Santa Teresia dari Lisieux: Panggilanku adalah Cinta

User Rating:  / 10
PoorBest 

 


Tidaklah sulit untuk melihat bahwa melalui salah satu bagian dan akhir hidup Teresia dan yang lainnya, Teresia terkenal karena cinta, cintanya kepada Tuhan. Dan halaman pertama naskahnya yang pertama tepat di baris akhir dan tiga karyanya yang utama, yang termasuk surat-suratnya, tindakan penyerahan dirinya, puisi-puisinya, dan catatan-catatan kecil yang ditulis oleh kakaknya di samping tempat tidurnya saat ia sedang sakit, semuanya mirip. Bagaimana seseorang dibuat begitu terpesona karenanya?

“Aku sangat mencintai Tuhan”, katanya saat menceritakan kenangannya yang paling utama. Sehingga setelah menerima Komuni pertama ia berkata, ”Aku juga mempunyai hasrat untuk mencintai Tuhan, dan ingin menemukan sukacita hanya di dalam Dia.” Kita harus melihat kembali dan membaca ulang dengan semangat apa ia mempersiapkan dirinya untuk menerima Komuni pertama… Tidak diragukan lagi, dia diistimewakan dan dikenyangkan dalam hal ini sebagaimana hanya sedikit anak-anak mengalaminya, bahkan sangat sedikit, tapi Tuhan sangat murah untuk memberikan rahmat-Nya, dan rahmat itu diberikan-Nya bagi seluruh Gereja-Nya sehingga Dia telah menyiapkan tanah pilihan-Nya ini. Teresia memberi kesaksian yang sederhana dalam hal ini, “Engkau tahu oh Tuhanku, aku tidak mempunyai keinginan lain selain mencintai Engkau, aku tidak mempunyai ambisi untuk kemuliaan yang lain. Cintamu telah memenuhi diriku lebih dulu sejak masa kecilku, dan berkembang seiring dengan pertumbuhanku, dan kini cinta-Mu telah menjadi lembah yang amat dalam yang tak dapat kuukur...”

Kalau kita melihat pada bagian akhir hidupnya, bahwa jalan raksasa, seketika menjadi besar dan singkat, hanya dalam waktu dua puluh empat tahun. Theresia sungguh-sungguh tidak menginginkan apa-apa lagi selain hidupnya dihancurkan oleh cinta.

Dia mengulangi mengenai dirinya di setiap naskahnya yang besar:

Naskah A, dalam sukacitanya yang besar karena masuknya Celine ke Karmel:
“Aku tidak mempunyai hasrat lain kecuali mencintai Yesus sampai tolol... tidak juga aku berhasrat untuk menderita atau mati, dan kemudian aku mencmtai keduanya, tapi cintalah yang menarikku.

Naskah C, ada semacam perbedaan, “Aku tidak lagi mempunyai keinginan besar kecuali mencinta sampai mati” (Ns C, lb 7). Ketika menjelang ajalnya, Teresia mengatakan bahwa dia tidak hanya memiliki hasrat untuk mencintai Yesus segila-gilanya, di mana cinta yang membuta ini begitu jelas menerangkannya tetapi juga jalan telah terpatri, yaitu jalan kematian. Dan merupakan kematian karena cinta.

“Aku ingin menjadi seorang santa”, tulisnya kepada Muder Agnes dan Yesus, pada tanggal 27 Maret 1888, pada saat usianya 15 tahun. Dalam hal in dia juga ingin menjadi kebanggaan bagi ayahnya, seperti yang dikatakannya ini, “Ya, aku akan tetap menjadi ratu kecilmu. Aku akan berusaha keras untuk menjadi kebanggaanmu dengan menjadi seorang santa besar” (Surat-surat, Mei-Juni, 1988). Kemudian ia masuk Karmel pada tanggal 9 April. Kita dapat menemukan beberapa sebab daya tariknya ini dalam menuju kekudusan, bukan yang biasa saja, tetapi kekudusan yang besar (khususnya antara tahun 1888-1889). Kekudusan dan cinta kasih adalah segalanya bagi Teresia. Sejak lama ia telah memahami bahwa segala sesuatu yang berada di bawah sinar matahari adalah kesia-siaan dan kemalangan belaka bagi jiwa... dan satu-satunya yang baik adalah mencintai Tuhan dengan segenap hati dan menjadi miskin dalam roh” (Ns. A, lb. 32). Pada saat ia berusia dua belas tahun, dia telah mengerti tentang kelemahan kodrat, dengan merasakan sedikit kesenangan dunia yang diakuinya. Borjuis kecil ini merasa senang ketika ia memamerkan topi barunya pada han Natal 1887, meskipun ia menderita karena ia tidak dapat masuk Karmel secepat yang diinginkannya. “Apakah kamu akan percaya,” katanya kepada Celine, “Sekalipun aku dicelupkan dalam lautan kepahitan, aku senang memamerkan topi biruku yang cantik dengan dihiasi merpati putih! Betapa anehnya kelemahan-kelemahan kodrati ini!”

Terjadi dalam beberapa bulan dan periode di mana ia menjadi sangat bergairah akan konferensi Abbe Arminjon, “Karena tahu bahwa tidak bisa dibandingkan pahala hidup kekal dengan sedikit pengorbanan hidup. Aku ingin mencinta, mencintai Yesus dengan meluap-luap, memberi-Nya beribu-ribu tanda kasih selama aku masih bisa… Aku tidak putus-putusnya mengulangi kata-kata cinta yang dapat mengobarkan hatiku…” Ini merupakan serangan cinta yang banyak diceritakannya kepada Muder Agnes yang mencatat segala percakapannya di samping tempat tidurnya, serangan cinta yang menyiapkan dasar untuk meledakkan nyala api, tindakan penyerahan kepada Kerahiman, dan untuk rahmat yang menyusul kemudian, “Sejak berumur empat belas tahun aku telah mendapat serangan cinta ini. Betapa aku sangat mencintai Tuhan! Tetapi itu semua tidak berarti apa-apa setelah aku menyerahkan diriku. Itu bukan api yang sesungguhnya membakar aku” (Catatan kuning, 17 Juli).

Muder Agnes menyuruhnya untuk menceritakannya (untuk yang kedua kalinya untuk mencatatnya, karena ia tidak memperhatikan yang pertama).

“Yah, aku telah memulai jalänku dengan salib yang dengannya tiba-tiba aku diseret dengan cinta yang begitu hebat kepada Tuhan yang hanya dapat kuungkapkan dengan mengatakan bahwa aku seperti dicelupkan ke dalam api. O betapa api yang hebat namun sekaligus betapa manisnya! Aku dibakar dengan cinta dan aku merasakannya selama satu menit, dan satu detik kemudian, aku tak dapat tetap bertahan dengan hasrat ini tanpa mati. Akhirnya aku tahu apa yang dikatakan oleh para kudus pada saat mereka mengalaminya dengan sering. Namun aku hanya mengalaminya sekali dan itu pun dalam waktu yang sangat singkat saja, lalu aku kembali kepada kekeringanku” (Catatan Kuning, 7 Juli).

Apa yang terjadi? Tidak diragukan lagi, sulit untuk mengungkapkannya kecuali mengalaminya sendiri... Tetapi apakah di sini ada semacam pemurnian oleh Tuhan sendiri mengenai seluruh peristiwa hidup Teresia? Karena tindakan penyerahan dirinya mengandung tujuan yang sangat tepat dan sempuma untuk dirumuskan.

“Untuk dapat hidup di dalam tindakan cinta sejati.”

Selama beberapa tahun ia meminta, “Cinta, cinta tak terbatas selain Engkau sendiri... Cinta yang bukan lagi aku tetapi Engkau, Yesus.” (Catatan Profesi 8 Sept. 1890).

Ambisinya di sini menjadi tak terbendung, “Aku ingin mencintai-Nya dengan amat sangat... Mencintai-Nya lebih daripada yang Dia pernah dicintai” (Surat kepada Suster Agnes dan Yesus, selama retretnya, 6 Jan 1889).

Suatu hari, ia menemukan bagaimana caranya untuk memenuhi keinginan gilanya ini, yaitu dengan melemparkan dirinya ke dalam kerahiman Bapa. Segeralah ia menyusun langkahnya, yang dikatakannya seperti api yang melahap dirinya, kemudian ia menyalip Celine, meminta izin dan Muder Agnes yang tidak tahu apa yang terjadi, atau setidaknya tidak begitu tertarik memperhatikan cara lain kesalehan di antara para biarawatinya. Semuanya ini merupakan hasil dan pencariannya yang lama dan sungguh-sungguh.

Beberapa bulan sebelumnya, selama empat puluh jam, 26 Peb 1895, ia menumpahkan isi hatinya dalam salah satu puisi-puisinya, yang merupakan gambaran yang jelas mengenai cita-citanya yang begitu mendalam.

Lima belas stanza mengalir dan ayat-ayat Injil Yohanes, “Jika seseorang mengasihi-Ku, dia akan mentaati firmanKu, BapaKu akan mengasihinya, dan Kami akan datang dan diam bersama-sama dengan dia” (Yoh. 14:23). Mudah bagi kita untuk membayangkan bagaimana sikap Teresia dalam penyembahan di hadapan Sakramen Mahakudus sambil mengulangi dan merenungkan Sabda Yesus dengan diiringi suara-suara batinnya yang berbunyi, “Hidup dengan cinta.”

www.carmelia.net © 2008
Supported by Mediahostnet web hosting