User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active
 

Allah dalam diri-Nya sendiri sempurna dan bahagia tanpa batas. Berdasarkan keputusan-Nya yang dibuat karena kebaikan semata-mata, Ia telah menciptakan manusia dengan kehendak bebas, supaya manusia itu dapat mengambil bagian dalam kehidupan-Nya yang bahagia. Karena itu, pada setiap saat dan di mana pun juga Ia dekat dengan manusia. Ia memanggil manusia dan menolongnya untuk mencari-Nya, untuk mengenal-Nya, dan untuk mencintai-Nya dengan segala kekuatannya, Ia memanggil semua manusia yang sudah tercerai-berai satu dari yang lain oleh dosa ke dalam keluarga-Nya, Gereja melalui jalan pertobatan. Ia melakukan seluruh usaha itu dengan perantaraan Putera-Nya, yang telah Ia utus sebagai Penebus dan Juru Selamat, ketika genap waktunya. Dalam Dia dan oleh Dia Allah memanggil manusia supaya menjadi anak-anak-Nya, dan dengan demikian mewarisi kehidupan-Nya yang bahagia.

Allah yang Mahabaik ingin manusia hidup berbahagia dalam hubungan cinta kasih dengan-Nya, untuk itu Ia memberikan manusia kehendak bebas, agar dapat mengasihi Allah dalam kebebasan. Dalam kenyataannya manusia telah menyalahgunakan kebebasan itu, merusak rusak kodratnya sebagai gambaran Allah dengan melakukan dosa, yang dapat membawa kepada kebinasaan. Puji Tuhan, dalam kebaikan-Nya yang tak terbatas, Allah telah mengutus Putera-Nya untuk menyelamatkan, memulihkan kembali manusia yang telah terpisah dengan Allah. Tetapi Allah menuntut kerja sama dari manusia, seperti yang dikatakan St. Agustinus: ”Allah telah menciptakan kita tanpa kita, tetapi Ia tidak mau menyelamatkan kita tanpa kita”, Allah menghendaki manusia untuk turut berperan aktif di dalam karya-Nya yang menyelamatkan diri manusia itu sendiri dan semua manusia di dunia ini melalui pertobatan. Yesus telah datang memberikan Kabar Gembira, bahwa Allah berbelas kasihan kepada orang berdosa, Yesus telah mengampuni semua dosa-dosa manusia dan tidak mengingatnya lagi, Ia memanggil manusia yang telah ditebus-Nya, untuk bertobat. "Aku telah menghapus segala dosa pemberontakanmu seperti kabut diterbangkan angin dan segala dosamu seperti awan yang tertiup. Kembalilah kepada-Ku, sebab Aku telah menebus engkau!” (Yes 44:22)

Pertobatan Sebagai Rahmat Allah

Apa yang dimaksudkan dengan pertobatan menurut paham Injil, dapat kita pahami dalam perumpamaan tentang dua orang yang berhutang (Luk 7:41-43). Kedua orang berhutang itu melambangkan orang yang berdosa, karena hutangnya begitu saja dihapuskan tanpa perlu mengembalikan maka mereka begitu berterimakasih dengan mengasihi tuannya, yaitu Allah. Jadi orang lebih dahulu mengalami pengampunan dari Allah baru kemudian mengasihi Dia. Dengan kata lain pertobatan merupakan suatu tanggapan dari kebaikan hati Allah yang dialami orang berdosa. Manusia lebih dahulu mengalami Allah, kemudian barulah dia bertobat, meninggalkan dosa-dosanya dan berbalik kepada Allah. Jadi pertobatan yang diberitakan Yesus tidak merupakan syarat untuk mendapatkan keselamatan (Kerajaan Allah), melainkan keselamatan telah dianugerahkan, rahmat Allah telah dan akan terus dicurahkan kepada manusia sehingga menghasilkan pertobatan. Allah mendekati manusia, merangkul dan mengangkatnya menjadi anak-anak-Nya, menjadi ahli waris Kerajaan-Nya. Lalu manusia yang sebelumnya adalah tawanan dan budak dosa bertobat, mengubah jalan hidupnya, berbalik kepada Allah yang baik dan menyerahkan diri kepada kehendak-Nya.

Di dalam Injil digambarkan Yesus senang bergaul dengan orang berdosa, sebab Ia datang untuk orang berdosa, ia dekat dengan para pemungut cukai, pelacur, mereka yang dianggap berdosa, sebagai sampah masyarakat dan kaum kafir menurut pandangan pada zaman itu. Tidak dikatakan bahwa mereka lebih dahulu bertobat sebelum bertemu Yesus, tetapi Yesus lebih dahulu berbuat baik kepada mereka lebih dahulu. Contoh: seorang wanita yang kedapatan berzinah (Luk 8:2-11), wanita samaria (Yoh 4:1-26), Zakheus kepala pemungut cukai (Luk 9:1-10), salah seorang penjahat yang Disalibkan bersama Yesus (Luk 23:40-43).

Yesus Sang Penyelamat

Allah Sang Penyelamat menunjukkan kasih-Nya kepada manusia, Ia telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa (Rm 5:8), Ia telah melepaskan kita dari kuasa kegelapan dan memindahkan kita ke dalam Kerajaan Anak-Nya yang kekasih (Kol 1:13).

Ia telah memberikan diri-Nya sendiri sebagai korban penebus dosa-dosa semua manusia, seperti yang dikatakan St. Paulus : “Sebab yang sangat penting telah kusampaikan kepadamu, yaitu apa yang telah kuterima sendiri, ialah bahwa Kristus telah mati karena dosa-dosa kita, sesuai dengan Kitab Suci,” (1Kor 15:3). Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya (Yoh 15:13). Dan tidak seorangpun dapat menyelamatkan dirinya sendiri tanpa pertolongan Allah (bdk Mzm 49:8), “Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah “(Rm 3:23) “Sebab upah dosa ialah maut” (Rm 6:23), jadi akibat dari perbuatan dosa manusia adalah kematian dan penderitaan kekal tetapi Allah telah menebus kita dari hamba dosa yang seharusnya menerima keterpisahan dengan Allah sebagai ganjarannya, Ia telah datang ke dunia memilih untuk menjadi manusia, mengalami segala penderitaan dan kelemahan manusiawi. Sama seperti manusia lainnya, Yesus memilih mati, wafat secara tidak terhormat dalam kehinaan, turun ke dunia orang mati dan menjadi tak berdaya sama sekali. Dengan jalan itu Allah berkenan membebaskan manusia dari semua nasib malangnya, dari kutuk, dari dosa dan kematian karena dosa. Ia memikul dosa dan kutuk yang seharusnya ditanggung manusia, Ia memilih menderita demi menyelamatkan manusia, “Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh” (Yes 53:5). Ia memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang agar manusia terbebas dari siksaan abadi. Dan Ia hadir sebagai pengantara kepada Bapa, kepada keselamatan kekal “Karena itu Ia sanggup juga menyelamatkan dengan sempurna semua orang yang oleh Dia datang kepada Allah. Sebab Ia hidup senantiasa untuk menjadi Pengantara mereka” (Ibr 7:25)

Sabda Allah Memanggil Manusia Untuk Bertobat

Bertobat berarti terbuka terhadap tawaran kasih Allah dan menerima Dia sebagai pusat di dalam kehidupan ini. Maka pertobatan harus diwujudkan dengan meninggalkan masa lalu yang penuh dosa, berbalik dari cara hidup yang lama dan menempuh hidup yang baru. Sesungguhnya, pertobatan merupakan jawaban dari panggilan Tuhan Yesus yang pertama untuk manusia dalam karya perdana-Nya di daerah Galilea. Yesus menyerukan pertobatan, yang merupakan inti dari pewartaan-Nya di samping tentang Kerajaan Allah: “Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat!” (Mat 4:17, bdk. Mrk 1:15), dan untuk inilah Yesus datang ke dunia, Ia hadir bukan untuk menjadi hakim yang kejam tetapi sebagai juru selamat: “Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, tetapi orang berdosa, supaya mereka bertobat” (Luk 5:32). Ia tidak menghendaki kematian orang berdosa (bdk. Yeh 33:11), tetapi Ia menghendaki agar semua orang diselamatkan (bdk. 1Tim 2:3-4) Ia lebih rindu Manusia mengalami pertobatan dan diselamatkan daripada manusia itu sendiri merindukan keselamatan. Dalam pewartaan-Nya Yesus menyatakan betapa penting dan sungguh mendesak untuk kebaikan manusia sendiri, suatu pertobatan untuk menerima kehidupan kekal dan syarat masuk dalam Kerajaan Sorga (Mat 11;20-21 ; 18:3 ; 23:15), sebelum kenaikan-Nya ke Sorga, Jadi untuk masuk Surga orang harus bertobat. Ia pun memberi tugas kepada para murid untuk melanjutkan karya penyelamatan ini: “...berita tentang pertobatan dan pengampunan dosa harus disampaikan kepada segala bangsa,...” (Luk 24:47). Pertobatan juga merupakan pesan pokok para nabi Perjanjian Lama (Hos 14:2, Yes 1:27, Yeh 18:30,Yl 2:12-14, Mal 3:7), Yohanes pembaptis (Mat 3:2 ; 3:8) dan orang Kristen Perjanjian Baru serta Gereja-Nya (Kis 2:38 ; 8:22 ; 11:18 ; 2Ptr 3:9).

Menjadi orang Kristen adalah mengikuti Kristus karena mengasihi-Nya, tetapi karena kita lebih dahulu dikasihi-Nya (1Yoh 4:10). Tuhan menghendaki kita untuk menjawab panggilan-Nya yaitu dengan mengasihi Dia, seperti yang dilakukan-Nya pada Simon Petrus, Tuhan pun bertanya kepada kita; ”...apakah engkau mengasihi Aku?"..."Benar Tuhan, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau...” “Ikutilah Aku” (bdk. Yoh 21:15.19). Mengikuti Yesus mengandung keputusan untuk menyerahkan diri sepenuhnya untuk dibimbing, diubah, dibentuk menuju kepada kekudusan. Tuhan akan selalu memanggil manusia yang lemah, penuh kekurangan dan dosa untuk menggapai uluran tangan-Nya, mengalami kasih-Nya yang tak terbatas dan kemudian mengubah mereka, menjadi saluran kasih kepada sesamanya.

Pertobatan yang sesuai dengan kehendak Allah

Pertobatan yang merupakan rahmat Allah yang cuma-cuma dapat diumpamakan seperti benih yang ditaburkan di tanah (Mrk 4:1-20), diharapkan Allah dapat tumbuh, berkembang dan menghasilkan buah. Buah pertobatan ini juga merupakan tuntutan (Mat 3:8), dan harus buah yang baik (Mat 7:19) bila tidak maka pohonnya pasti ditebang dan dibuang ke dalam api. Dalam kebaikan-Nya yang tanpa batas Allah telah memelihara pohon ara yang tidak berbuah, setelah pohon itu menikmati segala kebaikan-Nya, diharapkan ia akan berbuah, namun jika tidak menghasilkan buah, pada saatnya pasti akan ditebang juga (bdk. Luk 13:6-9). Dalam surat kepada orang Ibrani (Ibr 6:4-8), dikatakan bahwa mereka yang telah mengalami berkat pertobatan dari Allah tetapi mereka tidak menghasilkan buah pertobatan, lebih lagi murtad, maka orang itu sudah dekat pada kutuk yang berakhir pada pembakaran dan ia tidak berguna sama sekali. Orang yang telah diselamatkan dan dijadikan ahli waris Kerajaan Allah, namun tidak berlaku sebagai anak Allah akan dibuang dan jatuh binasa pada waktunya. Jadi manusia bertanggung jawab atas rahmat Allah ini, bekerja sama dengan rahmat Allah sehingga menghasilkan buah berlimpah dengan terus-menerus harus memelihara dan mengembangkannya melalui pikiran, perbuatan dan perkataan sehari-hari. Proses pertobatan ini tidak terjadi sekali saja, melainkan terus-menerus selam hidup di dunia, karena dengan kodratnya yang lemah manusia memiliki kecenderungan untuk berbuat dosa (concupiscentia), sehingga tidak satu orang pun di dunia ini yang tidak pernah berbuat dosa, bahkan orang paling saleh pun pernah berbuat dosa, ini dikatakan dalam kitab Pengkotbah : “Sesungguhnya, di bumi tidak ada orang yang saleh: yang berbuat baik dan tak pernah berbuat dosa!” (Pkh 7:20), dalam kitab Amsal: orang benar pun jatuh tujuh kali sehari (bdk. Ams 24:16). Juga dikatakan oleh St. Yohanes dalam suratnya: “Jika kita berkata, bahwa kita tidak berdosa, maka kita menipu diri kita sendiri dan kebenaran tidak ada di dalam kita“ (1Yoh 1:8). Maka semua orang perlu sekali untuk mempunyai sikap pertobatan yang benar yang sesuai dengan kehendak Allah untuk menghasilkan buah yang melimpah.

Allah menghendaki manusia mengalami metanoia (bahasa Yunani: perubahan hati), sebuah pertobatan yang membutuhkan perubahan hati yang total. Pengampunan dosa yang total juga membutuhkan suatu pertobatan yang total, ini dapat kita lihat dalam kitab nabi Yehezkiel: “Kalau Aku berfirman kepada orang jahat: Engkau pasti mati! -- tetapi ia bertobat dari dosanya serta melakukan keadilan dan kebenaran, orang jahat itu mengembalikan gadaian orang, ia membayar ganti rampasannya, menuruti peraturan-peraturan yang memberi hidup, sehingga tidak berbuat curang lagi, ia pasti hidup, ia tidak akan mati. Semua dosa yang diperbuatnya tidak akan diingat-ingat lagi; ia sudah melakukan keadilan dan kebenaran, maka ia pasti hidup" (Yeh 33:14-16). Perubahan hati yang sejati bukan hanya menghindari dan tidak melakukan dosa tetapi berbalik arah kepada Allah, bukan hanya memilih antara berbuat dosa dan tidak berbuat dosa tetapi mencari Allah di atas segala-galanya dengan melakukan kebajikan-kebajikan yang merupakan buah dari pertobatan yang otentik.

Satu halangan yang besar untuk bertobat adalah kekurangan kehendak yang kuat untuk berubah, bila manusia terlalu terfokus pada dosa-dosanya, ”Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah” (Rm 3:23), sehingga tidak ada seorangpun dapat berharap berada tanpa dosa sepanjang hidupnya, lalu bagaimana seseorang dapat memiliki pertobatan yang sejati atau otentik? Jawaban yang tepat adalah tentunya adalah selalu menyadari dalam terang akal budi, kelemahan-kelemahan manusiawi dan kemungkinan-kemungkinan mengalami kejatuhan dalam dosa. Kemudian harus memiliki suatu kehendak yang kuat untuk tidak berbuat dosa lagi, meskipun melalui akal budi kita tahu bahwa kita akan mengalami kejatuhan yang tidak diinginkan. Dalam doa tobat kebenaran ini dinyatakan: ”…Aku benci akan segala dosaku, dan berjanji dengan pertolongan rahmat-Mu hendak memperbaiki hidupku dan tidak akan berbuat dosa lagi…“ Inilah kehendak yang kuat untuk berubah yang menggambarkan suatu pertobatan otentik yang benar dan merupakan kunci yang membuka aliran kasih Allah yang melimpah. Sekaligus menyadari ketidakberdayaannya, ketidakmampuannya, kedosaannya di hadapan Allah dan hanya mengandalkan rahmat dan ketergantungannya kepada kebaikan Allah. Karena pertobatan adalah merupakan rahmat Allah semata-mata (bdk. Kis 5:31), suatu karya keselamatan Allah yang diberikan dengan cuma-cuma, yang perlu ditanggapi oleh manusia dengan usaha-usaha mereka, bila tidak keselamatan ini akan lenyap. Dalam Katekismus Gereja Katolik dikatakan bahwa pertobatan adalah satu penataan baru seluruh kehidupan, satu langkah balik, pertobatan kepada Allah dengan segenap hati, pelepasan dosa, berpaling dari yang jahat, yang dihubungkan dengan keengganan terhadap perbuatan jahat yang telah kita lakukan. Sekaligus ia membawa kerinduan dan keputusan untuk mengubah hidup, serta harapan atas belas kasihan Ilahi dan bantuan rahmat-Nya. Pertobatan jiwa ini diiringi dengan kesedihan yang menyelamatkan dan kepiluan yang menyembuhkan, yang bapa-bapa Gereja namakan animi cruciatus (kesedihan jiwa), compunctio cordis (penyesalan hati) (Katekismus No. 1431).

Pemahaman Yang Keliru Tentang Pertobatan

Kita juga perlu mengetahui bagaimana pertobatan yang keliru, sehingga kita dapat mengusahakan suatu pertobatan yang otentik agar kita memperoleh keselamatan,tidak binasa, serta mengalami kerahiman-Nya yang sangat mengagumkan melalui pertobatan, “Umat-Ku binasa karena tidak mengenal Allah..” (Hos 4:6). Dengan kasih setia Allah selalu menuntun umat yang telah ditebus, dengan kekuatan-Nya Dia membimbing mereka ke tempat kediaman-Nya yang kudus (bdk. Kel 15:13). Allah menghendaki supaya semua orang diselamatkan dan memperoleh kehidupan yang kekal dalam segala kelimpahannya. Namun di bagian lain dari Injil Matius Yesus berkata: ”...karena sesaklah pintu dan sempitlah jalan yang menuju kepada kehidupan, dan sedikit orang yang mendapatinya" (Mat 7:14). Yesus menghendaki manusia untuk juga mengusahakan keselamatan mereka, dan tak ada cara lain kecuali melalui pertobatan dan kemudian kita akan menerima belas kasihan-Nya. ”..Tetapi jikalau kamu tidak bertobat, kamu semua akan binasa..” (Luk 13:5). St. Paulus berkata kepada orang-orang Athena: ”...Allah memberitakan kepada manusia, bahwa di mana-mana semua mereka harus bertobat (Kis 17:30).

Berikut ini adalah beberapa contoh pertobatan yang keliru:

1.Pertobatan bukan sekadar melakukan praktik keagamaan.

Kaum Farisi dan Saduki adalah orang-orang yang mengaku tekun dalam menjalankan praktik keagamaan mereka tetapi tidak menghasilkan buah-buah pertobatan. Mereka membanggakan diri sebagai anak-anak Abraham, sehingga sudah merasa aman dan tidak perlu lagi bertobat. St. Yohanes yang membaptis dengan air sebagai tanda pertobatan menyebut mereka sebagai keturunan ular beludak (bdk. Luk 3:7-9). Yesus tidak berkenan pada doa seorang farisi yang tidak memiliki sikap hati yang bertobat, walaupun telah melakukan banyak praktik keagamaan, Tuhan membenarkan doa pemungut cukai yang dengan rendah hati mengakui kedosaannya (bdk. Luk 18:10-14). Banyak orang yang sudah merasa aman, merasa dirinya baik, cukup dengan melakukan kegiatan keagamaan, pergi ke Gereja setiap minggu, berpuasa, berderma, pergi ke pertemuan lingkungan dsb, tanpa memiliki sikap hati yang penuh pertobatan.

2. Pertobatan bukan sekadar memiliki iman Kristen.

St. Filipus membaptis Simon, tukang sihir dan Simon menjadi percaya, dan sesudah dibaptis, ia senantiasa bersama-sama dengan St. Filipus, dan takjub ketika ia melihat tanda-tanda dan mujizat-mujizat besar yang terjadi (lih. Kis 8:13). Tetapi St. Petrus menegur Simon: ”...hatimu tidak lurus di hadapan Allah. Jadi bertobatlah dari kejahatanmu ini dan berdoalah kepada Tuhan, supaya Ia mengampuni niat hatimu ini; sebab kulihat, bahwa hatimu telah seperti empedu yang pahit dan terjerat dalam kejahatan" (Kis 8:21-23). Banyak orang Kristen yang percaya Yesus, telah dibaptis tetapi hatinya seperti empedu yang pahit dan terjerat dalam kejahatan, misalnya ketidaksetiaan dalam pernikahan, melakukan aborsi, memakai alat-alat pencegah kehamilan, terlibat dalam perdukunan, dsb. Bahkan St. Yakobus dalam suratnya mengatakan: ”Engkau percaya, bahwa hanya ada satu Allah saja? Itu baik! Tetapi setan-setan pun juga percaya akan hal itu dan mereka gemetar“ (Yak 2:19).

3.Pertobatan bukan hanya karena merasa diinsafkan oleh dosa-dosa yang dilakukan seseorang, meskipun ini merupakan hal yang penting.

Yesus mengajarkan bahwa Roh Kudus sendiri akan menginsafkan kita akan dosa (bdk. Yoh 16:8). Dia yang akan meyakinkan manusia akan dosa-dosa mereka. Para ahli Taurat dan orang Farisi ketika ingin merajam seorang wanita yang kedapatan berzinah pasti merasa diinsafkan oleh suara hati mereka ketika Yesus berkata kepada mereka: "Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yangpertama melemparkan batu kepada perempuan itu" (Yoh 8:7). Tetapi setelah mereka mendengar perkataan itu, pergilah mereka seorang demi seorang, mulai dari yang tertua. Mereka disadarkan pada saat itu, tetapi mereka tidak mau benar-benar bertobat. Lagi pula sebuah pertobatan yang otentik tidak menjauhi meninggalkan Yesus, melainkan datang mendekati Yesus.

 

4.Pertobatan bukan berdasar pada alasan-alasan yang biasa-biasa saja.

Dukacita atau penyesalan yang berasal dari dunia seperti penyesalan yang biasa saja (tidak mendalam), karena malu atas dosa-dosanya tidaklah cukup. St. Paulus mengajarkan tentang dua jenis dukacita kepada jemaat di Korintus: ”namun sekarang aku bersukacita, bukan karena kamu telah berdukacita, melainkan karena dukacitamu membuat kamu bertobat. Sebab dukacitamu itu adalah menurut kehendak Allah, sehingga kamu sedikit pun tidak dirugikan oleh karena kami. Sebab dukacita menurut kehendak Allah menghasilkan pertobatan yang membawa keselamatan dan yang tidak akan disesalkan, tetapi dukacita yang dari dunia ini menghasilkan kematian. Sebab perhatikanlah betapa justru dukacita yang menurut kehendak Allah itu mengerjakan pada kamu kesungguhan yang besar, bahkan pembelaan diri, kejengkelan, ketakutan, kerinduan, kegiatan, penghukuman! Di dalam semuanya itu kamu telah membuktikan, bahwa kamu tidak bersalah di dalam perkara itu” (2Kor 7:9-11). St. Paulus mengajarkan bahwa penyesalan ada yang adikodrati (sesuai dengan kehendak Allah) dan ada yang biasa (penyesalan dari dunia, pertobatan palsu), muncul dari pengalaman penderitaan dalam hidup yang merupakan hasil dari dosa, dosa selalu menghasilkan penderitaan untuk diri pendosa, diri orang lain dan dunia ini. Misalnya: seorang pencuri yang menyesal hanya bila tertangkap, selama belum tertangkap ia terus mencuri, seorang rakus yang menyesal hanya apabila tubuhnya menderita sakit akibat makan yang terlalu berlebihan dan tidak teratur, selama keadaan tubuhnya sehat ia terus memuaskan nafsunya yang tidak teratur itu, seorang pemabuk yang hanya menyesal setelah malu dipenjarakan karena mabuk sewaktu mengendarai mobilnya, atau menyesal setelah ia sakit karena mabuk, seorang pezinah yang menyesal hanya setelah mengalami perceraian dan harus menanggung biaya hidup bekas isterinya serta anak-anaknya, selama keluarganya baik-baik saja ia terus saja berzinah. Dukacita seperti inilah yang menghasilkan pertobatan palsu, hanya mengeluarkan air mata buaya saja Sedangkan penyesalan sejati atau dukacita yang menurut kehendak Allah datang karena rahmat Allah “...Ia memberkati kamu dengan memimpin kamu masing-masing kembali dari segala kejahatanmu" (Kis 3:26). dan menyadari bahwa maksud kemurahan Allah ialah menuntun manusia kepada pertobatan (bdk. Rm 2:4).

5.Pertobatan bukan berarti bebas dari kesalahan atau tidak pernah berdosa.

Pertobatan bukanlah membanggakan diri sendiri sebagai orang benar, seperti doa orang farisi dalam perumpamaan Injil Lukas 18:11-12: “...Ya Allah, aku mengucap syukur kepada-Mu, karena aku tidak sama seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah dan bukan juga seperti pemungut cukai ini; aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku.” Dapat kita lihat perbedaannya dengan doa dan sikap dari pemungut cukai: ”...Tetapi pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul diri dan berkata: Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini” (Luk 18:13). Jika pertobatan seseorang tidak memiliki sifat kerendahan hati, itu bukanlah pertobatan yang otentik. Banyak orang tidak dapat mengetahui kesalahan-kesalahan mereka sendiri, mereka tidak menyadari bahwa mereka adalah orang yang penuh dosa. Seseorang mengatakan bahwa dosa yang paling mematikan adalah pemahaman bahwa dosa itu tidak ada.

6. Pertobatan tidak berarti hanya menyadari dosa yang telah dilakukan.

Setelah mengkhianati Yesus, Yudas Iskariot kembali ke imam-imam besar dan tua-tua dengan tiga puluh uang perak, ia menyesal dan mengakui dosanya.

Pada waktu Yudas, yang menyerahkan Dia, melihat, bahwa Yesus telah dijatuhi hukuman mati, menyesallah ia. Lalu ia mengembalikan uang yang tiga puluh perak itu kepada imam-imam kepala dan tua-tua, dan berkata: "Aku telah berdosa karena menyerahkan darah orang yang tak bersalah." Tetapi jawab mereka: "Apa urusan kami dengan itu? Itu urusanmu sendiri!" Maka ia pun melemparkan uang perak itu ke dalam Bait Suci, lalu pergi dari situ dan menggantung diri (Mat 27:3-5).

Pada kenyataannya Yudas memiliki sikap yang benar yaitu menyesal dan mengakui dosanya sebagai syarat sebuah pertobatan, suatu sikap yang sungguh membutuhkan pengampunan dari Allah, dia adalah murid Yesus, memiliki iman, setidaknya setelah melihat mujizat-mujizat yang dilakukan Yesus, dia mengembalikan uang perak, dia menyesal dengan kesedihan yang mendalam. Tetapi penyesalan karena dosa berbeda dengan bertobat. Setiap orang yang bertobat memerlukan penyesalan tetapi tidak semua penyesalan membawa kepada pertobatan yang sejati. Akhir hidup Yudas yang tragis menunjukkan bahwa ia tidak memiliki pertobatan yang otentik, Pertobatannya dirusak oleh keputusasaan, yaitu menolak untuk menerima kasih kerahiman Allah, penolakan adalah salah satu dosa yang berat. Tuhan yang Maharahim telah menawarkan belas kasihan-Nya, dengan menyebut Yudas sebagai sahabat. Namun keputusasaan Yudas menghancurkan kebajikan Pengharapan dan merusak awal yang baik dari pertobatan yang seharusnya dapat dialaminya saat itu.

7. Pertobatan tanpa tujuan yang kuat untuk berubah bukanlah pertobatan yang sejati.

Martin Luther pernah berkata :”Tidak melakukan lagi adalah pertobatan yang paling benar.” Tetapi apakah hal ini mungkin? Penulis amsal mengatakan: ”Sebab tujuh kali orang benar jatuh, namun ia bangun kembali” (Ams 24:16). Orang benar sering mengalami kejatuhan, tetapi setiap kali jatuh, ia terus bangun kembali.

Secara pasti tidak ada seseorang yang dapat berharap tidak pernah berdosa sepanjang hidupnya, tetapi dengan pasti seseorang dapat memiliki cita-cita untuk tidak tinggal dalam dosa. Kepastian ini ada dalam kehendak, tetapi tidak ada dalam akal budi. Akal budi melihat kenyataan akan kemungkinan jatuh pada masa depan, tetapi kehendak dapat secara jujur mempunyai tujuan untuk tidak jatuh lagi. Kehendak yang kuat ini dapat dilihat dalam doa tobat: ”...Aku benci akan segala dosaku, dan berjanji dengan pertolongan rahmat-MU hendak memperbaiki hidupku dan tidak akan berbuat dosa lagi…“ Maka dapat dikatakan bahwa untuk melepaskan dosa-dosa yang biasa dilakukan selalu diperlukan rahmat Tuhan, yang diberikan hanya kepada jiwa-jiwa pentobat yang sejati yang memiliki tujuan kuat untuk berubah.

Kembalilah kepada-Ku, sebab Aku telah menebus engkau!”

Allah adalah Allah yang Mahabaik, hanya satu yang dapat Dia lakukan yaitu berbuat baik, Allah Putera tidak hanya telah turun ke dunia untuk memulihkan keadaan manusia, tetapi Ia telah mengosongkan diri, merendahkan diri, menjadi manusia yang hina (bdk. Fil 2:7), supaya manusia diubah menjadi serupa dengan Dia, supaya manusia ditebus bukan dengan barang fana, bukan dengan perak atau emas, melainkan dengan darah yang mahal, yaitu darah-Nya, darah yang tak bernoda dan tak bercacat (bdk. 1Pet 1:18-19), dan supaya manusia diangkat kepada kehidupan adikodrati menjadi anak-anak Allah yang selalu berada bersama Dia, menikmati kehidupan kekal, mengalami kasih dan kemurahan-Nya, tidak hanya di Surga kelak tetapi mulai kita hidup di dunia ini dan saat ini. Inilah jawaban dari panggilan hidup setiap manusia, melalui jalan pertobatan, kembali kepada Dia Sang Pencipta.

www.carmelia.net © 2008
Supported by Mediahostnet web hosting