User Rating: 4 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Inactive
 

Seorang rubiah muda duduk terpekur di dalam pondoknya. Matanya menatap nanar pada sinar lilin yang berpijar, sementara angin bertiup sangat kencang di luar. Listrik mati karena buruknya cuaca, dan matahari sudah lama tenggelam di balik cakrawala. “Ehm… dingin sekali malam ini,” gumamnya sambil memandang lilin yang menyala tenang. Krakkk….! Tiba-tiba suara nyaring sekali terdengar dari luar pondok. “Astaga, apa itu?” Segera sang rubiah pun melihat ke luar jendela, dan tampaklah pohon di dekat pondoknya tumbang tertiup angin yang menderu dahsyat. Desingan angin semakin hebat, dedaunan dan rerumputan bergoyang semakin cepat, ranting-ranting berguguran di berbagai tempat, dan tiba-tiba turunlah hujan lebat!

Sayup-sayup sang rubiah mendengar jeritan suara panik dan ketakutan di mana-mana. Gempa bumi yang dahsyat, Bait Suci terbelah dua! Ingatan sang rubiah melompat ke peristiwa sekitar duaribu tahun yang lalu, saat Yesus menghembuskan nafas-Nya yang terakhir di dunia ini. Alam menangis, menjerit, dan memberontak melihat Raja Semesta Alam dibunuh keji di atas kayu salib. Anak Manusia wafat di tangan anak manusia.

Sang Rubiah pun menarik nafas dalam-dalam. “Ah, tetapi Yesus tidak selamanya mati. Ia bangkit pada hari ketiga. Paskah, ya, sebentar lagi Paskah kan tiba,” bisik sang rubiah dalam hatinya sambil melirik kalender sederhana yang bergantung di dinding pondoknya.

Dalam Paskah kita merayakan kebangkitan Yesus Kristus. Mengapa Yesus bangkit? Mengapa Ia tidak tetap mati saja sehingga semua orang terus menangisi-Nya dan merasakan kehilangan akan Dia? Tidak, ternyata Yesus tidak seegois itu yang hanya mementingkan kepentingan Diri sendiri saja. Yesus bangkit untuk kita semua.

“Lazarus, anak seorang janda dari Nain, anak perempuan kepala rumah ibadat...,” sang rubiah menghitung-hitung orang yang pernah mati, namun hidup kembali. “Akan tetapi, mereka semua berbeda,” sambil tersenyum bangga sang rubiah memandang gambar Wajah Yesus yang selalu ada di sisi ranjangnya. Apa perbedaannya?

1. Mereka tidak bangkit sendiri

Lazarus pernah mati. Anak janda dari Nain juga pernah mati. Demikian pula anak perempuan kepala rumah ibadat pun pernah mati. Mereka semua pernah mati tetapi hidup kembali. Apakah perbedaannya dengan Yesus?

Mereka bisa hidup kembali karena dibangkitkan oleh Yesus. Akan tetapi, Yesus tidak dibangkitkan oleh siapa-siapa. Ia bangkit! Inilah perbedaannya. Yesus bukan hanya manusia melainkan Ia juga adalah Allah. Oleh karena itu, Yesus bangkit dengan kuasa-Nya. Ia memang wafat, tetapi bukan karena kelemahan-Nya, melainkan karena Ia memilih untuk mati. Dan setelah itu, Yesus mampu untuk bangkit kembali. Dengan kata lain, dengan kuasa-Nya Ia memilih untuk mati, dan dengan kuasa-Nya Ia bangkit kembali. Sedangkan Lazarus, anak janda di Nain, dan anak perempuan kepala rumah ibadat mati karena kelemahan mereka sebagai manusia, dan hidup kembali karena dibangkitkan oleh Yesus.

Memang dalam Kitab Suci dikatakan, “Yesus inilah yang dibangkitkan Allah, dan tentang hal itu kami semua adalah saksi" (Kis 2:32). Walau tertulis Yesus dibangkitkan oleh Allah, namun kita mengerti bahwa Yesus adalah Allah. Yesus dan Bapa adalah satu.

2. Mereka hidup kembali ke dunia yang lama

Setelah Lazarus, anak janda Nain, dan anak kepala rumah ibadat dibangkitkan, mereka hidup kembali dalam dunia mereka yang lama. Lazarus kembali tinggal bersama Marta dan Maria dan melanjutkan hidup seperti sebelumnya. Demikian pula anak janda dari Nain dan anak kepala rumah ibadat. Akan tetapi, Yesus bangkit dan hidup dalam kemuliaan Allah Bapa.

3. Buahnya berbeda

Buah kebangkitan Yesus adalah kebangkitan bagi semua orang. Dalam Injil Matius diceritakan kuburan-kuburan terbuka dan banyak orang kudus yang telah meninggal bangkit (Mat 17:52-53). Tentu saja buah seperti ini tak dijumpai saat Lazarus, anak janda Nain, dan anak perempuan kepala rumah ibadat itu bangkit kembali.

Yesus wafat dan kemudian bangkit untuk masuk ke dalam kemuliaan-Nya (Luk 24:26). Hal ini mengajarkan kepada kita bahwa untuk dapat masuk ke dalam kemuliaan surgawi kita juga perlu melalui penderitaan dan sengsara (Kis 14:22). Dengan demikian, kebangkitan Yesus ini juga memberikan kepada kita kekuatan untuk tabah dan bertekun dalam iman ketika melalui setiap pencobaan dan derita dalam kehidupan ini.

4. Perbedaan waktu

Yesus bangkit pada hari yang ketiga, sementara manusia lainnya bangkit pada hari kedatangan Yesus kedua kali. Kecuali, tentu saja Bunda Maria yang mendapatkan rahmat khusus, dan menurut tradisi suci, juga Santo Yohanes Pembaptis.

Yesus lahir, wafat, dan bangkit, semata-mata demi keselamatan kita. Jika Yesus tidak lahir, kita tidak akan pernah mengenal Yesus. Yesus bangkit segera, hanya tiga hari saja setelah wafat-Nya, agar kita umat kristiani percaya bahwa Ia sungguh-sungguh wafat. Apabila Yesus menunda kebangkitan-Nya untuk jangka waktu yang lama, kemungkinan para murid akan sulit untuk bertahan tetap percaya. Apakah untungnya kalau begitu Yesus wafat?

"Apakah untungnya kalau darahku tertumpah, kalau aku turun ke dalam lobang kubur?” (Mzm 30:10)

Demikianlah Yesus bangkit pada hari ketiga untuk menolong para murid percaya dan tidak kehilangan imannya. Dengan demikian, kita semua yang hidup ribuan tahun sesudah para murid masih dapat memperoleh warisan iman mereka.

Malam semakin larut, angin pun mulai menyurut. Namun, mata sang rubiah muda masih menatap api lilin yang tak pernah mengerut. Sedikit demi sedikit tubuh lilin itu terbakar habis, demi menerangi pondok si rubiah muda yang berdinding tipis. Perlahan namun pasti rubiah itu merasakan dalam hatinya cinta yang manis, cinta yang tak pernah habis, cinta yang mengurbankan hidup-Nya sehingga kegelapan hidup sang rubiah pun terkikis.

Apakah yang hendak diajarkan Yesus kepada insan manusia lewat kebangkitan-Nya?

1. Setia untuk selalu bangkit kembali

Dosa seringkali membuat kita mengalami kelumpuhan rohani, bahkan menghantar kita kepada kematian jiwa. Akan tetapi, lewat kebangkitan-Nya Yesus mengajak kita untuk bangkit dari setiap kejatuhan, bangun dari setiap kelumpuhan, dan hidup kembali dari setiap kematian.

"Bangunlah, hai kamu yang tidur dan bangkitlah dari antara orang mati dan Kristus akan bercahaya atas kamu" (Ef 5:14).

2. Janganlah menunda

Banyak orang enggan untuk berjuang dalam kebaikan karena berpikir masih punya cukup banyak waktu untuk memperbaiki. Akan tetapi, hari kematian itu datang kapan saja, siapakah yang tahu? Jangan menunda setelah hampir meninggal baru memperbaiki semuanya karena umur kita di tangan Tuhan, tak seorang pun yang mengerti kapan ia meninggal. Bertobatlah dan bangkitlah sesegera mungkin sebagaimana Yesus yang segera bangkit pada hari ketiga.

Semakin lama kita bertahan di dalam dosa, semakin kita kehilangan segala rahmat yang Tuhan berikan kepada anggota Gereja-Nya. Lagipula, semakin dosa menguasai hidup kita, semakin enggan setan melepaskan kita dari genggamannya. Oleh karena itu, dengan kebangkitan-Nya yang segera, Yesus mengajarkan kita untuk juga segera bangkit dari setiap kematian kita yang kita alami karena dosa.

3. Bangkit dalam keabadian

Sebagaimana Yesus yang bangkit untuk masuk dalam kemuliaan Allah Bapa, demikian pula kita bangkit bukan untuk kembali ke dalam kehidupan yang lama melainkan untuk kehidupan yang abadi. Kita bangkit bukan untuk mati kembali. Artinya, kita bangkit dengan suatu tekad yang bulat untuk memerangi setiap dosa kita, dan dengan pertolongan rahmat Tuhan berjuang dalam kesucian.

Karena kita tahu, bahwa Kristus, sesudah Ia bangkit dari antara orang mati, tidak mati lagi: maut tidak berkuasa lagi atas Dia. Sebab kematian-Nya adalah kematian terhadap dosa, satu kali dan untuk selama-lamanya, dan kehidupan-Nya adalah kehidupan bagi Allah. Demikianlah hendaknya kamu memandangnya: bahwa kamu telah mati bagi dosa, tetapi kamu hidup bagi Allah dalam Kristus Yesus. Sebab itu hendaklah dosa jangan berkuasa lagi di dalam tubuhmu yang fana, supaya kamu jangan lagi menuruti keinginannya” (Rom 6:9-12).

4. Kebangkitan menghantar kepada kehidupan yang baru

Kristus bangkit untuk memberikan suatu kehidupan yang baru kepada kita. Oleh karenanya, setiap kebangkitan kita dari kejatuhan perlu diiringi dengan sebuah semangat untuk menghindari dosa dan cacat cela yang sebelumnya telah melumpuhkan kita. Kehidupan yang baru itu adalah suatu jalan yang lurus, yang lahir dari jiwa yang telah diperbaharui oleh kebangkitan Kristus. Jalan lurus itulah yang akan menjembatani kita sebagai anak-anak Allah dengan kerajaan surgawi, tempat kita akan hidup dalam kemuliaan Bapa.

"Dengan demikian kita telah dikuburkan bersama-sama dengan Dia oleh baptisan dalam kematian, supaya, sama seperti Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati oleh kemuliaan Bapa, demikian juga kita akan hidup dalam hidup yang baru" (Rm.6:4).

Angin sudah lama mereda dan malam sudah mulai tenang. Sekilas sang rubiah memandang keluar jendela pondoknya, halaman sekitar pondoknya tampak kacau berantakan. Daun-daun yang gugur bertebaran, ranting-ranting pohon berserakan, dan pohon tumbang melintang dari kiri ke kanan. Akan tetapi, badai telah selesai, hujan pun telah usai. Kesejukan meliputi suasana malam, dan nampak bulan sabit bertengger lembut di balik awan-awan tipis. Serangga malam terdengar mulai bernyanyi mengidungkan senandung malam dan sang rubiah pun meniup lilinnya.

Dengan tenang ia merebahkan dirinya, melihat hatinya yang masih porak poranda karena segala dosa dan cacat cela. Akan tetapi, badai telah berlalu, karena Yesus telah datang membawa cahaya Paskah yang menghempas segala taufan dan kegelapan anak manusia. Hatinya kita dipenuhi dengan nyanyian baru, nyanyian kasih akan Allah yang menyemangatinya untuk melangkah dalam hidup yang baru. "Terima kasih, Yesus," desahnya lembut. Matanya terpejam, dan akhirnya tertidur pulas dengan wajah bermandikan cahaya rembulan yang menerobos masuk lewat jendela pondoknya. Cahaya bulan yang mengobarkan cahaya di hatinya, untuk terus menyala seperti sebuah lilin kecil, dengan api cinta yang tak kunjung padam bagi Tuhan dan sesama, hingga akhirnya para malaikat datang menjemput untuk masuk dalam kemuliaan abadi surgawi.

www.carmelia.net © 2008
Supported by Mediahostnet web hosting