header carmelia 01.jpgheader carmelia 02.jpg

Penderitaan dalam Hidup Santa Teresia dari Lisieux

User Rating:  / 12
PoorBest 

Situasi Zaman Sekarang dan Penderitaan Manusia.

Dalam hidup di dunia ini manusia tidak pernah akan luput dan penderitaan. Penderitaan adalah bagian dari hidup manusia. Lebih-lebih dewasa ini, di mana kemajuan ilmu dan teknologi yang semakin pesat mengakibatkan banyak perubahan dalam hidup manusia. Dampak kemajuan ilmu dan teknologi itu tidak jarang membawa manusia kepada krisis iman, harapan, dan cinta kasih. Banyak orang dewasa mi disibukkan oleh berbagai kegiatan untuk meningkatkan mutu kehidupannya. Di satu sisi kemajuan zaman itu telah membuat manusia memperoleh kemudahan dalam mencukupi kebutuhan lahiriahnya, namun di sisi lain, banyak orang juga mengalami penderitaan, kekosongan hidup, kehilangan arah dan tujuan hidupnya. Karena mereka mengejar harta, mengagung-agungkan prestasi, mencari kenikmatan tanpa menghiraukan suara hatinya, ketidakadilan, kekerasan, penindasan terjadi di mana-mana, banyak orang tidak menghargai martabat sesamanya sebagai manusia. Pelanggaran moral, kesusilaan, dan akibat yang fatal dari situasi ini adalah timbulnya kebekuan dalam hal yang paling mendasar yaitu cinta kasih. Individualisme merasuki banyak orang, terjadi kemerosotan cinta kasih, manusia menderita kemiskinan dalam pengalaman cinta kasih yang otentik dan mendalam. Hal itu menyebabkan cintanya kepada Tuhan menjadi lemah dan relasi dengan sesamanya menjadi kering, dingin dan miskin. Penderitaan manusia itu berakar pada dosa manusia yaitu kesombongan dan cinta diri yang tidak teratur (egoisme). Bertolak dan hal ini, S. Teresia dan Lisieux mau menyadarkan manusia kepada tujuan hidup yang sesungguhnya, yaitu bersatu dengan Allah. Sudah sejak semula Allah memanggil manusia untuk bersatu dengan Dia, walaupun manusia berdosa, namun Allah tak jemu-jemu memanggil manusia untuk bersatu dengan-Nya, sebab hati manusia tidak akan tenang sebelum bertemu dengan Allah yang sejati.

Sikap S. Teresia dari Lisieux dalam Menghadapi Penderitaan

S. Teresia dari Lisieux mengajak kita untuk meneladan hidup Yesus. Yesus Kristus telah membuktikan cinta-Nya dengan rela menjadi manusia. Dalam diri Yesus kita dapat melihat Allah yang hidup secara manusiawi. Ia turut merasakan suka dan duka hidup manusia. Ia telah turun ke dunia untuk menolong manusia yang mengalami penderitaan. Dia tampil ke dunia dengan tubuh yang dapat menderita dan Dia sendiri menanggung derita dari semua orang yang menderita. Dengan menanggung penderitaan bagi kita, Ia bukan hanya memberi teladan supaya kita mengikuti jejak-Nya, melainkan juga memulihkan jalan, sementara jalan kita tempuh, hidup dan maut disucikan dan menerima makna baru. Dengan perantaraan Kristus dan dalam Kristus disinarilah teka teki penderitaan dan maut. Sebab dengan wafat-Nya di kayu salib, Ia telah mengalahkan maut dan mengaruniakan hidup kepada kita. S. Teresia dari Lisieux mengajak manusia yang hidup dalam zaman modern ini untuk menyerahkan diri secara total kepada Allah dalam menghadapi tantangan dan penderitaan, agar Ia sendiri yang menyucikan kita dari dosa dan kelemahan serta membiarkan Allah mengasihi kita. Sebab kasih Allah itu tidak jarang datang melalui penderitaan dan pencobaan. Maka orang tidak perlu takut akan penderitaan dan cobaan, sebab melalui hal itu Allah ingin menyucikan dan memurnikan kita. S. Teresia dari Lisieux mengatakan bahwa Allah mengasihi kita. Penderitaan serta pencobaan yang dialami di dunia ini tidak sepadan dengan ganjaran abadi yang dikaruniakan kepada kita.

S. Teresia dari Lisieux dalam hidupnya mau menjawab cinta kasih Tuhan yang telah ditunjukkan dalani diri Yesus Kristus. Dia yang adalah Allah, rela menjadi manusia dan telah menderita di salib untuk keselamatan manusia, maka S. Teresia dari Lisieux memilih jalan salib dan menanggungnya demi cintanya kepada Yesus yang telah lebih dahulu mengasihinya.

Ketika S. Teresia dari Lisieux mengisahkan riwayat hidupnya, ia melihat kembali tahap hidupnya di masa lampau. Dia melihat dengan iman, bahwa jiwanya dimatangkan oleh cawan lebur pencobaan lahir batin, sehingga ia dapat berkata bersama pemazmur, “Tuhanlah gembalaku aku tak akan kekurangan sesuatupun (Mzm 23: 1). Dia membiarkan aku beristirahat di sumber yang segar dan di padang yang subur. Dengan tenang Ia menuntun aku, sekalipun menuruni lembah bayangan maut aku tidak gentar terhadap satu kejahatan pun, sebab Engkau Tuhan beserta aku”. S. Teresia dari Lisieux merasakan bahwa Tuhan senantiasa penuh kasih sayang dan ramah terhadapnya, Ia lambat marah dan penuh kerahiman. Dalam menghadapi penderitaan S. Teresia dari Lisieux bersikap penuh iman dan menyerahkan diri secara total kepada Allah. Pada suatu saat ia mengalami aneka pencobaan yang berat, bahkan ia kadang-kadang bertanya kepada dirinya sendiri, apakah ada surga? S. Teresia dari Lisieux mengalami cobaan-cobaan dalam iman yaitu penderitaan, kegersangan, kegelapan, kejenuhan, godaan-godaan, namun dalam segalanya itu ia mencoba untuk bertindak dalam iman. S. Teresia dari Lisieux mengatakan bahwa tidak ada yang menakutkan dia, baik angin, hujan, maupun awan tebal, sebab ia tahu Tuhanlah batu wadasnya, di atasnya ia di bangun, Dia mengajar tangan dan jarinya bertempur, Dialah perisainya kepada-Nya ia percaya.

Iman dan penyerahan diri S. Teresia dari Lisieux dimatangkan oleh penderitaan dan percobaan yang dialaminya sejak kecil. Penderitaan itu dialaminya baik sebelum masuk biara Karmel maupun selama ia hidup dalam biara Karmel. Penderitaan itu antara lain:

1.  Ibunya yang tercinta meninggal dunia.

2.  Kesulitan pergaulan di sekolah susteran Benediktin.

3.  Pauline kakaknya masuk biara.

4.  Teresia menderita penyakit aneh.

5.  Marie masuk biara Karmel.

6.  Teresia merasakan sifatnya yang skrupel.

7.  Ayahnya menderita sakit.

8.  Teresia mengalami penderitaan karena sikap keras dan pemimpinnya yaitu Sr. Maria Gonzaga.

9.  Teresia mengalami penderitaan yang datang dari sesama susternya dalam biara dengan tingkah laku, katakata, sikap yang aneh, dan menjengkelkan dan lain sebagainya.

10.   Kekeringan dan kegersangan dalam doa yang dialami oleh Teresia. 

www.carmelia.net © 2008
Supported by Mediahostnet web hosting