Yesus Lahir Dalam Hati Kita

User Rating:  / 6
PoorBest 

Saya teringat cerita para rahib Padang Gurun yang mengisahkan tentang “Di mana Yesus akan lahir kembali”. Pada suatu hari para penghuni surga berkumpul dan mengadakan sidang untuk mempersiapkan kunjungan Sang Penyelamat ke dunia. Dalam sidang itu hadir para rasul yang sudah berbahagia di surga, para kudus lainnya dan tidak ketinggalan juga Bunda Maria. Dalam sidang itu banyak usulan tentang kunjungan Yesus ke dunia di antaranya: ada yang mengusulkan lebih baik Yesus berkunjung ke panti asuhan dan orang miskin untuk menolong mereka. Namun, yang lain kurang setuju karena menurut mereka sudah banyak orang yang membantu orang miskin dan panti asuhan. Ada pula yang mengusulkan kalau begitu ke Gereja-Gereja saja, karena banyak yang sudah tidak ada waktu untuk ke Gereja. Akan tetapi, yang lain lagi mengatakan sudah banyak orang datang ke Gereja untuk berdoa, walaupun doanya hanya setengah hati karena diburu waktu. Sedangkan yang lagi mengusulkan lebih baik Yesus berkunjung di dalam keluarga-keluarga, karena banyak keluarga yang berantakan, tercerai-berai, dan tidak bahagia. Akan tetapi, yang lain menyanggah pula dengan alasan bahwa mereka pasti bisa menyelesaikannya.

Akhirnya, dengan rendah hati Bunda Maria mengatakan, “Lebih baik Putraku berkunjung dan lahir kembali di hati manusia. Ada begitu banyak orang yang meninggalkan hatinya sendiri dewasa ini karena sibuk dengan urusan duniawinya.” Semua anggota sidang hening dan setuju. Ya, Yesus harus lahir di setiap hati manusia.

Cerita ini hanya ilustrasi belaka, namun hendak mengingatkan kita bahwa sudah kurang lebih duaribu tahun kita memperingati kelahiran Tuhan kita Yesus Kristus di dunia ini. Namun, apakah peristiwa ini mempunyai makna dalam kehidupan kita? Apakah Tuhan Yesus diberi tempat di dalam hati kita? Apakah Tuhan Yesus diizinkan meraja di dalam hati kita? Setiap tahun kita merayakan pesta Natal dan sudah berkali-kali kita rayakan. Kita juga banyak mendengar tentang arti Natal, tetapi tidak terlalu jelas apa arti yang sebenarnya bagi kita. Dalam pesta itu kita merayakan kelahiran Penebus Ilahi, Yesus Kristus, di Betlehem. Meskipun Yesus berulang kali lahir di kandang domba, itu tidak akan bermakna sama sekali jikalau Dia tidak dilahirkan di dalam hati kita masing-masing, dan mempersilahkan Dia meraja di dalam kehidupan kita. Inilah yang mendorong kita saat ini untuk merenungkan bersama peristiwa Natal, peristiwa yang sangat menentukan keselamatan kita semua.

Bagi sebagian orang, arti Natal adalah kehangatan dan cinta di dalam keluarganya, dengan kata lain pesta keluarga. Bagi sebagian yang lain, arti dari Natal adalah kasih bagi sesama “damai di bumi bagi semua orang,” saat berdamai dengan sesama. Dan selain itu, tentu saja banyak orang Kristiani berpikir bahwa arti Natal yang sebenarnya adalah merayakan ulang tahun kelahiran Tuhan Yesus di dunia. Ini pendapat umum. Namun, bagi kita pribadi, apa makna Natal bagi kita?

Iman yang didasarkan pada kisah Injil mengatakan kepada kita bahwa Allah menjadi manusia, yaitu Dia masuk ke dalam sejarah manusia supaya manusia diarahkan, diselamatkan dan ditebus-Nya. Inilah arti penjelmaan Sang Sabda yang menjadi manusia. Arti Natal yang sesungguhnya adalah suatu pesta kegembiraan dan harapan sejati bagi kita umat beriman. Sebab setiap kali kita merayakan Natal, kita merayakan salah satu kebenaran iman kita yang terbesar, yaitu inkarnasi atau penjelmaan Allah menjadi manusia. Kita tidak hanya merayakan fakta bahwa duaribu tahun yang lalu Yesus dari Nazaret dilahirkan, tetapi kita merayakan fakta yang jauh lebih besar lagi, yaitu bahwa Yesus dari Nazaret adalah benar-benar Allah yang menjelma menjadi manusia dan tinggal di antara kita.

Oleh karena itu, makna Natal bukan semata-mata perayaan kelahiran Yesus. Memang setiap Natal kita merayakan pesta kelahiran Yesus, merayakan datangnya Tuhan ke dunia. Semua itu tidak keliru, tetapi maksud sesungguhnya adalah bahwa dalam merayakan Natal kita tidak hanya mengenangkan saat duaribu tahun yang lalu ketika Yesus memasuki dunia kita; namun kita juga harus melihat ke depan, kepada apa yang akan terjadi apabila Yesus datang kembali yang kedua kalinya untuk menyelesaikan karya penyelamatan-Nya. Dia akan datang untuk mengadili orang yang hidup dan yang mati serta menetapkan Kerajaan-Nya.

Misteri kelahiran Kristus

Dari dalam rahim wanita dari Nazaret, Allah melahirkan seorang penyelamat di kandang domba. Di dalam gua sederhana inilah, surga dan bumi dan wanita disatukan demi terjadinya suatu peristiwa yang menandai zaman dan kekekalan.Tidak heran bahwa langit terang benderang, dipenuhi kemuliaan dan sukacita ketika para malaikat membalikkan arah pujian mereka ke bumi, melambungkan damai sukacita dan kemuliaan Allah. Kemuliaan terdengar di segala penjuru bumi dan menyebar ke mana-mana. Langit dan lereng bukit, surga dan bumi, terjaring bersama di dalam cahaya dan sukacitakemuliaan Allah.

Pada hari Raya Natal ada suatu perasaan yang baru dan harapan yang baru bagi setiap jiwa. Di seluruh dunia beribu-ribu lilin dinyalakan dan lampu-lampu berjuta warna memancarkan kemuliaan Allah. Namun, kesemarakan segala cahaya itu hanya bagaikan kelap-kelip saja bila dibandikan cahaya terang Ilahi, pengharapan yang dipancarkan Putra manusia yang lahir di Betlehem; cahaya-Nya melebih cahaya alam raya. Ada suatu kesadaran bahwa tak ada tindakan menakjubkan yang lebih mulia dan lebih luhur daripada merenungkan makna misteri kelahiran Sang Penyelamat dunia, sebagai terang dunia.

Malam yang kudus itu, penuh keheningan dan penuh penantian dari setiap hati yang berjaga, berharap, dan berdoa. Namun kemudian dari keheningan malam yang sunyi itu, terdengarlah tangis lembut pertama kanak-kanak Yesus. Saat mendengar suara itulah, tiba-tiba hati kita bergelora dan terangkat. Sukacita amat besar yang tak mampu kita ungkapkan sepenuhnya serta damai sukacita meliputi jiwa. Dia melimpahi dan menutupi kekurangan bahasa manusia yang terbatas. Inilah “kabar baik akan kesukaan besar untuk seluruh bangsa. Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat yaitu Kristus, Tuhan di kota Daud.”

Kasih adalah makna Natal yang sesungguhnya

Pada hari Natal ini, hati kita diliputi sukacita. Allah yang begitu mengasihi manusia telah mengutus anak-Nya yang tunggal untuk mengungkapkan kasih-Nya, untuk menyelamatkan umat-Nya. Bersama para gembala kita “pergi ke Betlehem” untuk melihat apa yang terjadi di sana, seperti yang diberitakan kepada kita.

Dengan membungkuk untuk masuk, kita mengintip ke dalam hati yang kekal untuk menemukan bahwa Allah adalah “kasih.” Inilah makna Natal yang sesungguhnya. Di atas segala hal lain, inilah sebuah kebenaran dahsyat yang menggetarkan hati kita di malam yang kudus: “Sabda sudah menjadi manusia dan tinggal di antara kita.” Dialah Yesus penyelamat dunia.

Merayakan Natal berarti mengalami kembali kejutan Ilahi bahwa Allah begitu mengasihi kita sehingga Dia datang ke dalam gua hati kita yang kotor dan penuh dosa, dalam jaringan tubuh manusia yang rapuh, yang mudah jatuh dalam setiap godaan. Natal adalah hari terang, yang mau menerangi hati yang gelap karena dosa. Pendamaian manusia dan Allah melalui Kristus yang baru lahir adalah fajar yang memecah kegelapan pikiran manusia: Dia adalah bayi yang berkobar bercahaya, sehingga di dekat-Nya kita dapat menghangatkan tangan-tangan yang dingin dan hati-hati yang beku. Kobaran cahaya-Nya menerangi setiap langkah kita.

Di Gua Betlehem, kita menemukan keakraban antara Allah dan manusia. Kita melihat Bunda Maria yang terberkati, dengan lembut dan hormat tangannya menggendong Tubuh yang sempurna, Allah yang kekal, Penasehat ajaib, Raja Damai. Penuh kasih diangkatnya Tubuh lembut itu dan meletakkan wajah Anak itu di lehernya dengan senyum kasih sayang seorang ibu seraya membisikkan kata-kata kasih.

Lengan-lengan kecil yang bergerak-gerak lemah, sentuhan pipi yang lembut, ketidak berdayaan sosok bayi kecil yang pasrah, menggantungkan segalanya pada ibu-Nya. Semua itu membuat hati Maria berdebar dalam keheranan akan kemuliaan Allah yang begitu besar dan luhur, sambil mengatakan, “Sesungguhnya aku ini hamba Tuhan. Jiwaku memuliakan Tuhan dan hatiku bergembira karena Allah Juruselamatku.” Dengan penuh kasih sayang Maria memeluk bayi Yesus dan menenangkan tangisnya di dadanya. Mulut yang kecil dan manis itu bergetar untuk diam karena terhibur oleh tegukan yang hangat dan manis dari sang ibu. Hati bunda Maria senantiasa sadar bahwa setiap tetesan air susunya memberikan pertumbuhan kepada tubuh Allah-manusia bagi karya penyelamatanmanusia di dunia ini.

Kedatangan Kristus di tengah-tengah umat-Nya sangat mengagumkan. Dia datang dengan cara yang paling halus, paling menarik, sekaligus paling menggemparkan di seluruh dunia. Kemuliaan Allah diwartakan oleh para malaikat surgawi yang memuji kemulian Allah. Bayi di dalam palungan itu adalah Allah yang Agung, yang Mahakuasa, Raja dan Allah. Allah yang Mahakuasa itu ingin menjadi saudara kita, mengasihi dan ingin dikasihi kita, ingin memberikan karunia-karunia-Nya kepada kita, dan yang lebih dari itu, yaitu menyelamatkan kita.

Pandangan mata yang tertuju kepada Bayi Yesus memaksa kita untuk mengakui kebenaran Allah. Mengapa Allah memilih menjadi manusia, memilih menjadi bayi kecil, kalau bukan karena menginginkan kita mengasihi-Nya? Apa lagi yang dapat kita berikan kepada seorang Anak kecil selain kasih kita? Mengasihi Dia di atas segala-galanya?

Ketidakberdayaan tanpa dosa dari kanak-kanak Yesus, serta ketergantungan dan kepasrahan-Nya, menyentuh hati kita yang mau tidak mau harus menyatu dengan kasih-Nya. Bagi Yesus tak ada cara lain yang lebih mudah untuk masuk ke dalam hati kita selain menjadi seorang bayi dan menjadi manusia sama seperti kita dalam segala hal kecuali dalam hal dosa, karena Yesus tidak berdosa. Allah datang untuk menenangkan hati kita, yang mudah rapuh dan jatuh. Dia hadir di antara kita dalam rupa seorang bayi untuk menunjukkan kepada kita bahwa Dia sangat mendambakan kasih kita yang sejati. Dia mau supaya kita mengasihi Dia di dalam kehidupan kita. Oleh karena itu, Yesus sangat sedih bila kita jauh dari pada-Nya. Dengan demikian, biarlah bersama para malaikat kita memuji Dia ”Kemuliaan bagi Allah di tempat yang Mahatinggi, dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya.”

www.carmelia.net © 2008
Supported by Mediahostnet web hosting