Print
Hits: 5746

User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active
 

Pada suatu hari seorang raja sedang berburu di hutan yang berdekatan dengan istananya. Dia ditemani anjing-anjing yang berpengalaman dalam berburu, yang tidak pernah gagal menangkap mangsanya.

Sesudah agak lama berburu, tiba-tiba terdengar salakan keras dari anjing-anjing itu. Mereka pun berlari-lari secepatnya memburu sesuatu. Ternyata yang sedang mereka buru adalah seekor kelinci putih. Kelinci itu melompat-lompat dan berlari secepat-cepatnya menghindari anjing-anjing itu.

Menyadari ketidakberdayaannya untuk melarikan diri, secara tiba-tiba kelinci itu berhenti, dan berbalik secara perlahan-lahan. Tanpa diduga-duga, dia melompat setinggi-tingginya menuju ke pangkuan raja yang sedang mengejarnya. Dengan selamat, kelinci itu berada di pangkuan sang raja, dan ia merasa aman. Dia tidak takut lagi.

Tentu saja sang raja sangat kaget, sekaligus terharu dengan sikap dari si kelinci ini. Dia melihat begitu besar kepercayaan kelinci itu kepadanya. Maka dia membawanya ke istana dan memelihara kelinci itu dengan penuh kasih.

Sesungguhnya kitalah kelinci putih ini, kelinci yang terdesak dan penuh pengharapan melemparkan diri ke dalam pelukan Allah. Ada kalanya kita mengalami berbagai situasi sulit, kita merasa terdesak, tidak ada jalan keluar, tidak berdaya dengan masalah hidup yang membebani kita, dan tidak dapat berbuat apa-apa. Inilah saatnya bagi kita untuk melemparkan diri tanpa ragu ke dalam api kasih Allah Bapa. Tanpa melihat segala dosa, kelemahan, cacat cela, kita mau melebur ketidakmampuan dan ketidakberdayaan diri kita kepada api kasih kerahiman Allah. Kita mau membenamkan diri kita pada kasih Allah dan mempercayakan seluruh harapan kita kepada belas kasih kerahiman Allah.

Namun, seringkali dalam hidup ini, kita takut untuk datang kepada Tuhan. Terlebih ketika kita menyadari segala dosa, kelemahan, kesalahan, dan cacat cela kita. Kita merasa diri tidak layak untuk datang kepada Tuhan; kita takut bila ditolak Tuhan, takut dihukum dan diadili akibat dosa yang telah kita perbuat.

Kisah kelinci putih ini diceritakan oleh Theresia Lisieux kepada salah seorang novisnya. Saat itu ia sedang bergelut dengan dirinya sendiri karena merasa dikejar-kejar oleh rasa bersalah akibat segala kesalahan, dosa, dan kelemahan-kelemahan yang ada dalam dirinya.

Melalui hidup dan panggilannya, Theresia mengajarkan siapakah Allah yang sesungguhnya dan siapa diri kita di hadapan-Nya.

1. Allah adalah Bapa yang penuh belaskasihan

Theresia sudah kehilangan ibunya pada saat usianya masih sangat muda. Oleh karena itu, masa kanak-kanaknya bergantung penuh pada kasih dan perhatian dari ayahnya. Dia mengalami kasih yang lembut dan penuh perhatian dari sang ayah. Pengalaman akan kasih kebapaan inilah yang mendasari sikap batinnya di hadapan Allah. Ia melihat Tuhan sebagai seorang Bapa yang penuh kebaikan, kelembutan hati, perhatian, menyerupai kasih sayang ayahnya, tetapi dalam suatu tingkat yang tidak terbatas.

Kepercayaan akan kasih Allah Bapa terhadap dirinya yang kecil dan tak berdaya, menjadi dasar seluruh hidup rohaninya. Maka kehidupan rohani Theresia berakar pada sikap yang penuh kasih dari seorang anak, yaitu kerendahan hati, kepercayaan, penyerahan diri, dan suka cita. Ia sungguh menyadari bahwa ia dicintai oleh Allah secara tak terbatas dan tanpa syarat. Ia menyadari bahwa Bapa mengasihinya semata-mata karena dia kecil, lemah, dan tak berdaya. Ia menemukan kasih dan pengampunan Allah pada orang-orang kecil, melulu karena dia tetap kecil di hadapan-Nya.

Theresia menyadari bahwa Allah mencintai manusia apa adanya, tanpa memandang kepapaan, kejahatan, dan dosa yang telah diperbuatnya. Begitu besar kasih Allah kepada manusia sehingga Ia mengutus Putera-Nya yang tunggal untuk menebus dosa-dosa kita. (bdk. Yoh 3:16) Kristus mencintai manusia dan wafat bagi manusia ketika manusia masih berdosa. (bdk. Ef 5:2) Melihat kasih Allah yang begitu besar, maka Theresia berani berkata:

“Wanita pendosa yang bertobat itu banyak mencintai Allah, karena ia diampuni dari segala dosanya. Tetapi saya dicintai lebih banyak daripada wanita itu. Sebab wanita itu jatuh dan kemudian ditolong untuk bangkit kembali. Tetapi Yesus mengasihi saya lebih besar, karena Dia telah menyingkirkan segala sesuatu yang bisa membuat saya terpeleset dan tersandung, sehingga saya bisa berjalan tanpa jatuh. Maka saya juga bisa bersyukur dan mencintai Allah dengan lebih besar lagi.”

Kepercayaan akan cinta yang penuh belas kasih ini membawa sikap hati yang pasrah, penuh penyerahan diri di tangan Tuhan. Ia sadar bahwa dirinya kecil dan lemah sehingga ia hanya bisa mengandalkan kebaikan Bapa. Dengan penuh sukacita dan harapan, ia bisa hadir di hadapan Tuhan dengan segala ketidakberartiannya, kelemahan, dan kekecilannya. Dengan demikian, ia semakin sadar bahwa ia harus menggantungkan diri sepenuhnya kepada belaskasihan Allah yang tak terbatas.

2. Allah adalah Bapa yang maharahim

“Allah mengasihani siapa yang Ia kehendaki dan menunjukkan kerahimanNya kepada siapa saja yang Ia kehendaki. Jadi semua itu tidak tergantung kepada kemauan atau usaha manusia, tetapi semata-mata karena belaskasihan Allah.” (bdk. Rm 9:15-16)

Theresia sungguh-sungguh menyadari akan kerahiman dan kebaikan yang diterimanya secara cuma-cuma dari Allah. Theresia melihat bahwa tiada sesuatu pun di dalam dirinya yang dapat memikat hati Tuhan. Hanya karena kerahiman Allah saja yang melahirkan apa yang baik dalam dirinya. Sehingga ia bisa mengatakan bahwa orang-orang kecil dipanggil untuk memantulkan cahaya kebaikan Allah dengan lebih terang lagi.

Theresia memiliki kepercayaan yang begitu besar akan kerahiman Allah sehingga ia dapat mengatakan, “Saya tahu apa artinya berharap dan bersandar pada kerahiman-Nya.” Kita melihat bahwa sepertinya Theresia telah mendapat suatu peneguhan bahwa dia tidak pernah melakukan dosa berat. Dan memang demikian adanya, seperti yang diungkapkan oleh Bapak Pengakuannya. Akan tetapi, Theresia di saat lain menulis,

“Aku berani percaya kepada Allah dengan kepercayaan yang mutlak, bukan karena aku tidak pernah melakukan dosa berat. Namun, sekalipun aku melakukan dosa yang paling besar yang dapat dilakukan manusia, aku akan memiliki kepercayaan yang sama. Dan aku dengan segera akan melemparkan diri ke dalam pangkuan kerahiman Allah dan dalam sekejap seluruh dosa-dosaku akan menguap seperti setetes air yang dilemparkan ke dalam api yang sedang menyala-nyala. Kepercayaanku kepada Allah tidak dapat dibatasi.”

Satu hal yang penting untuk disadari ialah Theresia tidak mungkin akan sampai pada kesimpulan ini, seandainya dia tidak pernah mengalami kasih Allah. Pengalaman akan kasih Allah yang begitu dalam, sungguh mempengaruhi seluruh hidupnya.

3. Sikap pasrah dan percaya kepada Allah sebagai Bapa

Theresia memiliki suatu kerinduan yang besar untuk menjadi seorang kudus. Dan kerinduannya itu diteguhkan oleh Pembimbing Rohaninya yang mengatakan, “Berjalanlah dalam kepercayaan yang pasrah.” Theresia pun menulis, “Sejak itu layarku terkembang secara penuh dan aku berlayar menuju ke tengah-tengah samudera kerahiman Allah, sampai aku akhirnya mencapai kekudusan.”

Panggilan ini adalah suatu penyelenggaraan ilahi bagi Theresia. Tuhan sendiri yang mendorongnya untuk menempuh suatu jalan baru, yaitu jalan kanak-kanak rohani, suatu jalan baru yang kemudian dapat diikuti oleh banyak orang.

Theresia menyelidiki dan merenungkan ayat-ayat Kitab Suci tentang apa artinya menjadi anak kecil. Dan ia menemukan dalam Injil Matius 19:14 “Biarkan anak-anak kecil ini datang kepadaKu sebab bagi merekalah Kerajaan Allah.”  Ia sangat tersentuh oleh Sabda Tuhan ini, yang membakar jiwanya dan mengubah seluruh hidupnya. Ayat ini yang kemudian menjadi pedoman seumur hidupnya.

Dari jiwa anak-anak kecil, Theresia melihat bahwa dari diri mereka sendiri tidak bisa berbuat banyak. Semuanya tergantung dari orang tuanya. Selain itu seorang anak kecil memiliki kepercayaan yang besar kepada orang tuanya. Ia akan selalu berpaut seluruhnya kepada kekuatan orang tuanya. Maka dari itu Theresia mau tetap menjadi kecil di hadapan Allah, supaya ia bisa selalu tergantung kepada Allah sebagai Bapanya. Dikatakan pula:

“Bahkan kepada anak-anak orang miskin pun diberikan segala apa yang diperlukannya. Akan tetapi, begitu anak-anak itu menjadi besar, mereka disuruh orang tuanya untuk mencari nafkah sendiri. Kalau begitu aku tidak mau menjadi besar, tetapi tetap menjadi kecil supaya dengan demikian aku tidak mendengar kata-kata Yesus seperti ini, ‘Sekarang engkau sudah besar, carilah nafkahmu sendiri yaitu keselamatanmu.’ Karena aku sadar, aku tidak dapat mencari nafkahku sendiri, maka aku mau tetap menjadi kecil, supaya aku boleh menerima nafkah secara cuma-cuma dari tangan Allah sendiri.”

Theresia mau tetap menjadi kecil di hadapan Tuhan dan menyadari kelemahan-kelemahannya supaya dapat menemukan satu kesadaran bahwa betapa bahagianya menjadi lemah dan menjadi kecil di hadapan Tuhan.

“Menjadi kecil berarti tidak mengakui segala kebajikan yang dilakukan sebagai miliknya sendiri, tetapi lebih mengakui bahwa Allahlah yang telah meletakkan kebajikan itu ke dalam tangannya. Semuanya tetap milik Allah. Menjadi kecil berarti tidak menjadi putus asa atau kehilangan semangat karena dosa dan kesalahan yang telah diperbuat. Aku mau hadir di hadapan Tuhan dengan tangan yang kosong.”

Hal ini diucapkan oleh St. Theresia Lisieux pada saat-saat terakhir hidupnya, ketika sudah tidak berdaya lagi. Saat itu yang dapat dilakukannya adalah berpasrah penuh kepercayaan kepada Allah.