User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active
 

Article Index

 

Contoh Persoalan Anak-anak Zaman Sekarang:

Berat betul beban anak-anak masa kini. Lihatlah Reni (9 tahun), sebentar-sebentar sakit flu, akibatnya ia sering tidak masuk sekolah. Hasil pemeriksaan dokter tidak menunjukkan adanya masalah yang serius, hanya saja daya tahan tubuhnya menurun. Yang membuat ibunya Anna merasa heran, biasanya Reni tabah, kini menjadi cengeng.

Pada kasus Reni, terungkap bahwa sebenarnya ia lelah dengan cara pendidikan di sekolahnya. Target-target yang ditentukan tanpa memperhatikan kapasitas fisik maupun psikis anak, membuat Reni menderita. Bayangkan setiap hari, Senin sampai Sabtu dari pukul 7 pagi hingga pukul 2 siang, ia harus mencerna 8 mata pelajaran wajib, ditambah pelajaran bahasa daerah, pelajaran agama di luar kurikulum. Belum lagi pulang sekolah ia harus menyelesaikan setumpuk pekerjaan rumah.

Lain halnya dengan Dodi (6 tahun), anak yang bisanya tenang tiba-tiba menjadi anak pemarah. Ia sering memukul adiknya yang merupakan satu-satunya anak perempuan dalam keluarga itu. Ia juga sering mengganggu kakak-kakaknya sehingga dijuluki si biang kerok. Yang terjadi pada Dodi adalah ayahnya terlalu memanjakan adiknya, sehingga ia merasa diabaikan. Hasil pemeriksaan IQ di sekolahnya tidak memuaskan, sehingga membuat Rita ibunya, menuntut agar Dodi lebih giat belajar. Setiap malam, sepulang dari kantor, Rita membangunkan Dodi agar belajar pukul 10 malam hingga pukul 11.

“Stress” itulah kata kunci masalah Reni dan Dodi. Apa yang terjadi pada keduanya mungkin sudah menjadi cerita klasik, hanya saja belum mendapat perhatian yang memadai. Masih banyak orang dewasa yang menganggap anak akan segera melupakan permasalahannya. Kenyataannya, anak pun bisa mengalami stress sebagaimana orang dewasa. Bahkan menurut penuturan para psikolog, kebanyakan masalah yang muncul pada orang dewasa dilatarbelakangi oleh stress masa anak. Lalu bagaimana mengatasinya? “Cobalah dengan doa batin atau Meditasi”.

Siapa bilang anak tidak dapat bermeditasi? Kemampuan bermeditasi mereka bahkan jauh melebihi orang dewasa. Latihan teratur akan memberikan manfaat bagi mereka.

Hampir semua penemuan menggunakan bentuk meditasi. Salah satu yang terkenal adalah Archimedes, penemu dan ahli matematika terkenal yang hidup abad ke-3 SM. Konon konsep volume benda yang membuatnya terkenal ditemukan saat ia sedang relaks di bak mandinya. Leonardo da Vinci, Thomas Edison, dan Albert Einstein termasuk deretan penemu yang menemukan idenya dalam kondisi meditasi.

Dari segi fisik, meditasi adalah teknik relaksasi mental yang mengubah frekuensi gelombang otak dari Beta, yaitu 14-20 putaran tiap detik (Hz) menjadi Alfa 7-14 Hz. Dr. Tag Powell, peneliti dan pelatih metafísika, dalam buku ESP for Kids (Extra Sensory Perception untuk anak-anak) membedakan berdoa sebagai “berbicara dengan Tuhan” dan meditasi sebagai “mendengarkan Tuhan”. Mendengarkan tidak hanya dengan telinga, atau pada level sadar, melainkan juga dengan perasaan atau pada level bawah sadar. Dengan meditasi, mereka mempunyai kemampuan mengelola stress serta menghadapi pancaroba sejak dini. Dari pengalaman para penemu, kita juga dapat melihat bahwa meditasi adalah cara fokus dan mengembangkan pola berpikir untuk pemecahan masalah dan meningkatkan kreativitas.

Adalah suatu kenyataan yang menarik bahwa ternyata anak-anak lebih mudah belajar meditasi dengan menahan kesadaran pada level Alfa. Hal ini karena gelombang otak anak hingga usia puber sebagian besar berada dalam kondisi Alfa. Berbeda dengan gelombang otak orang dewasa yang dalam keadaan jaga berada pada kondisi Beta. Oleh karena itu, apabila dilatih secara baik dan terarah, anak akan mempunyai bekal untuk menghadapi masa-masa sulit pada usia remaja dan dewasa.

Di Jepang, Korea, dan Amerika Serikat, kemampuan anak ini sudah dimanfaatkan dengan memberikan latihan meditasi pada anak-anak sekolah dasar. Dilaporkan bahwa meditasi banyak membantu anak-anak meningkatkan kesehatan dan konsentrasi. Anak-anak mudah terlarut dalam pekerjaan yang harus diselesaikan, sehingga keadaan kelas menjadi mudah terkendali. Herzog (1982) menjumpai, kelas yang dilatih meditasi ternyata siswa-siswanya lebih merasa senang, gembira, dan disiplin. Hal ini juga dijelaskan dari hasil penelitian dr. Tag Powell yang menunjukkan meditasi tidak hanya meningkatkan kreativitas saja, tetapi proses belajar itu sendiri menjadi lebih mudah dan tidak menekan.

Anak-anak hingga usia 10 tahun, secara psikologis berada pada masa perkembangan cakra jantung, status pusat energi yang mempunyai peran penting menghubungkan energi vital dengan kesadaran yang terletak di tengah dada.

Oleh karena itu, meditasi anak dikonsentrasikan pada pelatihan cakra jantung, yaitu tempat di mana kita merasakan kedamaian, kesenangan, kasih sayang, serta kegembiraan. Jantung menurut penelitian institute of Hearth-Narth, organisasi penelitian yang berkedudukan di Boulder Creek, California, memegang peran sentral dalam mengefektifkan fungsi otak, pikiran, emosi, dan sistem kekebalan tubuh. Jantung yang kuat membuat anak mampu menghilangkan emosi negatif dengan cepat, mendengarkan nuraninya, menghargai serta peduli akan diri sendiri. Selanjutnya akan terbangun rasa aman, membuka potensi, meningkatkan daya belajar, serta membuat keputusan yang bertanggungjawab.

www.carmelia.net © 2008
Supported by Mediahostnet web hosting