Apa yang harus kita lakukan? Komitmen apa yang harus kita lakukan? Kita harus sungguh-sungguh berpaling kepada Allah

Teologi dan Spiritualitas Prapaskah

Masa Prapaskah bukanlah suatu warisan arkeologis dari praktek askese dalam sejarah Gereja abad-abad tertentu, tetapi merupakan suatu masa yang dipersembahkan secara khusus untuk menghidupkan peran serta Gereja pada Misteri Paskah Kristus, “… kita mengambil bagian pada penderitaan demi penderitaan-Nya untuk mengalami juga Kemuliaan-Nya” (Rm 8: 17). Inilah inti Masa Prapaskah di mana Kristus membenahi Gereja, Mempelai-Nya tercinta (Ef 5: 25-27). Dengan demikian tekanan lebih ditujukan kepada pertobatan dan pengudusan dalam Tuhan, bukannya sekedar ramai-ramai mempraktekkan askese.

Usaha pertobatan adalah tanda keikutsertaan kita pada pengalaman Kristus yang demi kita, berpuasa di padang gurun selama 40 hari. Seraya menjejakkan langkah di masa Prapaskah, Gereja menyadari bahwa Tuhan sendirilah yang memberikan rahmat-Nya bagi umat terkasih yang datang bertobat; dengan demikian pertobatan bernilai sebagai tindakan liturgis di mana Kristus berkarya menguduskan Gereja-Nya. Gereja merupakan komunitas Paskah berkat Sakramen Pembaptisan di mana orang diajak setiap kali menghayati hidup iman secara konsekuen lewat pertobatan yang terus menerus. Karena itu secara hakiki Masa Prapaskah bercorak baptis di mana atas janji baptis seseorang terdorong untuk setiap kali mau bertobat.

Secara eklesial Masa Prapaskah merupakan himbauan bagi seluruh umat Allah untuk bersama membuka diri bagi Tuhan Sang Penyelamat yang hendak membersihkan dosa-dosa kita dan menguduskan kita. Oleh karena itu, perbuatan tobat tidak hanya secara individual tetapi secara eksternal dalam kaitan dengan orang-orang lain, sebab:

  • Dosa artinya menentang Allah
  • Dosa mempunyai konsekuensi sosial
  • Sikap bertobat merupakan juga tanggung jawab Gereja
  • Kita semua berkewajiban moril untuk mendoakan kaum pendosa.

Sarana yang ditampilkan untuk mengungkapkan sikap tobat di dalam Masa Prapaskah ialah

  • Lebih tekun mendengar dan merenungkan Sabda Tuhan
  • Lebih rajin berdoa
  • Berpantang dan berpuasa
  • Meningkatkan karya-karya amal dan cinta kasih

Kegiatan pastoral hendaknya lebih kreatif untuk mewujudkan upaya-upaya tersebut di atas sambil memperhitungkan penyesuaiannya dengan situasi dan zaman, tetapi jangan sampai terlalu jauh keluar dari rel Masa Prapaskah itu sendiri. Kita berusaha membantu umat beriman agar memperbarui janji dan semangat baptis  secara perorangan maupun kelompok sehingga terarah untuk merayakan Paskah secara lebih meresap di hati dan menggairahkan optimisme dalam mengikuti Kristus sebagai jalan kebenaran dan kehidupan. Patut diakui bahwa sebagai umat Kristiani kita sekalian dirintis oleh dinamika Paskah.

Penutup

Betapa pentingnya kita menghayati ajaran dan spiritualitas Prapaskah. Sebab, masa Prapaskah merupakan masanya kita untuk bertobat, untuk kembali kepada Allah, dan memasuki relasi yang mesra dan mendalam dengan Kristus. Bertobat berarti kita menyesuaikan keberadaan kita dengan kehendak Allah. Karena itu, kita rela meninggalkan kecenderungan kepada dosa, dan hanya mencari dan menyandarkan seluruh hidup kepada Yesus Kristus. Masa Prapaskah menyadarkan kita bahwa kita adalah manusia yang lemah dan berdosa dan kita hanya menyandarkan kekuatan dari Allah. (Sumber: Bosco dan Cunha O.Carm, Merayakan Karya Penyelamatan dalam Kerangka Tahun Liturgi, Yogyakarta: Kanisius, 1992, hlm. 70-72).

www.carmelia.net © 2008
Supported by Mediahostnet web hosting