User Rating: 0 / 5

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 

Pentakosta Yang Mengubah Rasul Petrus

 

Riwayat Singkat Petrus

Petrus lahir di Betsaida, Galilea. Dia anak Yunus. Petrus adalah seorang rasul pertama yang dipanggil Yesus untuk mengikuti-Nya. Yesus berjanji menjadikannya penjala manusia (Mat 4:20). Dahulu namanya Simon bin Yunus dan oleh Yesus namanya diganti menjadi Kefas atau Petrus, artinya “Batu Karang” (Mrk 3:16, Gal 2:11) untuk menandakan bahwa Petruslah ketua para rasul dan landasan Gereja yang akan didirikan Kristus (Mat 16; 18-19). Petrus mempunyai bakat alamiah seorang pemimpin. Ia digambarkan sebagai orang yang perasaannya mudah meluap dalam arti positif maupun negatif. Orangnya spontan, reaksinya cepat, kadang-kadang tanpa pikir panjang dan mungkin cepat naik darah. Walaupun secara lahiriah dia seorang yang kasar, namun rupanya Petrus mempunyai hati yang mulia dan setia. Kelemahan Petrus adalah tidak stabil, mudah berubah, tetapi Yesus juga melihat dalam diri Petrus ada kehendak yang baik dan hati yang besar, mulia dan setia, maka Yesus mau mengubah Petrus yang tidak stabil itu menjadi Batu Karang. Karena itu ketika pertama kali berjumpa dengan Petrus, Yesus mengubah namanya (Yoh 1:42) : dari Simon menjadi Kefas, artinya Petrus, Batu Karang. Yesus sebelumnya sudah melihat jauh ke depan. Di atas batu karang ini, Aku akan mendirikan Gereja-Ku (Mat 16:18-19). Petrus punya bakat kepemimpinan dan oleh Yesus dia diangkat menjadi pemimpin kelompok itu sehingga setiap kali kita lihat bahwa Petrus tampil di antara para murid sebagai pemimpin mereka.

Peristiwa-peristiwa yang menampilkan Petrus selama ia mengikuti Yesus

  • Petruslah yang pertama kali memberikan pengakuan iman akan Yesus sebagai Kristus dan Allah Putra di Kaisarea (Mat 16:13-20).
  • Bersama dua rasul lain menyaksikan transfigurasi atau kemuliaan Yesus di atas Gunung dan ingin mempertahankan pengalaman itu dengan mendirikan tiga kemah (Mat 17:4).
  • Ketika Yesus mengajar tentang Ekaristi, dan murid-murid yang lain meninggalkan Yesus, Yesus bertanya kepada mereka: “Apakah kamu tidak mau pergi juga?” Petrus atas nama murid-murid berkata: “Tuhan, kepada siapakah kami akan pergi? Perkataan-Mu adalah perkataan hidup yang kekal” (Yoh 6:68).
  • Ketika Yesus membangkitkan anak Jairus, yang boleh ikut serta adalah Petrus, Yakobus dan Yohanes. Murid-murid yang lain disuruh tunggu di luar, hanya 3 orang ini yang diajak masuk (Mrk 5:37).
  • Ketika Yesus berdoa di taman Getsemani, yang dibawa: Petrus, Yakobus, dan Yohanes (Mrk 14:33).
  • Petrus menyangkal Gurunya tiga kali waktu Yesus diadili, suatu perbuatan yang menimbulkan penyesalan yang amat pahit (Luk 22:54-62 dan Yoh 21:17).

 

Sebelum Pentakosta Petrus belum mengenal Yesus sungguh-sungguh

Sampai menjelang penderitaan-Nya, rupanya Petrus belum mengenal Yesus sungguh-sungguh. Ketika Yesus mengatakan bahwa “Putra manusia harus menderita, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga” (Mat 16:21), Petrus yang berpikiran manusiawi mau menggurui Yesus, dan Petrus menarik Yesus ke samping dan menegor Dia katanya: “Tuhan, kiranya Allah menjauhkan hal itu! Hal itu sekali-kali takkan menimpa Engkau” (Mat 16:22). Bahkan sebelum Yesus menderita, mereka masih mempertengkarkan siapa yang terbesar nanti. Pikiran mereka masih duniawi, juga karena mereka belum menerima Roh Kudus, mereka masih berebutan kedudukan. Tetapi Yesus tahu apa yang diperbincangkan, maka Ia berkata: “Jika seorang ingin menjadi yang terdahulu, hendaklah ia menjadi yang terakhir dari semuanya dan pelayan dari semuanya.” Dan Ia mengambil seorang anak kecil lalu menempatkannya di hadapan mereka, lalu  Ia berkata: “Barangsiapa menyambut seorang anak seperti ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku” (Mrk 9:35-36).

Pada waktu perjamuan malam, Petrus juga tampil. Dengan sedih Yesus mengatakan bahwa seorang akan mengkhianati Dia. lalu Petrus memberi tanda pada Yohanes untuk menanyakan siapa? Yesus menjawab: “Dia yang mencelupkan rotinya bersama Aku.” Setelah Yudas pergi, Yesus berkata: “Putra manusia akan ditangkap dan kamu semua akan meninggalkan Aku.” Petrus dengan spontan menjawab: “Walaupun yang lain meninggalkan Engkau, aku tidak akan meninggalkan Engkau.” Dia mengatakan itu dengan jujur walaupun dia belum tahu kekuatannya. Petrus memang sungguh-sungguh mencintai Yesus dan pada saat itu dia memang rela mati untuk Yesus. Tetapi, satu hal yang dilupakan Petrus adalah dia tidak mengukur kekuatannya sendiri. Imannya belum kuat, dia masih bergantung pada kekuatannya sendiri. Tetapi Petrus harus mengalami kebenaran sabda Tuhan ini: “Tanpa Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa.” Lalu Yesus mengatakan, “Sebelum ayam jago berkokok, engkau akan menyangkal Aku tiga kali. Tapi Petrus mengatakan, tidak mungkin Tuhan, aku rela mati untuk-Mu. Murid-murid yang lain juga tidak mau ketinggalan” (Mat 26:25). Tetapi, apa kenyataannya? Ketika tiba saatnya Yesus ditangkap, ketakutan menimpa mereka dan semua murid lari meninggalkan Gurunya.

 

Pentakosta yang mengubah Petrus dan para murid

Sebelum Yesus naik ke surga Petrus dan para murid masih lemah sekali, pikirannya masih penuh dengan perkara-perkara keduniawian. Mereka juga penakut. Tetapi, ketika pada hari Pentakosta Roh Kudus turun atas para murid Yesus, kehidupan mereka berubah secara total. Dari orang-orang yang serba takut terhadap orang-orang Yahudi, mereka menjadi saksi Kristus yang meyakinkan dan berani. Mereka sudah tidak memikirkan diri sendiri lagi, atau keselamatan sendiri, melainkan hatinya dipenuhi dengan Yesus dan ingin memberikan kesaksian tentang Dia.

Roh Kudus telah mengubah Petrus dan menjadikan dia saksi Yesus yang penuh keyakinan dan keberanian. Bahkan di hadapan para pemuka Yahudi, ia tidak gentar memberikan kesaksian, bahwa Yesus adalah Tuhan, karena Roh Kudus: “Maka, jawab Petrus penuh dengan Roh Kudus: Hai pemimpin-pemimpin umat dan tua-tua...” (Kis 4:8). Bahkan ketika dilarang supaya jangan berbicara atau mengajar lagi dalam nama Yesus, Petrus dengan berani menjawab: “Silakan kamu putuskan sendiri manakah yang benar di hadapan Allah: taat kepada kamu atau taat kepada Allah” (Kis 4:19). Padahal sebelum kebangkitan Tuhan, Petrus hanya karena ditanya seorang hamba perempuan saja sudah ketakutan setengah mati lalu menyangkal Tuhan.

Mereka sadar bahwa Roh Kudus telah menjadikan mereka anak-anak Allah: “Kamu telah menerima Roh yang menjadikan kamu anak Allah. Oleh Roh itu kita berseru: ‘Ya Abba, ya Bapa.’ Roh itu bersaksi bersama roh kita bahwa kita adalah anak-anak Allah” (Rm 8:15-16).

Waktu Pentakosta khotbah Petrus yang disampaikan atas dorongan Roh Kudus, menyebabkan sekitar tiga ribu orang bertobat dan memberi diri dibaptis (Kis 2). Petrus juga melakukan mukjizat, yakni penyembuhan seorang pengemis yang lumpuh di gerbang indah (Kis 3:2-7). Perkataan Petrus menunjukkan bahwa kuasa penyembuhan itu ada padanya, karena itu adalah bagian dari janji Yesus (Kis 1:8). Mereka akan menerima kuasa Roh Kudus yang sama yang telah bekerja dalam diri Yesus, maka mereka juga akan dapat melakukan penyembuhan-penyembuhan seperti yang dilakukan Yesus, bahkan lebih besar lagi (bdk. Yoh 14:12).

Roh Kudus juga menyadarkan Petrus dan para murid, bahwa Yesus itu sungguh-sungguh Tuhan, karena tak seorangpun dapat berkata bahwa Yesus adalah Tuhan, jika tidak dalam Roh Kudus (bdk. 1Kor 12:3). Kehadiran Roh Kudus akan meyakinkan mereka, siapa Yesus itu, dan karenanya mereka dapat memberikan kesaksian tentang Dia dengan penuh keyakinan: “Kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku…” (Kis 1:8; 5:32).

Petrus dan para murid bergaul erat mesra dengan Roh Kudus yang membimbing mereka dan menjadikan mereka murid-murid Yesus yang sejati. Hidupnya meyakinkan, pergaulannya dengan Tuhan nyata sekali, kasih persaudaraannya sangat besar, pewartaannya sungguh efektif, penuh tanda dan kuasa dan dengan demikian membawa banyak orang kepada pertobatan dan pengenalan Allah.

Dalam Kisah Para Rasul dikemukakan bahwa Petrus memberikan pelayanan di Palestina. Lalu tinggal di Antiokia di Negara Syria selama beberapa waktu. Kemungkinan ia lama mewartakan Injil di daerah yang sekarang dinamakan Asia kecil. Sudah pasti bahwa ia pergi ke Roma. Petrus menjadi perintis pewartaan Injil di Yerusalem. Ia mengepalai Konsili para rasul di Yerusalem tahun 49 (Kis 15:6-11). Menurut tradisi, sejak abad II Petrus mati demi iman atas permintaannya sendiri dia disalibkan dengan kepala ke bawah, sekitar tahun 67 di Roma, pada masa pemerintahan kaisar Nero. Makam Petrus di bawah altar utama Basilika S. Petrus di Vatikan.

Kuasa Roh Kudus dapat mengubah dan menyempurnakan kita

Peristiwa Petrus harus menjadi hiburan bagi kita dan harus menguatkan iman kita. Kalau Petrus yang lemah itu kemudian menjadi Santo Petrus, maka kita juga, manusia yang rapuh dan penuh kekurangan ini, kita pun dapat diubah oleh kuasa Roh Kudus yang sama untuk menjadi putra Allah yang sejati. Karena kita tahu bahwa rasul-rasul itu juga manusia- manusia yang lemah seperti kita, tetapi oleh rahmat Allah mereka menjadi seperti apa adanya, ini merupakan hiburan bagi kita. Kitapun dipanggil oleh Allah yang sama, yang juga mencurahkan Roh Kudus-Nya ke atas kita, supaya kita oleh kuasa Roh Kudus itu juga menjadi saksi-saksi Kristus yang tangguh. Bukankah S. Paulus mengatakan bahwa kita ini adalah bejana-bejana yang rapuh, kita menyimpan harta surgawi yang tak ternilai dalam bejana-bejana tanah liat. Oleh karena itu, kalau kita merasa lemah, kita harus berharap kepada Tuhan. Kesadaran akan kerapuhan sendiri, kesadaran akan kelemahan kita, akan kepapaan kita, akan dosa kita, jangan, membuat kita putus asa, tetapi harus membuat kita lari ke- pada Dia dan bersandar pada-Nya, karena Tuhan tahu siapa kita. Tuhan tahu kita ini hanyalah debu dan abu, dan dari diri kita sendiri kita begitu lemah, kita tidak mampu berbuat apa-apa. Maka Yesus pun berkata: “Lepas dari Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa” (Yoh 15). Walaupun kamu rapuh, kamu berdosa, tetapi kalau kamu tinggal di dalam Aku, kalau kamu kembali kepada-Ku, maka di dalam Aku kamu akan menghasilkan banyak buah. Maka bersama Paulus kita dapat berkata: “Aku dapat segala-galanya dalam Dia yang menguatkan aku.”

www.carmelia.net © 2008
Supported by Mediahostnet web hosting