Print
Hits: 5883

User Rating: 4 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Inactive
 

1. Sejarah Munculnya Masa Prapaskah

Sejak pertengahan abad II telah dirintis suatu masa pertobatan dengan berpantang dan berpuasa sebagai persiapan untuk menyambut paskah. Perayaan Paskah merupakan perayaan penebusan yang dihasilkan oleh Kristus melalui sengsara, wafat, kebangkitan dan kenaikan-Nya ke Surga. Masa Prapaskah dilaksanakan empat puluh hari sebelum Paskah, yang mempersiapkan orang-orang Kristiani untuk menyambut pesta Paskah dengan berdoa, berpuasa, bertobat dan berderma. Masa Prapaskah ini juga disebut juga masa puasa. Masa ini jelas mengikuti puasa yang dilakukan selama empat puluh hari oleh Musa: “Masuklah Musa ke tengah-tengah awan itu dengan mendaki gunung itu. Lalu tinggallah ia di atas gunung itu empat puluh hari dan empat puluh malam lamanya” (Kel 24:18), Elia yang berpuasa empat puluh hari empat puluh malam: “Maka bangunlah ia, lalu makan dan minum dan oleh kekuatan makanan itu ia berjalan empat puluh hari empat puluh malam lamanya sampai ke gunung Allah, yakni gunung Horeb” (1Raj 19:8), semua penduduk kota Niniwe yang berpuasa selama empat puluh hari: “Mulailah Yunus masuk ke dalam kota itu sehari perjalanan jauhnya, lalu berseru: empat puluh hari lagi maka Niniwe akan ditunggangbalikkan. Orang Niniwe percaya kepada Allah lalu mereka mengumumkan puasa dan mereka baik orang dewasa maupun anak-anak mengenakan kain kabung (Yun 3:4-5), dan khususnya Yesus sendiri yang berpuasa selama empat puluh hari di padang gurun:Yesus yang penuh dengan Roh Kudus, kembali dari sungai Yordan, lalu dibawa oleh Roh Kudus ke padang gurun. Di situ Ia tinggal empat puluh hari lamanya dan dicobai iblis. Selama di situ Ia tidak makan apa-apa dan sesudah waktu itu Ia lapar” (Luk 4:1-2).

Praktik yang sekarang berlangsung dalam Gereja Katolik ditetapkan pada abad ke-7 dan pertama kali dilakukan di Roma. Puasa tersebut dimulai pada hari Rabu Abu dan bukan sesudah Minggu Prapaskah Pertama. Dalam ritus Ambrosian di Milan, tidak ada hari-hari tambahan. Demikian juga dalam ritus Timur, masa Prapaskah berlangsung tujuh minggu. Akan tetapi karena pada hari Sabtu atau Minggu orang tidak berpuasa maka masa puasa hanya tiga puluh enam hari. Pada awalnya puasa ini dilakukan dengan keras. Orang hanya diizinkan makan satu kali menjelang petang, tanpa boleh makan daging, ikan dan makanan yang berasal dari susu. Orang-orang Kristiani dari Timur mempertahankan sebagian disiplin yang keras ini. Masa ini adalah masa khusus persiapan baptis bagi para katekumen. Di Roma setiap hari puasa dirayakan misa khusus dalam gereja atau stasi tertentu.

Dalam tradisi Bizantium, Minggu Prapaskah pertama adalah Pesta Ortodoksi, yang menandai kemenangan terhadap kaum ikonoklas dan bidaah-bidaah yang lain, Minggu kedua adalah pesta St. Gregorius Palamas (1296-1359) dan pada Minggu ketiga diadakan penghormatan salib. Pada hari Jumaat pekan kelima dinyanyikan Akatistos yaitu salah satu dari antara nyanyian pujian yang paling tua dan indah bagi Bunda Allah di Gereja Bizantium. Biasanya pujian ini dinyanyikan sambil berdiri dalam ibadat hari Sabtu sore menjelang Minggu kelima Masa Prapaskah di Gereja Yunani.

2. Spiritualitas Prapaskah

Masa Prapaskah merupakan masa penuh rahmat, karena dalam masa ini kita diajak untuk mempersembahkan diri secara khusus kepada Allah dengan menyadari bahwa kita adalah manusia lemah yang membutuhkan keselamatan dengan jalan mengurung segala bentuk dosa sekaligus menyadari betapa besar kerahiman dan keterbukaan Allah untuk menerima segala niat dan usaha baik kita. Semangat dasar yang ingin dikembangkan dan diraih dalam masa ini adalah kerinduan untuk membenahi, menguduskan dan menyelaraskan diri kita dengan kehendak Allah. Dalam rumusan Misale Romanum sungguh ditekankan semangat pembaharuan dan pembenahan diri: “Prapaskah dimaksudkan agar semua orang secara mantap memperbaharui diri dan diperbaharui sesuai dengan citra Allah yang telah bangkit.” Usaha pembaharuan dan penyelarasan diri ini harus diungkapkan secara nyata dalam pertobatan. Pertobatan ini menuntut agar dosa dan kelalaian disingkapkan, diungkapkan dan diakui. Karena syarat untuk mendapat belaskasih Allah adalah kita harus mengakui kesalahan dan pelanggaran kita di hadapan Allah. Santo Yohanes memberikan penerangan dan penjelasan yang tegas kepada kita mengenai pentingnya pengakuan dosa untuk mendapat belaskasih Allah: “Jika kita berkata, bahwa kita tidak berdosa maka kita menipu diri kita sendiri dan kebenaran tidak ada di dalam kita. Jikalau kita mengaku dosa kita maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan” (1Yoh. 1:8-9).

Semangat Masa Prapaskah menghimbau, baik secara pribadi maupun secara eklesial. Secara pribadi kita diarahkan untuk tidak membiarkan kecenderungan dosa dan mengarahkan kehendak inderawi kita kepada yang baik. Mempertahankan kemampuan sehat untuk menilai dan berpegang pada kata-kata: “Jangan mengikuti setiap kecenderungan walaupun engkau mampu dan jangan engkau mengikuti hawa nafsumu” (Sir 5:2). Dengan penguasaan diri yang sehat kita dapat mempersembahkan diri sebagai persembahan yang hidup dan yang berkenan kepada Allah. Santo Paulus sangat menekankan pentingnya persembahan diri yang utuh kepada Allah yaitu agar kita tidak menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi sungguh-sungguh berubah oleh pembaharuan budi, kehendak, pikiran dan hati. Sehingga dengan demikian kita mampu melihat manakah yang merupakan kehendak Allah: apa yang baik, berguna dan lebih-lebih apa yang paling berkenan kepada Allah (bdk. Rm 12:1-2). Usaha pertobatan ini harus sampai pada penyelidikan diri yang utuh bukan hanya matiraga tanpa disertai pertobatan batin yang mendalam. Semangat pertobatan yang diharapkan adalah penyucian hati dan pembaharuan batin seperti doa seorang Pemazmur ini: “Jadikanlah hatiku tahir, ya Allah dan perbaharuilah batinku dengan roh yang teguh” (Mzm 51:12). Semangat dasar dari Masa Prapaskah bukanlah sekedar ramai-ramai mempraktikkan askese yang berat, tetapi suatu penyesalan yang lahir dari batin dan jiwa yang hancur dan bukan pula korban sembelihan melainkan suatu kerinduan yang mendalam untuk menyelaraskan batin dan jiwa kita dengan kehendak Allah seperti doa yang diungkapkan oleh pemazmur ini: “Korban sembelihan kepada Allah ialah jiwa yang hancur; hati yang patah dan remuk tidak akan Kaupandang hina, ya Allah” (Mzm 51:19).

Usaha pertobatan pribadi ini sangat membantu dalam menjejakkan langkah kita untuk menyadari bahwa secara eklesial Masa Prapaskah merupakan masa bagi seluruh umat Allah untuk bersama-sama membuka diri bagi Allah Sang Penyelamat yang hendak membersihkan dosa-dosa, memperbaharui dan menyelaraskan hati dan roh kita dengan Roh Allah sehingga kita menjadi kudus sebagaimana Allah adalah empunya kekudusan itu. Oleh karena itu, perbuatan tobat dilakukan untuk menyelaraskan hidup kita sebagai pribadi juga sebagai komunitas atau Gereja. Dengan demikian perbuatan tobat tidak hanya menyangkut individu, tetapi secara eksternal berkaitan dengan orang-orang lain. Sebab dosa membawa akibat rusaknya hubungan kita dengan sesama Allah atau Gereja dan alam sekitar. Semua usaha pertobatan ini ingin menghidupkan peran-serta kita sebagai pribadi maupun Gereja pada Misteri Agung Paskah Kristus: “Dan jika kita adalah anak maka kita adalah ahli waris, maksudnya orang-orang yang berhak menerima janji-janji Allah, yang akan menerimannya bersama-sama dengan Kristus, yaitu jika kita menderita bersama-sama dengan Dia supaya kita juga dipermuliakan bersama-sama dengan Dia” (Rm 8:17). Inilah pokok spritualitas Masa Prapaskah di mana Kristus membenahi dan menyelaraskan hidup Gereja, Mempelai-Nya tercinta (bdk. Ef 5:25-27).

3. Sarana-sarana untuk meningkatkan penghayatan spiritualitas Masa Prapaskah

Spiritualitas atau semangat Masa Prapaskah perlu ditopang oleh sarana-sarana tertentu. Sarana-sarana itu antara lain: dengan mendengarkan dan merenungkan Sabda Tuhan selama Masa Prapaskah. Kita diajak untuk sungguh-sungguh meneladani sikap Maria yang dengan tekun mendengarkan, merenungkan dan menyimpan Sabda Allah dalam hatinya serta melaksanakannya. “Semangat Masa Prapaskah itu akan menjadi semakin berdayaguna apabila kita lebih banyak meluangkan waktu untuk berdoa, bersemuka dengan Allah dengan ayunan hati, satu pandangan sederhana ke hadapan Bapa, satu seruan syukur dan cinta kasih di tengah percobaan dan di tengah kegembiraan” (Teresia dari Kanak Yesus, auto. 25).

Di samping sarana-sarana yang telah disebutkan di atas, pantang dan puasa merupakan sarana yang baik untuk meningkatkan mutu penghayatan iman dalam Masa Prapaskah. Kita diarahkan untuk menjauhkan diri dari tindakan yang sebenarnya diizinkan (seperti makan daging) untuk lebih berkonsentrasi dan mengekang keinginan yang tidak teratur dan kecenderungan-kecenderungan yang membawa kita kepada dosa. Lebih dari itu, kita berpantang dan berpuasa karena kita memilki keyakinan bahwa Allah lebih besar dari makanan tersebut. Puasa dapat bersifat kuantitatif jikalau jumlah makanan dibatasi atau kualitatif jikalau tidak makan makanan tertentu, misalnya daging. Tujuannya adalah supaya kita lebih mengarahkan inderawi kita bukan hanya pada perkara-perkara jasmani melainkan pada perkara-perkara rohani. Ketiga sarana di atas lebih bersifat internal yaitu untuk mengembangkan hidup pribadi dan semakin mendekatkan diri pada Tuhan yang harus membawa kita untuk meningkatkan karya-karya amal dan cinta kasih kepada sesama. Usaha-usaha untuk meningkatkan karya-karya amal dan cinta kasih tersebut merupakan sarana terakhir dalam menghayati semangat iman dalam Masa Prapaskah.