Print
Hits: 3996

User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active
 

Tak Ada yang Luput

Ada kisah nyata tentang seorang ibu rumah tangga yang mengalami kesulitan dalam ekonomi. Suaminya pergi entah ke mana, tidak bertanggung-jawab atas isteri dan anak-anaknya. Karena merasa berat menanggung semua bebannya sendiri, ditambah segala persoalan dalam dirinya, ibu itu frustrasi dan menjadi gelap hati serta pikiran. Ia kemudian dengan sengaja membunuh anak-anaknya yang masih kecil dengan racun, lalu dia sendiri mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri. Sebuah cuplikan peristiwa kehidupan manusia yang gagal dalam menghadapi masalah kehidupannya.

Sebenarnya, kalau kita merenung tidak ada seorang pun yang bebas atau terlindungi dari penderitaan, dan tidak seorang pun berselancar mengarungi kehidupannya bebas dari masalah atau persoalan hidup. Kehidupan ini terdiri dari serangkaian masalah, baik itu masalah yang kecil dan sepele, sedang, sampai masalah yang besar, berat, dan menghimpit. Setiap kali kita memecahkan satu masalah, masalah lain sudah siap menanti kita lagi. Bahkan, seringkali masalah-masalah sepele dan kecil bisa menjadi bertele-tele dan besar. Gambarannya seperti percikan api dari sebuah korek api. Percikan kecil ini bisa membakar seluruh hutan sehingga api tidak dapat dikuasai oleh pemadam kebakaran dan tidak dapat dipadamkan lagi sampai semuanya menjadi rata dengan tanah.

Masalah kehidupan mau tidak mau selalu menghadang di depan kita. Kita harus bisa mengolah masalah-masalah kehidupan ini. Umumnya masalah akan membawa kita kepada yang buruk atau banyak menyita perhatian kita. Namun, pernahkah kita berpikir dan merenung: “Apakah saya bisa menjadikan masalah-masalah itu menjadi berkat?” Kalau kita bandingkan dalam dunia pendidikan, ujian-ujian bisa membuat seorang pelajar menjadi pandai karena dia bisa terpacu untuk belajar dan mendapatkan prestasi yang memuaskan. Tetapi, ujian-ujian bisa juga menjadikan seorang pelajar tetap bodoh kalau dia malas, tidak mau belajar, dan hanya mencontek.

Demikian juga dalam kehidupan rohani, Allah memakai masalah-masalah kehidupan kita untuk menarik kita lebih dekat kepada-Nya. Pemazmur dalam Kitab Suci mengimani hal itu, seperti diungkapkannya, “TUHAN itu dekat kepada orang-orang yang patah hati, dan Ia menyelamatkan orang-orang yang remuk jiwanya” (Mzm 34:19). Pengalaman-pengalaman doa dan penyembahan kita yang paling hebat dan mendalam justru seringkali muncul pada saat-saat tergelap kita, yakni ketika kita patah hati, merasa ditinggalkan, mengalami penderitaan luar biasa, dan kemudian kita memilih datang kepada Allah sendiri. Kita mau menyerahkan kebuntuan hidup dan segala persoalan kepada Allah. Selama menjalani penderitaanlah kita belajar untuk menaikkan doa-doa kita yang paling murni, sepenuh hati, dan jujur kepada Allah. Seringkali itu terjadi karena kita merasa sudah tidak ada jalan lain, selain datang kepada Allah dan sungguh-sungguh bergantung hanya kepada-Nya.

Baiklah kita baca dalam Kitab Suci, bagaimana tokoh-tokoh Kitab Suci mengalami banyak masalah dalam kehidupan mereka. Misalnya, Allah bisa saja mencegah Yusuf, si tukang mimpi, dijual oleh saudara-saudaranya (lih. Kej 37:12-36). Allah sebenarnya mampu mencegah nabi Yunus dilemparkan ke dalam laut dan berada di perut ikan tiga hari (lih. Yun 1:1-17). Allah juga bisa saja mencegah agar Ayub tidak dicobai oleh Iblis habis-habisan (lih. Ayb 1:1-2:13). Demikian pula, Allah dapat mencegah supaya Paulus tidak menderita penyiksaan dan mengalami karam kapal tiga kali (lih. 2Kor 11:23-25). Akan tetapi, Allah tidak melakukannya. Allah membiarkan masalah-masalah itu terjadi pada mereka masing-masing, dan sebagai hasilnya setiap orang tersebut ditarik lebih dekat dengan Allah dan bertumbuh dalam iman, harapan, dan kasih kepada-Nya.

Seharusnya, permasalahan kehidupan yang kita hadapi mendorong kita untuk memandang Allah dan bergantung pada-Nya, bukan pada diri sendiri. St Paulus memberi kesaksian kepada kita, bagaimana penderitaan atau masalah yang dihadapinya justru menghantarnya semakin percaya kepada Allah,

Beban yang ditanggungkan atas kami adalah begitu besar dan begitu berat, sehingga kami telah putus asa juga akan hidup kami. Bahkan kami merasa, seolah-olah kami telah dijatuhi hukuman mati. Tetapi hal itu terjadi, supaya kami jangan menaruh kepercayaan pada diri kami sendiri, tetapi hanya kepada Allah yang membangkitkan orang-orang mati” (2Kor 1:8-9).

Inilah teladan seorang Kristiani sejati, yang dapat memanfaatkan permasalahan kehidupan menjadi berkat iman, sehingga ia semakin dikuatkan dalam menaruh kepercayaannya kepada Allah.

Kita tidak akan pernah mengalami bahwa Allah itulah satu-satunya yang kita butuhkan sebelum Allah menjadi satu-satunya yang kita miliki. Allah dapat menjadikan segala sesuatu dan segala peristiwa hidup menjadi baik dan indah pada waktunya. Bukan hanya peristiwa yang menguntungkan secara manusiawi, melainkan juga peristiwa yang─menurut perhitungan manusiawi kita─pahit dan tidak menguntungkan. Seperti ditegaskan oleh Paulus, Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah”(Rm 8:28). Di sini, “untuk mendatangkan kebaikan”, bukan berarti segala sesuatu di dalam kehidupan adalah baik. Sebab kita tahu bahwa kejadian di dunia ini ada yang baik dan ada yang buruk atau jahat, tetapi Allah adalah ahli untuk mendatangkan kebaikan dari semua hal itu.

 


Kita Dipanggil Menjadi Serupa dengan Kristus

St. Paulus melanjutkan suratnya,Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya”(Rm 8:29). Kita dipanggil menjadi serupa dengan Kristus. Segala penderitaan yang kita alami merupakan cara atau jalan menuju kesempurnaan Kristiani, yaitu serupa dengan Kristus yang menjalani penderitaan-Nya demi cinta kepada Bapa dan manusia.

Kita bagaikan batu permata yang berharga di hadapan Tuhan. Kita akan dibentuk dengan palu dan alat pemahat penderitaan. Jika sebuah palu tidak cukup kuat merontokkan bagian pinggir kita yang kasar, Allah akan memakai palu godam. Jika kita benar-benar keras kepala, Allah akan memakai palu pelobang beton. Allah akan memakai apa pun yang diperlukan untuk membentuk kita menjadi indah.

Semua masalah merupakan kesempatan untuk membentuk diri kita. Bahkan, semakin sulit masalahnya atau semakin besar penderitaan kita, semakin besar pula potensi untuk membangun otot-otot rohani dan serat-serat moral kehidupan kita. St Paulus berkata,

Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan. Dan pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita” (Rm 5:3-5).

Karena Allah ingin menjadikan kita serupa dengan Yesus, Dia akan membawa kita melewati pengalaman-pengalaman yang sama seperti yang Yesus alami, antara lain: kesepian, pencobaan, tekanan, kecaman, penolakan, dan banyak penderitaan lainnya, sampai Ia wafat di kayu salib. Yesus sendiri telah belajar menjadi taat dari apa yang telah diderita-Nya, dan sesudah Ia mencapai kesempurnaan-Nya, Ia menjadi pokok keselamatan yang abadi bagi semua orang yang taat kepada-Nya” (Ibr 5:8-9). Bagaimanakah dengan kita? Beranikah kita belajar tetap taat kepada Allah dalam segala penderitaan kita?

Kalau Allah mengijinkan penderitaan-penderitaan dialami oleh Putera-Nya, mengapa Allah harus membebaskan kita? Sikap bermanja-manja dan tidak mau menderita demi cinta akan membuat kita tidak berkembang dalam kedewasaan rohani. Paulus berkata, Dan jika kita adalah anak, maka kita juga adalah ahli waris, maksudnya orang-orang yang berhak menerima janji-janji Allah, yang akan menerimanya bersama-sama dengan Kristus, yaitu jika kita menderita bersama-sama dengan Dia, supaya kita juga dipermuliakan bersama-sama dengan Dia(Rm 8:17). Itulah yang dikehendaki Allah bagi anak-anak yang dikasihi-Nya, yakni semakin sempurna iman, pengharapan, dan kasihnya kepada Allah. Kita lihat, misalnya, St. Theresia Lisieux yang menghayati spiritualitas menjadi seperti anak kecil di hadapan Allah. Apakah dia hidup seperti kanak-kanak dengan bermanja-manja dan tidak mau menderita? Tidak! Justru dalam kesederhanaannya, St. Theresia mempersembahkan masalah-masalah kecil sehari-hari menjadi kurban-kurban kecil demi cinta kepada Yesus dan menanggung derita sakit TBC dengan tetap tersenyum penuh cinta kepada Allah sampai akhir hidupnya.

 


Bagaimanakah Kita Menghadapi Permasalahan Kehidupan?

Masalah-masalah tidak secara otomatis menghasilkan apa yang Allah maksudkan. Banyak orang tidak menjadi lebih baik, tetapi justru menjadi kecewa, putus asa, dan tidak bertumbuh. Maka, dalam menghadapi permasalahan kehidupan ini, ada beberapa sikap yang perlu untuk menjadikan permasalahan menjadi sarana pertumbuhan rohani kita:

 

Penutup

Menghadapi ujian-ujian hidup berarti kita sedang menjadi dewasa. Bila kita bisa melihat tangan Allah di dalam lingkungan kehidupan yang acak, amburadul (kacau-balau), membingungkan, dan sepertinya tanpa arti, maka kita akan berkembang dalam kedewasaan iman.

Karena itu, jika kita sedang menghadapi masalah atau penderitaan sekarang, jangan bertanya, “Mengapa aku mengalami ini semua?” tetapi bertanyalah, “Apa yang Allah ingin aku pelajari dari masalah ini?” Kemudian, tetaplah percaya kepada Allah dan tetap melakukan yang benar. Sebab kamu memerlukan ketekunan, supaya sesudah kamu melakukan kehendak Allah, kamu memperoleh apa yang dijanjikan itu” (Ibr 10:36). Jangan menyerah, bertumbuhlah! Tuhan memberkati.