header carmelia 01.jpgheader carmelia 02.jpg

Meditasi Katolik

User Rating:  / 25
PoorBest 

1. Persoalan

Dewasa ini kita dihadapkan dengan pelbagai tantangan dalam hidup iman dan hidup rohani kita sebagai umat beriman Katolik. Salah satunya ialah “Meditasi Kristiani.” Begitu banyak menu yang ditawarkan dalam meditasi tersebut. Dari yang memang sungguh diperoleh dari tradisi iman dan kerohanian Katolik, hanya sekedar duduk diam, bahkan sampai pada titik ekstrim, “gado-gado”, artinya terjadi sinkretisme antara doa dalam tradisi Kristen dengan meditasi yang berasal dari tradisi religius yang lain.

Hal ini menyebabkan, kita mengalami kekaburan makna tentang meditasi. Kita juga belum paham arti meditasi. Dengan demikian, kita belum tentu menghayati meditasi Kristiani dengan baik dan benar. Kita dapat jatuh dalam dua ekstrim yang bertolak belakang satu sama lain, di satu pihak, karena kurangnya pengertian yang benar, orang meninggalkan hidup rohani. Tetapi, di lain pihak, orang terbawa arus zaman. Semua metode diambil dan diserap. Kita menerima dan menghayatinya bukan dalam sikap iman yang kritis.

Padahal, begitu banyak umat yang haus akan Allah dan membutuhkan sarana yang tepat menuju persatuan dengan Allah dalam Kristus dan Roh Kudus melalui kekayaan tradisi kerohanian Gereja Katolik. Itulah sebabnya, kita membutuhkan pengertian dan penghayatan yang benar dan tepat tentang meditasi Katolik. Kita memahami sarana yang perlu kita ambil sekaligus kita menghindari segala hambatannya supaya dengan hati bebas dan murni, kita datang, mendekat dan masuk dalam aliran kasih Allah Tritunggal seturut ajaran Kristus dan Gereja.

2.  Hakekat Hidup Rohani

Dalam permulaan hidup rohani, kita mengalami panggilan Allah, “kita jatuh cinta kepada Allah.” Inilah kebenaran iman kita, “Bukan kita yang mengasihi Allah, tetapi Allah terlebih dahulu mengasihi kita” (bdk. 1 Yoh 4: 19). Kemudian, kita bertobat, meninggalkan dosa dan kejahatan, dan kita menerima Sakramen-sakramen Gereja, seperti Pembaptisan, Pengakuan Dosa, Ekaristi, Penguatan, Pengurapan Orang Sakit, Perkawinan Katolik dan Imamat.

Berdasarkan pengalaman kasih akan Allah yang dialami dalam Gereja, kita mengalami kebenaran kata-kata S. Agustinus, “Engkau menciptakan kami untuk-Mu, ya Tuhan dan hati kami akan senantiasa gelisah sebelum beristirahat dalam Dikau”. Hal yang sama diungkapkan dalam Konsili Vatikan II: “Makna paling luhur martabat manusia terletak pada panggilannya untuk memasuki persekutuan dengan Allah” (GS 19).

Itulah sebabnya, kita dipanggil dengan bantuan rahmat Allah dan penuh keberanian menanggapi anugerah Allah dengan “memasuki perjumpaan dengan Allah dalam Kristus melalui kuasa Roh Kudus secara terus menerus dan makin mendalam.” Perjumpaan inilah yang mengubah seluruh hidup kita secara baru.

www.carmelia.net © 2008
Supported by Mediahostnet web hosting