User Rating: 1 / 5

Star ActiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 

“Segala sesuatu harus ditinggalkan dan dilepaskan. Semua keinginan harus ditanggalkan, karena keinginan-keinginan itu menghambat manusia dalam perjalanannya kepada Allah.” (St. Yohanes dari Salib)


Pengantar

Dalam hidup di dunia ini ada begitu banyak hal yang ditawarkan kepada kita. Banyak hal yang kelihatan begitu indah dan baik yang ada di sekitar kita. Dunia ini seakan-akan merupakan suatu tempat di mana segalanya tersedia, segalanya akan memberikan kebahagiaan pada manusia. Namun, apakah memang segala sesuatu yang kelihatan indah dan baik di dunia ini dapat memberikan jaminan kepada manusia akan kebahagiaan kekal nantinya? Apakah segala kenikmatan dunia ini akan dapat membawa manusia sampai kepada persatuan dengan Allah sebagai tujuan hidup kita selama ini? 


Jalan yang menuju kebinasaan

Ada begitu banyak jalan yang dapat dilalui oleh manusia dalam peziarahannya. Ada jalan yang lebar dan mulus, ada jalan yang berkelok-kelok dan berbatu, ada jalan yang terjal, ada juga jalan yang sempit. Dari begitu banyak pilihan jalan yang harus dilalui manakah yang harus kita pilih? Di dunia ini banyak orang akan memilih jalan yang lebar dan mulus, jalan yang dapat dilalui tanpa susah payah. Di jalan-jalan itu akan banyak juga ditemui berbagai macam hal yang indah-indah, pemandangan yang menakjubkan, yang akan membuat manusia menjadi silau dan terpesona. Berbagai tawaran kenikmatan dunia ini akan menghadang di jalan-jalan yang lebar, di jalan-jalan kota yang ramai. 

Jika seseorang ternyata begitu terpesona dengan segala macam hal duniawi yang indah yang ada di jalan-jalan lebar yang penuh gemerlapan lampu, maka tanpa disadari ia akan mulai berjalan menuju kepada kebinasaan. Jalan-jalan yang lebar tadi takkan pernah membawa seseorang sampai kepada kebahagiaan. Jalan yang lebar ini justru akan membawa kita sampai kepada kehancuran, jalan ini adalah jalan yang buntu.

Santo Yohanes Salib dalam tulisannya Mendaki Gunung Karmel menggambarkan ada dua jalan dari roh yang tidak sempurna, yaitu pertama di mana seseorang selalu ingin memiliki barang-barang yang bersifat duniawi seperti milik, kesenangan, pengetahuan, hiburan, dan istirahat yang akhirnya akan membawa dia sampai kepada jalan buntu tadi. Sedangkan yang kedua kebalikkannya bahwa seseorang selalu ingin memiliki barang-barang yang bersifat rohani seperti kemuliaan, kesenangan, hiburan. Inipun tidak sempurna, karena walaupun kesannya tampak rohani, namun dicapainya dengan semangat pemilikan, dan akhirnya juga akan membawa seseorang sampai kepada jalan buntu tadi.

Kedua jalan di atas samasekali tidak akan membawa seseorang sampai kepada persatuan dengan Allah di puncak gunung. Ada ungkapan dari St. Yohanes mengenai barang-barang duniawi yang mengatakan, “Semakin saya mencarinya, semakin tidak kuperoleh.” Begitu juga dengan barang-barang surgawi dikatakannya, “Semakin ingin aku memilikinya, semakin tidak kudapat.” Inilah yang akan terjadi dengan orang-orang yang menempuh jalan-jalan itu.

Mungkin ada sebagian orang yang beranggapan bahwa dengan melakukan pelayanan-pelayanan ke mana-mana sudah merupakan perbuatan baik yang akan membawa dia sampai kepada Allah. Jika orang tersebut melakukan segala pelayanannya dengan tujuan agar dirinya dipuji, terkenal di mana-mana, dianggap hebat oleh banyak orang, maka pujian dan penghargaan yang diterimanya merupakan pujian sia-sia yang membawa dia kepada jalan buntu tadi. Orang ini akan menjadi lekat dengan pujian dan penghargaan itu. Memang dia akan berkobar-kobar untuk pelayanan, tiap hari memberikan waktunya untuk karya sosial dan pelayanan. Kelihatan baik dan sangat rohani, namun di balik semua itu ternyata ada terselip unsur kepemilikan, kelekatan akan hal yang dilakukan, terlebih kelekatan akan hasil dan pujian yang diterimanya. Inilah yang membuat dia jatuh dan terperosok ke dalam jurang.

Ada orang lain lagi yang kelihatan sangat saleh dan rajin berdoa. Dia bisa berjam-jam menghabiskan waktunya untuk berdoa, namun ternyata dia hanya mencari penghiburan-penghiburan dalam doa. Dan dia menjadi lekat dengan segala penghiburan tadi. Dia bukan mencari Allah Sang Sumber, namun dia hanya mencari pemberiannya saja. Atau orang lain lagi ada yang kelihatan rajin berpuasa, namun ternyata dia mempunyai motivasi yang keliru. Puasa bukannya untuk menambah cinta kepada Tuhan atau untuk latihan rohani, namun puasa dilakukannya hanya supaya kelihatan hebat dan kuat, dipuji sebagai orang yang suci. Orang-orang seperti ini bukannya akan mencapai persatuan dengan Allah, namun justru mereka ini akan sampai kepada jalan buntu, jalan yang akan membawa mereka semakin menjauh dari Allah. Lalu jalan seperti apa yang harus dilalui agar sampai kepada persatuan dengan Allah?

Lepas Bebas

     Untuk dapat sampai kepada Allah atau untuk sampai kepada persatuan yang mesra dengan Sang Kekasih, kita harus melepaskan segala sesuatu. Dan berkaitan dengan ini St. Yohanes Salib mengungkapkan:

“Segala sesuatu harus ditinggalkan dan dilepaskan. Semua keinginan harus ditanggalkan, karena keinginan-keinginan itu menghambat manusia dalam perjalanannya kepada Allah. Kita harus menuju kepada Allah dengan lepas dari segala keinginan akan barang duniawi maupun rohani. Hanya keinginan akan Allah dan kehendak-Nya saja yang diperbolehkan, namun keinginan akan Allah itu pun hanya boleh melalui iman, harapan, dan kasih.”

Kelepasan, lepas bebas dari segala sesuatu baik duniawi maupun rohani. Kelepasan ini tak lain adalah suatu pengosongan diri, tak ada keinginan apa-apa di dalam diri kita selain keinginan akan Allah. St. Yohanes Salib mengatakan bahwa segala sesuatu harus ditinggalkan demi cinta kepada Allah. Dalam hal ini juga pengosongan diri akan mungkin terjadi jika seseorang telah terlebih dahulu ditarik oleh cinta Allah yang begitu besar, sehingga dengan cinta itu ia mendapatkan kekuatan untuk mengalahkan tarikan dan keinginan daging. Pengosongan diri atau kelepasan ini merupakan suatu pernyataan cintakasih yang besar akan Allah sehingga ia mampu melepaskan diri dari segala ikatan dan hal-hal lain yang menjadi penghalang antara manusia dengan Allah.

Dalam perjalanan hidup menuju kepada kebahagiaan kekal dan persatuan cinta kasih yang sempurna dengan Allah, kita harus selalu berjuang untuk dapat benar-benar lepas bebas dari segalanya. Mungkin banyak orang yang mengira bahwa lepas bebas ini hanya dalam bidang duniawi saja. Berani melepaskan segala kenikmatan duniawi, tidak merokok, tidak berjudi, tidak lekat pada harta benda dan kekayaan, tidak lekat dengan ilmu pengetahuan, kemampuan, dan lain-lain. Hal tersebut memang tidak salah, dan memang demikian adanya. Namun, seperti tadi dikatakan bahwa kelepasan ini betul-betul harus total, lepas bebas juga dari segala hal yang rohani sekalipun. Tidak lekat pada suatu bentuk doa tertentu, tidak lekat dengan barang rohani tertentu, tidak lekat dengan penghiburan rohani. Hal-hal tersebut juga akan menghalangi perjalanan kita sampai kepada persatuan dengan Allah, karena kita bukan mengarahkan hati kepada Allah melainkan kepada hal-hal rohani tadi, padahal itu semua hanyalah sarana dan bukan tujuannya.

“Di dunia ini jangan melekatkan diri pada suatu pun, juga pada hal-hal yang kecil dan tak berarti, sebab kita menjadi terikat tanpa kita sadari. Hanya yang kekal yang dapat memuaskan kita.” (St. Theresia Lisieux) Ungkapan sederhana dan pendek dari St. Theresia Lisieux ini juga akan menyadarkan kita bahwa tidak ada sesuatu pun di dunia ini yang akan dapat memuaskan kita. Bahkan hal yang terkecil sekalipun di dunia ini jika kita melekat kepadanya tidak akan membawa suatu kepuasan yang berarti bagi kita. Hanya yang kekal yang dapat memuaskan kita. Hanya Allah saja yang dapat memberikan kepuasan itu, karenanya kita hanya mau menginginkan Dia dan melekat kepada-Nya.

Kalau kita melihat yang ada pada diri Yesus, saat datang ke dunia ini Dia juga tak pernah menginginkan yang lain kecuali melakukan apa yang dikehendaki oleh Bapa-Nya. Bahkan dikatakan-Nya bahwa kehendak Bapa itu adalah makanan-Nya. “Kata Yesus kepada mereka, makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya.” (Yoh. 4:34)

Lepas bebas, tidak terikat kepada apa pun di dunia ini, tidak melekat kepada suatu ciptaan tak peduli begitu indah dan baiknya ciptaan tersebut.

“Ingatlah bahwa segala keindahan ciptaan dibandingkan dengan keindahan Allah yang tidak terbatas adalah kejelekan belaka. Segala keagungan dan keluhuran makhluk dibandingkan dengan keagungan dan keluhuran Allah adalah kekotoran dan kekasaran belaka. Segala kebijaksanaan dunia ini dibandingkan dengan kebijaksanaan Allah adalah kebodohan belaka (1 Kor. 3:19). Karena itu hanya mereka yang mengesampingkan segala pengetahuannya dan berjalan dalam pengabdian Allah seperti anak-anak yang tidak tahu apa-apa, akan menerima kebijaksanaan Allah.” (St. Yohanes Salib, Mendaki I,4,4-5)

Kesadaran inilah yang harus selalu kita miliki, bahwa segala sesuatu yang indah dan baik di dunia ini tidak akan pernah dapat menandingi kebaikan dan keindahan yang ada pada Allah. Dialah yang menciptakan segala yang ada di dunia, maka apa yang diciptakan-Nya tidaklah dapat melebihi Dia Sang Pencipta. Jika kita kagum dan tertarik dengan suatu ciptaan yang ada di dunia, maka kekaguman itu seharusnya ditujukan kepada Dia yang menciptakan, dan bukannya menjadi lekat dengan ciptaan tadi. Seperti halnya jika kita melihat sebuah lukisan yang indah, maka yang harus kita puji adalah sang pelukis yang handal, atau jika kita mendengarkan suatu nyanyian yang indah dan merdu, tentunya kita akan memuji sang penyanyi yang mempunyai suara merdu tadi. Begitu juga halnya dengan Allah, jika kita mengagumi suatu ciptaan yang indah, maka yang harus kita puji adalah Allah dan kepada Dialah kita harus melekat.


Lepas bebas menghasilkan banyak kebaikan

Lepas bebas dari segala hal membebaskan kita dari segala keterikatan yang tidak baik dengan apa pun di dunia ini. Jika kita dapat benar-benar lepas bebas maka kita pun akan merasakan kedamaian dan sukacita dalam kehidupan ini. Namun, jika seseorang masih terikat akan sesuatu baik makhluk, barang, hal-hal tertentu, maka kemungkinan besar hidupnya akan selalu dipenuhi dengan ketakutan dan kecemasan. Hal ini terjadi karena dia akan merasa takut jika hal atau sesuatu yang lekat dengan dirinya suatu waktu akan hilang, pergi, atau diambil daripadanya. Ia akan merasa kecewa dan sakit hati jika apa yang menjadi kelekatannya ternyata dimiliki juga oleh orang lain. Atau jika seseorang begitu melekat dengan orang lain maka ia akan mudah sakit hati jika tidak lagi diperhatikan. Ini semua dapat terjadi karena seseorang begitu melekat dengan hal-hal yang ada di dunia ini baik hal duniawi ataupun rohani.

Dalam hal rohani misalnya jika seseorang tidak lagi merasakan sensasi tertentu dalam doa, maka dia menjadi malas berdoa dan kecewa karena merasa Tuhan telah menjauh darinya. Atau jika lekat dengan suatu barang rohani tertentu, misalnya dengan rosario kesayangan, maka saat barang tersebut hilang, orang ini tidak dapat lagi berdoa dengan baik. Semua ini karena orang begitu terlekat dengan hal-hal tadi. Doa bukan untuk bertemu dengan Allah namun hanya untuk merasakan penghiburan dan sensasi yang menyenangkan hatinya.

Hal-hal tersebutlah yang harus kita atasi dengan semangat kelepasan yang benar-benar total. Lepas bebas ini akan menghasilkan sukacita dan kedamaian karena kita tak perlu lagi takut atau cemas kehilangan apa yang menjadi kelekatan kita. Lepas bebas ini juga akan membuat kita semakin bertumbuh dalam iman, harapan, dan kasih karena dalam segala sesuatu, dalam perjalanan hidup kita, segalanya akan dapat kita serahkan kepada Tuhan dengan bebas tanpa ada macam-macam tuntutan.

Kelepasan ini akan membuat kita pun berkembang dalam segala kebajikan. Cintakasih akan Tuhan dan sesama juga akan semakin terlihat nyata dalam diri kita. Orang yang lepas bebas akan dengan bebas pula memberikan cintanya yang tulus kepada siapa pun yang membutuhkan. Dia tidak akan perhitungan dan menuntut balas jasa, namun segala yang dilakukannya disadari sepenuhnya bahwa itu adalah demi cintanya kepada Allah. Dia akan menjadi orang yang murah hati dan penuh belaskasih. 


Penutup

Perjalanan kita menuju kepada persatuan dengan Allah memang bukan suatu perjalanan yang mudah dan ringan, namun harus melewati berbagai macam godaan, tantangan, dan perjuangan. Akan banyak keindahan yang muncul di sekeliling perjalanan kita yang dapat mengalihkan perhatian kita sehingga jalan kita mulai membelok. Namun sebaliknya, juga akan banyak batu-batu dan kerikil yang dapat menghalangi, air deras yang dapat menghanyutkan, lubang-lubang yang dapat membuat kita terjatuh, atau bahkan jurang yang dalam yang dapat membuat kita terperosok, serta bukit-bukit terjal yang harus didaki. Semua itu akan ditemui dalam perjalanan dan peziarahan kita dalam usaha mencapai tujuan yang utama, yaitu bersatu dengan Allah dalam cintakasih yang sempurna.

Segala sesuatu itu akan dapat diatasi dan dilalui jika kita mau benar-benar lepas bebas dari semuanya. Tidak mempedulikan yang indah-indah dan juga tidak terus-menerus bersedih dalam penderitaan. Semuanya harus dijalani dan dilewati, dan dengan cintakasih yang berkobar akan Allah maka semua itu akan dapat dilalui. Cintakasih akan Allah memampukan kita untuk terus maju dan tidak goyah meskipun berbagai macam godaan dan halangan menghadang di jalan. Kelepasan yang total yang didasari oleh cintakasih yang besar itu akan membuat kita mampu terus melihat ke depan dan mengalahkan segala keinginan yang tidak teratur, juga menguatkan kita untuk menghadapi segala penderitaan. Lepas bebas membawa kita sampai kepada persatuan cintakasih yang sempurna dengan Allah.

Berusahalah agar engkau selalu cenderung:
Bukan untuk yang paling mudah, tetapi untuk yang paling sukar;
Bukan untuk yang paling nikmat, tetapi untuk yang paling hambar;
Bukan untuk yang paling memuaskan, tetapi untuk yang paling tidak menyenangkan;
Bukan untuk apa yang membei istirahat bagimu, tetapi untuk apa yang berarti kerja keras;
Bukan untuk apa yang paling memberikan penghiburan, tetapi untuk yang paling menjemukan;
Bukan untuk yang paling besar, tetapi untuk yang paling kecil;
Bukan untuk yang paling luhur dan paling berharga, melainkan untuk yang paling rendah dan paling remeh;
Bukan untuk menginginkan sesuatu, tetapi untuk tidak menginginkan apa-apa;
Janganlah mencari barang-barang duniawi yang paling baik, tetapi yang paling jelek;
Pupuklah kerinduan untuk masuk ke dalam kehampaan, kekosongan, dan kemiskinan yang total dalam segala sesuatu yang menyangkut barang-barang dunia ini.

www.carmelia.net © 2008
Supported by Mediahostnet web hosting