User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active
 

Tak Ada yang Luput

Ada kisah nyata tentang seorang ibu rumah tangga yang mengalami kesulitan dalam ekonomi. Suaminya pergi entah ke mana, tidak bertanggung-jawab atas isteri dan anak-anaknya. Karena merasa berat menanggung semua bebannya sendiri, ditambah segala persoalan dalam dirinya, ibu itu frustrasi dan menjadi gelap hati serta pikiran. Ia kemudian dengan sengaja membunuh anak-anaknya yang masih kecil dengan racun, lalu dia sendiri mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri. Sebuah cuplikan peristiwa kehidupan manusia yang gagal dalam menghadapi masalah kehidupannya.

Sebenarnya, kalau kita merenung tidak ada seorang pun yang bebas atau terlindungi dari penderitaan, dan tidak seorang pun berselancar mengarungi kehidupannya bebas dari masalah atau persoalan hidup. Kehidupan ini terdiri dari serangkaian masalah, baik itu masalah yang kecil dan sepele, sedang, sampai masalah yang besar, berat, dan menghimpit. Setiap kali kita memecahkan satu masalah, masalah lain sudah siap menanti kita lagi. Bahkan, seringkali masalah-masalah sepele dan kecil bisa menjadi bertele-tele dan besar. Gambarannya seperti percikan api dari sebuah korek api. Percikan kecil ini bisa membakar seluruh hutan sehingga api tidak dapat dikuasai oleh pemadam kebakaran dan tidak dapat dipadamkan lagi sampai semuanya menjadi rata dengan tanah.

Masalah kehidupan mau tidak mau selalu menghadang di depan kita. Kita harus bisa mengolah masalah-masalah kehidupan ini. Umumnya masalah akan membawa kita kepada yang buruk atau banyak menyita perhatian kita. Namun, pernahkah kita berpikir dan merenung: “Apakah saya bisa menjadikan masalah-masalah itu menjadi berkat?” Kalau kita bandingkan dalam dunia pendidikan, ujian-ujian bisa membuat seorang pelajar menjadi pandai karena dia bisa terpacu untuk belajar dan mendapatkan prestasi yang memuaskan. Tetapi, ujian-ujian bisa juga menjadikan seorang pelajar tetap bodoh kalau dia malas, tidak mau belajar, dan hanya mencontek.

Demikian juga dalam kehidupan rohani, Allah memakai masalah-masalah kehidupan kita untuk menarik kita lebih dekat kepada-Nya. Pemazmur dalam Kitab Suci mengimani hal itu, seperti diungkapkannya, “TUHAN itu dekat kepada orang-orang yang patah hati, dan Ia menyelamatkan orang-orang yang remuk jiwanya” (Mzm 34:19). Pengalaman-pengalaman doa dan penyembahan kita yang paling hebat dan mendalam justru seringkali muncul pada saat-saat tergelap kita, yakni ketika kita patah hati, merasa ditinggalkan, mengalami penderitaan luar biasa, dan kemudian kita memilih datang kepada Allah sendiri. Kita mau menyerahkan kebuntuan hidup dan segala persoalan kepada Allah. Selama menjalani penderitaanlah kita belajar untuk menaikkan doa-doa kita yang paling murni, sepenuh hati, dan jujur kepada Allah. Seringkali itu terjadi karena kita merasa sudah tidak ada jalan lain, selain datang kepada Allah dan sungguh-sungguh bergantung hanya kepada-Nya.

Baiklah kita baca dalam Kitab Suci, bagaimana tokoh-tokoh Kitab Suci mengalami banyak masalah dalam kehidupan mereka. Misalnya, Allah bisa saja mencegah Yusuf, si tukang mimpi, dijual oleh saudara-saudaranya (lih. Kej 37:12-36). Allah sebenarnya mampu mencegah nabi Yunus dilemparkan ke dalam laut dan berada di perut ikan tiga hari (lih. Yun 1:1-17). Allah juga bisa saja mencegah agar Ayub tidak dicobai oleh Iblis habis-habisan (lih. Ayb 1:1-2:13). Demikian pula, Allah dapat mencegah supaya Paulus tidak menderita penyiksaan dan mengalami karam kapal tiga kali (lih. 2Kor 11:23-25). Akan tetapi, Allah tidak melakukannya. Allah membiarkan masalah-masalah itu terjadi pada mereka masing-masing, dan sebagai hasilnya setiap orang tersebut ditarik lebih dekat dengan Allah dan bertumbuh dalam iman, harapan, dan kasih kepada-Nya.

Seharusnya, permasalahan kehidupan yang kita hadapi mendorong kita untuk memandang Allah dan bergantung pada-Nya, bukan pada diri sendiri. St Paulus memberi kesaksian kepada kita, bagaimana penderitaan atau masalah yang dihadapinya justru menghantarnya semakin percaya kepada Allah,

Beban yang ditanggungkan atas kami adalah begitu besar dan begitu berat, sehingga kami telah putus asa juga akan hidup kami. Bahkan kami merasa, seolah-olah kami telah dijatuhi hukuman mati. Tetapi hal itu terjadi, supaya kami jangan menaruh kepercayaan pada diri kami sendiri, tetapi hanya kepada Allah yang membangkitkan orang-orang mati” (2Kor 1:8-9).

Inilah teladan seorang Kristiani sejati, yang dapat memanfaatkan permasalahan kehidupan menjadi berkat iman, sehingga ia semakin dikuatkan dalam menaruh kepercayaannya kepada Allah.

Kita tidak akan pernah mengalami bahwa Allah itulah satu-satunya yang kita butuhkan sebelum Allah menjadi satu-satunya yang kita miliki. Allah dapat menjadikan segala sesuatu dan segala peristiwa hidup menjadi baik dan indah pada waktunya. Bukan hanya peristiwa yang menguntungkan secara manusiawi, melainkan juga peristiwa yang─menurut perhitungan manusiawi kita─pahit dan tidak menguntungkan. Seperti ditegaskan oleh Paulus, Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah”(Rm 8:28). Di sini, “untuk mendatangkan kebaikan”, bukan berarti segala sesuatu di dalam kehidupan adalah baik. Sebab kita tahu bahwa kejadian di dunia ini ada yang baik dan ada yang buruk atau jahat, tetapi Allah adalah ahli untuk mendatangkan kebaikan dari semua hal itu.

 

www.carmelia.net © 2008
Supported by Mediahostnet web hosting