Print
Hits: 370
Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 

Derita Sebuah Jiwa

Pesona Tuhan Yesus sungguh memikat banyak jiwa. Oleh karena pesona-Nya yang begitu menakjubkan, maka ada seorang wanita yang akhirnya terpikat juga oleh-Nya. Karena wanita ini begitu terpikat oleh Pribadi Yesus, maka ia memutuskan untuk mengabdikan seluruh hidupnya hanya untuk Pribadi Ilahi ini dengan menjadi seorang suster.

Suster ini menjalani hari-hari hidupnya di biara dengan penuh kerinduan untuk terus menyenangkan hati-Nya. Bahkan, karena kerinduannya yang amat besar terhadap Yesus, ia menyatakan janji khusus secara khusus dan diam-diam bagi Yesus yang dicintainya, yaitu “Menjadi segalanya bagi Yesus dan tidak menolak apa pun yang diminta oleh-Nya.” Janji suci inilah yang rupanya menjadi kekuatan bagi jiwa suster ini untuk terus menjalani hari-hari hidupnya—baik dalam kesehariannya maupun tugas-tugas pelayanan yang dipercayakan kepadanya—bersama dengan Yesus.

Meskipun orang lain sering melihat suster ini tersenyum dan penuh canda—khususnya saat dia berada bersama dengan anak kecil—juga banyak orang yang berada bersama dengannya mengatakan bahwa dia adalah pribadi yang paling penuh dengan sukacita, namun sebenarnya dia hidup dalam derita rohani yang amat besar. Kurang lebih selama lima puluh tahun suster ini hidup dalam keadaan demikian. Dia merasa bahwa pintu surga telah tertutup baginya dan bahkan menolak dia. Semakin dia merindukan kehadiran Allah, semakin dia merasakan kehampaan dan kesepian yang amat dalam. Komuni kudus dan Ekaristi pun terasa hampa. Segalanya terasa begitu dingin. Dia merasa bahwa Allah yang dicintainya telah menghancurkan segala yang ada dalam dirinya.

“Allahku, berapa lama lagi Engkau menjauh dariku? Semakin aku merindukan-Mu, semakin aku tidak Kau inginkan…. Siapakah aku ini sehingga Engkau meninggalkanku? Akulah anak dari kasih-Mu, sekarang menjadi yang paling Kau benci, tidak Kau inginkan, tidak Kau cintai…. Aku berseru, aku berpegang pada-Mu, aku menginginkan-Mu, namun tak ada jawaban sama sekali….. Ketika aku mencoba untuk memikirkan surga, namun yang ada hanyalah kehampaan semata dan malahan pemikiran itu berbalik menyerang jiwaku seperti pisau yang tajam….”

Itulah beberapa ungkapan hatinya terhadap Yesus. Suster ini hidup dalam derita rohani yang begitu pekat sampai akhir hidupnya. Dan, sekarang kita mengenalnya sebagai Muder Teresa dari Kalkuta.

Suatu kali Muder Teresa menulis surat kepada pembimbing rohaninya—Rm. Joseph Neuner, SJ—dan mengatakan bahwa akhirnya setelah sebelas tahun masa derita rohaninya, ia dapat mencintai kegelapan rohaninya. Muder Teresa mendapatkan pemahaman bahwa kegelapan rohaninya ini hanyalah bagian kecil dari penderitaan dan kegelapan yang pernah dialami oleh Yesus ketika masih hidup di dunia. Setelah mendapatkan pemahaman demikian, Muder Teresa merasakan sukacita yang begitu besar dan mendalam. Ia memahami bahwa Yesus tidak dapat lagi menjalani penderitaan di dunia. Namun, Yesus ingin menjalani penderitaan dunia ini di dalam dirinya. Setelah mendapatkan pemahaman ini, Muder Teresa semakin menyerahkan dirinya kepada Yesus lebih dari sebelumnya.

 

Sumber Kekuatan Jiwa

Dari kisah singkat di atas, mungkin timbul dalam benak kita, “Bagaimana mungkin hal itu bisa terjadi? Dia sudah mengabdi Tuhan dengan baik, mengapa Tuhan membiarkan dia berada dalam derita yang berkepanjangan tersebut? Apakah Tuhan memang ada? Apakah Tuhan tidak sayang dengan dia? Apakah Tuhan tidak menghendaki kebahagiaan untuknya?” Dan mungkin ada banyak pertanyaan lain lagi yang masih muncul.

Melalui kesaksian hidup Muder Teresa, kita dapat melihat segala warna kesedihan yang terjadi di dunia pada zaman sekarang ini. Ada warna kesedihan dari orang-orang miskin. Ada jeritan hati seorang anak yang tidak diinginkan oleh orang tuanya. Ada warna keraguan dari orang-orang yang tidak percaya akan kehadiran Allah di dunia ini. Ada jeritan orang-orang yang tidak dapat lagi berdoa dan mencintai. Ada warna ketidakberartian dan kesepian. Seakan-akan Muder Teresa mengalami penderitaan mereka semua dan ingin mengalami sedikit dari penderitaan Kristus. Menurut ajaran dari S. Yohanes dari Salib, apa yang dialami oleh Muder Teresa ini disebut sebagai malam gelap pasif rohani.

Sebagai orang Kristiani, patutlah kita bersyukur kepada Tuhan karena telah memberikan berbagai sarana yang begitu indah dan amat berdaya guna bagi umat-Nya. Awal mula hidup baru kita bersama dengan Allah adalah saat kita menerima Sakramen Pembaptisan. Saat kita menerima sakramen tersebut, kita dibebaskan dari dosa asal, dosa pribadi, dan siksa dosa (bdk. KGK 1263) dan dilahirkan kembali sebagai anak angkat Allah, anggota Tubuh Kristus, ahli waris, dan kenisah Roh Kudus (bdk. KGK 1265). Selain itu, Allah juga memberikan “bonus” tambahan kepada kita, yaitu rahmat pengudus yang menyanggupkan kita untuk bertumbuh dalam kebaikan serta hidup dan bekerja di dalam kuasa Roh Kudus.

Nabi Yesaya pernah menubuatkan kedatangan Sang Raja Damai ke dunia, yaitu kedatangan Yesus Kristus. Dalam nubuatnya itu dikatakan bahwa Roh Tuhan akan menaungi-Nya, yaitu roh hikmat dan pengertian, roh nasihat dan keperkasaan, roh pengenalan dan takut akan Tuhan (bdk. Yes 11:2). Roh yang sama pula diberikan-Nya kepada kita saat kita menerima Sakramen Pembaptisan ini. Karunia Roh Kudus inilah—yang dikenal oleh Gereja Katolik sebagai Sapta Karunia—yang akan menolong kita dalam pengudusan dan penyempurnaan hidup kita sehari-hari.

Dalam hidup seorang Kristiani, ketujuh karunia Roh Kudus ini sangat terkait antara yang satu dengan yang lainnya. Namun, pada artikel kali ini, kita akan melihat lebih jauh mengenai Karunia Keperkasaan. Dan, sebagai contoh nyata agar kita dapat memahami karunia ini dengan lebih baik, maka kami memaparkan kisah nyata dari Muder Teresa. Sebelum kita beralih pada pembahasan mengenai Karunia Keperkasaan dalam diri Muder Teresa, alangkah baiknya apabila kita melihat terlebih dahulu mengenai Karunia Keperkasaan ini.

Santo Tomas Aquinas menjelaskan bahwa keperkasaan—atau disebut juga dengan keberanian—adalah suatu keteguhan pikiran dan jiwa yang kita perlukan, baik untuk melakukan sesuatu yang baik maupun dalam melawan yang jahat. Kita memerlukan keteguhan ini khususnya ketika melakukan hal yang baik dan menghindarkan diri dari yang jahat menjadi makin sulit. Karunia keperkasaan melindungi kita dari suatu tekanan yang tidak menguntungkan bagi kita. Karunia keperkasaan membuat pikiran kita mampu untuk menghadapi serta bertahan dalam bahaya dan tidak membuat kita melarikan diri dari setiap bahaya yang mungkin akan menghadang kita.

Melalui karunia ini, Roh Kudus menggerakkan pikiran dan jiwa kita dengan cara yang melampaui kodrat atau kemampuan tertentu sehingga kita dapat mengalami kepenuhan dan kesempurnaan iman yang ditemukan dalam kuasa Allah. Karunia ini memungkinkan kita untuk bertahan dan bertekun dalam mencapai sesuatu yang berat atau sulit dijangkau serta bertahan dalam penderitaan. Semua ini dikerjakan oleh Roh Kudus yang diam di dalam jiwa kita untuk menuntun kita kepada kehidupan kekal.

Kekuatan dalam jiwa yang diberikan melalui karunia ini memungkinkan kita untuk bertahan dan bertekun melalui berbagai macam kesulitan dalam hidup kita, baik itu kecil maupun besar. Begitu pula dengan derita berkepanjangan yang mungkin kita alami. Kemampuan untuk bertekun di tengah-tengah kesulitan dan tantangan yang berkepanjangan, merupakan buah dari karunia ini. Dengan kata lain, apa pun kesulitan dan tantangan yang mungkin kita alami, kita tidak akan putus asa dan terus melakukan tugas-tugas atau pekerjaan kita. Karunia ini tidaklah menghilangkan tantangan dan kesulitan dalam hidup kita, tetapi membuat kita makin berani dan percaya diri dalam menghadapinya.

 

Kekuatan Muder Teresa

Dari kisah hidup Muder Teresa, kita dapat melihat karya Roh Kudus dalam jiwanya, terutama Karunia Keperkasaan ini. Meskipun ia mengalami malam gelap rohani yang berkepanjangan—kurang lebih lima puluh tahun dalam hidupnya—namun ia tetap bertahan dan bertekun. Ia tetap berpegang pada janjinya kepada Yesus, yaitu “Menjadi segalanya bagi Yesus dan tidak menolak apa pun yang diminta oleh-Nya.” Ia mau untuk menderita bagi Kristus selama Kristus menghendakinya.

Meskipun Muder Teresa tidak dapat berdoa, meskipun ia tidak ingin berdoa karena tidak merasakan kehadiran Allah dalam doanya, namun dia tetap ingin bersama-sama dengan Tuhan Allahnya. Ia tidak pernah absen dari jam-jam doanya. Selain itu, ia juga tidak pernah lalai dalam menjalankan tugas dan pelayanannya. Banyak orang yang melihat dirinya sebagai pribadi yang sungguh dekat dengan Tuhan, padahal dia sendiri merasakan hal yang sangat bertolak belakang dengan anggapan mereka.

Karya Karunia Keperkasaan dalam diri Muder Teresa tidak hanya berhenti di situ. Karunia ini menggerakkan jiwa Muder Teresa untuk mencintai kegelapan yang dialaminya. Ia merangkul kegelapan tersebut dengan penuh sukacita dan orang lain tidak melihat bahwa ia sedang mengalami kegelapan itu dalam jiwanya. Hanya pembimbing-pembimbing rohaninya saja yang mengetahui bagaimana situasi batin dan pergumulan Muder Teresa.

Muder Teresa juga menasihatkan kepada para susternya agar mau menanggung penderitaan bersama Kristus agar segala karya yang mereka lakukan bukanlah karya sosial semata—yang memang sangat baik dan menolong—namun semuanya adalah karya Allah dalam diri mereka yang membawa keselamatan, baik bagi jiwa mereka sendiri maupun jiwa-jiwa yang mereka layani.

Hal menarik lainnya dari karya Roh Kudus dalam diri Muder Teresa adalah saat ia tersentuh oleh seruan Yesus di atas kayu salib: “Aku haus!” (lih. Yoh 19:28). Seruan Yesus ini begitu menyentuh hati Muder Teresa sehingga ia mau mempersembahkan semua penderitaannya kepada Yesus yang disalibkan untuk memuaskan dahaga-Nya. Mungkin bagi kita hal ini kelihatan aneh dan tidak masuk akal. Bagaimana mungkin jiwa yang teramat menderita masih mau memberikan seluruh penderitaannya tersebut kepada pribadi yang justru membuatnya terluka dan menderita? Di sinilah peranan Karunia Keperkasaan diperlukan.

Karunia ini membuat jiwa mampu untuk menanggung segala sesuatu bagi Allah, bahkan hal yang kelihatannya tidak mungkin bagi kita. Atas dorongan dari Roh Kudus, Muder Teresa pernah berdoa kepada Tuhan demikian:

“Apabila penderitaanku ini membawa kemuliaan bagi-Mu—apabila Engkau mendapatkan setetes sukacita dari semua penderitaanku—apabila banyak jiwa dapat dibawa kembali kepada-Mu melalui penderitaanku—apabila semua penderitaanku dapat memuaskan dahaga-Mu—inilah aku, ya Tuhan, dengan penuh sukacita aku akan menerima semuanya ini sampai akhir hidupku—dan aku akan selalu tersenyum pada wajah-Mu yang tersembunyi.”

Oleh karena itu, Karunia Keperkasaan tidak dapat diukur menurut daya tahan manusia, tetapi diukur menurut kuasa Allah sendiri. Melalui karunia ini, seolah-olah jiwa menggunakan kekuatan Allah sebagai kekuatannya sendiri. Dengan bersandar pada kekuatan Allah yang hidup di dalam dirinya, maka jiwa akan mampu mengalahkan segala kesulitan dan tantangan dalam hidupnya serta lepas dari segala bahaya yang mungkin akan terjadi. Jiwa-jiwa yang berada dalam kuasa karunia ini dapat berkata bersama-sama S. Paulus:

“Siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus? Penindasan atau kesesakan atau penganiayaan, atau kelaparan atau ketelanjangan, atau bahaya, atau pedang? Seperti ada tertulis: ‘Oleh karena Engkau kami ada dalam bahaya maut sepanjang hari, kami telah dianggap sebagai domba-domba sembelihan.’ Tetapi dalam semuanya itu kita lebih dari pada orang-orang yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi kita. Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita” (Rm 8:35-39).

 

Perjuangan Sampai Akhir

Kegelapan yang dialami oleh Muder Teresa membuatnya tidak bersandar pada dirinya sendiri, melainkan sepenuhnya dia menyandarkan kekuatannya pada Allah sendiri. Karunia Keperkasaan inilah yang menjadi penopang hidup bagi kegelapan yang dialaminya sehingga segala penderitaan yang dialaminya ini memiliki nilai penebusan bagi Gereja. Tanpa disadarinya, karunia ini mendorong dia untuk berdoa demikian:

“Apabila suatu saat aku menjadi orang kudus, tentunya aku akan menjadi orang kudus dalam ‘kegelapan’. Aku akan terus absen dari surga untuk menerangi jiwa-jiwa yang masih berada dalam kegelapan di dunia ini.”

Dan, memang benar bahwa Muder Teresa telah menjadi salah satu dari orang kudus Allah. Melalui gelap dan pekatnya penderitaan yang dialaminya, maka banyak jiwa memperoleh keselamatan. Segala penderitaan dan cobaan tidaklah menyurutkan semangat Muder Teresa untuk terus mengabdikan dirinya kepada Yesus yang amat dicintainya. Inilah bukti dari nasihat S. Yohanes dari Salib: “Berusahalah sampai benar-benar habis tenagamu sebelum mengeluh.”

Hidup Muder Teresa telah membuktikan kepada kita semua bahwa Roh Kudus tetap berkarya dalam diri jiwa manusia. Apabila kita benar-benar membiarkan kuasa Roh Kudus berkarya dalam diri kita, maka tak ada yang dapat menghalangi karya-Nya. Dia sendiri yang akan menjadikan jiwa kita menjadi semakin indah di hadapan-Nya. Sebagaimana halnya pemahaman ilahi yang diperoleh S. Theresia dari Kanak-kanak Yesus:

 “Untuk menjadi kudus, orang harus banyak menderita, mencari yang paling sempurna, dan melupakan diri sendiri…. Maka, seperti pada masa kanak-kanakku, aku pun berseru: Allahku, aku memilih semuanya! Aku tidak mau menjadi orang kudus yang setengah-setengah. Aku tidak takut untuk menderita bagi-Mu.”

Oleh karena itu, marilah bersama-sama kita mau membuka hati kita terhadap karya Roh Kudus. Terutama kita mohon agar Allah memberikan Karunia Keperkasaan dalam diri kita sehingga kita tidak takut untuk mengikuti Dia. Jalan yang kita tempuh sebagai pengikut Kristus bukanlah jalan yang mudah, melainkan jalan yang penuh dengan liku. Namun, bersama dengan Dia, kita akan dapat menjalani semua derita dan cobaan yang akan terjadi. “Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku” (Fil 4:13).