header carmelia 01.jpgheader carmelia 02.jpg

Berdoa Tak Kunjung Putus (Bagian Pertama)

User Rating:  / 5
PoorBest 

 

“Berdoalah Setiap Waktu Dalam Roh” (Ef. 6: 18)

Jalan Seorang Peziarah

Di antara banyak spiritualitas, dalam lingkungan rohani zaman kita sekarang ini, ada satu yang sebenamya sudah kuno (kiasik — red.), namun mungkin dapat memberikan nilai istimewa dalam hidup rohani kita. Spiritualitas ini dikenal dengan aliran Hesychasme, satu di antara tradisi rohani yang paling tua dalam Gereja Ortodoks timur. Spiritualitas mi menarik perhatian Gereja Katolik secara khusus melalui sebuah buku yang berjudul Kisah Seorang Peziarah (buku ini sudah diterbitkan dalam Bahasa Indonesia dengan judul Berdoa Tak Kunjung Putus yang diterbit Penerbit Kanisius, Yogyakarta).

Kita dipanggil untuk mencari dengan teliti dan tekun suatu bentuk doa yang sungguh-sungguh pribadi yang bisa membentuk jalan kita menuju Allah. Suatu bentuk doa untuk mencapai keheningan atau kedamaian batin. Pada abad kelima berkembang Hesychasme ini dengan suatu bentuk doa yang dinamakan: “Doa Yesus.”  Doa ini merupakan ungkapan yang paling mendasar dalam hidup mereka sampai mencapai keheningan atau kedamaian batin yang memberikan kebahagiaan yang, ketenangan jiwa yang mendalam. Dalam perkembangannya yang terdiri dan kata-kata yang sangat sederhana: “Tuhan Yesus Kristus, kasihanilah aku,”

Timothy Ware memberikan komentarnya: “...Di sekitar kata-kata yang hanya sedikit inilah banyak orang dari Gereja Ortodoks selama berabad-abad membangun hidup rohani mereka dan lewat doa mi mereka masuk ke dalam rahasia-rahasia yang paling dalam dan pengetahuan kristiani.” Untuk mengerti kekayaan Hesychasme atau doa Yesus, marilah kita mendengarkan kisah seorang Rusia, yang tidak dikenal namanya, dalam pengembaraannya mengelilingi negerinya yang begitu luas untuk mencari keterangan mengenai bagaimana orang dapat berdoa terus-menerus,  sebagaimana diperintahkan oleh Tuhan Yesus sendiri.

Dalam buku Kisah Seorang Peziarah diceritakan bahwa pada suatu hari orang Rusia ini menghadiri misa dan dalam bacaan Kitab Suci dibacakan Injil Lukas yang antara lain berbunyi: “Berdoa dengan tidak jemu-jemu (Luk. 18:1).” Melalui Sabda Tuhan ini hatinya dipenuhi dengan rahmat Tuhan untuk mencari tahu bagaimana cara berdoa dengan tidak jemu-jemunya itu. Kemudian ia banyak mendengarkan khotbah-khotbah dalam perayaan Ekaristi, bertanya pada pastor-pastor, dan kemudian bertanya kepada orang banyak, tetapi usahanya tidak membuahkan basil bahkan semakin membingungkan dirinya. Sekian tahun ia mencari informasi ten- tang arti dan cara berdoa seperti yang dikatakan Yesus itu.

Akhirnya ia bertemu dengan seorang rahib tua yang sedang bertapa di padang gurun dan rahib itulah yang mengajarkan kepadanya tentang Doa Yesus. Mula-mula rahib itu memintanya untuk mengucapkan: “Tuhan Yesus Kristus, kasihanilah aku” sebanyak 3.000 kali dalam satu hari, kemudian 6.000 kali, dan 12.000 kali. Setelah peziarah itu mampu mengulangi kata-kata itu sebanyak 12.000 kali dalam satu hari, rahib itu pun berkata: “Sekarang engkau dapat mendaraskan doa tersebut sesuai dengan kerinduan hatimu.” Peziarah itu sangat bergembira karena sudah menemukan seorang guru yang mampu memberikan petunjuk-petunjuk yang berguna untuk mencapai niatnya yakni berdoa dengan tidak kunjung putus.

Kemudian peziarah itu berkata: “Di bawah petunjuk guru ini, saya melewatkan seluruh musim panas dengan tanpa terputus mengucapkan doa kepada Yesus Kristus dan saya merasakan damai yang penuh di dalam batin saya, selama tidur saya sering bermimpi bahwa saya sedang mengucapkan doa itu. Dan selama siang hari kalau saya bertemu dengan orang, semua orang tanpa kecuali, begitu dekat dengan saya seolah-olah mereka adalah sahabat yang paling dekat... saya tidak berpikir lain kecuali Doa Yesus itu yang saya ulangi terus. Budi saya ingin mendengarkan dan hati saya pada saat-saat tertentu merasakan kehangatan dan kepuasan serta kebahagiaan yang mendalam.”

www.carmelia.net © 2008
Supported by Mediahostnet web hosting