User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active
 

Sehelai bulu putih terlepas dari sayap seekor burung merpati. Terbang perlahan mengikuti hembusan angin lembut, semakin lama semakin ke bawah, dan akhirnya mendarat di kaki seorang rahib muda. Tertarik dengan keindahan bulu merpati yang putih mulus, rahib muda itu pun memungutnya, mengamatinya, dan membelainya perlahan. Ada kekaguman di hatinya, atas karya ilahi yang begitu indah dan halus walau hanya untuk sehelai bulu merpati. Tertimpa sinar matahari, bulu putih berseri itu pun tampak berkilauan bermandikan cahaya pagi.

Akan tetapi, sejenak terbersit pula keharuan di hati sang rahib. Bulu itu memang indah, menyenangkan hati yang melihatnya, namun lebih dari itu, nyaris tak ada artinya lagi. Ia hanyalah sehelai bulu yang diterbangkan angin ke mana pun ia bertiup, diinjak orang, dan bahkan akhirnya hancur berantakan dimainkan anak anjing yang nakal. “Ah, andai saja engkau tidak melepaskan diri..., mencari kebebasan yang semu...,” keluh rahib muda itu seraya menatap bulu merpati di tangannya. Ya, tadinya ia adalah salah satu dari bulu sayap seekor merpati, yang dapat menerbangkan tuannya tinggi menembus awan-awan putih di langit. Persatuannya dengan sang merpati menjadikan hidupnya berarti, dapat menjadi sayap yang kuat mengangkat tuannya melayang-layang jauh di atas muka bumi.

 “...di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa!” gema sabda Sang Putera ini pun akhirnya menyentak rahib itu dari keter-tegunannya. Tersadarlah ia bahwa Sang Guru sedang membimbingnya, lewat sehelai bulu merpati. Bagai ranting anggur yang lepas dari pokoknya akan segera layu dan mati, demikianlah orang yang melepaskan diri dari Tuhan, Pokok Anggur yang sejati. Hanya dengan tinggal di dalam Tuhan sajalah, manusia dapat berbuah banyak.

 “Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku.

 Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barang-siapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa.” (Yoh 15:4-5)

 Persatuan yang mesra dengan-Nya, itulah rupanya yang sangat dirindukan Allah dari setiap insan manusia di dunia. Tinggal di dalam Dia, dan Dia di dalam kita, seperti ranting anggur yang tinggal pada pokoknya, seperti bulu merpati yang tinggal pada tubuh sang burung.

 “Persatuan…berbuah banyak …,” tak sadar rahib muda itu pun mengeja ketiga kata ini perlahan di dalam hatinya, dan matanya pun terpejam. Tanpa mempedulikan angin pagi yang memainkan anak rambutnya, di matanya yang tertutup itu kini terbayang banyak wajah manusia dari berbagai bangsa; kulit putih, hitam, kuning, merah, sawo matang... Cinta kasih Allah yang memenuhi hatinya kini membuat semangat kerasulannya berkobar-kobar. Dirasakannya kehausan Allah akan jiwa-jiwa, kerinduan Allah akan pertobatan manusia, dan hasrat-Nya untuk merangkul semua manusia di dalam hati kudus-Nya.

 Sesungguhnyalah, hidup manusia sangat berharga bagi Allah. Dan kita yang dipanggil menjadi orang Katolik, dipanggil untuk menjadi anggota Tubuh Mistik Kristus, dipanggil untuk bersatu dengan Dia yang menjadi Kepala Gereja, yaitu Yesus Kristus. Karena persatuan kita dengan Kristus, dapat mendatangkan rahmat dan berkat bagi orang lain. Persatuan kita dengan Dia dapat membuahkan banyak pertobatan bagi bangsa-bangsa. Renungkanlah, betapa berharganya setiap detik yang kita miliki! Akan tetapi, berapa banyak sudah waktu yang kita buang percuma, berlalu begitu saja tanpa persatuan dengan Kristus?

 Tak terasa air mata pun menetes pelan di wajah sang rahib muda, ketika ia mengangkat kepalanya memandang Hosti yang diangkat imam dalam Misa keesokan harinya. Penyesalan memenuhi hatinya, inilah pertobatannya yang kedua! Ada begitu banyak detik, menit, bahkan jam, yang berlalu begitu saja dalam hidupnya, tanpa persatuan dengan Kristus kekasih jiwanya. Padahal setiap detik yang ia miliki, bila dipersembahkan dengan penuh cinta kepada Tuhan, akan dapat menghantar sebuah jiwa kepada Allah. “Jauh lebih berharga satu orang yang kudus karena cinta-kasihnya sempurna daripada seribu orang yang tak mencapai taraf ini,” demikian kata St. Yohanes dari salib. Itulah sebabnya Yesus yang mahakudus hanya dengan menderita dan wafat satu kali saja sanggup menyelamatkan seluruh umat manusia di muka bumi sejak zaman purbakala sampai selama-lamanya. Sepanjang hidup-Nya Yesus selalu bersatu dengan Allah Bapa-Nya. Hati sang rahib muda pun bergetar; api kerasulan di hatinya semakin berkobar. Ya, ia bertekad untuk berusaha hidup dalam persatuan dengan Allah, tinggal di dalam Dia, dan Dia di dalamnya, agar semakin hari semakin banyak orang yang dibawa kepada pertobatan; mengenal dan mengalami kasih Allah secara pribadi.

 Suatu tekad suci kini bergema di dalam sanubari sang rahib. Dan betapa tekad itu semakin bertalu dalam jiwanya ketika tatapan matanya tertumbuk pada rangkaian bunga di kapela. Salah satu bunga itu sudah layu, dan hampir mati. Namun, hingga detik-detik akhir hidupnya, bunga itu masih menghias altar. Bunga itu tak menyia-nyiakan satu detik pun dalam hidupnya, semuanya dipersembahkan untuk kemuliaan Allah. “Aku akan berusaha sepertimu,” bisik hati sang rahib kepada bunga yang layu. Seperti bunga mungil yang layu menghabiskan hari-harinya di altar suci, rahib muda itu pun bertekad untuk memboroskan seluruh waktunya dengan hidup di hadirat Allah!

 Hidup di hadirat Allah! Hanya dengan senantiasa hidup di hadirat Allah jiwa akan dihantar dalam persatuan yang mesra dengan Sang Sabda. Bekerja di hadirat-Nya, berjalan di hadirat-Nya, tidur di hadirat-Nya, selalu tinggal di dalam Dia, dan Dia di dalam kita. Dari hari ke hari rahib muda itu pun berlatih untuk dapat selalu hidup di hadirat Allah. Diusahakannya agar seluruh keberadaan dirinya menjadi sebuah percakapan kecil dengan Tuhan, yang keluar dari hatinya yang tulus dan sederhana. Bersukacita di dalam Dia, menangis di dalam Dia, dan berbicara dengan rendah hati dan penuh cinta kepada-Nya di segala waktu, bahkan ketika sedang kering ataupun berdosa. Segala sesuatu dilakukannya dengan sadar dan lembut, dan dengan penuh cintakasih dipersembahkannya kepada Tuhan. “Hidup di hadirat Allah berarti hidup dalam kesucian yang besar!” demikian kata Br. Laurensius dari Kebangkitan, seorang karmelit yang hidup sekitar abad ke-16.

 Hari berganti hari, minggu berganti minggu, sadarlah sang rahib muda bahwa hidup di hadirat Allah ternyata tidaklah semudah yang diduganya. Setelah sekian waktu berusaha keras berlatih untuk hidup di hadirat Allah, toh setiap malam saat merenungkan kehidupannya dalam satu hari, disadarinya waktu yang ia habiskan untuk hidup di hadirat Allah sepanjang hari itu hanya sedikit saja. “Aku terlalu lemah...” batin rahib itu muram. Syukurlah ajaran St. Theresia dari Lisieux -seorang biarawati Karmel yang menjadi kudus dalam usia sangat muda- membangkitkan semangatnya. “Bersyukurlah jika engkau lemah, karena Yesus datang bukan untuk orang benar dan orang sehat, melainkan untuk mereka yang sakit dan berdosa. Semakin engkau lemah, semakin bergegas Yesus datang untuk menolong engkau.”

 Suatu kesadaran baru kini memenuhi benak sang rahib. Ia sadar ia harus berusaha keras, namun lebih dari itu, segala usahanya akan sia-sia belaka jika tanpa rahmat. Ia membutuhkan pertolongan Tuhan, suatu rahmat ilahi yang memampukannya untuk senantiasa hidup di hadirat Allah. Ia butuh rahmat untuk dapat bersatu dengan Yesus. Agar hidupnya dapat menjadi rahmat dan berkat bagi sesama, ia sendiri membutuhkan rahmat un-tuk itu. Ia membutuhkan penolong yang dapat membimbingnya untuk semakin hari dapat semakin bersatu dengan Sang Putera, pokok anggur sejati. Ya, rahib muda itu sadar kini apa yang paling dibutuhkannya. Ia membutuhkan … Roh Kudus…

 Sejenak diperhatikannya kalender liturgi yang terbuka di atas meja kerjanya. “Sebentar lagi Pentakosta,” gumamnya sambil mengetik dengan sebuah komputer kecil (laptop). Namun, ketika jemarinya sedang menari dengan lincahnya di atas tuts komputer, turunlah hujan deras disertai dengan petir dan halilintar sambar menyambar. Listrik pun padam! Akan tetapi, komputernya tetap menyala karena ada baterai di dalamnya. Peristiwa ini membuatnya tertegun sejenak. Betapa selama ini, hujan badai kesibukan, persoalan, dan segala aktivitas hidup sehari-hari telah memadamkan api jiwanya yang ingin terus tinggal di hadirat Allah. Hanya karena sedikit petir persoalan saja, telah cukup untuk mengalihkan perhatian jiwa-nya dari Allah. “Alangkah indahnya jika aku dapat terus hidup di hadirat Allah, walau apa pun yang terjadi, seperti laptop ini yang terus menyala walau ada hujan badai dan listrik padam,” katanya. Ya, laptop itu bisa terus menyala karena ada baterai di dalamnya, dan api cinta yang dapat mengarahkan hati manusia kepada Allah hanya bisa terus menyala jika ada Roh Kudus di dalamnya.

 “Roh Kudus…Roh Kudus…,” dengan mesra akhirnya rahib muda itu pun memanggil Roh Kudus dengan segenap kerinduannya. Bunga-bunga harapan pun bersemi di sepanjang jalan me-nyongsong Pentakosta. Bersama dengan Roh Kudus Sang Penolong, ia percaya kerinduannya untuk menggapai kesucian bukanlah impian mustahil. Ia rindu untuk bersatu dengan Allah, dan berharap persatuannya dengan Allah dapat menggapai banyak jiwa di muka bumi ini. Ia sandarkan kerinduannya kepada Roh Kudus dengan penuh kepercayaan, karena bukankah setiap kerinduan suci di dalam hati manusia tak lain merupakan jejak kerinduan Allah sendiri? Karena Allahlah yang telah lebih dahulu merindukan hal itu, dan menanamkan kerinduan itu di kedalaman lubuk hati manusia.

semakin larut, rahib muda pun menyudahi pekerjaannya. Digelarnya tikar untuk duduk berdoa, memasuki keheningan malam yang pekat. Di pelupuk matanya kini terbayang seekor merpati putih berkilau, terbang di antara awan-awan selembut kapas, semakin lama semakin rendah, menuju kepadanya. “Oh, selamat datang Roh Kudus…” ucapnya lirih penuh kedamaian.

www.carmelia.net © 2008
Supported by Mediahostnet web hosting