User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active
 

“Ucaplah syukur senantiasa atas segala sesuatu dalam nama Tuhan kita Yesus Kristus kepada Allah dan Bapa kita” (Ef 5:20)

“Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu” (1Tes 5:18)

Mari kita memulai artikel ini dengan sebuah test kecil: pandanglah diri Anda dan amatilah apa saja yang ada pada diri Anda, lalu bertanyalah apakah Anda sudah bersyukur atas apa yang ada pada diri Anda itu. Misalnya: “Sudahkah saya bersyukur atas baju yang saya pakai ini?”; “Atas jam tangan?”; “Atas sapu tangan dalam saku saya?”; .... Mungkin kita akan terkejut melihat hasil test kita: sederetan kata “Belum”. Jadi, betapa banyaknya yang sudah kita terima yang belum kita syukuri! Beberapa pertanyaan di atas pun baru menyinggung soal materi. Kita bisa bertanya lagi, “Sudahkah saya bersyukur atas jari tangan saya yang lengkap?” “Atas kedua mata saya?” “Atas bakat-bakat yang Tuhan berikan?”

Seorang anak kecil suatu hari diberi kue donat oleh ayahnya. Setelah menerima kue itu ia menangis keras-keras. Apa yang terjadi? Ternyata ia menangis karena kuenya berlubang. Tak jarang kita jatuh dalam sikap konyol si anak kecil ini yang hanya melihat “lubang” pada kuenya dan tidak melihat serta berterima kasih atas hadiah kue itu: mata kita hanya tertuju pada “lubang”, pada “apa yang kurang/tidak ada” sehingga hidup kita pun menjadi kelabu, penuh dengan keluhan dan kemurungan. Sering juga terjadi, kita tidak mensyukuri sesuatu yang ada pada kita, namun ketika sesuatu itu diambil dari kita barulah kita sadar betapa berharganya pemberian Tuhan tersebut. Contoh kecil: ketika sehat kita tidak pernah mensyukuri kesehatan kita, namun ketika jatuh sakit kita mengeluh dan ingin sehat.

Artikel ini mau menggarisbawahi ajakan St. Paulus: “Bersyukurlah senantiasa!” (bdk. Ef 5:20; 1Tes 5:18; Kol 4:2;). Ucapan syukur yang tulus akan men-“ceriah”-kan jiwa kita, mengusir mendung kesedihan/kemurungan/dll, dan membuat kita lebih siap menerima berkat Allah. Si anak kecil tadi, karena air mata dan suara tangisannya, tidak bisa mendengar kata-kata lembut ayahnya dan tidak bisa melihat kedua tangan ayahnya yang terulur kepadanya, penuh dengan gula-gula dan kue kesukaannya.

Tuhan menghendaki kita bersyukur, pertama-tama bukan agar pemberian-Nya dihargai, tetapi karena sikap tidak bersyukur akan menghalangi kita untuk menerima pemberian-Nya secara penuh serta mengalami sukacita-Nya. Seperti sebuah ember yang terisi penuh dengan batu-batu tidak bisa menerima air yang dicurahkan ke atasnya, demikianlah hati yang tidak tahu bersyukur. Batu-batu itu antara lain adalah dosa-dosa dan segala keluhan kita … entah itu mengenai suatu kepahitan, kekecewaan, kemarahan, dendam, sakit hati, dosa-dosa orang lain yang kita simpan/ingat terus, dll. Mudah dimengerti bahwa hati yang demikian sukar mengalami sukacita. Sebaliknya, rasa syukur yang tulus akan melahirkan sukacita dalam hati.

Awas! Keluhan itu “Melumpuhkan”!

Mari kita lakukan suatu “eksperimen” kecil. Eksperimen ini sebetulnya ditampilkan oleh seorang dosen yang sekaligus seorang pembimbing rohani dan seorang psikolog dalam salah satu kuliahnya. Untuk eskperimen ini Anda membutuhkan seorang rekan. Pertama, rentangkan tangan kanan Anda ke samping sehingga sejajar dengan bahu Anda. Lalu, pejamkan mata Anda dan bayangkan kembali suatu peristiwa yang membuat Anda merasa bahagia dan bersyukur. Jika Anda sudah bisa membayangkan kembali peristiwa itu, Anda bisa mengangguk untuk memberi kode kepada rekan Anda. Maka, ia harus berusaha menekan tangan kanan Anda ke bawah, sedang Anda harus berusaha sekuat tenaga mempertahankan posisi tangan Anda agar tidak turun. Selang beberapa saat ulangilah kembali semua langkah di atas, namun kali ini bayangkanlah peristiwa yang membuat Anda mengeluh atau tidak bahagia. Perbedaan apa yang Anda rasakan pada eksperimen yang pertama dan yang kedua? Tentunya pada eksperimen pertama Anda merasa lebih kuat dan lebih dapat mempertahankan posisi tangan Anda, daripada pada eksperimen kedua. Rekan Anda juga merasakan perbedaan ini. Baginya lebih mudah untuk menggoyahkan/menurunkan posisi tangan kanan Anda pada eksperimen kedua daripada pada eksperimen pertama.

Eksperimen ini mau menunjukkan bahwa keadaan batin kita akan mempengaruhi keadaan fisik kita. Jika kita mengarahkan perhatian kita ke hal-hal negatif, batin kita akan “murung/kelabu”, dan fisik kita pun akan lemas. Sayang, banyak orang tidak menyadari hal ini, sehingga sepanjang hari bukannya memanjatkan litani syukur dan pujian kepada Allah melainkan “litani keluhan”. Apakah dengan “litani keluhan” keadaan/masalah kita akan menjadi lebih baik? Sedikit pun tidak. Jadi, bukankah lebih baik kita panjatkan litani syukur dan pujian serta doa-doa kita kepada Tuhan yang berguna untuk mengatasi masalah kita?

Pentingnya “Cara Memandang”

Dua orang narapidana ditempatkan dalam sel yang sama dan mendapat perlakuan yang sama. Narapidana pertama setiap hari duduk di atas ranjangnya dengan wajah murung dan kepala tertunduk menatap lantai, sedang wajah narapidana kedua selalu berseri-seri. Kenapa? Karena narapidana kedua ini melalui jendela selnya memandang taman dan bersyukur atas sinar matahari, bunga, burung, kupu-kupu, serta keindahan taman itu.

Sebuah anekdot lain: ada dua orang anak kembar. Pada hari ulang tahun mereka, ditaruhlah sebuah kotak hadiah di depan kamar mereka masing-masing. Ketika si bungsu membuka kotak hadiahnya dan menemukan sebuah tempat pensil di dalamnya, ia berkata, “Ah, sayang hanya ada tempatnya, tidak ada pensil dan penanya.” Si sulung membuka kotak hadiahnya, ternyata ia menemukan kotoran kuda di dalamnya, dan ia pun bersorak, “Horee, kalau ada kotorannya pasti ada kudanya!”

Jadi, apakah hati kita dipenuhi rasa syukur dan sukacita atau tidak, lebih ditentukan oleh bagaimana cara kita memandang sesuatu hal/keadaan (sikap batin kita) daripada oleh hal/keadaan itu sendiri. Seorang Kristiani yang sejati mampu senantiasa bersyukur dalam situasi apa pun. Apa “rahasia”-nya? “Rahasia”-nya adalah caranya memandang segala sesuatu: ia memandang segalanya dalam terang iman, harapan, dan kasih.

“Rahasia” Bersyukur Seorang Kristiani

Kasih

Seorang ibu yang merasa stress, terbeban, dan jenuh dengan segala kesibukan dan tanggung jawabnya dalam keluarga (memasak, mencuci, menyeterika, dll.) datang ke seorang psikolog. Si psikolog memberinya sebuah resep. Inilah resepnya:

“Tambahkan 1 sendok penyedap rasa KASIH dalam setiap masakanmu;

Campurkan 1 takaran pewangi KASIH dalam setiap ember pelmu;

Semprotkan cairan pelembut KASIH pada setiap baju yang kauseterika; ....”

Kasih akan mengubah cara pandang kita. Hati yang tanpa kasih akan memandang segalanya sebagai beban, sedang hati yang penuh kasih akan memandang segalanya sebagai “kesempatan”.

Seorang mahasiswa ketika dimintai tolong oleh orang tua atau adiknya untuk mengantar ke pasar ataupun ke tempat lain selalu mengatakan, “Tidak ada waktu.” Namun, ketika ia jatuh cinta, tanpa diminta ia selalu menawarkan diri untuk mengantar/menolong si pemudi idamannya. Ia melakukan semua itu dengan sukacita karena baginya itu adalah suatu “kesempatan” untuk mengungkapkan cintanya. Ajaibnya, ia selalu “punya waktu” untuk itu, padahal jumlah jam dalam sehari tetap saja 24 jam.

Karena cintanya kepada Yesus maka St. Theresia Lisieux memandang segala sesuatu yang terjadi pada dirinya—termasuk penderitaan, tuduhan, dan hal-hal pahit lainnya—sebagai suatu kesempatan untuk mencintai Yesus, untuk menyenangkan hati-Nya, dan untuk menyelamatkan jiwa-jiwa. Ketika ia dituduh memecahkan tempat bunga, padahal ia tidak melakukannya, St. Theresia tidak membantah, namun memersembahkannya demi cintanya kepada Yesus. Cintanya kepada Yesus dan kepada jiwa-jiwa menguatkannya untuk menanggung segala sesuatu. Kasih itu membangkitkan kerelaan berkorban, karena itu Yesus mengatakan, “Tidak ada kasih yang lebih besar daripada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya” (Yoh 15:13). Suatu beban/ penderitaan/ korban yang diterima dengan rela dan penuh kasih akan melahirkan sukacita dalam hati. Sebaliknya, beban akan semakin menekan dan menyesakkan jika kita menolak/ memberontak (misalnya, dengan mengeluh).

Di suatu perguruan seorang murid sedang membawa sebuah ember. Kebetulan sang guru lewat di dekatnya, maka si murid ingin menguji kesaktian gurunya, “Guru, tahukah engkau seberapa berat ember yang kubawa ini?” Jawab si guru, “Seberat hatimu.” Berat tidaknya sesuatu lebih ditentukan oleh hati kita. Hati yang penuh kasih akan meringankan beban. Marilah kita belajar melakukan dan memersembahkan segalanya demi cinta pada Tuhan dan sesama.

Iman dan Harapan

Ketika kita mengalami peristiwa-peristiwa yang menyenangkan, bersyukur itu relatif mudah untuk dilaksanakan. Namun, ketika pasangan hidup selingkuh, anak terlibat Narkoba, hutang melilit, ..., masihkah kita perlu bersyukur? Jawabannya “Ya!” Namun, tentu saja kita tidak akan bersyukur atas perselingkuhan pasangan hidup kita, atas korupsi suami kita, atas dosa anak kita, karena syukur demikian sangat tidak Kristiani. Bahkan kita menyesal dan berduka atas dosa, karena Tuhan membenci dosa. Namun, seorang Kristiani dipanggil untuk senantiasa bersyukur, juga di tengah-tengah semua itu. Bagaimana bisa?

“Tak sebanding”

Seorang pemulung secara tak sengaja menemukan sebuah kupon undian berhadiah. Di luar dugaan, ia memenangkan hadiah sebuah rumah mewah (yang harganya bermilyard-milyard rupiah) dan uang sebesar Rp 1.000.000,00. Akan tetapi, untuk mengambil semua hadiah itu, ia harus membayar pajak sebesar Rp 50.000,00. Seandainya Anda adalah pemulung itu, bagaimana perasaan Anda? Gembira atas hadiah itu? Ataukah sedih atas pajak yang harus dibayar? Tentu Anda akan gembira, bukan? Bahkan sekalipun pajak yang harus dibayar itu meningkat hingga Rp 1.000.000,00. Kenapa? Karena Anda masih memperoleh satu rumah mewah. Sebetulnya Tuhan benar-benar memberi Anda hadiah “rumah mewah”, yaitu surga (hidup kekal dalam kemuliaan Allah). Pajak yang harus dibayar melambangkan segala derita yang harus kita tanggung di dunia ini. Bahkan seandainya seumur hidup kita di dunia ini (katakanlah, dua ratus tahun) penuh penderitaan, ini semua tidak sebanding dengan hadiah yang Tuhan sediakan bagi kita. Surga itu abadi, selamanya. St. Paulus mengatakan, “… aku yakin, bahwa penderitaan zaman sekarang ini tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita” (Rm 8:18). Karena itu, semenderita apa pun seorang Kristiani, ia tetap mempunyai alasan kokoh untuk bersyukur dan bersukacita!

Kemenangan sudah terjamin

Walaupun ada “hadiah luar biasa” dari Tuhan (yaitu surga), namun syukur dan sukacita Kristiani juga tidak menutup mata dan melarikan diri dari penderitaan/ salib yang di depan mata. Salah satu ayat yang sangat berguna untuk tetap bersyukur di tengah-tengah penderitaan adalah “Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia” (Rm 8:28).

Seringkali tidak mudah untuk mengimani ayat ini. Jika kita melihat anak yang lahir tanpa tangan dan kaki, peristiwa Tsunami atau bencana-bencana lain, kejahatan-kejahatan yang terjadi, ..., benarkah Allah mampu bekerja dalam semuanya ini sehingga semua ini akan mendatangkan kebaikan bagi kita? Namun, Allah bukan Allah jika Ia tidak sanggup menguasai/ mengontrol semuanya. Dan, jika Allah tidak menyayangkan Putra tunggal-Nya sendiri bagi kita, masihkah kita meragukan cinta dan niat baik-Nya bagi kita? Jadi, apa pun yang Tuhan lakukan pasti tidak lepas dari motivasi cinta-Nya pada kita. Juga jika Ia membiarkan “sesuatu negatif” terjadi, pastilah Ia akan memakainya untuk mendatangkan kebaikan bagi kita. Contohnya dapat kita temukan dalam Kitab Suci, misalnya: kisah Yusuf yang dijual oleh saudara-saudaranya yang iri hati terhadapnya (bdk. Kej 37). Jika kita menjadi Yusuf, saat itu kita mungkin protes, “Apa salahku, Tuhan? Kenapa Kaubiarkan saudara-saudaraku menjual aku?” Namun, kita lihat bahwa karena dijual ke Mesir itulah, Yusuf akhirnya memperoleh kekuasaan untuk dapat menolong ayah dan semua saudaranya saat terjadi musibah kelaparan. Begitupun bencana/ kejatuhan dalam usaha/ dan lain-lain sering Tuhan pakai untuk kebaikan kita, misalnya untuk mengingatkan kita dan menghindarkan kita dari api neraka.

Sebetulnya siapakah yang lebih tahu mana yang lebih mendatangkan kebaikan? Kita atau Tuhan? Tentu Tuhan lebih tahu mana yang terbaik. Tak ada yang tersembunyi bagi Tuhan. Mata dan rancangan Tuhan menjangkau semuanya, bahkan sampai ke keabadian, sedang mata dan pertimbangan kita begitu sempit, seringkali hanya sebatas apa yang tampak di dunia. Karena itu tepatlah sabda Tuhan ini: “Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu” (Yes 55:9). Banyak hal yang saat ini tidak bisa kita mengerti dengan akal budi mengapa Tuhan membiarkannya terjadi, namun yakinlah bahwa Tuhan tak pernah salah bertindak. Seandainya semua peristiwa—semua jalan-jalan Tuhan—bisa kita pahami maka kita adalah tuhan, karena hal itu berarti bahwa kita lebih pandai (atau setidak-tidaknya sama pandai) dengan Tuhan. Maka, sebaiknya dengan rendah hati kita ingat bahwa Tuhan adalah Pencipta dan kita hanyalah ciptaan. Dia jauh melampaui akal budi kita. Yang perlu kita lakukan adalah “melangkah dan bersyukur dalam iman”, percaya bahwa salib/ penderitaan bukanlah “kata terakhir” bagi kita. Dengan wafat dan kebangkitan-Nya Yesus telah menghancurkan dosa dan maut maka Ia bersabda, “…kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia” (Yoh 16:33).

Penutup

Seorang konselor pernah memberi “terapi kecil” kepada seorang konselinya, yaitu setiap malam sebelum tidur ia harus mencari dan mensyukuri (dengan segenap hati) minimum sepuluh hal dari seluruh hari itu. Dengan melihat eksperimen kita tadi kiranya jelas betapa merugikannya tidur dengan seluruh hati, pikiran, dan perasaan terarah kepada hal-hal negatif, misalnya tertidur sambil memikirkan masalah kantor yang belum beres, mengkhawatirkan hari esok, mengingat-ingat hal-hal yang menyakitkan hati kita, dan macam-macam hal lainnya. Bukankah jauh lebih baik jika kita berani mengambil tindakan tegas untuk mengampuni dan memasrahkan segalanya ke dalam tangan kasih dan kuasa-Nya? Melemparkan diri kita ke dalam pelukan-Nya dan menyerukan nama-Nya dalam hati? Sehingga kita tidur dengan seluruh diri terarah kepada-Nya, dengan demikian kasih-Nya akan merendam, menyembuhkan, dan menyegarkan tubuh, jiwa, dan roh kita (juga di saat kita sedang tidur). Nasihat St. Paulus: “… janganlah matahari terbenam, sebelum padam amarahmu” (Ef 4:26) dan Yesus mengatakan, “… janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari” (Mat 6:34). Singkat kata, apa pun situasinya tutuplah hari-hari Anda dengan: “Syukur kepada Allah!”

www.carmelia.net © 2008
Supported by Mediahostnet web hosting