User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active
 

Pengantar

Dalam hidup ini, sejak kecil hingga dewasa, pasti tanpa ragu sedikit pun kita mempunyai seorang yang dekat dengan kita, dia yang mengasihi kita, seorang yang memperhatikan kita dan kita mengenalnya sebagai sahabat karib kita. Seorang pribadi, baik itu laki-laki atau perempuan yang dapat kita percaya untuk mencurahkan isi hati kita, uneg-uneg kita bahkan kesedihan dan penderitaan kita. Begitu juga kita akan dengan segenap hati mendengarkan keluh kesah sahabat kita. Tetapi apabila kita mau jujur apakah kita mempunyai sahabat yang sejati? Benarkah setiap saat sahabat kita mampu menyenangkan hati kita? Bagaimana pada saat kita membutuhkan seorang sahabat relakah dia menyempatkan waktunya bagi kita? Rasanya jarang sekali kita mendapatkan sahabat yang setia! Relakah kita menjadi sahabat sejati bagi yang lain? Ya, kita belajar menjadi sahabat sejati Yesus.

Arti Seorang Sahabat

Jika kita mau bertanya secara mendalam dan mendasar serta memandang sedikit ke masa yang akan datang, apa arti menjadi sahabat yang sejati? Mungkin pertanyaan tersebut terasa mengherankan, sebab nyatanya memiliki dan menjadi sahabat saja tidak mudah! Apalagi ketika kita menjadi sahabat sejati bagi yang lain, atau sebaliknya seseorang menjadi sahabat sejati-ku. Tanpa harus mendapatkan pengertian yang rumit dan njilimet, kita perlu mengerti apa artinya menjadi sahabat yang baik. Secara sederhana, menjadi sahabat berarti suatu kerelaan dan niat tulus untuk memberikan diri kepada orang lain. Itu berarti tidak mempertanyakan atau meminta “syarat”, “kalau” ataupun “tetapi”, tapi jawaban dan ungkapan konkret ialah saya mau dan saya rela.

Sahabat Sejati Menurut Yesus

Untuk menjadi seorang sahabat yang baik hingga akhirnya menjadi sahabat sejati, jelas kita tidak dapat berusaha sendiri atau kita mengandalkan kekuatan sendiri. Itu namanya terlalu yakin dengan diri sendiri, pasti kita akan gagal dan kecewa. Lantas apa yang dapat kita lakukan? Kiranya kita perlu menyimak dari sumber iman Gereja sendiri, yaitu Kitab Suci. Tentu itu tidak berarti kita membaca seluruh isi Kitab Suci dari Kejadian - Wahyu, pasti itu akan membutuhkan banyak waktu dan terasa berat bagi orang yang baru pertama kali memulainya. Karena itu kami berusaha membantu dengan merenungkan dari Injil Yoh 15: 1-17. Apabila kita sungguh-sungguh membacanya dengan penuh perhatian dan dalam suasana doa serta memeriksanya dengan benar, ternyata teks tersebut tidak hanya berbicara tentang tinggal bersama Yesus atau hidup dalam kasih. Meskipun refleksi tersebut juga penting dalam hidup kita sebagai orang beriman. Perikop itu ternyata berbicara mengenai apa dan bagaimana menjadi sahabat sejati menurut ajaran Tuhan kita Yesus Kristus dalam Injil Yohanes.

Kita adalah Sahabat Yesus

Demikianlah ajaran Yesus bagi kita, sederhana bukan dan tidak muluk-muluk. Yesus menyapa kita dengan lembut, dengan penuh kasih, dengan segala keberadaan-Nya, Dia yang adalah manusia yang sama dengan kita kecuali dalam hal dosa sekaligus Tuhan dan Allah telah kita memanggil dan memilih kita sebagai sahabatnya, “Kamu adalah sahabat-Ku” (Yoh 15:14). Betapa indahnya dan lembutnya Panggilan dan Pilihan-Nya bagi kita. Lihatlah, Dia tidak hanya memanggil tetapi juga memilih kita semua sebagai sahabatnya (bdk. Yoh 15:16). Ini berarti tidak hanya hari ini, seminggu, setahun tetapi ini berlaku untuk selama-lamanya. Syaratnya sederhana dan mudah, yakni bila kita mau dan rela menjawabnya dengan sepenuh hati. Memang, panggilan dan pilihan hidup ini tidak mudah tetapi mulia di hadapan-Nya. Karena itu tidak mengherankan dalam Kitab Nabi Yesaya Dia berkata dengan lembut tapi penuh kuasa, “Engkau berharga di mata-Ku dan mulia dan Aku ini mengasihi engkau” (Yes 43:4a). Kemudian tak jemu-jemunya Dia berkata dan meneguhkan kita, “Janganlah takut, sebab Aku telah menebus engkau, Aku telah memanggil engkau dengan namamu, engkau ini kepunyaanku” (Yes 43:1). Jadi, apabila kita menyadari panggilan dan pilihan hidup ini betapa indahnya dan luhurnya martabat kita di hadapan Allah bahwa kita “hidup, bergerak, dan ada” (Kis 17: 28) sepenuh berasal dan tertuju kepada Allah yang benar dan Yesus Kristus yang telah diutus Bapa (bdk. Yoh 17:3).

Hidup sebagai Sahabat Yesus

Setelah kita menyadari betapa luhurnya dan begitu indahnya arti menjadi sahabat Yesus, kita pun akan tergerak untuk seterusnya hidup semata-mata sebagai sahabat Yesus. Melalui perbandingan pohon anggur, Yesus mengajarkan kita bahwa setiap ranting yang tidak berbuah akan dipotongnya dan setiap ranting yang berbuah akan dibersihkan-Nya supaya berbuah lebih banyak dan berlimpah-limpah.Dengan sendirinya ranting yang tak terbuah, akan dipotong-Nya dan menjadi kering lalu orang akan mengambilnya dan membakarnya. Sedangkan, ranting yang berbuah, akan terus berbuah berkelimpahan karena dia tinggal dalam pokok pohon anggurnya (lh. Yoh 15:1-17).

Demikian juga dengan kita, untuk menjadi sahabat Yesus yang baik, setiap orang hendaknya berbuah dalam kehidupan sehari-hari secara konkret dan nyata. Sedangkan, seorang sahabat yang jahat dan malas yang menyembunyikan “talentanya” akan dihukum dan dilemparkan dalam ratap dan kertak gigi dalam kegelapan yang abadi (bdk. Mat 25: 14-30). Oleh sebab itu kita yang telah dipanggil dan dipilih menjadi sahabat Yesus hendaknya menghasilkan buah yang berlimpah-limpah dan tetap (bdk. Yoh 15:16). Caranya dengan selalu tinggal dalam Yesus dan mengikuti Dia setiap saat serta menghayati firman-Nya. Artinya, jika pada mulanya kita mengalami banyak penghiburan dari Yesus, dalam perkembangannya kita harus tetap setia, baik dalam untung maupun rugi, dalam suka maupun duka, maupun dalam suasana senang maupun derita.

Memang ini suatu tugas yang sulit tetapi sekaligus mulia. Tuhan Yesus sendiri telah meneladankan apa yang telah diajarkan, “Tidak ada kasih yang lebih besar daripada kasih seorang sahabat yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya” (Yoh 15:13). Dia telah wafat, dimakamkan dan bangkit dari kubur menurut Kitab Suci (1 Kor 15:4, bdk. Flp 2: 6-11). Seturut dengan ajaran Guru dan Tuhan kita, maka kita juga mau belajar menjadi sahabat-Nya dengan setia mengikuti-Nya sampai akhir kehidupan bahkan sampai kepada panggilan kemartiran. Inilah arti menjadi seorang sahabat sejati Yesus, yakni “dia setia mengikut Yesus, rela menyangkal dirinya, dan pasrah menanggung salib kehidupan” (bdk. Mat 16:24) mulai saat ini, dari saat ke saat, hingga akhir hayat.

Betapa Indahnya Menjadi Kecil

Patut diakui bahwa tujuan hidup di atas, rasanya mustahil dan jauh dari kenyataan, apalagi kita sendiri masih bergumul dengan kelemahan dan kekurangan kita. Namun cita-cita hidup tersebut kendati radikal bukan berarti tidak dapat dijalani. Untuk menghayatinya kita perlu belajar setia dalam perkara-perkara kecil dan sederhana. Kita hendaknya belajar dari seorang guru, pembimbing dan pujangga Gereja yang telah berhasil menghayatinya hingga akhir hidupnya, yaitu S. Teresia dari Kanak-kanak Yesus. Orang kudus ini meski amat muda usianya, meninggal dalam usia 24 tahun, sepanjang hidupnya hanya tinggal di biara Karmel, namun dia menjadi besar karena kesetiaan dalam perkara-perkara biasa, ia menggapai kesucian hidup yang besar dalam kehidupan yang amat biasa. Kunci dan dasar kesucian hidup adalah kesetiaan dalam berkurban, senantiasa berpasrah, dan menyerahkan segalanya dalam cinta kasih Allah Bapa yang maharahim, demi untuk menyenangkan hati-Nya dan keselamatan jiwa-jiwa.

Bagi S. Teresia dari Kanak-kanak Yesus, Allah tidak hanya bekerja dalam hal-hal luar biasa seperti karya ciptaan-Nya yang sungguh luar biasa, alam semesta dan segala isinya, namun Dia juga mampu dan berkuasa bekerja dalam perkara-perkara kecil. Orang tidak perlu menyandarkan diri pada mati raga, puasa dan penyangkalan diri yang luar biasa, atau juga mencari penglihatan, pernyataan, wahyu atau karunia-karunia berharga. Semuanya itu tidak ada gunanya, apabila kita tidak mempunyai kasih (bdk. 1 Kor 13: 3). Sesungguhnya seorang menjadi besar, berkenan dan mulia di hadapan Allah bukan karena perbuatannya yang besar atau juga jasa-jasanya belaka, tetapi terletak pada semakin banyak seorang mengalami pengampunan dan kasih Allah, semakin dia mampu mengasahi Allah. Cinta kasih menjadi jiwa, sumber, dasar, sarana, tujuan dan kepenuhan dari hidup manusia, yaitu mencapai persatuan dengan Allah. Apabila kita menyadari bahwa Allah adalah kasih dan telah memberikan cinta-Nya sebesar-besarnya bagi kita dengan wafat-Nya di salib dan bangkit dengan mulia untuk menebus dan menyelamatkan manusia dari dosa dan maut (bdk. Yoh 3:16). Maka, kita pun rela mencintai Dia sehabis-habisnya dan juga menjadi keselamatan bagi yang lain.

Seturut teladan S. Teresia dari Kanak-kanak Yesus sebagai orang kudus dari kepasrahan, maka kita juga mau belajar untuk berpasrah dan berkurban kepada Allah Bapa yang maharahim, demi cinta kita kepada-Nya dan bagi jiwa-jiwa. Bila kita setia melakukannya, dengan menggunakan setiap saat sebagai saat terindah untuk mempersembahkan diri tanpa meminta sesuatupun dan menerima segalanya dari Allah, ketika badai dan derita hidup datang, kita takkan khawatir dan takut sebab Allah yang setia memberikan kita rahmat untuk menanggungnya. Bukankah rahmat ini lebih luhur dan melampaui segala ciptaan dalam alam semesta, demikian dikatakan S. Thomas Aquinas. Dengan mengakui kekecilan, menerima kelemahan kita, dan mempersembahkannya kepada Allah, hati kita akan dipenuhi damai dan sukacita besar dan kita hanya mau hidup bagi Dia dan demi dia. Benarlah apa yang dikatakan S. Paulus, “Dalam kelemahan, Kuasa-Ku menjadi sempurna” (2 Kor 12:9) dan “Bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan” (Flp 1:21).

Dengan demikian, pekerjaan-pekerjaan kecil, remeh temeh dan sederhana pun menjadi “luar biasa” karena dihayati dalam cinta kasih yang besar. Hati kita pun pelan-pelan mulai mati dari egoisme dan hanya menyerahkan segala-galanya bagi Allah dan keselamatan jiwa-jiwa. Inilah jalan untuk menghayati kata-kata Yesus, jika biji gandum itu tidak mati, maka dia tidak akan tumbuh dan berbuah secara berlimpah-limpah (bdk. Yoh 12:24). Pada akhirnya “hidup semakin hidup”, karena Kristus hidup dalam diri kita (Bdk. Gal 2:20). Bahkan kita pun tidak menghendaki apapun, tidak perlu membuktikan apapun, atau menunjukkan apapun, demi Allah kita rela dilupakan, diabaikan bahkan dianggap tidak pernah ada, sebab Allah menjadi segala-segalanya. Semua ini menyadari kita bahwa hidup sepenuhnya bergantung pada Allah dan kebenaran bahwa Allah lambat menghukum namun cepat mengampuni dan mengasihi kita. Sebab Dia adalah Allah Bapa yang Maharahim dan penuh dengan belas kasihan.

Petunjuk Praktis: Berdoa Tanpa Kunjung Putus

Kini kita telah mendapatkan secercah “pencerahan” di mana kita mampu untuk menjadi sahabat sejati Yesus. Secara konkret dan praktis, semuanya itu akan bermuara pada suatu sikap hidup yang baru, sederhana dan realistis. Karena semua mengalir dalam sebuah doa, pertemuan dengan Yesus Kristus, yang telah menjadikan kita ciptaan baru, dan oleh “bilur-bilur-Nya kita telah disembuhkan” (Yes 53:5). Tidak hanya itu, kita pun memandang sesama dengan cara yang baru, seperti Yesus memandang kita, seperti Dia mengasihi kita, karena kita dengan menerima kekurangan diri sendiri, kita juga mampu menerima kekurangan orang lain. Kita dapat menjadi sabar, rendah hati dan toleran terhadap yang lain. Oleh sebab itu ada tiga langkah praktis untuk memelihara rahmat Allah dan terus berbuah, yaitu:

Pertama, pemahaman dan penghayatan baru dalam pemeriksaan batin. Pemeriksaan batin sebenarnya bukanlah sesuatu yang baru dan praktek ini berasal dari tradisi kerohanian Kristiani yang klasik. Yang salah dan keliru dalam prakteknya ialah kecenderungan untuk melulu menekankan aspek negatif dalam pertumbuhan rohani. Padahal praktek ini sekaligus menjadi suatu penyembuhan batin. Cara yang benar mempraktekkan pemeriksaan batin adalah sebagai berikut:

  1. Ucapkanlah syukur dan terima kasih kepada Tuhan Yesus atas segala rahmat-Nya untuk hari ini.
  2. Mohonlah agar Tuhan Yesus menerangi kita dengan Roh Kudus-Nya sehingga kita dapat memandang diri kita seperti Dia memandang dan mengasihi kita.
  3. Sadari keutamaan dan perbuatan baik yang engkau lakukan hari dan terima kelemahan atau dosa yang engkau lakukan hari ini.
  4. Untuk segala keutamaan dan perbuatan baik yang telah engkau lakukan bersyukurlan dan serahkan dirimu pada bimbingan dan kuasa Roh Kudus-Nya. Sedangkan, untuk segi negatif kita mohon penyembuhan dari Yesus. Karena itu kita berdoalah kepada-Nya, “Datanglah, Tuhan Yesus, hadirlah Engkau ya Tuhan pada saat ini, sembuhkanlah aku sebab aku telah berdosa kepadamu”. Mohonlah dengan penuh iman dan kerinduan agar Yesus mengangkat, membersihkan, membebaskan engkau dari akar, sumber, penyebab dosa, luka dan kelemahanmu. Percayalah bahwa Yesus sungguh-sungguh menyembuhkan engkau pada saat ini.
  5. Bangunlah sebuah komitmen baru dalam doamu, supaya dalam kehidupan esok hari, engkau dapat melakukan satu perbuatan baik dan menetap serta menghasilkan buah-buah rohani yang berlimpah-limpah.

Kedua, praksis kesadaran hidup di hadirat Allah secara terus menerus. Untuk menggapai tahap orang harus terus melatihnya sembari meminta bantuan rahmat Allah. Caranya sebagai demikian:

  1. Mohon rahmat Allah agar engkau dapat menyadari kehadiran Tuhan Yesus dalam hatimu. Tidak hanya itu saja, dalam lubuk hatimu yang terdalam berkat rahmat sakramen pembaptisan dan diteguhkan dengan sakramen penguatan atau krisma, Allah Tritunggal: Bapa, Putera dan Roh Kudus bersemayam di dalam hatimu.
  2. Dalam segala aktivitasmu, baik itu pikiran, ingatan, kehendak maupun imajinasi dan fantasi dalam perkataan dan tindakanmu usahakan agar senantiasa untuk menyenangkan Tuhan, apabila hal itu bertentangan dengan kehendak Allah, engkau harus menolaknya dan jangan sampai engkau menginginkannya.
  3. Apapun yang engkau alami, khususnya dalam situasi sulit dan pencobaan yang engkau alami, lupakanlah semuanya itu, namun peliharalah damai dalam batin, dan arahkan segala adamu hanya kepada Tuhan.

Ketiga, kesetiaan dalam membina hidup Kristiani yang sehat dan matang. Untuk mencapai hidup Kristiani yang seimbang orang perlu memperhatikan hal-hal di bawah ini:

  1. Bangunlah hidup doa secara teratur, sehingga akhirnya doa menjadi nafas dan kebutuhan hidupmu. Doa Yesus dapat membantu untuk memperdalam hidup rohani. Namun jika terdorong untuk melakukan devosi, lakukan salah satu devosi saja, sebab jika terlalu menumpuk banyak devosi kita tidak berdoa lagi tetapi terlalu asyik berdevosi. Sangat dianjurkan devosi kepada Bunda Maria dengan mendaraskan rosario. Adakalanya doa Yesus dan devosi sulit dilakukan, dalam situasi ini baik jika kita dengan perlahan-lahan berdoa Bapa Kami dan Salam Maria.
  2. Metode yang baik dalam berdoa dari Kitab Suci adalah Lectio Divina. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat artikel kami tentang Lectio Divina dalam situs ini. Yang penting ialah melalui metode Lectio Divina, orang belajar untuk membaca, merenungkan, berdoa dan hidup dalam terang Sabda Allah. Dengan mengenal Kitab Suci, orang mengenal Yesus Kristus demikian kata S. Hieronimus, seorang Pujangga Gereja.
  3. Terimalah secara teratur sakramen Ekaristi dengan mengikuti misa harian selain misa pada hari minggu dan sakramen tobat secara teratur, misalnya satu atau dua bulan sekali. Dengan demikian hati nurani semakin peka dan terbuka terhadap bimbingan dan kuasa Roh Kudus.
  4. Bergabunglah dengan komunitas Kristiani yang telah diterima dalam Gereja Katolik. Yang terpenting dalam hidup berkomunitas ialah kita belajar bertumbuh dalam keutamaan teologal: iman, pengharapan dan kasih; kerendahan hati dan ketaatan kepada hierarki Gereja Katolik.

Penutup

Memang tidak mudah menjadi seorang yang beriman Katolik, apalagi dengan banyak tantangan yang dihadapi. Akan tetapi kami sendiri seringkali diteguhkan oleh ajaran seorang imam fransiskan yang saleh dan sederhana, ajarannya selalu menggema dalam hati kami dan hingga saat ini kami tetap menghayatinya. Ia selalu memberi nasehat kepada kami sesudah kami menerima sakramen tobat setiap satu bulan sekali di biara kami, untuk selalu berdoa demikian, “Yesus Tuhan kami, bantu dan tolonglah kami untuk setia kepadamu hari ini”. Puji Tuhan dengan melaksanakan ajarannya, kami bersyukur tetap setia dalam panggilan Tuhan hingga saat ini. Tuhan Yesus memberkati kita semua. Amin.

www.carmelia.net © 2008
Supported by Mediahostnet web hosting