header carmelia 01.jpgheader carmelia 02.jpg

Kepercayaan kepada Allah menurut Santa Teresia dari Lisieux

User Rating:  / 6
PoorBest 

 

Adalah tidak cukup bahwa kita mengakui kekecilan dan ketidakmampuan kita, bahwa kita menyadari kemiskinan dan keburukan kita dan bahkan bila kita senang melihat diri kita dalam keadaan ini. Kesenangan untuk menerima kebenaran ini memiliki — tidak diragukan lagi — keuntungan yang tak ternilai dalam menempatkan dan menjaga agar kita tetap berada pada jalan yang seharusnya; tetapi hal ini (kesadaran akan keterbatasan dan kekecilan diri) juga bisa mengakibatkan kepercayaan kepada diri sendiri yang berlebih-lebihan. Namun, melampaui dan mengatasi hal itu, suatu kesadaran akan keterbatasan diri sendiri membuat kita semua harus, tidak boleh tidak, mengandalkan bantuan Tuhan untuk menopang kita dalam usaha kita menuju kesempurnaan.

Seorang anak, dalam kelemahan dan kemiskinannya, lari kepada ayahnya untuk meminta pertolongan. Demikian juga yang seharusnya terjadi dalam hidup rohani. Seorang anak Allah tahu bahwa ia mempunyai seorang Bapa di surga. Ia mendekati Allah dengan penuh kepercayaan dan mengharapkan bantuan-Nya sehingga ia yang lemah dan tanpa daya dapat melakukan apa yang tak mampu dilakukannya dengan kekuatannya sendiri. Bahkan dengan sedikit pengetahuan akan hati Bapa surgawinya akan memberikan ia kepercayaan yang tanpa batas di dalam Dia, karena bila Allah adalah seorang Bapa, Ia pasti memiliki kualitas yang memadai untuk mengasihi sebagai seorang Bapa kepada anak-anaknya, seperti kelemahlembutan, kesetiaan, penuh perhatian. Oleh karena Ia adalah Allah, sifat-sifat ini menjadi tidak terbatas pada-Nya. Ia memiliki kebijaksanaan dan kekuasaan yang tak terbatas; Ia mengetahui segalanya; sanggup melakukan segalanya, dan sifat-sifat-Nya ini tunduk kepada cinta kasih-Nya yang penuh kerahiman. Ini berarti bahwa kepercayaan seorang anak Allah tidak mengenal batasan.

Selain itu, Allah telah membuktikan kepada kita bahwa kerahiman-Nya tak terbatas. Bapa telah memberikan kepada kita Putera tunggal-Nya, dan membiarkan Dia untuk menderita siksaan-siksaan yang paling keji. Anak ini, dan pihak-Nya, “menghancurkan diri-Nya sendiri”, membungkus diri-Nya dengan kesengsaraan manusia. la mengorbankan diri-Nya di atas Salib. Ia memberikan diri-Nya kepada kita sebagai santapan, supaya kita dapat diubah di dalam Dia dan disatukan dengan Tubuh Mistik-Nya.

Seperti seekor “Anjing Pelacak dan Surga,” cinta kasih Allah senantiasa memburu jiwa-jiwa kita. Bapa senantiasa membungkus kita di dalam kelembutan-Nya yang tak terbatas. Yesus tidak pernah berhenti mencintai kita. Ia selalu siap untuk mencurahkan rahmat-Nya atas diri kita, menerangi, menghibur, menopang dan mengubah kita, dan pada akhirnya membawa kita untuk ambil bagian dalam kemenangan dan kemuliaan-Nya.
Teresia, dalam usianya yang muda telah mendapatkan pengertian akan kerahiman tak terbatas dan Bapa surgawi dan ia mengerti dengan lebih jelas lagi sejalan dengan perkembangannya dalam pengenalan yang mesra akan Allah. Adalah melalui prisma kerahiman itu ia merenungkan dan memuja kesempurnaan-kesempurnaan lain dan Allah. Dalam terang itu, setiap sifat dan Allah tampak berseri-seri dalam cinta kasih serta membangkitkan rasa hormat.

Namun, kerahiman Allah bukanlah satu-satunya dan keyakinan kita. Bapa memberikan Putera-Nya “dan dengan Dia semua yang baik.” Kita bisa, karena itu, mengandalkan jasa-jasa dan Yesus Knistus. Semuanya itu milik kita dan kita dapat memperlihatkannya di hadapan Bapa sebagai milik kita.

Berdasarkan hal in bagaimana kita dapat menaruh keraguan akan pemeliharaan Tuhan? Bukankah justru sebaliknya kita harus terdorong untuk memiliki kebutuhan yang besar akan kepercayaan ini? Jelas hal ini semakin terbukti sebagaimana bila kita mengingat bahwa semua yang dapat kita minta dan Tuhan sama sekali tidak dapat dibandingkan dengan apa yang telah Tuhan berikan atau janjikan kepada kita. Memang benar bahwa Tuhan juga Maha adil, tetapi kekakuan keadilan-Nya telah diperlunak dengan campuran cinta kasih dan kerahiman-Nya. “Keadilan itu sendiri,” kata Theresia, “bahkan tampak bagi saya lebih terselubung oleh cinta kasih daripada kesempurnaan ilahi lainnya.” Bila keadilan menuntut bahwa Allah meminta kepada kita apa yang menjadi hak-Nya dan bahwa Ia membuat kita menebus kesalahan-kesalahan kita, ia (keadilan) juga mempertimbangkan keterbatasan manusiawi kita. Ia mempertimbangkan kelalaian kita, kelemahan kita dan semua keadaan yang dapat memperkecil kesalahan dan si pendosa. Allah mengetahui lebih daripada siapa pun, tanah liat dengan mana kita dibentuk dan beban-beban yang menekan kehendak kita dan yang menghambat kebebasan kita.

“Keadilan itu, yang telah menakuti banyak sekali jiwa,” tulis Teresia, bagi saya merupakan sumber sukacita dan kepercayaan. Keadilan mempunyai arti yang lebih daripada sekedar bertindak tegas dalam menghukum yang bersalah. Ia juga mempertimbangkan niat-niat yang baik serta berkeinginan untuk memberikan imbalan atas kebajikan kita. Saya mengharapkan, dalam kadar yang sama besar, keadilan dan Allah kita yang baik maupun kerahiman-Nya.” “Justru karena Ia adil, maka Ia berbelas kasih dan penuh dengan kelemah lembutan, lambat dalam menghukum dan berlimpah dalam pengampunan. Karena Allah mengetahui kelemahan kita. Ia mengetahui bahwa kita hanyalah debu. Sebagaimana seorang ayah sayang kepada anak-anaknya, demikian jugalah belas kasihan Tuhan terhadap kita.

Jadi, apakah kita merenungkan kerahiman Allah, yang menyebabkan Ia senantiasa menghendaki kebaikan kita dan cenderung menaruh belas kasihan kepada kita, ataupun apakah kita melihat keadilan-Nya kita memiliki semua alasan dalam dunia ini untuk menaruh kepercayaan yang paling penuh di dalam Dia.

Teresia sedemikian diresapi oleh kebajikan kepercayaan ini, sehingga menurut Muder Agnes, “Hal itu telah meninggalkan tanda yang khusus dalam jiwanya.” “Jalanku,” ia sendiri menulis, “Adalah jalan yang penuh kepercayaan dan cinta.” Ia mencoba menekankan hal ini kepada semua orang yang berbicana dengannya, menegaskan bahwa “kita tidak akan pernah memiliki kepercayaan yang terlalu besar kepada Allah yang baik yang begitu berkuasa dan penuh belas kasihan” dan bahwa “kita menerima dan Dia sebanyak yang dapat kita harapkan akan kita terima dari Dia.”

Ia menegaskan pula bahwa “kekurangan kepercayaan menyinggung perasaan Yesus dan melukai Hati-Nya.” Akhirnya, sejauh yang juga menyangkut dirinya sendiri, “untuk membatasi kerinduan-kerinduan dan harapan-harapan kita berarti bahwa kita menolak ketakterbatasan kebaikan Allah.”

Dalam halaman-halaman yang mengagumkan tempat ia menulis sebagai permintaan dan Suster Maria dari Hati Kudus, ia menenangkan dalam suatu cara yang menarik bahwa bukan tanpa batasan, sejauh mana kita harus memiliki kepercayaan dalam cinta. Ia melukiskan dirinya sendiri sebagai seekor burung kecil, ditutupi hanya 0leh bulu yang tipis namun dengan mata dan hati seekor elang berani untuk menatap matahan Cinta Kasih dan sangat berharap untuk terbang kepada-Nya. Namun sayangnya, ia hampir tidak mampu untuk mengangkat sayap-sayapnya, tapi hal ini tidak menyedihkannya. Dengan keberanian yang mantap, ia tetap di tempatnya, dengan pandangan senantiasa terarah kepada matahari tanpa mempedulikan awan, angin dan hujan. Apabila, dalam saat-saat tertentu, awan yang gelap menutupi matahari, burung itu tetap tidak tergoyahkan, karena ia tahu bahwa mataharinya tetap bersinar (walaupun tidak dapat terlihat). Bahkan apabila diterpa oleh badai dan diserang godaan-godaan, dan bahkan tampak sudah kehilangan pegangan akan apa yang akan terjadi, ia tetap tinggal dalam tempatnya yang sempit itu dan terus menatap ke arah sinar yang tidak dapat lagi dilihat oleh mata. Ini adalah, jadinya, sebuah kesempatan untuk mendorong kepercayaannya sampai kepada titik puncaknya, dan di dalamnya ia menemukan sukacita yang sempurna.

Tetapi mungkin juga bahwa burung kecil tadi, akibat tidak mampu bangkit, melupakan mataharinya, tenggelam dalam kesukaran duniawi dan membiarkan sayap-sayapnya menjadi basah kuyup. Walaupun demikian, Ia tidak boleh jatuh dalam keputusasaan. Ia tidak boleh sembunyi, untuk meratapi ketidakmampuannya dan kemudian mati dalam kesedihan. Sebaliknya ia harus berpaling kembali kepada mataharinya, mengeringkan sayap-sayapnya dalam sinar dan bintang kesayangannya dan mengutarakan ketidak-setiaannya kepadanya, “karena dalam keberanian untuk percaya kepadanya, ia percaya bahwa ia akan menarik kasih yang lebih besar lagi dan Dia yang tidak datang untuk mereka yang benar, namun untuk mereka yang berdosa.”

Dan seandainya, setelah semuanya itu, harapannya tetap tinggal tak terpenuhi, bila bintang itu tetap tersembunyi... makhluk kecil itu memutuskan untuk tetap tinggal di tempatnya, menggigil kedinginan, namun bersukacita dalam penderitaan yang sepantasnya ia terima.

Akhirnya, dapat pula terjadi kepada burung itu, tidak mampu untuk melihat bintang itu, karena terselubung sama sekali, berakhir — kecewa kepada dinnya sendiri — dengan menutup matanya dan menyerah kepada rasa kantuknya. Itu tidak menjadi soal. Bila ia bangun dan menyadari apa yang telah terjadi, jauh dan meratapinya, ia haruslah memulai kembali pelayanan cinta kasihnya dan tinggal tetap dalam suatu keadaan damai di dalam. Dan Teresia menyimpulkan: “O Yesus, betapa bahagianya burung kecil-Mu itu dalam kelemahan dan kekecilannya! Apa yang akan terjadi padanya, seandainya ia besar? Ia tidak akan memiliki keberanian untuk bertindak dalam sikapnya yang seperti anak kecil terhadap Engkau!”

www.carmelia.net © 2008
Supported by Mediahostnet web hosting