Penyerahan Diri dalam Hidup Santa Teresia dari Kanak-Kanak Yesus

User Rating:  / 10
PoorBest 
 

Sepanjang hidupnya, Teresia menanamkan dalam dirinya kemurahan hati yang mantap dan kesetiaan yang teguh tak tergoyahkan untuk mencapai apa yang menyenangkan bagi Tuhan. Niatnya senantiasa tidak berubah untuk melakukan kehendak Tuhan dan untuk tidak memiliki kehendak lain selain kehendak Allah.

Karena cintanya yang begitu besar akan kehendak ilahi itulah yang mendorongnya untuk berusaha sebaik mungkin untuk menjalani hidup religius dalam seluruh kesempurnaannya. Ia juga mengetahui, merupakan kehendak Tuhan bahwa kita harus saling mengasihi, oleh karena itu ia selalu berusaha untuk mengasihi sesamanya seperti Yesus mengasihi. Dia memiliki hasrat yang begitu besar untuk menderita, karena menurutnya hal itu merupakan bukti yang paling mulia dan cinta kasih, cara yang paling sesuai untuk menjadi serupa dengan Sang Penyelamat Ilahi, dan sarana yang terbaik untuk menyadari kehendak Allah untuk menyelamatkan jiwa-jiwa.

Kemudian menjelang akhir tahun 1895, Ia sampai pada kesimpulan bahwa ada suatu tingkatan cinta kasih yang bahkan lebih tinggi daripada keinginan untuk menderita. Sementara saat memberi sentuhan-sentuhan akhir pada manuskripnya yang pertama, ia menyadari bahwa seluruh keinginannya terpenuhi, tidak hanya kerinduannya akan kesempurnaan, tapi juga hal-hal yang sebelumnya ia anggap sebagai kesia-siaan, kendatipun ia belum pernah mengalaminya. “Ini adalah suatu karunia akan kerahiman Ilahi”, katanya.

Namun tibalah saatnya bahwa kerinduannya berubah menjadi satu belaka. “Sekarang saya memiiki”, ia menyatakan, “Tak ada satupun kerinduan lain selain mencintai Yesus sampai ‘gila’. Ya, cinta itu sajalah yang menarik aku. Aku tidak lagi merindukan penderitaan atau kematian, walaupun aku masih mencintai keduanya. Aku telah merindukan hal ini untuk waktu yang lama. Aku telah menderita dan mendekati ajalku... Sekarang, penyerahan diri adalah satu-satunya jalanku. Aku tidak lagi dapat dengan begitu kuatnya untuk mengharapkan apapun juga selain kehendak Allah yang terjadi seutuhnya dalam jiwaku.” Dan diilhami oleh S. Yohanes Salib, ia menyimpulkan: “Muderku, betapa manisnya jalan cinta kasih itu! Tak dapat disangkal, kita semua dapat jatuh, untuk gagal dalam bertekun, namun cinta kasih mengetahui bagaimana caranya untuk menarik keuntungan dan segala sesuatu. Ia dengan cepat menghilangkan segala sesuatu yang mungkin tidak menyenangkan hati Yesus, meninggalkan hanya suatu kerendahan hati dan rasa damai yang sangat mendalam di dalam lubuk hati kita.”

 Dengan kata-kata ini, Teresia membuatnya menjadi jelas bahwa hanya penyerahan diri yang menjadi jalannya, sehingga ia tidak memiliki kerinduan apa pun lagi. Lalu apakah dengan demikian penyerahan diri mengesampingkan segala kerinduan? Sama sekali tidak. Sebab pada saat sesuatu terwujud selaras dengan kehendak Allah, untuk mengharapkan sesuatu itu tidaklah bertentangan dengan penyerahan diri kepada Tuhan. Kerinduan, dalam hal ini, adalah satu dengan kehendak Allah. Hal ini menjelaskan, mengapa Teresia setelah menyatakan bahwa ia sudah tidak merindukan penderitaan dan kematian, dan sebelum meninggal ia mengatakan ingin menderita bahkan lebih menderita lagi. Ini merupakan ungkapan dan penghiburan oleh sukacita ilahi yang dirasakannya.

Sejak saat itu, penyerahan diri, menjadi aturan tetap dan tindakannya. “Aku mengikuti jalan yang telah dirintis oleh Yesus bagiku.” Tulisnya… “Ia menginginkan saya untuk mempraktekkan penyerahan diri, seperti seorang anak kecil yang tidak mengkhawatirkan apa yang dilakukan orang lain terhadap dirinya... Aku mencoba untuk tidak lagi berpusat pada diriku sendiri dalam hal apapun dan aku akan menyerahkan diri kepada-Nya apapun yang ingin diselesaikan-Nya dalam jiwaku.

Jelaslah bahwa watak semacam ini adalah suatu watak yang kuat. Apapun motivasi atau cinta yang mungkin mengilhami kita dalam kegiatan-kegiatan kita, tidak ada bukti yang lebih besar cinta kasih dan kepercayaan di dalam Tuhan daripada penyerahan diri secara total kepada-Nya. Tidak ada cara yang lebih baik untuk menghormati-Nya selain mengakui Dia sebagai pemegang peran utama dalam mengatur alam semesta dan hidup kita sendiri.

 Penyerahan diri, di lain pihak, memberikan cara-cara yang lebih baik untuk menyadari di mana kita akan sampai pada akhirnya dan dalam mencapai kekudusan sebagaimana kita telah dipanggil untuknya. Allah memiliki rencana-rencana yang khusus bagi setiap jiwa dan Dia sendiri yang mengetahuinya. Pada saat kita mencoba menuntun jalan kita sendiri, kita justru menghambat karya Allah, karena campur tangan dan penyimpangan kita dan jalan yang telah ditentukan Allah bagi kita; Sebaliknya jika kita menyerahkan diri kepada Allah, kita berjalan pada jalan yang aman. Kita memasuki jalan yang paling singkat untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan-Nya bagi kita.

Merupakan suatu kepastian bahwa tidak ada sesuatupun yang terjadi di luar kehendak Allah. “Aku sekarang mengerti lebih baik daripada waktu-waktu yang lalu”, tulisnya, “Yang paling penting dalam hidup kita adalah di bawah bimbingan Tuhan”. “Tangan Kristuslah yang membimbing segalanya. Kita harus melihat Dia saja di dalam segalanya”. “Aku senang segala kebaikan yang telah Tuhan berikan untukku,” — merupakan suatu ungkapan yang sangat sering diulanginya. Ini juga merupakan ungkapan penolakan terhadap kecenderungan-kecenderungan pribadinya. Teresia sangat menyenangi apa yang Tuhan telah pilihkan baginya.

Berbicara mengenai tindakan Yesus yang berhubungan dengan dirinya, Teresia dengan nakal menyatakan, “Aku gembira akan apa yang Ia lakukan. Ketika Dia mulai nampak menyesatkan, aku membalasnya dengan berbagai macam pujian. Sehingga Dia tidak tahu harus bertindak bagaimana lagi terhadap diriku.”

Teresia berpendapat bahwa penerimaan yang menyeluruh dan tanpa syarat akan kehendak Allah adalah sarana yang paling tepat untuk menjaga kedamaian jiwa kita. “Hatiku penuh dengan kehendak Allah sehingga seolah-olah tidak ada sesuatupun yang dapat masuk di dalamnya, sekalipun dipaksa. Aku senantiasa tinggal dalam rasa damai tanpa ada yang dapat mengusikku.”

Memang, barangsiapa memenuhi kehendak Allah, ia akan senantiasa tinggal dalam damai, tetapi barangsiapa tinggal di luar kehendak Allah, ia tidak dapat mencapai persatuan dengan Yesus dan menyelamatkan jiwa-jiwa.

Akhirnya Teresia meneguhkan bahwa supaya dapat mengerti rencana Allah, ia selalu mengarahkan pandangannya kepada Yesus agar dapat mengerti apa yang paling menyenangkan hati-Nya.

Melepaskan diri, bukan berarti menjadi malas atau lamban. Penyerahan diri, secara tidak langsung merupakan usaha kita untuk bekerja sama dengan rahmat. Dan penyerahan diri merupakan penghubung rahmat. Teresia tidak pernah gagal dalam kerja sama terebut. Semua bukti yang kita simpan mengungkapkan fakta ini dengan sempurna.

Teresia tidak mencapai kesempurnaan dengan sekejap. “Merupakan waktu yang lama untuk dapat maju hingga pada tingkat penyerahan diri itu,” akunya kepada Muder Agnes, “dan sekarang aku telah mencapainya, Tuhan yang baik telah menarik aku dengan tangan-Nya dan menempatkanku disana.”

Pada akhir tahun 1895, seperti yang telah disebutkan sebelumnya, dengan diterangi oleh Roh Kudus, Teresia melihat begitu jelas kekuatan jalan ini dan mengenali di dalamnya cara terbaik untuk meraih kesempurnaan cinta kasih. Katanya kepada Sr. Maria dari Hati Kudus, “Yesus senang memperlihatkan kepadaku satu-satunya jalan yang menuju tungku api cinta kasih. Jalan itu adalah penyerahan seperti seorang anak kecil yang akan tidur dalam pelukan ayahnya tanpa ada rasa takut.”

Tiada lagi yang lebih menolong baginya dalam periode hidupnya ketika ia harus menghadapi pencobaan-pencobaan yang amat mengerikan dengan penuh damai. Ternyata ia dapat memelihara suatu kedamaian yang tak tergoncangkan saat selama menghadapi kesulitan-kesulitan tersebut. Bagi mereka yang merasa heran akan ketenangannya yang mendalam saat ia menghadapi banyak penderitaan, ia berkata, “Hatiku dipenuhi dengan kehendak Yesus. Apa pun yang mencoba masuk, tidak ada yang dapat menembusnya. Hal-hal tersebut bagaikan buih-buih kecil yang mengapung seperti minyak pada air yang jernih. Oh seandainya sebelumnya jiwaku tidak dipenuhi oleh kehendak-Nya, seandaiya semuanya itu bergantung pada serangkaian sukacita dan kesedihan yang kita alami di dunia ini, aku akan dibanjiri oleh serangkaian dukacita yang pahit. Perasaan sementara itu hanya menyentuh permukaan jiwaku saja, dan aku tetap dalam kedamaian yang mendalam di mana tiada suatu pun yang dapat mengusiknya.”

Ketika Biara Karmel di Hanoi meminta bantuan suster-suster dari biara Karmel di Lisieux, Teresia hampir disetujui untuk berangkat ke sana, seandainya dia tidak dicegah karena penyakitnya. Ia merasakan pengasingan, namun dia tetap bertekad untuk berangkat. “Sudah lama”, katanya, “Aku tidak lagi milikku sendiri. Aku telah menyerahkan diriku sepenuhnya kepada Yesus. Ia bebas memperlakukan aku sekehendak hati-Nya untuk menyenangkan-Nya. Ia telah mendesakku untuk merindukan suatu pengasingan sepenuhnya.”

Teresia melihat bahwa penyerahan diri merupakan ketidaklekatan, kebebasan yang akan menghantamya ke Surga. Katanya kepada Muder Agnes dan Yesus, “Muderku, tampak bagiku sekarang bahwa tidak ada lagi yang dapat mencegah keberangkatanku ke Surga, karena aku tidak merindukan apa-apa lagi selain cinta kasih. Oh! Betapa manisnya melepaskan diri sepenuhnya ke dalam tangan Allah yang Maharahim, tanpa ketakutan-ketakutan dan keinginan-keinginan lain!”

Bahkan pikiran mengenai kebahagiaan kekal tidak membuatnya melepaskan sikap penyerahan itu. Dan walau bagaimanapun, betapa hebat semangatnya merindukan Surga di saat-saat yang lalu. Teresia mengakui, “Apakah engkau tahu, betapa aku tetap tenang, sekalipun aku tahu bahwa aku akan segera berpulang ke Surga! Dan aku tetap bahagia, namun aku tidak dapat mengatakan apakah aku merasakan serangkaian kegembiraan atau sukacita.”

Teresia pemah menulis kepada kakaknya, Leonie, bahwa Ia tidak ingin masuk Surga lebih awal apabila hal itu adalah kehendaknya sendiri, karena dia merasa bahwa “kebahagiaan semata di sini berarti untuk senantiasa bergenbira atas apapun yang diberikan Yesus bagi kita.”

Setelah mendapat gambaran itu, Muder Agnes tidak dapat tahan akan perasaan itu, Teresia lebih cenderung ingin mati daripada hidup. Teresia berseru: “Oh Muderku terkasih, aku ulangi: Tidak! Aku tidak ingin apa-apa lagi. Apapun yang Tuhan inginkan dan milikinya untukku adalah hal yang sangat membahagiakanku… Apapun yang Ia lakukan, aku menyukainya!”

Hal yang sama juga diungkapkan kepada Muder Gonzaga: “Aku puas untuk tetap sakit sepanjang hidupku, bila hal itu menyenangkan hati Tuhan yang baik, dan bahkan aku mau untuk hidup lama dengan sakit-sakitan.”

Sehingga, ketika pada suatu hari ada seseorang yang mengatakan bahwa ia mungkin akan sembuh, Teresia dengan lantang berseru bahwa jika hal itu benar terjadi, ia akan menganggapnya sebagai pengorbanan, tapi walau bagaimanapun juga, ia pasti akan menerima kesembuhan itu dengan sepenuh hati. “Bila hal itu adalah kehendak Tuhan”, katanya, “aku akan sangat berbahagia untuk mempersembahkan ini padaNya, namun kupastikan itu bukan suatu masalah kecil setelah melangkah begitu jauh, lalu kembali dari jarak yang begitu jauh.”

Mungkin orang akan berkeberatan dengan kerinduan-kerinduannya seperti tidak ingin mati saat malam hari, dan harapan akan segera meninggal, dan hal-hal tersebut akan nampak jelas sifat penyerahan dirinya yang sempurna. Karena ternyata, ungkapan-ungkapan itu adalah rasa belas kasihnya kepada saudari-saudarinya. Ia tidak ingin mereka menderita karena penyakitnya yang berkepanjangan, dan ia khawatir kakaknya akan terganggu bila ia meninggal di malam hari. Namun, walau banyak pemikirannya yang timbul karena rasa belas kasihnya ini, ia tetap berserah diri secara total kepada kehendak Allah.

Selanjutnya, ia menyerahkan kerinduan-kerinduannya itu kepada “Perawan Terberkati”, bukan kepada Tuhan. Hal itu merupakan kebiasaannya, apabila ia merasa kurang yakin akan keputusannya—apakah dengan keputusannya itu ia dapat menyenangkan Tuhan. Ia berkata, “Memohon sesuatu kepada ‘Perawan Terberkati’, tidak sama seperti memohon kepada Tuhan yang baik. Bunda Maria sungguh tahu untuk memperlakukan keinginan kecilku ini, apakah ia akan meneruskan kepada Putera Ilahinya atau tidak... Akhirnya, semuanya itu menjadi hak bagi Bunda Maria untuk menelitinya agar Tuhan yang baik tidak perlu terpaksa mendengarkan aku, namun Tuhan bebas memperlakukan aku seturut kehendakNya.”

Karena kemajuannya dalam penyerahan diri, Teresia mengalami kebahagiaan yang sempuma. “Aku tidak merasa kecewa, karena aku senang akan apa yang Tuhan lakukan.”

www.carmelia.net © 2008
Supported by Mediahostnet web hosting