User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active
 

Dari latar belakang sejarah, yang dimulai dengan keprihatinan sekaligus kerinduan untuk suatu pembaharuan rohani, maka Pembaharuan Kharismatik harus dipandang pertama-tama sebagai suatu pembaharuan rohani di dalam tubuh Gereja. Pembaharuan ini harus dipandang sebagai suatu “aliran rahmat baru” yang diberikan Tuhan kepada Gereja-Nya untuk menanggapi kebutuhan zaman. Kita ketahui pada zaman ini telah sangat berkembang nilai-nilai duniawi yang sangat mencengkeram kehidupan manusia, tetapi di lain pihak ada suatu kehausan akan kasih Allah di hati banyak orang. Seperti dikatakan Rasul Paulus, “...di mana dosa bertambah banyak, di sana kasih karunia menjadi berlimpah-limpah" (Rm 5:20). Pada zaman ini dosa dan kejahatan memang meraja-lela, namun justru melalui pembaharuan ini Allah telah menunjukkan kasih karunia-Nya secara berlimpah-limpah.

Dipandang dari segi teologis, Spiritualitas Karmel dan Spiritualitas Pembaharuan Hidup dalam Roh banyak sekali persamaannya. Pembaharuan hidup dalam Roh mengingatkan kita pada nilai-nilai yang dalam Tradisi Karmel selalu dijunjung tinggi dan mengingatkan kita akan unsur-unsur pokok, yakni kesadaran baru akan kehadiran Allah dan persatuan dengan Allah. Pembaharuan hidup dalam Roh juga menyadarkan kita kembali akan pentingnya peranan Roh Kudus dalam seluruh hidup dan karya kita, juga akan nilai-nilai dasar injili yang mudah dilupakan dalam segala kesibukan kita, yaitu primat hubungan pribadi kita dengan Allah, sampai pada persatuan mistik, yang justru menjadi kerinduan Karmel selama perjalanan sejarahnya. Di dalamnya kita juga diingatkan akan primat doa dan kontemplasi. Sebaliknya, Karmel karena warisan rohaninya mempunyai banyak hal yang dapat disumbangkan untuk membantu perkembangan Pembaharuan tersebut secara sehat.

 

1. Pengenalan akan Allah

Pengenalan akan Allah inilah yang sesungguhnya menjadi hakikat hidup kristiani dan inti kehidupan kekal: “Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus” (Yoh 17:3). Kata “mengenal” dalam Kitab Suci mempunyai arti yang mendalam. Dalam Perjanjian Lama kata “mengenal” ini dipakai untuk menerangkan hubungan intim antara suami-isteri, sedangkan dalam Perjanjian Baru, kata yang sama dipakai dan diangkat untuk menunjukkan hubungan yang mesra dan mendalam antara manusia dengan Allah. Dari sini dapat dilihat kata “mengenal Allah” memiliki arti yang sangat dalam, yaitu memiliki hubungan pribadi dengan Allah secara mesra dan mendalam dalam iman dan cintakasih.

Kehadiran Roh Kudus dalam hidup kita menyebabkan kita mengenal Allah Bapa dan Putera, yaitu Yesus Kristus secara pribadi. Oleh kehadiran Roh Kudus, Bapa dan Yesus menjadi Pribadi yang sungguh-sungguh hidup, yang mengasihi, melindungi dan memelihara kita serta sebagai penyelamat kita, sehingga dengan demikian kita memasuki hubungan pribadi dengan Allah Bapa dalam Yesus Kristus. Inilah unsur pokok dalam pembaharuan hidup dalam Roh, yaitu pengenalan akan Allah yang nyata dan benar-benar dapat dialami. Kesadaran inilah yang menjadikan manusia karismatik berusaha untuk selalu hidup dalam hadirat-Nya, mengalami kehadiran-Nya yang nyata dalam tiap aspek kehidupan.

Pengenalan akan Allah yang pribadi dan mendalam ini merupakan cita-cita Karmel sejak semula, yaitu pengenalan secara pribadi hingga persatuan cinta kasih yang sempurna. Dan ini telah diungkapkan oleh para kudus Karmel seperti Teresa Avila, Yohanes Salib, Theresia Lisieux, Elisabet dari Trinitas dan lain sebagainya.

Theresa Avila mengungkapkan pengenalan akan Allah yang mendalam hingga mencapai persatuan transforman dengan gambaran yang sangat hidup. Seluruh karyanya merupakan pujian atas segala kebesaran Tuhan yang menganugerahkan rahmat sedemikian besar kepada manusia yang lemah. Di dalam buku Puri Batin Ruang V dia menggambarkan sentuhan Allah yang mendalam menjadikan manusia berubah menjadi manusia baru seperti seekor ulat sutra menjadi kupu-kupu indah.

Mengenai pengenalan akan Allah ini, Yohanes dari Salib dalam Mendaki Gunung Karmel mengatakan bahwa bila jiwa dibawa kepada suatu pengenalan Allah yang begitu mendalam dan mesra, menghasilkan suatu sukacita dan kebahagiaan yang begitu mendalam, yang tidak terperikan sehingga tidak ada kata-kata yang dapat melukiskannya, karena sungguh merupakan sesuatu yang tak terungkapkan, yang tak terkatakan. Dalam keadaan inilah Allah sering mengkomunikasikan diri-Nya secara mendalam, sehingga orang boleh mengalami sifat Allah secar luhur sekali. Setiap kali diberikan, pengenalan ini tetap tinggal dalam jiwa. Ini merupakan suatu “kontemplasi murni” dan pada waktu itu jiwa mengerti dengan jelas bahwa hal itu sunguh tidak terperikan. Hal itu hanya bisa diungkapkan secara umum karena kelimpahan dan kenikmatan yang terlalu besar dari pengalaman ini (Mendaki Gunung Karmel II, 26, 5).

2. Menjadikan Yesus sebagai Tuhan dan Penyelamat

Pembaharuan hidup dalam Roh membawakan kepada kita kehadiran baru Roh Kudus, yang memungkinkan kita mengalami bahwa Yesus sungguh-sungguh hidup, bahwa Dia adalah Tuhan yang berkuasa atas segala sesuatu dan mengatur segala sesuatu. Roh Kudus menyadarkan kita pula bahwa Yesus harus menjadi pusat hidup kita dan menguasai seluruh hidup kita oleh kuasa dan kehadiran Roh Kudus. Pencurahan Roh Kudus sangat menolong hati kita untuk menerima Yesus sebagai Raja yang berkuasa atas seluruh kehidupan kita.

Membiarkan diri dikuasai oleh Yesus tidak lain merupakan persatuan antara jiwa manusia dengan Yesus, Kekasihnya. Persatuan jiwa dengan Allah ini senantiasa menjadi cita-cita luhur yang disajikan oleh Spiritualitas Karmel kepada seluruh insan manusia. Tentu saja persatuan cintakasih dengan Allah hanya bisa dicapai jika kita menjadikan Yesus sebagai Tuhan dan penyelamat kita.

Menjadikan Yesus sebagai Tuhan dan Penyelamat bukanlah sekedar kalimat indah atau khayalan saja, tetapi sesuatu yang harus kita latih dalam kehidupan sehari-hari. Bagaimanakah cara melatihnya?

Jika kita sungguh mengakui Yesus sebagai Tuhan dan Penyelamat, kita dapat mengungkapkannya dengan rajin menjalin dialog dengan-Nya. Bukankah Dia Tuhan dan Penyelamat kita? Ke manakah kita berlari, kepada siapakah kita mengadu, berharap, bergantung, jika bukan kepada Dia yang Tuhan dan Penyelamat kita? Relasi yang semakin hari semakin akrab dengan Yesus akan menumbuhkan iman, harapan, dan kasih di dalam hati kita. Hari-hari yang dahulu terasa berat dan mencemaskan, bersama Yesus kini dapat kita jalani dalam kepasrahan dan ketabahan yang sempurna. Dengan demikian, kita pun dapat berseru sebagaimana yang pernah diserukan oleh Santo Yohanes dari Salib, “Walau segalanya berubah, ya Tuhan, bagiku tak mengapa selama menemukan damai dan istirahat di dalam Engkau.”

3. Hidup dalam Roh

Kesadaran akan kehadiran baru Roh Kudus menyadarkan kita, bahwa seluruh hidup kita harus berada dalam tanda kehadiran-Nya. Dialah yang harus menggerakkan seluruh hidup kita, menguasai serta menyadarkan kita akan ketergantungan kita yang total terhadap-Nya. Kita harus menyadari, bahwa “Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya” (Flp 2:13). Kita menyadari peranan-Nya yang amat penting, bahkan yang bersifat pokok dan menentukan, dalam seluruh hidup kita. Hidup dalam Roh pada hakekatnya bukan lain daripada hidup yang dikuasai dan digerakkan seluruhnya oleh Roh Allah sendiri, tanpa menghilangkan kebebasan manusiawi kita. “Anak-anak Allah ialah mereka yang digerakkan Roh Allah” (Rm 8:14).

Melalui Pencurahan Roh Kudus seseorang mengalami kuasa kehadiran Roh Kudus secara nyata. Hatinya begitu terbuka untuk dibimbing dan dikuasai Roh Kudus. Karmel sangat menyadari akan peranan Roh Kudus dalam hidup rohani seseorang. Hal itu terutama dapat kita lihat dalam karya-karya Santo Yohanes Salib. Penekanan akan pentingnya karya Roh Kudus serta perlunya kita menyerahkan diri kepada karya itu, kita jumpai hampir dalam semua karyanya secara khusus dalam Nyala Cinta dan Madah Rohani.

Bagaimanakah caranya membuka hati untuk dibimbing dan dikuasai oleh Roh Kudus? Dalam hal ini, lewat teladan para sucinya Karmel mengajarkan kesetiaan dalam menelusuri lorong-lorong doa dan hidup di hadirat Allah. Berdoa dalam diam di hadapan Allah merupakan sikap membiarkan diri dikuasai oleh Allah dan Roh-Nya. Pada saat itulah Roh Kudus dengan leluasa memasuki setiap sudut hati, menguasai jiwa, membakar setiap kelemahan dan cacat cela, sehingga semakin hari kita dibuat semakin serupa dengan Kristus. Cinta di hati kita dibuat-Nya semakin berkobar, kerinduan akan Dia semakin membara, hingga akhirnya kita tidak tahu apa-apa lagi selain cinta.

Santo Yohanes dari Salib seorang Pujangga Gereja mengatakan, “Tak seorang pun layak untuk menerima cintakasih, jika bukan karena Allah sendiri yang mencurahkan kebajikan cintakasih itu ke dalam dirinya. Oleh karena itu, mencintai adalah hal yang sangat diinginkan oleh Tuhan dan mendatangkan kemerdekaan yang besar.” Jadi, cintakasih itu dicurahkan oleh Allah ke dalam jiwa yang setia menjalin relasi mesra dengan-Nya. Setia duduk diam di hadirat-Nya dan bersatu dengan Dia dalam doa. Itulah saat yang terindah, saat Roh Kudus, Roh Cintakasih dituang ke dalam diri manusia, sehingga jiwa pun menjadi lautan api yang menyala-nyala karena cinta.

“Dan pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita” (Rm 5:5).

4. Hidup dalam Bimbingan Roh Kudus

Pencurahan Roh Kudus membuat hati semakin peka akan bimbingan-Nya. Bahkan lebih dari itu, hati dibuat-Nya dipenuhi dengan kerinduan untuk dihidupkan dan digerakkan oleh Roh Kudus saja. Dalam dirinya dirasakan kehadiran Allah yang sungguh kuat, karena sesungguhnya tiada satu molekul pun dalam diri kita yang tidak mengandung Dia.

Salah satu aspek Hidup dalam Roh ialah menyadari, bahwa seluruh hidup kita digerakkan oleh-Nya, berarti bahwa kita harus membiarkan diri dibimbing oleh-Nya. Bimbingan Roh ini bukan hanya pada saat-saat tertentu saja, melainkan pada keseluruhan hidup, dalam segala aktivitas kita. Kita harus sungguh-sungguh terbuka dan peka terhadap bimbingan-Nya serta sungguh-sungguh mengharapkannya. Bila kita menyerahkan hidup kita kepada-Nya, Dia akan membimbing kita dalam segala hal, serta membawa kita kepada hal-hal yang tidak terpikirkan sebelumnya. Dengan demikian kita akan menjadi manusia yang kreatif sesuai dengan sifat Roh sendiri: Kamu tidak tahu dari mana datangnya dan ke mana perginya, demikianlah setiap orang yang dibimbing oleh Roh Allah seringkali tidak terduga, dan juga tidak dapat diselami manusia jasmani.

Nabi Elia, bapa dan pemimpin para Karmelit, setelah mengenal Allah secara pribadi telah menjadi insan Allah yang diresapi sungguh-sungguh oleh kehadiran Allah. Hampir seluruh hidupnya dilewatkan dalam keheningan dan kesunyian di hadapan Allah. Ia senantiasa hidup di hadirat Allah. Oleh karena itu, walaupun hidup dalam kesunyian ia tidak terpisah dari umat Allah, melainkan solider dengan mereka dan bahkan menjadi alat Tuhan untuk mengembalikan mereka ke jalan yang benar. Ungkapan yang menyatakan siapa dia senantiasa menggema dalam hati para karmelit sehingga menjadi mottonya: “Vivit Dominus in cuius conspectu sto” – Allah hidup dan aku berdiri di hadirat-Nya. Dari persatuannya yang amat mendalam dengan Allah itu mengalirlah semangat besar untuk kemuliaan Allah: “Zelo zelatus sum pro Domino Deo exercituum” –Aku bekerja segiat-siatnya bagi Allah semesta alam. Namun Elia tidak dapat mengatakan dengan sungguh-sungguh: zelo zelatus sum apabila ia tidak lebih dahulu menjadi insan Allah, insan yang hidup dalam persatuan sempurna dengan Allah.

Kehadiran Roh Kudus dalam diri manusia senantiasa membimbing untuk sampai kepada Allah. Santo Yohanes dari Salib mengatakan bahwa manusia sungguh memiliki hidup yang sejati jika ia dibimbing oleh Roh Kudus. Bahkan lebih tegas lagi hal ini diucapkan pula oleh Santo Paulus,

“Semua orang, yang dipimpin Roh Allah, adalah anak Allah” (Rm 8:14).

5. Keterbukaan terhadap karisma-karisma Roh Kudus

Pembaharuan dalam Roh membawakan kepada kita keterbukaan terhadap karunia-karunia Roh Kudus yang disebut karisma-karisma. Kita disadarkan, bahwa untuk karya pelayanan kita, Allah memberikan kepada kita karisma-karisma tersebut, supaya kita mampu melaksanakan karya Allah serta dapat memberikan kesaksian tentang Yesus Kristus secara efektif. Karisma-karisma itu diberikan kepada kita demi kepentingan seluruh umat, diberikan secara cuma-cuma. Karisma-karisma itu sangat penting dan perlu bagi pelayanan kita dalam dunia dewasa ini. Oleh karena itu, kita harus mengusahakannya untuk kepentingan pelayanan kita, namun harus selalu tetap sadar, bahwa yang utama tetaplah iman, harapan, dan kasih.

Sesungguhnya karisma-karisma ini ada di dalam sepanjang sejarah Gereja Katolik, karena yang menjiwai Gereja Katolik sejak awal berdirinya hingga sekarang tidak lain adalah Roh Kudus. Karisma-karisma dapat kita jumpai pula dalam diri para kudus Gereja.

Sekitar abad ke-16 ada seorang biarawati yang tampaknya begitu pandai dalam Kitab Suci. Juga apabila berdoa, ia sering mengalami hal yang luar biasa, misalnya saja tubuhnya terangkat dari tanah dan berputar-putar di udara. Akan tetapi, keberadaan suster ini menimbulkan keraguan yang besar di hati pemimpinnya, sehingga suatu hari sang pimpinan biara ini pun memanggil Santo Yohanes dari Salib. Setelah berjumpa dengan suster yang “luar biasa”, Santo Yohanes dari Salib pun segera mengenali bahwa suster ini dikuasai oleh roh jahat. Peristiwa ini menunjukkan kepada kita bahwa saat itu Santo Yohanes dari Salib memiliki karisma membeda-bedakan roh.

Santo Yohanes Maria Vianney adalah seorang imam yang sangat suci, bertugas di desa yang sederhana bernama Desa Ars di Perancis. Kesalehannya telah begitu terkenal semasa hidupnya sehingga setiap hari banyak orang yang mengantri untuk pengakuan dosa dengannya. Pada suatu hari ia sengaja keluar sebentar dari kamar pengakuannya dan langsung mendatangi seorang ibu yang sedang menangis. Ia menghibur ibu itu seraya berkata, “Jangan takut, suamimu telah diselamatkan Tuhan.” Rupanya ibu itu begitu sedih dan takut, karena suaminya baru saja meninggal bunuh diri. Ia tahu bahwa bunuh diri itu dosa besar sehingga ia takut suaminya tak terselamatkan jiwanya. Dalam hal ini kita melihat bahwa dalam diri Santo Vianey ada karisma sabda pengetahuan.

Suatu hari Santa Theresia Lisieux memandang kebun dari balik jendela kamarnya. Tiba-tiba ia melihat sosok ayahnya tampak begitu tua dan sakit. Theresia sempat kaget dan bingung karena ia tahu saat itu ayahnya masih cukup kuat dan segar. Akhirnya beberapa tahun kemudian, Theresia melihat ayahnya sakit dan lemah sebagaimana yang pernah dilihatnya dalam sebuah visiunnya dahulu. Akan tetapi, walaupun sangat sedih Theresia bisa menghadapi semua itu dengan tabah tegar. Rupanya Tuhan telah mempersiapkan hatinya dan juga menguatkan hati kakak-kakaknya untuk menerima peristiwa pahit itu lewat karisma nubuat yang diterimanya.

Sepanjang sejarah Gereja kita jumpai begitu banyak karisma yang berkembang, lebih-lebih dalam zaman Gereja Awali. Satu hal yang perlu disadari adalah bahwa kharisma itu bukan monopoli milik para kudus saja melainkan menjadi kekayaan seluruh umat Allah yang mau terbuka terhadap bimbingan Roh Kudus dan segala karunia-Nya, dan memiliki kerinduan yang besar untuk mengabdi dan melayani Dia dalam Gereja.

www.carmelia.net © 2008
Supported by Mediahostnet web hosting