User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active
 

Peristiwa ini terjadi sudah lama sekali, sekitar enam belas abad yang lalu. Tepi pantai tampak indah dan cerah saat itu. Pasir putih yang hangat bermandikan sinar mentari menyambut buih-buih ombak yang menyapa sepanjang pesisir. Diiringi nyanyian burung camar yang bersahutan seorang pria tampak merenung serius.

“Siapakah Engkau, ya Allah?”

“Bagaimanakah Engkau, ya Allah?”

“Apa maksudnya Engkau adalah Tritunggal Mahakudus, ya Allah?”

Berbagai pertanyaan berkecamuk di kedalaman hatinya, membuat wajahnya terpekur semakin serius. Otaknya terus berpikir, namun tidak juga ia temukan jawabannya.

Sementara seorang anak dengan gembira menggali sebuah lubang pasir di dekat pria tersebut. Setelah itu, dengan wajahnya yang polos dijinjingnya sebuah ember ke tepi laut dan dipenuhinya ember kecilnya itu dengan air laut. Kemudian, dengan semangat dan wajah yang tak kalah seriusnya, dituangnya air dari ember itu ke lubang pasir yang baru saja dibuatnya. Seolah belum puas, setelah ember kosong kembali ia memenuhkannya kembali dengan air laut dan dituangnya ke dalam lubang pasir seperti semula. Hal ini ia lakukan berulang-ulang hingga mau tak mau mengusik ketenangan pria yang sedang terpekur merenung.

Hilir mudiknya si kecil dari lubang pasirnya ke pinggir laut akhirnya memancing pria itu datang kepadanya. “Dik, apa yang sedang kamu lakukan? Dari tadi mondar-mandir terus mengambil air laut.“ Dengan lugu anak itu pun menjawab, ”Saya sedang berusaha memindahkan air laut ke dalam lubang pasir saya.“ Mendengar jawaban yang polos itu pria tersebut pun mulai mendongkol. Dengan nada yang agak meninggi ia pun berseru, “Mana mungkin air samudera yang dalam itu kau pindahkan ke lubang pasirmu yang kecil?“ Namun nada yang agak meninggi itu disambut dengan tawa renyah si kecil. Dengan mukanya yang jenaka si kecil pun berseru lantang, “Kalau begitu, ya sama. Mana mungkin Allah yang Mahabesar itu dimasukkan ke dalam otakmu yang kecil?“

Tertegun pria itu mendengar teguran sang anak. “Mana mungkin Allah yang mahabesar itu dimasukkan ke dalam otakmu yang kecil?“ “Mana mungkin?“ Teguran si kecil itu membuat pria itu terpukul. Teguran yang menembus langsung ke lubuk hatinya, yang membuatnya tersadar akan kekecilan dirinya di hadapan Allah yang mahabesar.

Akhirnya pria itu pun berhenti untuk mencoba mengerti tentang Allah. Akan tetapi, rupanya itu adalah langkah yang sangat tepat. Begitu ia berhenti berpikir tentang Allah, ia langsung dibawa ke dalam pengalaman cintakasih yang mesra dengan Allah. Allah bukan lagi pribadi yang harus dimengerti, tetapi pribadi yang dialami secara nyata. Pribadi yang hidup dan penuh kasih yang menyapa jiwanya dan membawanya kepada kekudusan. Kini kita mengenal pria itu sebagai salah seorang kudus yang besar, yaitu Santo Agustinus.

Sesungguhnyalah Allah melampaui segala pengertian. Tak satu bahasa pun yang sanggup menggambarkan Allah. Tak satu definisi pun yang bisa menjabarkan Allah. Alam dengan segala keindahannya mengungkapkan keagungan Allah, namun toh tak dapat menceritakan siapakah Allah. Manusia dengan segala kepandaiannya berbicara banyak tentang Allah, namun toh tak dapat pula memberikan definisinya.

Allah hadir sebagai pribadi yang penuh misteri namun nyata. Ia adalah pribadi yang tak terdefinisi namun ada. Seperti misalnya tangan kita dipegang oleh seseorang dalam kegelapan, kita tak dapat melihatnya, tak tahu dari mana datangnya dan hendak ke mana, tetapi kita sungguh mengalami genggamannya. Lewat genggamannya itu kita rasakan kehangatan, perlindungan, dan kasih. Namun, saat kita diminta menjelaskan ciri-ciri orang yang menggenggam kita dalam kegelapan itu, tak satu kata pun bisa diungkapkan, karena memang benar-benar tidak tahu. Demikianlah Allah hanya dapat dialami tanpa mampu dijelaskan. Semakin kita mengenal Allah, semakin kita sadar bahwa Ia adalah pribadi yang tak dikenal.

Allah tak dapat dimengerti karena Ia melampaui pemahaman manusia. Kita tidak dapat membuat rumusan-rumusan mengenai bagaimanakah Allah sebenarnya, dan tidak ada satu gagasan pun di dunia ini yang dapat menggambarkan Allah dengan sempurna. Namun, karena Allah senantiasa menyatakan diri-Nya kepada manusia agar dikenal, sedikit demi sedikit kita dapat mengenali Dia dengan segala keterbatasan kita. Jadi, seperti apakah Allah yang kita sembah itu? Berikut ini akan diuraikan sebagian kecil saja dari sifat-sifat Allah, yang diperoleh dari keterbatasan manusia yang lemah.

Sifat Allah yang pertama kita peroleh dari sebuah seruan lantang yang menggema di padang gurun ribuan tahun yang lalu. Di seberang Sungai Yordan, di tengah lembah yang luas pada bentangan Bet-Peor, Musa berseru, “Dengarlah, hai orang Israel! Tuhan itu Allah kita, Tuhan itu Esa!“ (Ul. 6:4) Allah Tuhan kita adalah Esa. Ia mahamulia, mahaagung, mahapengasih, dan masih banyak lagi. Kata “maha” yang disandang-Nya menunjukkan pengertian “paling”, lebih dari yang lainnya. Itu berarti Ia tak ada tandingannya. Hal ini ditegaskan pula oleh seorang bapa Gereja sebagai berikut:

Apa yang mau dipandang sebagai yang terbesar, harus esa sifatnya, dan tidak boleh mempunyai tandingan.... Sebab kalau Allah tidak esa, maka Ia bukan Allah. (Tertulianus)          

Allah kita adalah Allah yang tritunggal. Misteri Tritunggal Mahakudus ini merupakan rahasia sentral iman Kristiani. Kodrat Allah ini melampaui pengertian yang hanya bisa dicapai dengan iman. Allah Bapa menciptakan dan memelihara kita dari waktu ke waktu. Namun, rupanya hal itu tidak cukup. Didorong oleh cinta-Nya yang besar, Allah ingin berkomunikasi dengan manusia, dengan bahasa manusia pula. Oleh karena itulah Firman Allah menjelma menjadi manusia dan kita menyapa-Nya: Allah Putera atau Yesus Kristus. Selain itu, Allah juga ingin selalu menyertai manusia sampai akhir zaman; menjadi penghibur, penolong, pembimbing, yang kita kenali kehadiran-Nya sebagai Allah Roh Kudus. Namun, walaupun ada tiga Pribadi, Allah itu tetap satu, Bapa, Putera, dan Roh Kudus.

Di dalam misteri Tritunggal Mahakudus terdapat kasih yang menjadi hakekat dari segalanya. Dari Pribadi Bapa mengalir suatu kasih yang amat besar dan dalam kepada Putera. Kemudian kasih yang indah dan agung ini oleh Putera dialirkan kembali kepada Bapa. Dengan demikian, terjadilah putaran cintakasih yang terus menerus antara Bapa dan Putera. Putaran cintakasih yang tak berkesudahan inilah yang disebut dengan Roh Kudus atau Roh Cintakasih.

Peliharalah terutama warisan yang baik ini. Untuknya aku hidup dan berjuang, dengannya aku mau mati. Itulah yang menyanggupkan aku memikul segala kemalangan dan menolak segala hiburan, yaitu pengakuan iman akan Bapa dan Putera dan Roh Kudus. .... Baru saja aku mulai memikirkan kesatuan, muncullah sudah Tritunggal dalam kemegahan-Nya. Baru saja aku memikirkan Tritunggal, langsung aku disilaukan kesatuan. (St. Gregorius dari Nasianze)

Sifat Allah yang lain dapat kita dengarkan gemanya dalam Injil, yaitu Allah adalah kebenaran. Allah adalah kebenaran karena Ia itu terang, dan pada-Nya tidak ada kegelapan sama sekali. (bdk. 1 Yoh.1:5) Allah itu adalah kebenaran itu sendiri, Sabda-sabda-Nya tidak bisa menipu. Oleh karena itu, dengan penuh kepercayaan orang dapat menyerahkan diri dalam segala hal kepada kebenaran-Nya dan kepada kepastian Sabda-Nya.

Kebenaran Allah adalah juga kebijaksanaan-Nya, yang mengatur seluruh ciptaan dan peredaran dunia. Tak sekali pun kita pernah kuatir matahari lupa tenggelam di barat. Tak sedetik pun kita meragukan bumi terus berputar. Allah telah mengatur semuanya itu dengan segala kebijaksanaan-Nya. Allah juga satu-satunya yang dapat menganugerahkan pengertian yang benar tentang segala ciptaan dalam hubungannya dengan Dia. Ajaran yang datang dari Tuhan adalah ajaran yang benar. (bdk. Mal. 2:6) Ia mengutus Putera-Nya ke dunia, supaya Ia memberikan kesaksian tentang kebenaran. (bdk. Yoh.18:37)

Akan tetapi kita tahu, bahwa Anak Allah telah datang dan telah mengaruniakan pengertian kepada kita, supaya kita mengenal Yang Benar; dan kita ada di dalam Yang Benar, di dalam Anak-Nya Yesus Kristus. Dia adalah Allah yang benar dan hidup yang kekal.(1Yoh.5:20)

Bagaimanakah dengan cinta Allah? Cinta Allah kepada umat-Nya lebih dari cinta seorang ibu kepada anakya (bdk. Yes.49:15), lebih dari cinta seorang pengantin pria kepada mempelai perempuannya (bdk. Yes. 62:5). Cinta Allah mengalahkan dosa yang paling besar, dan ketidaksetiaan yang paling parah. Begitu besarnya kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia menyerahkan juga yang paling dicintai-Nya, yaitu Anak-Nya yang tunggal. (bdk. Yoh. 3:16)

Cinta Allah itu abadi. "Biar pun gunung-gunung beranjak dan bukit-bukit bergoyang, tetapi kasih setia-Ku tidak akan beranjak dari padamu." (Yes. 54:10) "Aku mengasihi engkau dengan kasih yang kekal, sebab itu Aku melanjutkan kasih setia-Ku kepadamu." (Yer. 31:3) Cinta adalah kodrat Allah, sebagaimana yang dikatakan oleh St. Yohanes bahwa "Allah adalah kasih." (1 Yoh 4:8)

Demikianlah Allah yang selalu dekat dengan kita. Kita tak dapat menjelaskan tentang bagaimana dan siapakah Dia. Namun, kedekatan-Nya membuat kita merasakan kehangatan cinta-Nya. Sentuhan-Nya yang lembut di kedalaman hati kita membuat kita terpukau akan misteri Tritunggal Mahakudus yang rela bersemayam di hati kita yang kecil. Dan pancaran kemuliaan-Nya yang menyelimuti seluruh bumi membawa kita kepada pesona keagungan ilahi yang tiada taranya. Sungguh Dia adalah Allah yang Esa. Lebih dari itu, apa lagikah yang bisa kita jelaskan tentang Dia?

"Sesungguhnya Allah itu besar, tidak tercapai oleh pengetahuan kita. Oleh karena itu, kita harus menempatkan Allah pada tempat yang pertama sekali." (St. Jeanne d'Arc)

Tak satu lidah pun di bumi ini yang dapat menjelaskan Allah. Kita hanya dapat mengalami-Nya, menyadari kehadiran-Nya, dan menenggelamkan diri ke dalam cinta-Nya yang tak terbatas. Dan karenanya, layaklah jika Allah menjadi harta kita yang paling berharga di dunia ini, sehingga dengan tegas kita dapat berseru bersama St. Teresa dari Avila, « Solo Dios Basta ! », yang artinya « Allah saja cukup ! »

Tuhanku dan Allahku, ambillah dari diriku segala sesuatu yang menghalang-halangi aku untuk datang kepada-Mu.

Tuhanku dan Allahku, berilah aku segala sesuatu yang mendekatkan aku kepada-Mu.

Tuhanku dan Allahku, ambillah aku dari diriku dan jadikanlah aku sepenuhnya milik-Mu.

(Doa St. Nikolaus dari Flue)

www.carmelia.net © 2008
Supported by Mediahostnet web hosting