header carmelia 01.jpgheader carmelia 02.jpg

Santa Elisabet dari Tritunggal

User Rating:  / 2
PoorBest 


“Iman adalah semacam kaki, yang digunakan jiwa untuk pergi menghadap Allah.

Cinta kasih adalah pembimbing yang menuntun dia.”

(Madah Rohani S. Yohanes dari Salib)

Pada suatu hari di pertengahan tahun 1880, tepatnya tanggal 18 Juli, terlihat seorang bapak berlari-lari mencari pastor. Ternyata dia adalah Bapak Catez yang sedang kebingungan karena keadaan kritis yang dialami oleh istrinya. Istrinya saat itu sedang dalam penanganan dokter karena akan melahirkan anak mereka yang pertama. Akhimya dengan bantuan misa dan doa yang terus-menerus dipanjatkan, lahirlah seorang putri yang sehat, cantik, mungil dan berwajah cerah. Bayi kecil ini kemudian dibaptis pada tanggal 22 Juli dan diberi nama Elisabet, yang berarti kediaman Allah. Pada saat itu pula Elisabet dipersembahkan kepada Bunda Maria dan orang tuanya menyanyikan Magnificat (Kidung Maria) untuk memuji Allah atas karunia putri pertama ini.

Elisabet dilahirkan di Avor, sebuah kota militer, dekat Bourges dan tidak terlalu jauh dari Ibukota Paris. Dia lahir di sebuah kota militer karena memang ayahnya adalah seorang opsir tentara. Kehidupan keras layaknya dalam dunia militer ternyata tidak mempengaruhi penghayatan iman pasangan suami istri Catez ini, yang terlihat melalui rajinnya mereka mengikuti Perayaan Ekaristi hampir setiap hari. Dalam suasana penuh penghayatan iman inilah Elisabet lahir, bahkan kelahirannya diiringi doa yang terus-menerus.

Rupanya sejak dan awal, Tuhan mau menunjukkan bahwa Dia mengasihi Elisabet dan sudah menetapkan bahwa Elisabet akan menjadi orang kudus-Nya yang dapat mengalirkan berbagai rahmat dan berkat bagi banyak orang. Hal ini terbukti dan rahmat dan berkat yang diterima kedua orangtuanya setelah ia lahir, yaitu kenaikan pangkat yang diterima ayahnya menjadi seorang kapten, sehingga mereka sekeluarga dapat pindah ke kota yang lebih besar yaitu Dyon.

Di kota inilah Elisabet tumbuh dan berkembang serta kemudian dikaruniai Tuhan seorang adik perempuan yang diberi nama Marguerite. Antara Elisabet dan Marguerite terdapat perbedaan sifat yang kentara sekali. Kalau Marguerite (Guite) dikenal sebagai anak yang lembut, tenang dan sedikit pendiam, tapi Elisabet lebih dikenal sebagai anak yang keras, mudah marah, sangat perasa, namun memiliki semangat yang besar dan kemauan yang kuat. Sehingga Elisabet dengan segala gerak-gerik dan tingkah-lakunya tidak mudah dilupakan oleh orang-orang di sekelilingnya. Bila ada pertentangan sedikit saja, ia sudah marah.

Dalam suatu peristiwa, ketika itu Elisabet masih berusia 19 bulan, pastor paroki di Gereja S. Hilaire, dekat Carcassone (kota kelahiran Ibu Catez), ingin mengadakan pesta kecil-kecilan untuk anak-anak. Ibu Catez dengan diam-diam, tanpa sepengetahuan Elisabet, meminjamkan boneka Elisabet untuk dipasang sebagai hiasan di gereja. Pada waktu pesta, Ibu Catez dengan menggandeng Elisabet duduk di bangku paling depan dalam gereja. Ketika mereka semua sedang berdoa, ketenangan dalam gereja dikejutkan oleh jeritan seorang anak kecil. Ternyata si kecil Elisabetlah yang berteriak. Dia melihat dan mengenali boneka yang dipakai sebagai hiasan padahal sudah dihiasi sedemikian rupa. “Pastor nakal, kembalikan bonekaku!”, teriaknya. Kemudian dengan badan bergetar dan tidak sabar dia maju hendak mengambil boneka itu. Ibunya segera menahannya, dia semakin marah sehingga kaki dan tangan ibunya menjadi sasaran pukulan kedua tangannya yang kecil itu. Akhirnya Elisabet yang terus-menerus berteriak dibawa keluar oleh ibunya.

Ibu Catez yang mengenal sifat jelek putrinya ini berusaha mendidik dengan sabar dan bijaksana. Pelan-pelan ia mengajar Elisabet untuk menguasai diri demi cinta kasih kepada Yesus Kristus. Jadi sejak kecil Elisabet telah belajar untuk menguasai dirinya.
Memang awalnya sangat sukar bagi Elisabet sebab kemampuan untuk menguasai diri bukanlah sesuatu yang mudah untuk dicapai. Untuk ini diperlukan kesabaran yang luar biasa. Hal ini diungkapkan Elisabet dalam suratnya yang ditulis kepada seorang sahabat akrabnya yang memiliki sifat seperti dirinya:

“Saudara memiliki sifatku. Aku tahu, apa yang harus kau lakukan. Kau tahu betapa bahagianya dirimu karena dapat mencintai Allah dan memberikan kepada-Nya apa yang Dia minta. Lebih-lebih lagi kalau hal itu terasa berat. Kau tidak mungkin mengulur waktu lebih lama lagi untuk tidak mendengarkan aku. Memang pada awalnya akan terasa sebagai beban yang berat, tetapi setelah itu kau akan mengalami ketenangan yang menggembirakan” (Surat 37).

Bahkan setelah perjuangan awal itu, Elisabet terkadang masih harus berjuang lagi. Karena setan terus menggodanya agar dia kembali lagi ke sifat asalnya. Sebelum ia menulis surat itu, ia pernah menulis dalam buku hariannya:

“Kalau saya ditegur, padahal saya tidak bersalah, saya menjadi sangat marah. Saya mau berontak, tetapi untunglah Yesus menyertai saya. Dan dalam lubuk hati, saya mendengar suara-Nya. Dan saya sanggup bersabar menahan segala-galanya demi cinta kasih kepada-Nya” (Buku Harian tanggal 30 Januari 1899).

Elisabet kecil sangat menyenangi musik sehingga oleh ibunya dia dimasukkan menjadi anggota konservatorium Kota Dyon untuk belajar piano, walaupun kakinya belum dapat menginjak pedal kalau ia sedang bermain piano. Mungkin Ibu Catez ingin agar Elisabet memiliki suatu keahlian tertentu mengingat Elisabet dan Guite selalu tertinggal dalam pelajaran karena sering bepergian menyertainya dalam berbagai pelayanan sosial setelah Bapak Catez meninggal.

Bersamaan dengan itu, Elisabet mulai menyiapkan dirinya untuk Komuni Pertama. Menurut kebiasaan di daerah itu, tiga tahun sebelum Komuni Pertama, diadakan pengakuan dosa di depan Pastor. Elisabet menyebut saat itu sebagai saat pertobatannya. Dia mengakui bahwa dia pemarah, congkak, dan terlalu main perasaan. Semua itu diakuinya dengan rendah hati dan ia tidak mau membiarkan semua sifat jelek itu terus menguasai dirinya demi Tubuh Kristus yang akan dia sambut.

Dia sungguh mempersiapkan dirinya untuk menyambut Komuni Pertama ini, seperti yang diungkapkan oleh seorang temannya:  

“Yang mengesankan dan Elisabet pada usia itu (9 tahun, red.) adalah kekhusukannya dalam doa, kemurnian pandangannya, dan kekuatan niatnya yang mengagumkan untuk mengalahkan perasaannya. Ia bersifat sangat keras dan tidak menutup-nutupi hal ini. Beberapa kali saya melihat dia menggigit bibir untuk menahan teguran, atau untuk membiarkan orang lain berbicara sebelum ia mengungkapkan pendapatnya.”

Pada tanggal 19 April 1891, tibalah saat yang membahagiakan yang dinanti-nantikan itu. Bersama-sama dengan teman-teman sebaya, dia menerima Komuni Kudus untuk pertama kali. Dia sudah merasakan kerinduan luar biasa akan Tubuh Knistus dan sekarang ia sudah dapat menyambut-Nya. Betapa dalamnya kerinduan itu dapat dilihat melalui kata-kata yang dibisikkannya kepada seorang teman, Marie-Louise Hallo setelah Perayaan Ekaristi:
“Saya tidak merasa lapar, Yesus sudah memberikan santapan kepadaku.” Dia baru saja mengalami suatu pengalaman yang sangat mesra yang belum pernah dialami sebelumnya. Dan sejak saat itu, sifat pemarahnya makin berkurang. Rupanya Yesus sangat berkenan membantu pemudi kecil ini untuk menguasai dan memperbaiki segala kelemahannya. Hanya sesekali waktu masih terlihat ia meneteskan air mata pada waktu menahan diri.

Sore hari setelah penerimaan Komuni Pertama, Ibu Catez mengajak Elisabet berjalan-jalan ke Biara Karmel di kotanya. Di sana mereka bertemu dengan suster pimpinan, Sr. Maria dari Yesus. Karena tahu bahwa Elisabet baru menerima Komuni Pertama, Sr. Maria memberinya sebuah gambar yang bertuliskan:

Namamu yang terberkati menyembunyikan suatu rahasia yang terlaksana pada hari ini. Nak, hatimu selama engkau ada di dunia ini adalah rumah kediaman Allah, Allah cinta kasih.

Kata-kata yang ditulis oleh Sr. Maria itu akhirnya menjadi kenyataan kelak dalam hidupnya. Allah sangat mencintainya, sehingga membuat dia mau membalas cinta Allah itu sekuat tenaga. Karena cinta itu pula, dia dikuatkan untuk mengalahkan segala sifat yang bertentangan dengan Allah. Dari seorang yang pemarah, mau menang sendiri, congkak hati, dia berubah menjadi seorang yang sabar.

Karena cinta akan Allah itu pula, dia ingin mempersembahkan seluruh hidupnya hanya untuk Dia yang dicintai. Pada waktu berusia 14 tahun, dia merasa dipanggil Allah untuk memasuki Biara Karmel yang dulu pemah dikunjungi dengan ibunya. Ditulisnya sepucuk surat kepada Suster Pemimpin, demikian:

“Tahun ini saya akan genap berusia 14 tahun. Pada suatu hari setelah menyambut Komuni, sewaktu saya sedang berdoa, saya merasa terdorong untuk memilih Allah sebagai pengantin. Tanpa mengulur waktu lagi, saya menjanjikan kaul keperawanan.”

Hal itu juga diungkapkan pada ibunya dengan terus terang bahwa dia tertarik untuk menjadi seorang suster Karmelites. Sang ibu melarangnya untuk sementara waktu, sampai ia berusia 19 tahun. Bahkan dengan tegas dia dilarang singgah di biara itu lagi atau membicarakan keinginannya. Mungkin Ibu Catez ingin menguji kebenaran panggilan anaknya. Kalau memang panggilan Tuhan, sampai kapan pun akan tetap ada dan bergema.

Elisabet berusaha mentaati perintah ibunya, tetapi kalau sang ibu tidak ada di rumah, dia selalu mengajak adiknya, Guite, untuk bermain sebagai suster di biara. Tingkat atas rumah mereka dijadikannya mirip biara, lengkap dengan tirai tertutup ruang pengakuan. Sedangkan mereka sendiri memakai rok hitam milik Ibu Catez supaya mirip dengan para suster karmelites yang sedang berdoa di kapel.

Selama bertahun-tahun, kerinduan itu tetap bergema dalam hati Elisabet, sekalipun Ibu Catez berusaha memberikan kebahagiaan duniawi kepadanya, misalnya diajak mengunjungi tempat-tempat yang indah, pesta dansa, diberi pakaian-pakaian yang bagus-bagus dan diberi kesempatan untuk bermain piano di depan banyak orang. Bahkan ia menulis ungkapan kerinduan itu dan suatu doa yang sangat indah dalam buku hariannya:

“S. Teresia mengatakan sekian banyak hal yang indah tentang doa dan matiraga batin. Dengan pertolongan Allah, saya sungguh ingin mencapai taraf itu. Sekarang saya tidak dapat membebani diri dengan penderitaan yang berat. Tetapi setiap saat, setidak-tidaknya saya dapat mengorbankan kehendakku sendiri” (Buku Harian tanggal 20-2-1899).

“Ya Tuhan, semoga seluruh hidupku menjadi doa, semoga tiada sesuatu pun yang dapat memisahkan daku dari padaMu. Baik itu pekerjaan, kesenangan maupun penderitaan. Semoga aku dapat melebur dalam diri-Mu seluruhnya. Biarlah Elisabet menyingkir, asalkan Yesus tetap ada” (Buku Harian tanggal 27-1-1900).

Akhirnya pada usia 21 tahun, tepatnya pada tanggal 2 Agustus 1901, Elisabet memulai hidup di Biara Karmel Dyon sampai akhir hidupnya. Karena Tuhan melihat perjuangannya yang luar biasa di dunia, Dia berkenan menyatukan Elisabet dengan diri-Nya sendiri dalam waktu yang singkat. Hanya 5 tahun, Elisabet tinggal dalam biara, tahun 1906 dia pergi menghadap Mempelai yang mencintai dan dicintainya. Seperti Sr. Elisabet yang sangat setia membuka diri untuk belajar dan Kristus, begitu juga yang diharapkan Allah dari kita, supaya kita menjadi peka pada apa yang diinginkan Dia yang mencintai kita.

Paus Yohanes Paulus II membeatifikasinya di Paris pada tanggal 25 November 1984. Paus Fransiskus menganonisasinya menjadi santa pada tanggal 16 Oktober 2016.

www.carmelia.net © 2008
Supported by Mediahostnet web hosting