Print
Hits: 17491

User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active
 

KELUARGA NASARETH TELADAN SEMUA KELUARGA KRISTIANI

Nasareth adalah sebuah tempat di Palestina, di mana hidup keluarga kudus: Yesus, Maria, dan Yosef. Keluarga kudus ini menjalani hidup yang sangat sederhana, di sebuah desa kecil. Mereka hidup sebagai keluarga yang menghayati cintakasih, kerendahan hati, dan kesederhanaan.

Yesus yang paling muda menjadi pusat hidup keluarga kudus ini, sedangkan Maria dan Yosef sebagai orangtua dengan penuh kasih sayang menjaga, memelihara, mendidik, dan membesarkan Yesus. Dalam asuhan kedua orangtuanya Yesus semakin bertambah besar, bertambah hikmat-Nya dan besar-Nya, dan makin dikasihi oleh Allah dan manusia (Luk 2:52).

Dalam keluarga kudus Nasareth inilah Maria dan Yosefmemasuki sekolah kesempurnaan. Maria dan Yosef belajar untuk berdoa dan mendengarkan Sabda-Nya melalui Yesus yang menjadi pusat hidup mereka. Yesus juga menerima didikan dari kedua orangtuanya yang saleh.Maria dan Yosef menjadi model orangtua yang mengajarkan kehidupan yang saleh melalui praktik hidup iman dan keagamaan mereka (Luk 2:41-52).

Selama hidup mereka di Nasareth, Maria dan Yosef belajar dari pengajaran Yesus sendiri. Mereka mendengarkan, melihat, merasakan, merenungkan, dan mengkontemplasikan kehadiran-Nya yang seringkali penuh misteri. Mereka hidup dalam iman, harapan, dan kasih, hidup dalam persatuan yang mesra dengan Yesus. Banyak hal yang tak dapat dimengerti oleh Maria dan Yosef dalam kehidupan bersama Yesus: sejak proses kehadiran-Nya dalam rahim Maria, sampai wafat-Nya di kayu salib. Namun, Maria dan Yosef adalah tokoh-tokoh iman yang percaya sepenuhnya kepada Allah. Karya keselamatan Allah hadir di dunia ini melalui Keluarga Kudus Nasareth.

DOA KEPADA KELUARGA KUDUS NASARETH

Bapa surgawi, Engkau memberi kami model kehidupan Keluarga Kudus Nasareth.

Tolonglah kami O Bapa Maha Kasih, untuk membuat keluarga kami menjadi Nasareth yang lain, di mana cinta, damai, dan sukacita meraja setiap hari.

Semoga keluarga kami menjadi orang-orang pendoa secara mendalam serta terus bersumberkan Ekaristi dan bergetar dengan sukacita.

Tolonglah kami untuk tinggal bersama baik dalam suka maupun dalam derita melalui doa keluarga. Ajarlah kami untuk melihat Yesus dalam anggota keluarga kami, khususnya dalam penyamaran-Nya yang menyedihkan.

Semoga Hati Ekaristi Yesus membuat hati kami lembut dan rendah hati seperti Dia.

Tolonglah kami untuk menjalankan tugas-tugas keluarga kami dengan cara yang suci.

Semoga kami mencintai satu sama lain seperti Engkau mengampuni dosa-dosa kami.

Tolonglah kami, O Bapa Pengasih, untuk menerima apa saja yang Engkau minta dengan senyum lebar.

Hati Maria yang tak bernoda, sumber sukacita kami, doakanlah kami. Santo Yosef, doakanlah kami. Malaikat Pelindung yang suci sertailah kami selalu, bimbinglah dan lindungilah kami. Amin.

(Beata Teresa dari Kalkuta)


ST. THERESIA dari LISIEUX, ORANG KUDUS DIBESARKAN DALAM KELUARGA YANG KUDUS

St. Theresia dari Lisieux adalah seorang kudus besar zaman modern. Ia masuk Ordo Karmel, meninggal dalam usia 24 tahun. Benih kekudusan telah bertumbuh sejak masa kecilnya, karena ia dibesarkan dalam iklim keluarga yang saleh. Mereka hidup saling mengasihi. Yesus menjadi pusat dalam hidup keluarganya. Ayahnya seorang yang kontemplatif, ibunya seorang yang memperhatikan pendidikan dan kehidupan rohani anak-anaknya. Karena iklim keluarga yang saleh ini maka benih panggilan hidup religius tumbuh subur dalam keluarga Theresia. Lima bersaudara dalam keluarga Theresia, semua menyerahkan hidup mereka kepada Tuhan sebagai biarawati.

Lingkungan Hidup Theresia

Beberapa tahun setelah Theresia meninggal, ditemukan suatu catatan kecil yang ditulis tangan pada selembar karton yang diletakkan di atas kuburannya yang tertulis demikian, “Terima kasih orang tua kristiani karena kalian, demi perlindungan kami telah memberikan seorang kudus.” Catatan ini sangat sederhana, tidak diketahui siapa yang menulisnya. Akan tetapi, tulisan ini mengungkapkan suatu realitas bahwa Theresia menjadi suci sedemikian besarnya, terutama karena dipengaruhi oleh lingkungan keluarganya. Maka kita patut bersyukur kepada orang tuanya.

Rumah dan keluarga tempat Theresia dibesarkan sungguh-sungguh merupakan suatu sekolah kesucian. Madame Martin hidup di tengah-tengah keluarganya sebagai suatu teladan yang sempurna dari seorang istri dan seorang ibu. Di dalam rumahnya, dia mengatur segala sesuatu, khususnya yang mampu menimbulkan dalam hati anak-anaknya keinginan kepada kesucian. Ini merupakan suatu rahmat yang istimewa, rahmat yang indah. Sesungguhnya, dia seorang ibu yang mengagumkan sekali.

Korespondensi-korespondensi dengan anaknya dan juga saudaranya yang sekarang tersimpan berjumlah kira-kira 200 surat. Dari surat-surat itu tampaklah seluruh keberadaannya sebagai seorang ibu, yaitu sukacitanya, ketakutan-ketakutannya, rencana-rencananya, dan juga impian masa depannya. Dari sumber itu kita dapat mengetahui bagaimana keadaan jiwanya dan bila dipelajari lebih mendalam maka akan dijumpai suatu inspirasi kristiani yang sangat luhur. Kita juga mengerti bahwa pendidikan anak-anak bermula di dalam jiwa orang tuanya, tetapi teristimewa jiwa seorang ibu. Maka ketika Theresia mulai menuliskan riwayat hidupnya dalam “Kisah Sebuah Jiwa”, pertama-tama dia mengenangkan kembali kehidupan di dalam keluarganya.Theresia yang kecil itu menimba dari teladan dan kenangan akan ibunya beberapa sikap dasar dari jiwa kanak-kanaknya, yaitu suatu kepercayaan yang mutlak kepada penyelenggaran Allah dan kelepasan dari segala sesuatu yang tidak abadi.

Riwayat hidupnya, yaitu Kisah Sebuah Jiwa telah mempopulerkan beberapa cerita dari masa kanak-kanaknya yang sebenarnya menunjukkan dengan jelas beberapa ciri dan sifat Martin, ayah Theresia, yaitu semangat iman yang mampu mengatasi segala macam kesulitan dan pencobaan. Kebesaran hati dan kemurahan hatinya yang heroik tampak lewat kerelaannya mempersembahkan semua anaknya kepada Allah. Pada saat Theresia minta izin masuk biara, Martin mengatakan, ”Hanya Theresia saja yang bisa minta sesuatu seperti ini.” Pada waktu itu semua putrinya sudah masuk biara, kecuali Celine. Dan akhirnya ia pun merelakan Theresia untuk masuk biara. Ciri lain yang menonjol dari ayah Theresia ini ialah cinta dan kelembutan hatinya sebagai seorang ayah. Dia menyebut Theresia sebagai “Ratuku.”

Ingatan akan ayahnya ini dan pengalaman kasih dari ayahnya, membuat Theresia bisa mengerti, merasakan, dan bahkan menikmati misteri dari kebapaan Allah. Misteri kebapaan Allah ini merupakan kunci dari seluruh hubungannya dengan Allah.

Tuan Martin yang telah kehilangan istrinya dan menjadi duda, kemudian bersama seluruh anaknya pindah dari Alencon ke Lisieux; dengan pertimbangan bahwa di Lisieux tinggal keluarga dan saudara dari ibunya. Dengan demikian, anak-anaknya masih tetap dapat menjalin hubungan dengan mereka. Keluarga Martin tinggal dalam sebuah rumah yang cukup besar di Lisieux, yang disebut “Le Buissonnetes”. Mereka boleh dikatakan berasal dari kelas menengah atas dan secara de facto mereka mempunyai banyak pelayan yang membantu kehidupan rumah tangga mereka. Di dalam rumah inilah Theresia hidup dan berkembang sampai dia masuk biara Karmel. Untuk bisa menyelami jiwa Santa Theresia, kita perlu mencoba masuk ke dalam intimitas keluarga di Lisieux, di rumah Le Buissonnetes. Peristiwa-peristiwa pertama dalam hidupnya sungguh-sungguh berkesan dan mempengaruhi ingatannya (kebetulan Theresia diberi akal budi yang cepat matang dan kemampuan-kemampuan untuk mengerti dengan baik) bahkan memiliki peranan yang menentukan dalam hidupnya.

Dari pengalaman masa kanak-kanaknya kita dapat menangkap gambaran psikologis Theresia. Dia memiliki watak yang khusus, yaitu mempunyai kehendak yang kuat sekali tetapi perasaannya sangat halus, bahkan terlalu halus. Dia juga mempunyai kelembutan hati yang besar dan seorang yang sangat terbuka. Maka bisa dikatakan Theresia mempunyai kodrat dan watak sebagai seorang manusia yang betul-betul mempunyai tekad yang besar untuk mengikuti panggilannya.

Theresia berkomentar mengenai dirinya, wataknya, dan keadaannya sendiri sebagai berikut,” Aku sungguh-sungguh yakin bahwa dengan kodrat seperti itu aku bisa menjadi jahat sekali bila aku dibesarkan oleh keluarga yang tidak berkebajikan, bahkan mungkin aku bisa kehilangan jiwaku.” Artinya dia bisa masuk neraka dan kehilangan keselamatannya. Theresia yang menyadari wataknya demikian, mengatakan,” Kalau aku tidak mempunyai orang tua seperti mereka, pasti aku akan menjadi bejat sekali bahkan mungkin kehilangan keselamatan.” Dari satu segi nampak suatu pembinaan yang kuat tetapi lembut yang selalu menyadarkan Theresia akan suara hatinya dan memberi motivasi adikodrati yang membiasakan dia untuk disiplin. Jadi kalau ibu dan saudara-saudaranya mendisiplinkan dia, motivasinya selalu motivasi adikodrati. Orang tua (terutama ibunya), dibantu kakak-kakaknya mengajar dia untuk mengalahkan dirinya demi cintakasih. Maka dari itu cintakasih akan selalu menjiwai seluruh pengajaran dan kehidupannya.

Sejak kecil Theresia sudah dibiasakan untuk belajar berkurban, mempersembahkan kurban-kurban kecil kepada Allah. Dikatakan oleh ibunya dalam suatu surat, “Bahkan Theresia kecil mau pula ikut ambil bagian dalam kurban-kurban. Orang dapat melihatnya dalam sehari ia memasukkan tangannya yang kecil ke dalam kantungnya hingga 100x untuk mengambil satu biji rosario setiap kali dia melakukan suatu kurban.” Memang pada zaman itu ada kebiasaan untuk melakukan pengurbanan, mati raga, dan semacamnya. Supaya tidak lupa, orang memakai sejenis biji rosari tiap kali melakukan kurban. Dengan demikian bisa dilihat berapa kali dalam satu hari mereka melakukan kurban sebagai disiplin.

Theresia memiliki watak yang sangat radikal, yaitu “Semua atau tidak sama sekali; All or nothing.” Dalam autobiografinya dia bercerita bahwa pada suatu hari, Leoni kakaknya yang lebih besar merasa terlalu besar untuk bermain-main dengan boneka. Maka dia membawa satu keranjang boneka kepada Theresia dan Celine. Celine yang lebih tua memilih dan mengambil satu pita dari keranjang. Setelah Theresia melihat itu dia katakan bahwa dia memilih semuanya. Ini adalah sikap seorang anak. Kemudian dikatakan Theresia sendiri bahwa ciri dari masa kanak-kanaknya merupakan ciri dalam seluruh hidupnya. Dikatakannya:

“Maka Aku mengerti bahwa untuk menjadi suci, orang harus banyak menderita. Selalu memilih yang paling sempurna dan melupakan diri sendiri. Dalam mencapai kekudusan orang harus menempuh banyak sekali tingkatan dan tiap jiwa bebas untuk menanggapi tawaran rahmat Allah itu dengan cinta yang besar ataupun sedikit. Dengan kata lain orang boleh memilih di antara kurban-kurban yang diminta Allah. Maka aku seperti pada masa kanak-kanak berseru,” Allahku, aku memilih semuanya. Aku tidak mau setengah-setengah! Aku tidak takut untuk menderita bagi-Mu. Hanya satu hal yang kutakuti, yaitu bila aku tetap berpegang pada kehendakku. Oleh karena itu, ambillah kehendakku sebab aku memilih segala sesuatu yang Kaukehendaki.” Dari sini tampaklah sikap radikalisme Theresia; dan inilah yang dimaksud dengan jalan kanak-kanak.


KELUARGA YANG BERDOA DAN KELUARGA YANG MENCINTA

Doa dibutuhkan oleh anak-anak dan keluarga. Bila keluarga berdoa bersama, Allah akan hadir dan merajai keluarga itu. Allah Sang sumber kasih akan menjiwai setiap anggota keluarga sehingga dapat saling mengasihi satu sama lain, sebagaimana Allah telah lebih dahulu mengasihi kita.

Anak-anak perlu belajar berdoa dan orangtua juga perlu berdoa bersama mereka. Bila keluarga tidak berdoa maka sulitlah menjadi suci. Doa dapat menguatkan kita dalam iman. Dalam keluargalah anak-anak mendapat pembentukan hidup rohani, maka kehidupan doa dalam keluarga harus ditumbuhkan dan dipelihara.

Pada zaman ini banyak keluarga-keluarga tidak berdoa bersama, atau bahkan melupakan doa. Akibatnya mereka kehilangan rasa ketergantungan kepada Allah. Kehilangan kebijaksanaan dalam membesarkan dan mendidik anak-anaknya. Akibatnya anak-anak menjadi sulit diatur dan tumbuh sebagai anak-anak yang mudahmengikuti kehendak sendiri dan tidak jarang terbawa kepada jalan yang sesat.

Pada zaman ini ada begitu banyak penderitaan di dalam keluarga-keluarga di seluruh dunia, maka doa dan sikap mengampuni semakin dibutuhkan. Banyak keluarga mengalami konflik, keretakan, relasi yang tidak harmonis bahkan perceraian, masing-masing anggota keluarga terluka karena dosa-dosa. Maka dibutuhkan sikap saling mendoakan dan mengampuni agar terciptalah damai di dalam keluarga. Berdoa dan mengampuni merupakan sarana menuju keluarga yang saling mencintai satu sama lain. Penghayatan sakramen-sakramen, merenungkan sabda Tuhan, berbagi suka dan duka melalui sharing iman dan semangat melayani sesama, masyarakat, dan Gereja dapat menjadikan keluarga-keluarga Kristiani bersinar di tengah-tengah kegelapan dunia ini. Keluarga-keluarga Kristiani dipanggil untuk menghadirkan kerajaan Allah di dunia ini, menjadi garam dan terang dunia.

ALLAH DAPAT MEMULIHKAN KELUARGA-KELUARGA YANG BERMASALAH MELALUI DOA

Allah dapat memulihkan keluarga-keluarga yang bermasalah. Allah Sang seniman dapat memperbaiki apa yang telah rusak dalam keluarga-keluarga pada zaman ini. Bejana-bejana yang sudah rusak atau pecah karena dosa dapat diperbaiki lagi menjadi bejana-bejana yang indah menurut pandangan-Nya (Yer 18:1-3).

Sebagai teladan dalam Gereja kita dapat melihat keluarga St. Monika. Doa dan airmata St. Monika telah mempertobatkan anaknya St. Agustinus dan suaminya Patrisius dari kehidupan duniawi yang tidak berkenan kepada Allah. Ketekunan St. Monika sebagai seorang ibu yang rajin berdoa dan beriman telah mengubah Agustinus menjadi orang suci dan membawa Patrisius suaminya yang kafir untuk semakin mengenal dan menyerahkan hidupnya kepada Yesus Sang Juruselamat. Doa yang dipanjatkan St. Monika berpuluh-puluh tahun membuahkan pertobatan bagi suami dan anaknya tercinta. Bahkan mereka menjadi orang-orang kudus dalam Gereja.

MELATIH ANAK-ANAK BERDOA SEJAK DINI (TINJAUAN PSIKO-SPIRITUAL)

Marah, benci, kecewa, dapat menimbulkan tindakan-tindakan agresif yang dapat merusak keluarga-keluarga. Maka perlu latihan-latihan rohani untuk mengubah emosi yang negatif menjadi positif atau dapat disebut denganmeningkatkan kecerdasan emosi.

Kecerdasan emosi dapat dilatih, misalnya:

Meditasi atau doa batin akan memberikan manfaat untuk meningkatkan kesadaran, konsentrasi, dan kemampuan kognitif, meningkatkan kecerdasan emosi dan spiritual.


 

Contoh Persoalan Anak-anak Zaman Sekarang:

Berat betul beban anak-anak masa kini. Lihatlah Reni (9 tahun), sebentar-sebentar sakit flu, akibatnya ia sering tidak masuk sekolah. Hasil pemeriksaan dokter tidak menunjukkan adanya masalah yang serius, hanya saja daya tahan tubuhnya menurun. Yang membuat ibunya Anna merasa heran, biasanya Reni tabah, kini menjadi cengeng.

Pada kasus Reni, terungkap bahwa sebenarnya ia lelah dengan cara pendidikan di sekolahnya. Target-target yang ditentukan tanpa memperhatikan kapasitas fisik maupun psikis anak, membuat Reni menderita. Bayangkan setiap hari, Senin sampai Sabtu dari pukul 7 pagi hingga pukul 2 siang, ia harus mencerna 8 mata pelajaran wajib, ditambah pelajaran bahasa daerah, pelajaran agama di luar kurikulum. Belum lagi pulang sekolah ia harus menyelesaikan setumpuk pekerjaan rumah.

Lain halnya dengan Dodi (6 tahun), anak yang bisanya tenang tiba-tiba menjadi anak pemarah. Ia sering memukul adiknya yang merupakan satu-satunya anak perempuan dalam keluarga itu. Ia juga sering mengganggu kakak-kakaknya sehingga dijuluki si biang kerok. Yang terjadi pada Dodi adalah ayahnya terlalu memanjakan adiknya, sehingga ia merasa diabaikan. Hasil pemeriksaan IQ di sekolahnya tidak memuaskan, sehingga membuat Rita ibunya, menuntut agar Dodi lebih giat belajar. Setiap malam, sepulang dari kantor, Rita membangunkan Dodi agar belajar pukul 10 malam hingga pukul 11.

“Stress” itulah kata kunci masalah Reni dan Dodi. Apa yang terjadi pada keduanya mungkin sudah menjadi cerita klasik, hanya saja belum mendapat perhatian yang memadai. Masih banyak orang dewasa yang menganggap anak akan segera melupakan permasalahannya. Kenyataannya, anak pun bisa mengalami stress sebagaimana orang dewasa. Bahkan menurut penuturan para psikolog, kebanyakan masalah yang muncul pada orang dewasa dilatarbelakangi oleh stress masa anak. Lalu bagaimana mengatasinya? “Cobalah dengan doa batin atau Meditasi”.

Siapa bilang anak tidak dapat bermeditasi? Kemampuan bermeditasi mereka bahkan jauh melebihi orang dewasa. Latihan teratur akan memberikan manfaat bagi mereka.

Hampir semua penemuan menggunakan bentuk meditasi. Salah satu yang terkenal adalah Archimedes, penemu dan ahli matematika terkenal yang hidup abad ke-3 SM. Konon konsep volume benda yang membuatnya terkenal ditemukan saat ia sedang relaks di bak mandinya. Leonardo da Vinci, Thomas Edison, dan Albert Einstein termasuk deretan penemu yang menemukan idenya dalam kondisi meditasi.

Dari segi fisik, meditasi adalah teknik relaksasi mental yang mengubah frekuensi gelombang otak dari Beta, yaitu 14-20 putaran tiap detik (Hz) menjadi Alfa 7-14 Hz. Dr. Tag Powell, peneliti dan pelatih metafísika, dalam buku ESP for Kids (Extra Sensory Perception untuk anak-anak) membedakan berdoa sebagai “berbicara dengan Tuhan” dan meditasi sebagai “mendengarkan Tuhan”. Mendengarkan tidak hanya dengan telinga, atau pada level sadar, melainkan juga dengan perasaan atau pada level bawah sadar. Dengan meditasi, mereka mempunyai kemampuan mengelola stress serta menghadapi pancaroba sejak dini. Dari pengalaman para penemu, kita juga dapat melihat bahwa meditasi adalah cara fokus dan mengembangkan pola berpikir untuk pemecahan masalah dan meningkatkan kreativitas.

Adalah suatu kenyataan yang menarik bahwa ternyata anak-anak lebih mudah belajar meditasi dengan menahan kesadaran pada level Alfa. Hal ini karena gelombang otak anak hingga usia puber sebagian besar berada dalam kondisi Alfa. Berbeda dengan gelombang otak orang dewasa yang dalam keadaan jaga berada pada kondisi Beta. Oleh karena itu, apabila dilatih secara baik dan terarah, anak akan mempunyai bekal untuk menghadapi masa-masa sulit pada usia remaja dan dewasa.

Di Jepang, Korea, dan Amerika Serikat, kemampuan anak ini sudah dimanfaatkan dengan memberikan latihan meditasi pada anak-anak sekolah dasar. Dilaporkan bahwa meditasi banyak membantu anak-anak meningkatkan kesehatan dan konsentrasi. Anak-anak mudah terlarut dalam pekerjaan yang harus diselesaikan, sehingga keadaan kelas menjadi mudah terkendali. Herzog (1982) menjumpai, kelas yang dilatih meditasi ternyata siswa-siswanya lebih merasa senang, gembira, dan disiplin. Hal ini juga dijelaskan dari hasil penelitian dr. Tag Powell yang menunjukkan meditasi tidak hanya meningkatkan kreativitas saja, tetapi proses belajar itu sendiri menjadi lebih mudah dan tidak menekan.

Anak-anak hingga usia 10 tahun, secara psikologis berada pada masa perkembangan cakra jantung, status pusat energi yang mempunyai peran penting menghubungkan energi vital dengan kesadaran yang terletak di tengah dada.

Oleh karena itu, meditasi anak dikonsentrasikan pada pelatihan cakra jantung, yaitu tempat di mana kita merasakan kedamaian, kesenangan, kasih sayang, serta kegembiraan. Jantung menurut penelitian institute of Hearth-Narth, organisasi penelitian yang berkedudukan di Boulder Creek, California, memegang peran sentral dalam mengefektifkan fungsi otak, pikiran, emosi, dan sistem kekebalan tubuh. Jantung yang kuat membuat anak mampu menghilangkan emosi negatif dengan cepat, mendengarkan nuraninya, menghargai serta peduli akan diri sendiri. Selanjutnya akan terbangun rasa aman, membuka potensi, meningkatkan daya belajar, serta membuat keputusan yang bertanggungjawab.


Orangtua mendampingi anaknya untuk mengajar berdoa

Idealnya latihanmeditasi anak dilakukan bersama orangtua atau paling tidak, didampingi orangtuanya. Yang perlu dilakukan pertama kali adalah mengatur posisi anak, bisa duduk bersila di lantai atau duduk di kursi. Meditasi dimulai dengan mengatur nafas, setelah masuk dalam meditasi bisa menyebutkan Nama Tuhan (misalnya Nama Yesus, menurut ritme pernafasan).

Setelah 10-15 menit meditasi, anak bisa diajak break (istirahat) dengan mengajak anak-anak berjalan-jalan ke taman. Anak diminta untuk memperhatikan taman. Dengan kegiatan itu ternyata mereka tidak bosan duduk meditasi. Saat memperhatikan taman, sebenarnya anak juga masuk dalam keadaan meditasi. Dengan memperhatikan daun dan seratnya, bunga, kupu-kupu, proses permenungan ini membuat anak lebih menyayangi makhluk lain.

Jadi pada dasarnya keluarga-keluarga Kristiani dapat melatih anaknya untuk melakukan doa batin atau meditasi sejak dini, untuk membantu perkembangan kepribadian si anak sehingga anak-anak dapat bertumbuh menjadi pribadi yang mampu mencintai, kreatif, sabar, kuat, utuh, bertanggungjawab, gembira, dapat menghargai nilai-nilai luhur dalam kehidupannya seperti yang dikehendaki oleh Tuhan sendiri. Yesus sangat mencintai anak-anak, Yesus memanggil anak-anak untuk berada dekat dengan-Nya, Yesus menjamah mereka dan memberkati mereka semua.

KELUARGA-KELUARGA KRISTIANI YANG BERDOA, MENCETAK INSAN-INSAN ALLAH

Keluarga-keluarga yang berdoa membantu setiap anggotanya untuk menjadi manusia yang utuh, manusia-manusia yang takut akan Tuhan. Keluarga-keluarga yang berdoa dan saling mencintai akan membentuk insan-insan Allah yang menghargai nilai-nilai:

Keluarga-keluarga yang berdoa dan saling mengasihi diharapkan dapat ikut membangun bangsa dan negara yang lebih baik, masyarakat yang beriman, dan menjadi kader-kader Gereja yang dapat menjadi saksi-saksi Kristus yang handal pada zaman ini.