User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active
 

PENDAHULUAN

Jika kita melihat dunia kita dewasa ini, kita akan menemukan adanya dua kecenderungan negatif masyarakat:

  • individualisme: cenderung untuk mengabaikan (tidak mempedulikan) sesama
  • atheisme kontemporer [1]: cenderung untuk mengabaikan Tuhan

Kecenderungan-kecenderungan ini tampak pula dalam relasi antar pribadi.

Di hadapan kenyataan ini pesan dan ajaran Santa Teresa dari Avila tentang persahabatan rohani (relasi rohani) seakan-akan menantang kita. Tulisan ini dia tulis bertahun-tahun yang lalu dan dia tujukan untuk para susternya, namun dapat dikatakan bahwa ajarannya masih ‘valid’ untuk dunia kita saat ini. Tentunya dengan penerapan yang disesuaikan dengan budaya/ tempat dan situasi/status hidup kita.

I. Dimensi Positif dan Negatif suatu Persahabatan dalam Perjalanan menuju Kesempurnaan

Salah satu karakteristik dari karya Teresa “Jalan Kesempurnaan” adalah karakteristik pedagogia dan asketik hidup rohani dan doa. Lalu, mengapa Teresa menyajikan topik ‘persahabatan’ dalam karya ini?

Untuk menjawabnya mari kita lihat beberapa idenya:

1.  “[...] tidak ada yang begitu berat yang tidak dapat ditanggung dengan mudah di antara mereka yang saling mencinta, [...]” (CV 4,5). Kita dapat katakan bahwa kasih memberi kita kekuatan untuk menanggung beban, untuk menerima kelemahan sesama, dan lain-lain. Suasana/lingkungan penuh kasih bagaikan tanah subur bagi tumbuhnya kebajikan-kebajikan. “[...], siapa menikmati persahabatan maju pesat dalam jalan kesempurnaan.” (CV 7,4).

2.  “Demi cinta kepada Tuhan, jauhilah persahabatan khusus (ekslusif), [...], karena bahkan di antara saudara akan menjadi beracun. Saya tidak melihat keuntungan di dalamnya, [...].” (CV 4,7).

3.  “Oh, Tuhanku, betapa banyaknya kesia-siaan yang bersembunyi dalam persahabatan-persahabatan khusus ini! [...] jika ini tidak baik untuk setiap religius, apalagi bagi seorang superior benar-benar merupakan suatu penyakit sampar.” (CV 4,8).

4.  “[...], setan dapat mendinginkan sedikit demi sedikit kasih kepada sesama dan membuatnya menganggap sebagai suatu kesempurnaan apa yang merupakan suatu kelemahan.” (CV 7,6).

Dalam tiga kutipan terakhir kita temukan hal-hal negatif sehubungan dengan persahabatan. Teresa mengatakan bahwa setan memasang banyak jebakan di sana (bdk. CV 4,5). Jebakan-jebakan ini bisa kita bagi dalam 2 kelompok ekstrem. Pertama, persahabatan yang tidak sehat dan kekanak-kanakan (yaitu: persahabatan yang disebut Teresa dengan ‘persahabatan khusus/ekslusif’ ). Kedua, ketidakpedulian atau relasi yang dingin.

Teresa juga berbicara sedikit tentang ‘kasih yang tidak baik’ dan ‘kasih yang diperbolehkan’. “Kasih yang tidak baik benar-benar merupakan suatu neraka” (CV 7,2). Dia tidak mau para susternya membicarakan ataupun memikirkannya sama sekali (bdk. CV 7,2). Sedang ‘kasih/afeksi yang diperbolehkan’ “[...] terletak pada ketakutan jika orang yang dicintai meninggal; [...].” (CV 7,2). Kematian yang dimaksudkan di sini adalah kematian jasmani, bukan kematian rohani. Ini bukan kasih yang tidak baik, tetapi Teresa ingin agar para susternya memiliki kasih yang lebih sempurna, yaitu kasih rohani atau persahabatan rohani.

Dari pandangan-pandangan Teresa di atas tampak bahwa dia melihat dimensi positif dan juga dimensi negatif dari suatu persahabatan/relasi/afeksi dalam hidup rohani, dalam perjalanan jiwa menuju Tuhan, menuju kesempurnaan. Oleh karena itu, dia ingin mengajar para susternya bagaimana membangun suatu relasi yang positif (yaitu: suatu persahabatan rohani). Dia berniat menyajikan suatu pedagogia dari afeksi, kasih, dan persahabatan menuju relasi antar pribadi yang dewasa.

II. Tuhan: Pusat Persahabatan Rohani

Menurut saya, kita dapat memberikan suatu definisi mendasar dari persahabatan rohani yang diajarkan Teresa, yaitu: suatu persahabatan/relasi yang menempatkan Tuhan sebagai ‘pusat’nya.

Definisi ini membawa banyak makna.

Primat Tuhan (Tuhanlah yang Utama)

Menarik bahwa pada awal bab 6, di mana dia memulai topik persahabatan rohani, Teresa mengatakan:

“Saya rasa, ketika Tuhan membuat jiwa tiba pada pengetahuan akan apa itu dunia dan betapa fananya dunia ini, pada kejelasan/terang akan keberadaan suatu dunia lain yang begitu berlawanan dengan yang pertama – yang satu abadi sedang yang lain hanyalah sebuah mimpi pendek –, pada perbedaan antara kasih Sang Pencipta dan kasih dari ciptaan-ciptaan [...], maka jiwa itu akan mencinta dengan cara yang sama sekali berbeda [...].” (CV 6,3).

Walau kata-kata di atas kedengarannya sederhana, namun sesungguhnya itu merupakan dasar penting dari suatu persahabatan rohani, yaitu: menyadari bahwa Tuhan adalah Tuhan, Sang Pencipta, sedang semua hal/pribadi lain hanyalah ciptaan. Tuhan pantas dicintai dan harus dicintai lebih dari segala yang lain. Kesadaran akan perbedaan tingkat antara Tuhan dan ciptaan akan membuat seseorang menempatkan Tuhan sebagai pusat hidupnya dan pusat seluruh keberadaannya, termasuk pusat relasi-relasinya. Dia melihat dan menilai segala sesuatu dari sudut pandang Tuhan. Kehendak dan kemuliaan Tuhan adalah norma tertinggi yang dicarinya.

Tuhan adalah Tujuan dan Pusat Perhatian

Tuhan adalah pusat persahabatan berarti bahwa perhatian jiwa dalam persahabatan adalah Tuhan, kemuliaan-Nya. Jiwa mencintai Tuhan dan ingin bertumbuh dalam kasihNya. Jiwa ingin agar sahabatnya juga mencintaiNya dan bertumbuh dalam kasihNya. Jadi, Tuhan adalah tujuan dalam persahabatan.

Karena Tuhan adalah pusat perhatian dan karena jiwa sadar akan kesia-siaan segala sesuatu di dunia ini, maka jiwa tidak peduli apakah kasihnya akan dibalas atau tidak (bdk. CV 6,7). Ini adalah kasih yang murni, sebuah kasih yang tidak mengharapkan apa-apa sebagai imbalan/balasan. “Mereka selalu lebih cenderung memberi daripada menerima; [...]” (CV 6,7).

“Inilah yang saya katakan layak untuk dinamakan ‘kasih’, namun afeksi-afeksi rendah duniawi telah merampas nama itu.” (CV 6,7). Menurut Teresa, ini adalah kasih yang layak untuk disebut sebagai ‘kasih’. Mengapa? Teresa mengatakan bahwa jika kita mencintai seseorang dan mengharapkan untuk dicintai olehnya, umumnya kita mencari kepentingan atau kesenangan kita sendiri (bdk. CV 6,7). Jadi, jika kita ‘mencintai’ seseorang atau memiliki suatu persahabatan untuk memperoleh kepentingan kita, kita patut menanya diri: “Siapa sesungguhnya yang saya cintai? Tuhan, teman saya, ataukah diri saya sendiri?”. Kita mencintai diri kita sendiri. Persahabatan (atau teman kita) hanyalah suatu alat atau sarana untuk mencapai tujuan-tujuan atau maksud-maksud pribadi kita. Bisa terjadi bahwa Tuhan tidak mempunyai tempat sama sekali dalam persahabatan seperti ini. Bisa juga terjadi bahwa Tuhan menjadi tujuan pribadi jiwa, sementara si teman hanyalah sebuah alat / sarana. Itu berarti: jiwa ingin dan berusaha untuk bertumbuh dalam perjalanannya menuju Tuhan dengan memakai persahabatan / teman tersebut, tetapi dia tidak peduli apakah si teman akan bertumbuh juga atau tidak. Ini bukanlah persahabatan rohani yang diharapkan Teresa (Bdk. CV 7,4). Sebaliknya, dalam persahabatan rohani, jiwa sungguh peduli dan mau melakukan semua usaha yang mungkin walau hanya untuk suatu kemajuan rohani kecil dari temannya. Dia akan bahagia melihat perkembangan temannya, dan akan sedih jika melihat kemundurannya (Bdk. CV 7,1.4). Seakan-akan dia memanggul salib temannya.

Karena Tuhan adalah tujuan, jiwa tidak ragu-ragu untuk memperingatkan atau memberitahu si teman jika dia melakukan sesuatu yang ‘salah’. Jiwa tidak mau dan tidak bisa ‘diam saja’ dengan tujuan memperoleh simpati si teman. Bila perlu, jiwa akan mengadakan ‘perang’ melawan si teman dengan maksud menariknya kembali ke jalan Tuhan. Ini mengingatkan kita akan kata-kata Yesus bahwa Dia datang untuk membawa pedang (bdk. Mt 10:34-39). Saya rasa, di sini Yesus mengacu pada situasi di mana kehendak dari ‘orang-orang yang kita cintai’ berlawanan dengan kehendak dan kepentingan Tuhan. Jadi, dalam situasi seperti ini, di mana kita harus memilih kehendak orang yang kita cintai atau kehendak Tuhan, Yesus menekankan bahwa kita harus memilih kehendak dan kepentingan Tuhan. Jika tidak, berarti kita menempatkan orang yang kita cintai itu lebih tinggi daripada Tuhan, Sang Pencipta. Ini juga merupakan ‘tanda’ yang menunjukkan apakah jiwa ‘melekat’ pada si teman atau tidak.

Tentu saja wajar jika jiwa senang dicintai atau mendapat balasan kasih, namun jiwa dapat menilai bahwa balasan kasih itu tidak penting.

Kristus adalah Teladan Cinta Kasih

Tuhan adalah pusat persahabatan berarti juga bahwa Tuhan adalah model atau teladan dalam mengasihi, seperti kata Kristus sendiri “sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi.” (Yoh 13:34b). Dalam persahabatannya, jiwa berusaha mencintai Kristus: “[...] kasih tersebut mengingat dan meniru kasih yang dimiliki Yesus bagi kita, kasih yang tak terbatas.” (CV 7,4). Contoh: jiwa rela berkurban demi kebaikan temannya.

“Jiwa-jiwa ini, [...] mencurahkan kasihnya dengan giat berusaha agar dia (si teman) layak dicintai oleh Tuhan, [...]. [...]; mereka akan rela mengurbankan hidupnya seribu kali demi sedikit kebaikan baginya.” (CV 6,9)

‘Kebaikan’ di sini terutama mengacu pada keselamatan jiwa, bukan pada ‘kebaikan-kebaikan duniawi’. Karena bagi jiwa segala hal duniawi tidak berharga sama sekali. Cara jiwa melihat, menilai hal-hal atau kejadian-kejadian berbeda. Misalnya: jika si teman menghadapi pencobaan atau saat-saat sulit, jiwa tidak jatuh dalam kecemasan/kesedihan yang mendalam, tetapi dia mengharapkan buah-buah rohani yang Tuhan ingin berikan bagi si teman melalui pencobaan tersebut. Jiwa akan berdoa dan berharap agar si teman menjadi lebih kuat di dalamnya. Walaupun, jika mungkin, jiwa akan bahagia bila dapat menanggung pencobaan itu sendiri dan memberikan buahnya saja kepada si teman (bdk. CV 7,4). Sebenarnya inilah yang telah dilakukan Kristus bagi kita. Dia mati di salib untuk memberi kita buah-buah salib, yaitu persatuan kita dengan Bapa. Inilah juga buah yang diharapkan jiwa bagi si teman: persatuan dengan Tuhan.

‘Terbuka’ bagi sesama yang lain

Penting untuk dicatat bahwa kasih rohani atau persahabatan rohani yang diajarkan Teresa juga memuat ‘keterbukaan’ bagi sesama, karena Teresa menekankan para susternya untuk saling mengasihi. “[...] – semua harus saling bersahabat, semua harus saling mengasihi dan saling menolong.” (CV 4,7) dan dia memperingatkan akan bahaya dari “persahabatan khusus/ekslusif”. Kasih yang murni dan sejati bukan berarti kasih yang ditujukan hanya pada satu orang. Jika demikian, hati kita akan menjadi budak dari orang tersebut. “Saudari-saudariku, janganlah pernah membiarkan hati kita menjadi budak dari seseorang selain dari Dia yang telah membebaskannya dengan darah-Nya; [...]” (CV 4,8).

Tuhan: “Pemersatu” dalam Persahabatan

“[...] mereka berharap untuk tetap mencintainya (mencintai si teman) dan tahu dengan baik bahwa hal itu tidak mungkin jika tidak memiliki harta rohani dan sangat mencintai Tuhan.” (CV 6,8). Dapat kita lihat dari kutipan di atas, bahwa jiwa mengasihi si teman, menghargai persahabatan mereka dan berharap bahwa persahabatan itu tetap akan berlanjut. Dia takut dipisahkan darinya ‘selamanya’. “Kematian sementara bukan merupakan masalah, karena dia (jiwa) tidak ingin melekatkan diri dari sesuatu yang dalam satu tiupan saja lenyap di antara kedua tangan tanpa mampu menahannya.” (CV 7,1). Kecemasannya adalah keselamatan jiwa si teman. Dia sadar bahwa persahabatan mereka tidak akan abadi jika mereka ‘di luar Tuhan’ (Bdk. CV 6,9).

Jadi, Tuhanlah pemersatu dalam persahabatan mereka. Mereka bersatu dalam Tuhan dan oleh Tuhan. Dalam Tuhan seorang teman adalah ‘selamanya’.

III. Beberapa Petunjuk Praktis

Biarpun mempunyai gambaran ideal tentang persahabatan, namun Teresa sangat realistis. Dia menerima kondisi manusiawi jiwa dengan aspek psikologisnya (termasuk afeksi jiwa) dan juga kelemahan manusiawi jiwa. Berulangkali dia menekankan pentingnya rahmat Tuhan. Dia juga menyadari bahwa dibutuhkan waktu untuk membangun suatu persahabatan rohani. Atau, lebih tepat jika dikatakan bahwa seseorang membutuhkan waktu untuk bertumbuh dalam relasi-relasinya, untuk membuat relasi-relasinya itu menjadi ‘rohani’. “Cara mengasihi seperti itu yang kuinginkan ada di antara kalian. Biarpun pada awalnya tidaklah sempurna, Tuhan perlahan-lahan akan menyempurnakannya.” (CV 7,5).

Berikut adalah beberapa petunjuk praktis yang diberikan Teresa kepada para susternya:

Sikap toleran

Dia ingin agar kita bersikap toleran terhadap sesama (sehubungan dengan kelemahan-kelemahan mereka). Mengapa? Karena jika kita ‘kuat’ dalam bidang kelemahan mereka tersebut, ini adalah berkat rahmat Tuhan. Tanpa rahmat-Nya, kita akan selemah mereka, bahkan lebih lemah daripada mereka. Jadi, sikap toleran kita adalah suatu tanda kerendahan hati kita. Memahami kelemahan sesama juga akan membuat kita memahami perjuangan-perjuangan dan penderitaan-penderitaan mereka. Kita akan memahami bukan hanya dengan pikiran, tapi juga dengan hati. Kita dapat merasakannya. Ini merupakan suatu jalan menuju persatuan yang baik. Salib dari yang seorang akan menjadi salib bagi semua yang lain. Seperti kata Santo Paulus (bdk. Rm 12:4-5), jika satu anggota tubuh sakit, maka seluruh tubuh akan merasakannya juga. Kita adalah tubuh Kristus, kita adalah satu.

  • “Baik dan kadang-kadang penting untuk merasakan dan menunjukkan kelembutan, menjadi peka terhadap kesukaran dan kelemahan saudari-saudari kita.” (CV 7,5).
  • “[...] janganlah kita mengadili berdasarkan diri kita sendiri, jangan pula memandang diri kita pada saat di mana, mungkin tanpa usaha apa-apa dari kita, Tuhan membuat kita kuat, tapi pada saat di mana kita lemah.” (CV 7,5)
  • “Ketahuilah bahwa nasihat ini sangat penting untuk belajar mengambil bagian dengan penderitaan-penderitaan sesama, [...]” (CV 7,6)

Beberapa ungkapan dari sikap toleran adalah:

  • tidak menghakimi mereka
  • mendoakan mereka
  • berusaha mempraktekkan kebajikan yang berlawanan dengan kelemahan mereka untuk menyemangati mereka atau memberi mereka inspirasi. Menurut Teresa, penting untuk mengajar dengan tindakan dan teladan apa yang tidak bisa mereka mengerti dengan kata-kata (Bdk. CV 7,7). Tindakan dan teladan kita berbicara lebih lantang daripada kata-kata kita.

Berdoa dan Waspada

  • “Perlu untuk selalu waspada dan berjaga karena setan tidak tidur, terlebih bagi jiwa-jiwa yang mendambakan kesempurnaan tinggi, karena setan benar-benar tersamar, [...]” (CV 7,6)
  • “Mereka harus selalu berjaga dan berdoa, karena tidak ada obat atau penawar yang lebih baik daripada doa untuk menyingkapkan jebakan tersembunyi dari setan dan memaksanya menunjukkan diri.” (CV 7,6)

Teresa mengingatkan kita akan kata-kata Yesus: “Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan: roh memang penurut, tetapi daging lemah.” (Mt 26:41). Saya yakin kita tidak meragukan pentingnya doa dan manfaatnya yang tak terhitung, tetapi di sini, saya ingin menggarisbawahi peranan doa dalam menyingkapkan jebakan setan seperti dikatakan Teresa di atas. Jika kita berdoa, kita masuk dalam keheningan hati. Sesungguhnya Tuhan selalu hadir di sana, tetapi dalam keributan hati kita, kita tidak mempunyai perhatian untuk-Nya. Kita tidak melihat-Nya dan kita juga tidak mendengarkan-Nya. Dalam doa kita ‘datang’ kepada-Nya, berbicara dengan-Nya dan mendengarkan suara-Nya. Dia menyatakan kepada kita banyak hal. Bersama-Nya kita melihat segala sesuatu dari sudut pandang-Nya. Inilah sebabnya mengapa kita bisa melihat jebakan si setan. Lebih dari sekedar menyingkapkan jebakan tersebut, Dia memberi kita rahmat untuk mengalahkannya.

Beberapa Petunjuk Praktis Lainnya

  • “[...] janganlah dipakai dan juga tidak seharusnya dipakai, (kata-kata) seperti: «hidupku », «jiwaku», «cintaku» dan yang serupa itu untuk satu sama lain. Kata-kata mesra tersebut hendaknya dikhususkan untuk Mempelai kalian.” (CV 7,8).
  • “[...], ringankanlah beban dan pekerjaan rumah-tangga saudari-saudarimu dengan menggantikannya; demikian juga bergembira dan bersyukurlah pada Tuhan melihat kemajuan mereka dalam kebajikan.” (CV 7,9).
  • “Jika terucap kata-kata melawan cinta kasih, berikan segera obat / penawarnya dan berpalinglah kepada Tuhan dengan doa yang sungguh-sungguh.” (CV 7,10)
  • Apa yang harus dilakukan terhadap mereka yang ‘menawarkan’ tipe lain dari afeksi/persahabatan (yaitu yang tidak rohani)? Menyadari ‘kasih’ mereka sebagai ungkapan kasih Tuhan bagi kita, kita berterima kasih kepada mereka dengan cara membawa mereka kepada Tuhan dalam doa dan minta Tuhan sendiri yang menjawab ‘kasih’ mereka itu (Bdk. CV 6,5)

KESIMPULAN

Yang terutama, Teresa mengajar kita bahwa Tuhan harus menjadi pusat diri kita, karena Dia adalah Tuhan, Sang Pencipta. Berpusat pada Tuhan, kita mengasihi sesama. Keterpusatan pada Tuhan tidak membuat jiwa mengabaikan sesamanya, sebaliknya ini akan memurnikan kasihnya kepada mereka. “Kalian mungkin mengira bahwa jiwa-jiwa demikian tidak mengasihi dan tidak tahu mengasihi siapapun kecuali Tuhan. Mereka justru mengasihi, bahkan lebih lagi, kasih mereka lebih sejati, lebih bernyala-nyala, lebih berguna; singkatnya itulah kasih.” (CV 6,7). Kasih atau afeksinya dan relasi atau persahabatan jiwa akan menjadi ‘rohani’.

Keterpusatan pada Tuhan akan terungkap dalam semua karakteristik persahabatan rohani. Misalnya:

  • Tuhan adalah pusat perhatian dan tujuan
  • Kristus adalah model / teladan kasih
  • ‘Keterbukaan’ kepada sesama yang lain
  • Tuhan adalah pemersatu dalam persahabatan

Akhirnya kita bisa simpulkan bahwa ajaran Teresa berakar pada hukum utama yang Kristus berikan kepada kita, yaitu: agar kita mencintai Tuhan dengan segenap diri atau keberadaan kita dan agar kita mencintai sesama seperti kita mencintai diri kita sendiri (bdk. Mrk 12:28-31).

Bibliografi: “Jalan Kesempurnaan” Teresa Avila



[1] Bdk. KONSILI VATIKAN II, Gaudium et Spes, §19-21.

www.carmelia.net © 2008
Supported by Mediahostnet web hosting