header carmelia 01.jpgheader carmelia 02.jpg

Peranan Roh Kudus dalam Hidup Santa Teresia

User Rating:  / 4
PoorBest 


“Barangsiapa dibimbing oleh Roh Allah adalah putera Allah” (bdk. Rm 8:14)

 

Ciri Teresia yang amat menonjol ialah: devosi dan keterangan dan ajaran tentang sifat seorang anak dalam arti rohani. Jalan Kecilnya adalah “Jalan anak dalam arti rohani, ia adalah teladan hidup seorang “putra Allah” dalam arti injii. St. Paulus sengaja berkata bahwa anak-anak Allah adalah mereka yang membiarkan diri-Nya dibimbing oleh Roh Allah. Saya kira, di sinilah letaknya penjelasan teologis dan hidup dan spiritualitas St. Teresia dari Kanak-kanak Yesus.

Semua orang setuju bahwa maksud ilmu askese ialah supaya manusia patuh kepada kegiatan Roh Kudus di dalam hatinya. Alasan teologisnya ialah Allah, Roh Kudus, Dia sendirilah yang menghasilkan, menghadirkan di dalam jiwa, hidup adikodrati, hidup ilahi, kekudusan. Semua menyetujuinya, namun bukan semua menggunakan prinsip ini sebagai dasar ilmu askese secara sama jelasnya. Ada yang hampir-hampir mengabaikannya saja. Dalam praktek, mereka seakan-akan mengajak jiwa percaya bahwa segala sesuatu tergantung pertama-tama dan terutama, dan usaha pribadinya, niat-niatnya yang banyak dan berbelit-belit.

Metode-metode ini bukannya lebih dahulu melapangkan jiwa dan membuatnya melupakan dirinya dengan jalan membalikkannya kepada Tuhan lewat iman akan Kasih-Nya, dengan kerendahan hati dan kepercayaannya, mereka malahan mengarahkan jiwa kepada dirinya sendiri, sehingga ia melelehkan dirinya dengan menganalisa diri dan dengan bermacam-macam usaha, yang seringkali hampir-hampir tak ada hasilnya sama sekali. Benar, jiwa itu disuruhnya berdoa, sebab orang tak dapat berbuat apa-apa tanpa Tuhan, tetapi dalam prakteknya, metode-metode bukan mengarahkan jiwa kepada Tuhan melainkan mengurung dirinya; bukan mendorong jiwa untuk meninggalkan diri sendiri, supaya Tuhan dapat menyempurnakannya, mereka malahan menyebabkan jiwa menutup diri guna mencapai kesempurnaan. Sehingga mereka jadi lebih merumitkan peraturan-peraturan untuk menjalankan keutamaan-keutamaan, beserta banyak macam tingkat-tingkatnya, pembagian-pembagiannya yang tak ada habisnya.

Saya kira, metode-metode itulah yang dimaksud Teresia kalau ia berkata: “Kadang-kadang, bila aku membaca uraian-uraian tertentu yang melukiskan jalan kesempurnaan sebagai sesuatu yang dirintangi seribu macam halangan, maka hatiku yang malang ini menjadi cepat lelah. Buku ilmiah itu kututup, kepalaku jadi sakit dan hatiku menjadi kering, lalu kubaca Kitab Suci. Maka segala sesuatu menjadi terang benderang... kesempurnaan kelihatan jadi mudah; kulihat bahwa sudah cukup kalau mengakui ketidak berartiannya dan bagaikan seorang anak, aku menyerahkan diriku ke dalam tangan Tuhan” (Otobiografi). “Barangsiapa dibimbing oleh Roh Allah, adalah anak-anak Allah.” Kata-kata itu hampir sama. Buku-buku muluk yang tidak dapat dipahaminya, apalagi mempraktekkannya, dibiarkan Teresia bagi jiwa-jiwa yang agung dan ia senang karena ia kecil, sebab hanya anak-anak dan yang seperti mereka saja akan diperbolehkan masuk ke surga.

Metode-metode ini menjauhkan kita dari kesederhanaan Injil. Kesederhanaan rohani itulah yang paling pasti menjadi ciri askese Theresia. Ia mengajar jiwa-jiwa untuk pergi kepada Tuhan, supaya dibebaskan dan kehinaannya, membiarkan dirinya ditarik oleh Tuhan, bersandar pada Dia, menyerahkan diri kepada Dia; upaya yang dicari Teresia dalam membiarkan jiwa digarap dan dibimbing oleh Roh Kudus. Seluruh hidupnya hanyalah merupakan contoh praktis dan amat dianjurkan sebagai prinsip dasariah askese dan teologi mistik: “Barangsiapa dibimbing oleh Roh Allah...” Saya menyebutnya prinsip teologis, sebab teologi Teresialah yang saya renungkan dalam konferensi ini. Terus terang saya mengakui ketidakmampuanku, mengagumi betapa kokoh dan dalamnya teologi Teresia. Saya tertarik, karena secara tak sadar ia telah merangkum ajaran teologi, malahan teologi yang paling mendalam dan yang tunggal, menjadi: kehidupan Allah di dalam jiwa kita.

Saya usulkan untuk mengambil dua halaman dari bukunya. Semakin banyak kurenungkan dua halaman itu, semakin jelas kelihatan bahwa itu merangkum seluruh ajaran Teresia tentang askese. Pada bagian pertama terasa, secara polos dan sederhana, ungkapan St. Paulus sendiri: “Barangsiapa dibimbing oleh Roh Allah...” Inilah yang disebutnya: “Aku sudah selalu ingin menjadi seorang kudus, tetapi ah, selalu kulihat bahwa bila kubandingkan diriku dengan mereka, perbedaannya sama dengan perbedaan antara puncak gunung yang menghilang dalam awan, dan sebutir pasir yang diinjak-injak orang yang lewat. Aku sama sekali tidak menjadi putus asa, kukatakan kepada diri sendiri: Allah tak pernah akan memberikan keinginan-keinginan yang tak dapat dipenuhi…
(bdk. Otobiografi). Marilah di sini kita berhenti sebentar. Pemikiran Santa ini menakjubkan. Allah, Roh Kudus, tak pernah mengilhamkan sesuatu yang tak dapat dipenuhi. Tak hanya menimbulkan keinginan untuk memenuhinya, dan atas cara yang lebih sempurna daripada yang dapat kita bayangkan atau kita minta.

Maka, keinginan-keinginan jiwa,, seutuhnya berasal dan Allah. Kata “keinginan” senantiasa diucapkan Theresia, jadi tentu besar artinya. Keinginannya itu klasik, melampaui segala batas, bahkan melampaui segala akal sehat; agung dan tak terbatas. “Katakanlah pada diri sendiri; Tuhan tak mungkin memberi keinginan-keinginan yang tak dapat dipenuhi: sebab itu, kendati kekecilanku, aku dapat mencita-citakan kekudusan. Memperbesar diriku tak mungkin. Maka aku harus puas untuk tetap seperti adanya, dengan semua ketidaksempurnaanku yang luar biasa banyaknya. Akan tetapi akan kucoba menemukan suatu jalan kecil yang langsung menuju surga - suatu jalan pintas - jalan kecil yang sama sekali baru. Yang lama sudah berumur satu abad; zaman sekarang orang tidak usah lagi naik tangga selangkah demi selangkah; di rumah-rumah orang kaya lift sudah menggantikannya. Aku juga mau mencari sebuah lift untuk mengangkat aku kepada Yesus, sebab aku terlalu kecil untuk menaiki tangga kesempurnaan yang curam. Betapa banyak jiwa mengatakan hal yang sama, lalu tinggal di kaki tangga dengan putus asa. Maka aku mulai mencari dalam Kitab Suci, keterangan tentang lift ini, yang dirindukan jiwaku: kubaca kata-kata ini yang langsung keluar dan bibir Sang Bijaksana sendiri: ‘Barangsiapa kecil, hendaklah datang kepada-Ku!...’ (Amsal 9:4). Maka Tuhan mendekat, sebab aku tahu bahwa sudah kutemukan apa yang kucari. Karena aku ingin tahu apa yang akan diperbuat-Nya dengan yang kecil, aku terus mencari, dan inilah yang kutemukan: ‘Sebagaimana seorang ibu membelaimu, demikian Aku akan menghibur kamu... Aku akan menggendongmu dan akan Ku-timang di atas pangkuan-Ku’ (Yes. 66,13). Wahai, tak pemah ada kata-kata yang lebih lembut, lebih manis, yang menggembirakan hatiku. Lift yang akan mengangkat aku ke surga adalah tangan-Mu, ya Yesus! Aku tak usah menjadi lebih besar, sebaliknya aku harus tetap kecil, dan menjadi semakin kecil lagi.” (otobiografi).

“Tangan Yesus” — istilah teologisnya berarti Roh Yesus, Roh Kudus beserta kurnia-kurnianya, itulah yang seolah-olah tangan-Nya yag mengangkat kita. “Lift” adalah uraian yang tepat sekali bagi Roh Kudus. Secara modern St Paulus mengatakan: “Barangsiapa dibimbing oleh Roh Kudus.” Dalam soal kekudusan memang Roh Kuduslah yang menggerakkan dan mengangkat kita, menggendong dan membopong kita kepada penyempurnaan cinta, kepada Kekudusan.

Apakah yang dituntut dan kita? Kerendahan hati dan kepercayaan: “Barangsiapa kecil,
biarlah ia datang kepada-Ku!” Diterangi Roh Kudus, Teresia mengerti dengan sempurna kata-kata kebijaksanaan ini. “Menjadi kecil sekali”, artinya: mengetahui dan mencintai ketidak berdayaan kita, dan karena “pergi kepada Dia”, yaitu kepada Cinta yang tak terbatas, begitulah caranya kita menaiki lift. Lalu Ia mengangkat kita; Dia yang mengangkat, bukan kita. Yang harus kita lakukan ialah, jangan mencampurinya, kita menyerahkan diri pada gerakan-Nya ke atas. Ia akan mengangkat kita mengatasi diri kita sendiri, mengatasi kejahatan dan kekurangan-kekurangan kita, dan sedikit demi sedikit membebaskan kita dari diri kita sendiri, dari egoisme kita! Itulah karya Dia, karya-Nya yang hakiki. Dia akan melakukan karya ilahi ini, bila kita merealisirnya dalam diri kita, sama sekali tidak bersandar pada diri sendiri, melainkan terlebih bersandar pada Dia, tanpa ada rasa takut, tanpa ragu-ragu dan tanpa pamrih, bersandar pada Cinta-Nya yang Mahakuasa yang diberikan dengan cuma-cuma. Kalau ada keinginan mencintai, kerendahan hati, kepercayaan; sudah cukup.

Saya kira, inilah seluruh diri Theresia: seluruh kekudusannya, seluruh spiritualitasnya. Pertama, kerinduan untuk mencintai Tuhan dengan sempuma; ditambah kerendahan hati: “Barangsiapa kecil” dan terakhir, kepercayaan: “Biarlah ia datang kepada-Ku.” Jiwa berpasrah diri, ia naik lift, artinya ia diangkat ke atas, “Ia dibimbing oleh Roh Tuhan.”

Sesudah mencoba merangkum “Jalan Kecilnya”, Teresia sampai kepada unsur-unsur teologisnya. Sekali lagi: saya kira seluruh ajarannya tercantum di sini. Akan tetapi, dapat ditanyakan, bagaimana halnya dengan soal memperbaiki kesalahan-kesalahan kita dan memperoleh keutamaan-keutamaan? Bagaimana halnya kerjasama manusiawi di jalan kesempurnaan? Saya yakin, bahwa bagi Teresia, semuanya ini termasuk, tetapi atas cara yang lebih baik, dalam perumusan sederhana, penyerahan diri dengan rendah hati dan kepercayaan. Hendaknya jiwa itu tulus dalam pemberian dirinya ini, menyerahkan dirinya seadanya, beserta semua kekurangan-kekurangan dan kejahatannya kepada Cinta yang penuh Belas Kasih yang mahakuasa yang dipercayainya. Saya katakan, yang dipercayainya, sebab di sini kita lihat pentingnya iman akan Cinta yang penuh Belas Kasih dan Bapa Surgawi terhadap kejahatan kita. Tentu saja jiwa tidak dibebaskan dari kerjasama dan usaha. Namun dalam menjalankannya, ia lebih memandang kepada Tuhan daripada kepada dirinya sendiri; ia menaruh kepercayaannya pada Tuhan dan lebih menyerahkan diri pada Tindakan Tuhan daripada mau bertindak sendiri. ‘Dibimbing oleh Roh Allah.’ Secara menyeluruh, bagian yang utama, gerakan pertama adalah tindakan Tuhan. Jiwa bertindak dan berusaha, namun ia sadar bahwa pertama-tama dan terutama ia ditantang oleh Allah, oleh Kasih; ia tahu bahwa ia dicintai. Karena itu ia percaya, dan ini adalah kekuatannya. Usahanya pun rendah hati dan tenang, tanpa mengganggu ketenangannya dan penuh kesabaran, tidak terburu-buru atau cemas: dan yang terpenting, tanpa putus asa.

Marilah kita sekarang melihat halaman ke-2 yang saya sebut. Halaman ini menguraikan secara langsung tentang usaha jiwa, menjelaskannya dan menyempurnakan teologi tentang kehidupan, atas cara yang menakjubkan.

Ketika itu Teresia bertugas sebagai Pemimpin Novis. Salah seorang novis merasa putus asa karena gagal memperbaiki ketidaksempurnaannya. Teresia berkata: “Kamu mengingatkan saya akan seorang anak kecil yang mulai belajar berdiri, tetapi masih tertatih-tatih. Karena ingin sampai kepada ibunya yang ada di atas tangga, ia terus menerus mengangkat kakinya untuk naik satu langkah; upaya yang sia-sia. Setiap kali ia jatuh lagi, sama sekali tak ada kemajuan. Nah! Jadilah kamu anak itu. Dengan menjalankan setiap keutamaan, terus menerus mengangkat kakimu untuk menaiki tangga kesempurnaan, dan jangan berkhayal bahwa kamu akan dapat naik anak tangga pertama itu! Tidak, tapi Tuhan tidak minta lebih daripada kemauanmu yang baik. Dan atas tangga, Ia memperhatikan kamu. Segera, Ia dikalahkan oleh upayamu yang sia-sia, akan turun, menggendongmu, membawamu untuk selamanya ke dalam kerajaanNya — yang tak pernah lagi kamu tinggalkan” (Otobiografi).

Inilah uraian yang tepat tentang kerjasama kita dalam karya pengudusan kita; inilah yang dikehendaki Tuhan; kehendak baik kita, keinginan menyenangkan Dia dan usaha-usaha kita yang kecil dan hina. Itulah saja yang dapat kita lakukan, usaha-usaha kita yang kecil dan sia-sia. Bila Tuhan memutuskan bahwa kita sudah cukup menunjukkan kehendak baik kita, artinya, bila kita berjalan terus dengan rendah hati dan sabar, selalu berusaha menyenangkan Dia, kendatipun semua yang kita lakukan itu sia-sia, bila Ia turun dan menggendong kita: inilah lagi lift itu! Tetapi kali ini bagian kita bersama Tuhan...

Alangkah damai dan tenang caranya ia melukiskan usaha mencapai kesempurnaan itu, daya upaya untuk mendapatkan keutamaan! Kita merasa bahwa jiwa seutuhnya terarah pada Tuhan, beristirahat total di dalam Dia, bahkan bila ia sedang bertindak atau bekerja, mempercayai Dia sepenuhnya, biarpun dalam kegagalan dan ketidaksempumaan. Kita merasa bahwa jiwa terlalu sibuk dengan Tuhan, sehingga bahkan kalau berusaha untuk maju dalam hal ini atau itu, mendapatkan keutamaan ini atau itu, tujuannya adalah terlebih supaya dirinya berkenan pada Tuhan daripada untuk menyempurnakan diri, dua hal ini de facto berbeda.

Menyerahkan diri, pasrah tanpa memikirkan kepentingan diri sendiri atau sibuk dengan dirinya sendiri: pasrah. Cukup! Itulah sebabnya “Kekudusan tidak terdapat dalam perbuatan ini atau itu, melainkan dalam sikap hati yang membawa kita ke dalam tangan Tuhan, dengan rendah hati dan kecil, menyadari kelemahan kita dan percaya penuh akan kebaikan kebapaan-Nya” (Percakapan Akhir). Akan tetapi betapa sedikit jumlah orang yang pandai menjalankannya! “Kita harus bersedia untuk tetap kecil dan lemah selalu, dan justru inilah yang sulit... Marilah kita mencintai kekecilan kita, mencintai perasaan tak berarti, maka kita akan betul-betul bersemangat kemiskinan, padahal masih betapa jauh kita dan sikap itu, Yesus akan datang dan mencari kita. Ia akan mengubah kita menjadi nyala cinta yang hidup” (Otobiografi). Demikianlah segala sesuatu berguna untuk mempersatukan jiwa dengan Tuhan.

Inilah keadaan yang harus kita capai menurut Teresia, “jiwa kedil”, sikap seorang anak Allah yang membiarkan dirinya ditarik, diangkat, digendong oleh tangan Yesus, artinya oleh Roh Cinta Kasih. Inilah ajaran Injil. Marilah kita kembali menjadi anak kecil! (Disadur dari Berpadang Gurun Bersama Santa Teresia dan Kanak-kanak Yesus).

 

www.carmelia.net © 2008
Supported by Mediahostnet web hosting