Print
Hits: 5929

User Rating: 4 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Inactive
 

Sejak tahun 2003 saya mulai membiasakan diri berdoa dengan menggunakan Ibadat Harian, dan sejak saat itu pula saya mulai membiasakan diri berdoa dengan menggunakan kitab Mazmur, buku doa yang dulu digunakan oleh umat Perjanjian Lama, kemudian Kristus sendiri, dan akhirnya menjadi buku doa Gereja. Berdoa dengan menggunakan mazmur-mazmur memberi banyak pengalaman baru untuk saya dan juga membentuk pemahaman saya tentang doa.

Bagi saya doa adalah gerakan membuka diri kepada Allah, suatu tindakan yang mengungkapkan iman bahwa Allah mengasihi saya dan peduli terhadap diri saya. Ketika saya berdoa, saya tidak sedang memberi informasi kepada Allah mengenai keadaan saya, perasaan saya, atau kebutuhan-kebutuhan saya. Saya juga tidak perlu mengajariNya apa yang harus Ia lakukan terhadap diri saya. Ketika saya berdoa saya mempercayakan kepada Allah perasaan, keinginan, dan kekhawatiran, singkatnya saya mempercayakan seluruh diri saya kepadaNya.

Suatu ketika saya pernah kehilangan buku tabungan saya. Kehilangan buku tabungan membuat saya mengobrak-abrik seluruh kamar saya yang sudah sangat berantakan dan berharap saya dapat menemukan buku tabungan saya di antara berbagai tumpukan buku, majalah dan pakaian kotor yang bertebaran di seluruh kamar. Hasilnya nihil, dan dalam keadaan setengah frustasi saya meminta Allah menunjukkan di mana saya dapat menemukan buku tabungan saya dan meminta St. Antonius dari Padua untuk membantu saya mencari buku itu. Karena sepertinya sia-sia mencari buku tabungan yang ukurannya kecil itu di dalam kamar yang berantakan, saya memutuskan untuk merapikan  dan membersihkan isi kamar sebagai langkah awal mencari buku tabungan tersebut. Akhirnya ketika kamar sudah hampir bersih dan rapih seluruhnya saya menemukan buku tabungan itu terselip diantara tumpukan buku. Mendapatkan barang yang saya cari, doa spontan yang ucapkan dalam hati adalah “Kau gila Tuhan! Kalau Kau ingin saya merapihkan kamar  katakan saja tanpa membuat buku tabunganku hilang!”.

Ungkapan seperti itu mungkin terlalu berani bahkan kurang ajar, tetapi saya kira Allah mau berbagi sensasi yang saya rasakan ketika saya akhirnya berhasil menemukan buku tabungan yang saya cari. Doa-doa berani semacam itu saya kira juga memenuhi doa-doa dalam kitab Mazmur di mana kita dapat menemukan pemazmur meminta Allah untuk menghajar musuh-musuhnya (Mazmur 35: 1-6) atau ketika pemazmur mempertanyakan dimana Allah ketika ia diperlakukan tidak adil atau sedang dalam keadaan tertindas (Mazmur 22: 1-3). Doa-doa seperti ini, dalam pandangan saya, bukanlah suatu kekurangajaran melainkan suatu kepercayan radikal bahwa Allah mau mendengarkan kita dan menerima diri kita apa adanya.

Dalam kesempatan lain lagi, ketika saya memiliki suatu keinginan tertentu, saya pernah berdoa:

 “Tuhan, aku tahu aku tidak dapat memaksaMu mengabulkan keinginanku, tetapi kalau aku bisa aku ingin memaksaMu, dan sekarang aku sedang memaksaMu, kabulkanlah keinginanku!”. 

Sudah pasti bahwa Allah tidak dapat dipaksa, tetapi saya tidak bisa berbohong kepada Allah bahwa saya benar-benar ingin agar keinginan saya yang satu itu Ia kabulkan. Saya percaya Allah mengerti keinginan dan harapan saya itu, dan mempercayakan semua harapan, perasaan dan keinginan itu kepada Allah memberi saya kedamaian dan keberanian untuk percaya bahwa Ia memberikan yang terbaik. Memang akhirnya keinginan saya itu ternyata tidak dikabulkan bahkan yang terjadi adalah kebalikan dari yang saya harapkan, tetapi walaupun keinginan saya ditolak hati saya dipenuhi sukacita karena Allah mau perduli pada apa yang saya alami dan saya rasakan, Ia mau berbagi dengan saya dan Ia menerima saya apa adanya.

Menurut saya dalam doa-doa yang berani semacam itu kita sedang mengadakan penyerahan atas semua keinginan, kekesalan, kemarahan, kekhawatiran atau apapun yang ada pada kita dan puncaknya adalah penyerahan diri kita kepada Allah. Dalam doa-doa semacam itu kita sedang menyatakan tidak ada yang tersembunyi  bagi Allah dalam diri kita (seperti yang begitu indah diungkapkan dalam Mazmur 139). Keterbukaan ini dengan sendirinya menjadikan Allah lebih bebas berkarya dalam diri kita dan membentuk kita sesuai dengan rencanaNya.

Dalam dialog Yesus dengan Petrus sesudah kebangkitan (Yoh 21: 15-19) Yesus bertanya kepada Petrus; "Simon, apakah engkau phileo terhadap aku?”. Pertanyaan ini membuat Petrus berada dalam situasi terjepit, di satu sisi perasaan kasihnya kepada Yesus amat besar, tetapi di sisi lain ia juga sadar kalau ia belum mampu mengasihi Yesus sepenuhnya. Jawaban Petrus terhadap pertanyaan Yesus itu terkesan ‘cari aman’ tetapi juga mengungkapkan keadaannya yang sebenarnya “Tuhan, Engkau tahu aku phileo dengan Engkau.” Dialog ini kemudian diulangi sekali lagi, sampai akhirnya Yesus bertanya untuk ketigakalinya “Simon apakah engkau phileo dengan aku?”. Kali ini Petrus menangis dan berkata “Tuhan Engkau tahu segala sesuatu, Engkau tahu bahwa aku agape dengan Engkau”.

Dalam dialog tersebut kita melihat bagaimana Petrus dengan jujur dan berani mengakui ketidakmampuannya untuk mengasihi Yesus dengan kasih agape (yang dalam Alkitab digunakan untuk menunjuk kepada kasih Allah bagi manusia dan kasih yang seharusnya manusia berikan kepada Allah sebagai tanggapan atas kasihNya). Ia ingin melakukannya tetapi tidak mampu, ia ingin menyatakan bahwa sebenarnya ia mau agape dengan Yesusnya tetapi disisi lain ia masih belum mampu, bahkan sudah terbukti sebelumnya ia gagal mencintai Yesus dengan cara se-radikal itu. Petrus mengungkapkan dirinya sejujurnya bahwa yang ia mampu sekarang adalah mengasihi Yesus dengan kasih phileo (dalam Alkitab digunakan untuk menunjuk kepada hubungan orang tua-anak atau saudara dan sahabat) dan bukan dengan kasih agape walaupun ia sangat ingin mengasihi Yesus dengan kasih yang agape. Yesus menerima keadaan Petrus ini , namun tidak sekedar menerima saja, melainkan Ia menyempurnakan kasih yang dimiliki oleh Petrus terhadapnya bahkan sampai akhirnya Petrus berani memberikan kesaksian iman dengan menumpahkan darahnya. 

Berdoa menggunakan mazmur dan mulai belajar untuk secara jujur mengungkapkan diri saya dihadapan Allah seringkali membawa saya kepada pengalaman dialog Yesus dan Petrus ini. Dan seperti yang Ia lakukan terhadap Petrus juga telah banyak kali Dia lakukan terhadap saya. Deo gratias!