Maria Bunda Karmel

User Rating:  / 11
PoorBest 

1. Maria dan Karmel

Sejak semula Bunda Maria mendapat tempat yang istimewa dalam kehidupan karmel, dalam kehidupan rahib yang pertama di Gunung Karmel. Oleh karena itu, juga kapela pertama di sana dipersembahkan kepada Bunda Maria. Sebenarnya ini bukan sesuatu yang istimewa bagi para karmelit karena devosi kepada Bunda Maria sudah cukup banyak. Dalam seluruh Gereja kita jumpai devosi-devosi kepada Bunda Maria, walaupun demikian Karmel mempunyai suatu penghormatan yang khusus kepada Bunda Maria dan Maria mendapat tempat yang khusus dalam kehidupan Karmel karena itu disebut Maria Bunda Karmel sebagai ungkapan devosinya kepada Maria. Para rahib di Gunung Karmel dahulu dikenal sebagai Saudara-saudara Santa Perawan Maria dari Gunung Karmel. Ini suatu sebutan yang agak khusus dari yang lain seperti Benediktin yang penghormatannya terhadap Maria agak berbeda, tetapi Karmel dihubungkan langsung dengan Bunda Maria.

Oleh karena itu, bagi kita Maria mempunyai tempat yang sangat penting di dalam kehidupan kita. Demikianlah kita melihat Maria itu dalam hidupnya begitu menjiwai dan erat hubungannya dengan kehidupan para karmelit. Memang kadang-kadang Maria disebut Ratu Karmel tetapi sebenarnya Maria bagi kita lebih disebut Bunda daripada Ratu. Bagaimanapun juga Maria telah memberikan semangat dan inspirasi bagi seluruh hidup kita. Kita boleh mengatakan Maria itu Prototipe Para Karmelit, dalam diri Maria kita melihat perwujudan cita-citanya yang konkrit dan berlaku juga bagi kita di sini. Kita mau melihat beberapa aspek dari hubungan kita dengan Bunda Maria.

2. Maria Bunda Karmel

Pertama-tama, Maria adalah Bunda Karmel. Hubungan para karmelit dengan Maria adalah hubungan anak-anak dengan ibu yang dikasihi dan disayanginya, ini ternyata terbukti dari devosi-devosinya sejak semula. Maria disebut Maria Bunda Karmel karena pertama-tama dia adalah Bunda Allah sendiri. Di atas salib Tuhan Yesus telah memberikan Maria kepada kita, di atas salib Yesus berkata lewat murid yang terkasih. “Ketika Yesus melihat ibu-Nya dan murid yang dikasihi-Nya di sampingnya, berkatalah Ia kepada ibu-Nya: "Ibu, inilah, anakmu!" Kemudian kata-Nya kepada murid-murid-Nya: "Inilah ibumu!" Dan sejak saat itu murid itu menerima dia di dalam rumahnya” (Yoh. 19:26-27). Sejak saat ini Maria menjadi ibu semua umat beriman, tetapi secara istimewa Karmel dalam kehidupannya senantiasa mempunyai devosi yang istimewa kepada Bunda Maria. Namun satu hal yang mencolok dalam kehidupan Karmel, walaupun ada penghormatan yang mendalam kepada Bunda Maria, tetapi tidak ada devosi-devosi yang berlebih-lebihan.

Ini rupanya sesuai dengan cara hidup Karmel, tidak ada devosi yang berlebihan terhadap Bunda Maria sehingga Bunda Maria dalam kehidupan Karmel, khususnya dalam teks-teks resmi seperti penghayatan ibadat resmi dan sebagainya, Maria hampir-hampir tidak disebut, kecuali sejak dahulu misalnya ada perayaan ekaristi dan ibadat khusus tiap hari sabtu. Tiap hari sabtu dimana tidak ada perayaan yang khusus, tidak ada peringatan kita selalu menghormati Bunda Maria. Doa-doa kita kepada Bunda Maria diungkapkan dalam lagu-lagu yang dinyanyikan sesudah perayaan ekaristi dan sesudah berkat penutup dalam ibadat sebagai penghormatan kita kepada Bunda Maria. Dahulu dalam biara karmel sendiri, tiap-tiap sabtu dalam salve atau adorasi selalu ada prosesi walaupun hanya di dalam kapel, prosesi yang cukup meriah untuk menghormati Maria. Namun di luar itu tidak ada devosi yang berlebih-lebihan kepada Bunda Maria karena hidup karmel sungguh-sungguh kristosentris, walaupun Bunda Maria mendapat tempat di dalam karmel.

Kalau Maria dikatakan bagi kita, lebih merupakan Bunda daripada Ratu, itu karena Maria sebenarnya adalah Bunda kita. St. Theresia dari Lisieux juga mengemukakan hubungannya dengan Maria dengan ungkapan puisinya yang indah yang berjudul “Mengapa Aku Mengasihi Engkau Maria”. Kita melihat hubungan Maria dengan kita karena dia adalah Bunda Yesus. Ada kalanya devosi kepada Maria dilakukan secara keliru. Kita tidak akan meninggalkan Yesus tetapi sebaliknya seperti ungkapan termasyhur yang diungkapkan St. Bernardus “Per Mariam ad Jesum” artinya melalui Maria sampai kepada Yesus Kristus. Maria akan menghantar kita kepada Yesus dan menghantar kita kepada Bapa.

Maria tidak mau menguasai hidup kita tetapi selalu menghantar dan membawa kita kepada Putranya, Yesus Kristus dan tidak menghalangi devosi kita sebagai anak kepada ibunya yaitu Maria sendiri. Dalam karya-karya St. Yohanes Salib Maria praktis tidak pernah disebut dalam Mendaki Gunung Karmel, Malam Gelap, Madah Rohani dan karya-karyanya yang lain. Tetapi St. Yohanes Salib dalam hidupnya sehari-hari mempunyai devosi yang sangat mesra dengan Bunda Maria, begitu juga dengan St. Theresia Lisieux dan orang kudus karmel lainnya. Maria menghantar kita kepada Yesus dan tidak menggantikan tempat Yesus. Kadang-kadang kita melihat devosi kepada Maria yang berlebih-lebihan dan kalau sudah berlebih-lebihan, itu menjadi bidaah. Dalam hal ini kita harus mempunyai devosi yang seimbang terhadap Maria.

Memang Maria adalah Bunda kita,tetapi dia tidak pernah menggantikan kedudukan Yesus dan tidak pernah menggantikan karya Roh Kudus. Dia dapat mendatangkan atau menurunkan rahmat bagi kita dari Yesus dan memohonkan rahmat Roh Kudus. Di dalam Karmel devosi kepada Maria ini diungkapkan secara istimewa dalam devosi skapulir. Devosi skapulir ini dikaitkan dengan seorang tokoh yang bernama St. Simon Stock yang menerima skapulir coklat sebagai ungkapan perlindungan Maria bagi karmel dan umat beriman. Begitupula bagi para rahib karmel yang menggunakan skapulir coklat ini dan siapapun yang mengenakannya, devosi skapulir merupakan suatu tanda keterpautan kita kepada Maria bahwa kita milik dan berhamba kepada Maria dan Maria melindungi kita.

Kita lihat dalam konteks zaman dahulu, bangsawan atau raja-raja yang berkuasa pada waktu itu ada semacam perjanjian dengan orang-orang yang mengabdi kepada mereka bahwa raja atau bangsawan itu melindungi orang-orang tersebut. Demikian pula dengan para karmelit yang secara istimewa memberikan penghormatan kepada Bunda Maria, melalui pemakaian skapulir Bunda Maria memberikan perlindungan istimewa kepada para karmelit. Satu hal yang menarik dari apa yang diungkapkan oleh Paus Yohanes Paulus II, Paus ini walaupun seorang praja dia mempunyai devosi yang istimewa kepada Maria Bunda Karmel dan ia mengatakan “Saya memakai skapulir karmel hingga sekarang”. Devosi ini dimulai ketika ia masih muda. Dan Paus ini pernah mempunyai kerinduan untuk masuk karmel, namun karena dinasihati bahwa memiliki panggilan lain akhirnya ia masuk dan menjadi imam praja kemudian menjadi Paus. Meskipun hingga saat ini ada pengertian yang keliru bahwa orang memakai skapulir sebagai ‘jimat’, tetapi sebenarnya dari segi teologis skapulir mengingatkan kita akan relasi yang khusus dengan Bunda Maria, Bunda Karmel bahwa dia Bunda kita dan kita ini anak-anaknya. Ia menghantar kita kepada cinta ilahi dan sebagaimana ibu yang baik mencintai anak-anaknya, ia juga membawakan rahmat untuk kita.

 

3. Maria itu Prototipe Para Karmelit

Kita akan melihat lebih jauh lagi Maria sebagai Prototipe Para Karmelit. Dalam hal ini ada empat ciri pokok yang akan kita lihat pada Bunda Maria. Dalam hal itu pula Bunda Maria menjadi model kita, menjadi teladan yang harus kita ikuti.

3.1. Maria itu Tipe Orang Beriman

Maria adalah Tipe Orang Beriman, Maria lebih dari yang lain-lain, selalu hidup dari iman dan dalam iman. Sewaktu menerima kabar gembira dari malaikat Gabriel, Maria menerima pesan yang kedengarannya mustahil itu dengan iman. Kalau kita melihat pesan malaikat kepada Maria dan reaksi Maria saat malaikat mengatakan: “Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus. Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi. Dan Tuhan Allah akan mengaruniakan kepada-Nya takhta Daud, bapa leluhur-Nya, dan Ia akan menjadi raja atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya dan Kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan" (Luk. 1:31-33). Bagi Maria ini adalah sesuatu yang mustahil dan tentunya bagi manusia ini adalah mustahil. Walaupun demikian, Maria percaya karena ia memiliki hati yang rela bagi Allah. Kata Maria kepada malaikat itu: "Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?" (Luk. 1: 34) .

Ini berbeda dengan ungkapan Zakharia dimana ia mengatakan “Bagaimanakah aku tahu, bahwa hal ini akan terjadi? Sebab aku sudah tua dan isteriku sudah lanjut umurnya” (Luk. 1:18). Maka malaikat memberi tanda kepada Zakharia “Jawab malaikat itu kepadanya: "Akulah Gabriel yang melayani Allah dan aku telah diutus untuk berbicara dengan engkau dan untuk menyampaikan kabar baik ini kepadamu. Sesungguhnya engkau akan menjadi bisu dan tidak dapat berkata-kata sampai kepada hari, di mana semuanya ini terjadi, karena engkau tidak percaya akan perkataanku yang akan nyata kebenarannya pada waktunya" (Luk. 1:19-20).

Maria percaya kepada salam malaikat Gabriel sehingga ketika ia mengunjungi Elisabet, Elisabet mengatakan “Dan berbahagialah ia, yang telah percaya, sebab apa yang dikatakan kepadanya dari Tuhan, akan terlaksana" (Luk. 1:45). Maria mendengar dari malaikat Gabriel bagaimana cara terjadinya. Kata Maria: "Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu" (Luk. 1:38). Kalau kita merenungkan keadaan Maria, sebagai manusia kita melihat Maria berada dalam suatu situasi yang sulit. Dengan pertimbangan manusiawi apakah ia dapat menyampaikan pesan Allah ini kepada St. Yosef sehingga dia pun percaya. Dengan segala resiko yang mungkin akan dihadapiya, Maria tetap percaya kepada Tuhan. Kalau Tuhan menghendaki hal itu, pasti Tuhan akan mengatur segala-galanya karena Maria benar-benar orang beriman yang percaya kepada Allah.

Kata-kata Elisabet yang ditujukan kepada Maria “Dan berbahagialah ia, yang telah percaya, sebab apa yang dikatakan kepadanya dari Tuhan, akan terlaksana" (Luk. 1:45). Seperti Maria yang hidup sungguh-sungguh dalam iman, pada dasar regula karmel ditekankan peranan iman ini. Para karmelit harus hidup dalam iman sesuai dengan teladan Bunda Maria. Karena itu betapa pentingnya peranan iman dalam kehidupan kita. Dalam regula dikutip dari Ibr. 11:6 “Tetapi tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah. Sebab barangsiapa berpaling kepada Allah, ia harus percaya bahwa Allah ada, dan bahwa Allah memberi upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Dia”. Jadi iman itu yang membuat kita berkenan kepada Allah dan dalam hal ini Maria bisa disebut ‘Puteri Abraham’. Bapa Abraham yang imannya begitu besar sehingga oleh Allah diperhitungkan sebagai kebenaran (lih. Rm. 4:3), demikian juga Maria yang percaya dan tahu bahwa ‘bagi Allah tiada suatupun yang mustahil’ (lih. Luk. 1:37). Oleh karena itu, Maria adalah tipe orang yang sungguh-sungguh beriman. Melalui iman ini Maria dapat melihat segala sesuatu dengan pandangan Allah sendiri. Oleh iman kita dimampukan untuk melihat segala sesuatu, baik peristiwa menyenangkan maupun tidak menyenangkan sebagai suatu kebaikan. Apapun yang menimpa kita, kita melihatnya dalam iman. Semua peristiwa dan kejadian dapat dilihat dalam terang Allah. Orang yang beriman melihat segala sesuatu dalam pandangan Allah sendiri.

3.2. Maria Sebagai Pelaksana Kehendak Allah

Sikap Maria ketika mengerti apa yang dikehendaki Tuhan, ia tidak berpikir panjang untuk menjawab, tetapi setelah ia mengerti bahwa itu kehendak Allah, dia berkata: "Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu" (Luk. 1:38). Dalam hal ini Maria sungguh-sungguh menjadi teladan kita. Dalam imannya Maria selalu mencari apa yang menjadi kehendak Allah dan melaksanakannya. Tidak ada prioritas lebih tinggi baginya daripada melaksanakan kehendak Allah “Terjadilah kepadaku menurut perkataanmu”. Menurut literatur-literatur rohani kalimat ini sering dikatakan dengan “Fiat”, ringkasan dari “Fiat Mihi Secundum Verbum Tuum”, artinya “Terjadilah padaku menurut perkataanmu”. Pada dasarnya seluruh kerinduan hatinya terarah pada pelaksanaan kehendak Allah, baik dalam dirinya maupun dalam diri orang lain. Karena itu Maria menjadi model dan teladan kita.

Dalam hal ini Maria juga bukan lain merupakan murid Yesus sendiri, jadi Maria memang ibu Yesus, tetapi sekaligus murid Yesus. Tuhan Yesus mengatakan bahwa kehendak Bapa itu merupakan alasan kedatangan-Nya ke dunia seperti yang diungkapkan surat kepada orang Ibrani, “Karena itu ketika Ia masuk ke dunia, Ia berkata: "Korban dan persembahan tidak Engkau kehendaki tetapi Engkau telah menyediakan tubuh bagiku “(Ibr. 10:5). “Sungguh, Aku datang; dalam gulungan kitab ada tertulis tentang Aku untuk melakukan kehendak-Mu, ya Allah-Ku" (Ibr. 10:5-7). Yesus datang ke dunia semata-mata untuk melakukan kehendak Allah, kehendak Bapa menjadi norma tertinggi untuk seluruh hidupnya. Jika kita baca lebih teliti dalam Injil Yohanes, Yesus berkali-kali mengatakan “Apa yang dilihat-Nya pada Bapa, apa yang dikehendaki-Nya, itulah yang dilakukan-Nya”. Kita lihat dalam Yoh. 4:34 "Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya”. Dengan teladan Tuhan Yesus dan pada Bunda Maria kita melihat hati yang seluruhnya terarah kepada kehendak Allah. Mungkin satu pertanyaan: “Mengapa kita harus mengarah kepada kehendak Allah?” kadang-kadang terlintas dalam pikiran kita mengapa tidak melakukan kehendak sendiri saja. Hal ini bahkan dibahas dalam literatur-literatur rohani khususnya dalam ajaran St. Ignatius Loyola tentang “Mengenali Kehendak Allah” atau “Membeda-bedakan Roh”. Kembali kita bertanya mengapa kita harus melaksanakan kehendak Allah?

Pertama-tama karena Allah mahabijaksana, mahatahu dan mahakasih sehingga kehendak Allah tidak lain seperti yang dikatakan St. Paulus: “Inilah kehendak Allah yaitu keselamatan kita” (lih. 2 Kor. 7:9-10). Tuhan tidak menghendaki sesuatu yang tidak baik, kecuali kebaikan dan keselamatan kita. Memang kadang-kadang keselamatan ini tidak sama dengan kebaikan jasmani duniawi, bahkan seringkali bertolak belakang dengan pandangan-pandangan manusiawi. Namun sebenarnya kehendak Tuhan yaitu keselamatan kekal kita. Maka kadang-kadang Tuhan membiarkan kita menderita sedikit, tetapi dalam penderitaan sedikit bisa menghasilkan kebaikan yang jauh lebih besar sehingga bila dilihat dalam terang kebaikan, penderitaan itu tidak ada artinya. Seperti kata St. Paulus: “Penderitaan zaman ini tidak ada artinya bila dibandingkan dengan kemuliaan yang disediakan Allah bagi mereka yang mengasihi Dia” (lih. Rm. 8:18). Tuhan kadang-kadang membiarkan penderitaan tertentu, meskipun penderitaan itu bukan datang dari Tuhan. Dari penderitaan ia dapat menarik manfaat yang jauh lebih besar, suatu penderitaan yang menimbulkan pemurnian. Karena itu kita dapat berkata bahwa “Kehendak Allah harus selalu menjadi pedoman kita, bukan apa yang kita kehendaki yang penting, tetapi apa yang dikehendaki Allah”. Dalam segala sesuatu kita harus mencari kehendak Allah. Jika kita mengerti kehendak Allah maka berbahagialah kita. Karena kalau kita mengerti kehendak Allah, sekaligus kita tahu bahwa Allah akan mendukung kita seluruhnya.

“Kalau kita menyadari bahwa kita bekerja di dalam kekuasaan Boss yang besar yaitu Tuhan Allah, jika sesuai dengan rencana dan kehendak-Nya, kita akan diberikan kebebasan dan kreativitas yang searah dengan rencana dan tujuan Tuhan. Tuhan selalu berada di belakang kita dan Dia menyediakan segala sesuatu yang kita perlukan”. Oleh karena itu, kita melihat seorang seperti St. Teresa dari Avila berani mengambil tindakan-tindakan yang bisa dikatakan ‘gila’, atau seperti yang dilakukan Muder Teresa dari Calcutta dan orang kudus lainnya. Teresa Avila yang ungkapannya termasyhur “Teresa dan satu dukat (mata uang emas Spanyol) tidak ada artinya, tetapi Yesus, Teresa dan satu dukat itu bisa menjadi segalanya”. Karena Teresa yakin ini merupakan kehendak Allah, dia juga tahu bahwa Allah memberikan rahmat sehingga itu semua dapat terlaksana. Demikian juga kita apabila kita berada dalam rencana dan kehendak Allah maka kita aman dan mempunyai keyakinan walaupun tampaknya ‘jalan menjadi buntu’, tetapi bagi Tuhan tidak ada jalan buntu.

3.3. Maria Tipe Orang Kontemplatif

Kalau kita baca dalam Injil Lukas, Maria merenungkan segala peristiwa yang dia alami dalam terang iman dan menyimpan dalam hatinya. Dengan merenungkan dan meresap-resapkan sabda Tuhan orang dapat menemukan cahaya baru yang menerangi dan menjelaskan apa yang dialaminya. Dengan merenungkan, meresap-resapkan dan menginteriorisasi semuanya itu orang dapat melihat dalam iman. Iman ini makin meresap dan mendalam, dan makin mempengaruhi cara berpikirnya, cara melihatnya, dan tentu saja cara bertindaknya. Iman yang terus diperdalam ini lama-kelamaan menjadi suatu sikap. Sikap inilah yang disebut sikap kontemplatif. Seorang kontemplatif pertama-tama adalah orang yang hidup dalam iman. Dahulu istilah kontemplatif lebih dibandingkan dengan istilah ‘aktif’, yaitu orang yang aktif dan kontemplatif. Dalam tradisi gereja aktif dan kontemplatif tidak dikaitkan dengan cara hidup biarawan dan biarawati tertentu, tetapi lebih dikaitkan dengan perkembangan iman seseorang. Sehingga jika pada permulaan orang menjadi ‘aktif’, artinya imannya belum begitu mendalam, selain itu karya kerasulan disebut juga sebagai hidup aktif.

Orang kontemplatif yang hidup imannya makin mendalam, ia makin meresapkan Sabda Allah, mengenal Allah, serta mengalami kasih-Nya. Ia berpindah dari hidup yang aktif ke dalam hidup kontemplatif. Dalam perkembangannya hidup kontemplatif dikaitkan dengan kelompok-kelompok tertentu yang membaktikan seluruh hidupnya untuk doa dan kontemplasi yang kemudian disebut pola atau cara hidup kontemplatif. Namun pada permulaan istilah kontemplatif dikaitkan dengan perkembangan rohani seseorang. Sebagai contoh, diantara para suster dari serikat aktif dapat dijumpai suster yang boleh dikatakan seorang kontemplatif yang sejati, tetapi ini tidak dijumpai pada suster-suster kontemplatif. Suster ini mempunyai hidup iman yang mendalam dan melihat segala sesuatu dalam terang iman. Tidak hanya para religius, seorang awampun dapat menjadi orang kontemplatif.

Demikian juga dengan Bunda Maria, walau ia tidak mempunyai ‘klausura’ (tempat tertutup untuk para suster kontemplatif dan tidak boleh dikunjungi kaum awam), dan tidak mempunyai biara, dengan terus-menerus Maria merenungkan dan meresap-resapkan Sabda Allah. Ia melihat segala sesuatu dalam terang iman. Bagi kita suatu suasana atau iklim rohani keheningan dan kesunyian sangat membantu untuk tumbuhnya sikap kontemplatif. Sebaliknya, seringkali terjadi orang-orang yang sibuk menulis dan sebagainya kalau tidak menyediakan waktu untuk melakukan refleksi, umumnya tidak menjadi ‘kontemplatif’. Karena peresapan sabda yang terus menerus, Maria dapat mengenali dan melihat segala peristiwa yang dialaminya dalam terang iman serta dapat mengenali kehadiran Tuhan dalam setiap perkara yang dialaminya.

3.4. Maria itu Orang yang Peka dan Tanggap Terhadap Bimbingan Roh Kudus

Berbeda dengan Zakharia yang harus mengalami kebisuan karena kurang tanggap terhadap rencana Allah, tetapi Maria sangat peka terhadap bimbingan Roh Kudus. Dalam terang Roh Kudus itu Maria dengan cepat mengerti rencana Allah dan tanggap terhadap kehendak Allah. Oleh karena itulah, setelah mengerti dan tanggap terhadap rencana dan kehendak Allah, dengan tiada ragu Maria dapat berkata “Aku ini hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut perkataanmu”.

Kita mengtahui bahwa Roh Kudus menjadi jiwa setiap orang beriman seperti yang diungkapkan oleh St. Paulus bahwa “Semua orang, yang dipimpin Roh Allah, adalah anak Allah” (Rm. 8:14), juga ungkapan yang paling tepat kepada umatnya di Galatia: “Jikalau kita hidup oleh Roh, baiklah hidup kita juga dipimpin oleh Roh” (Gal. 5:25). Ini berarti peka terhadap bimbingan dimana Roh membimbing kita dan Roh memberikan inspirasi yang kita kenal dengan ketujuh karunia Roh Kudus. Roh itu mendorong, membimbing dan menguasai orang lewat karunia-karunia-Nya. Jika dibandingkan, karunia-karunia Roh Kudus itu ibarat antena-antena yang sangat peka. Melalui antena-antena ini orang mampu menangkap gelombang-gelombang Roh Kudus. Hal ini menjadi berbahaya jika kita hanya mengandalkan kemampuan dan pengalaman kita sendiri. Karena itu kita perlu berada dalam ketaatan. Kadang-kadang orang mengira suatu saat Roh Allah yang berbicara, tetapi ternyata ini berasal dari roh neraka atau roh jahat, sehingga banyak orang tertipu. Salah satu ciri jika seseorang dikuasai oleh Roh Allah yaitu jika ia tumbuh dalam kerendahan hati yang sejati. Orang yang dikuasai oleh Roh Allah tidak mungkin menjadi sombong, karena Allah menentang orang yang sombong tetapi mengasihi orang yang setia dan rendah hati. Salah satu ciri yang jelas dari karunia-karunia Roh Kudus diketahui dari kerendahan hati.

Bunda Maria seorang yang amat rendah hati. Ini terungkap dalam perkataannya “Aku ini hamba Tuhan, jadilah padaku menurut perkataanmu” serta ungkapannya dalam Luk. 1:46-49 "Jiwaku memuliakan Tuhan, dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku, sebab Ia telah memperhatikan kerendahan hamba-Nya. Sesungguhnya, mulai dari sekarang segala keturunan akan menyebut aku berbahagia, karena Yang Mahakuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan besar kepadaku dan nama-Nya adalah kudus”. St. Teresa dari Avila mengatakan “Kerendahan hati tidak lain adalah kebenaran”, karena dalam terang Roh Kudus kita akan melihat siapakah aku ini? Seperti yang dikatakan Tuhan Yesus kepada St. Katarina dari Siena “Aku adalah yang Ada, engkau bukan yang apa-apa”. Semakin orang diterangi dan dibimbing oleh Roh Kudus, semakin ia menyadari kekecilannya tetapi sekaligus dalam paradoksnya walau ia kecil dan tidak berdaya, ia mengharapkan segala-galanya dari Allah. Seperti yang dikatakan St. Paulus : “Aku lemah tetapi aku bisa segalanya dalam Dia yang menguatkan aku” (lih. 2 Kor. 12:9-10). Karena kita berada dalam kuasa Allah yang tidak terbatas maka bagi orang yang percaya ‘bagi Allah tiada yang mustahil’ (lih. Luk. 1:37).

Bunda Maria tanggap terhadap bimbingan Roh Kudus dan dia tidak menjadi takut terhadap seluruh konsekuensi yang timbul dari penyerahan dirinya “Aku ini hamba Tuhan, jadilah padaku menurut perkataanmu itu”. Oleh karena itu Maria dapat melihat, mengerti dan menangkap apa yang menjadi kehendak Allah lewat inspirasi dan bimbingan Roh Kudus, seperti yang dikatakan Yesus: “Angin bertiup ke mana ia mau, dan engkau mendengar bunyinya, tetapi engkau tidak tahu dari mana ia datang atau ke mana ia pergi. Demikianlah halnya dengan tiap-tiap orang yang lahir dari Roh" (Yoh. 3:8). Orang yang hidup dalam Roh seringkali tidak dapat diduga-duga, karena ia tanggap dan peka terhadap inspirasi dan bimbingan Roh Kudus. (Sumber: Kaset Pengajaran Rm. Yohanes Indrakusuma, CSE. ditulis kembali oleh Serafim Maria, CSE.)

www.carmelia.net © 2008
Supported by Mediahostnet web hosting