User Rating: 4 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Inactive
 
Di tengah maraknya aborsi dan masalah pelik lainnya dewasa ini, cukup dirasakan relevan, apabila dalam kesempatan ini, kami mengangkat cerita tentang Santa “Gianna Beretta Molla,” seorang awam dan martir cinta keibuan. Masalah yang cukup pelik dihadapi  oleh Gianna Beretta. Dia menderita suatu tumor di rahimnya dan hamil. Akan tetapi, mustahil dia bisa “survive” atau bertahan apabila memilih melahirkan. Ternyata Gianna sungguh seorang ibu dan dokter yang beriman. Dia memutuskan untuk tidak melakukan aborsi. Dengan kata lain, melahirkan menjadi pilihannya dengan taruhan nyawanya sendiri. Setelah keputusan yang cukup heroik ini diambilnya, kita pun akan kagum membayangkan bagaimana masa sembilan bulan mengandung itu menjadi persiapannya yang mengagumkan dalam menyongsong kematian. Sekaligus kehidupan, kematian bagi diri sendiri dan kehidupan bagi bayinya.

Akhirnya, benar saja seminggu setelah melahirkan, dia meninggal. Sang bayi selamat. Gianna menanti dan menyongsong kematiannya dengan begitu tenang dan percaya pada Allah. Demi seorang janin kecil, suatu hidup yang amat berarti di mata Tuhan dan di matanya, dia rela kehilangan hidupnya sendiri. Ternyata, Gianna tidak salah pilih. Dia pun menang dan tentunya tersenyum di surga sana menyaksikan proses penggelaran beata bagi dirinya pada tahun 1994. Dan yang sungguh mengharukan, hadirlah pada Misa beatifikasi itu bayi yang dikandungnya, Gianna Emanuela, dengan membawa persembahan bersama ayahnya, Pietro Molla.

Berikut ini sedikit gambaran tentang riwayat hidupnya, yang kiranya bisa memberi inspirasi bagi para dokter atau pun kaum wanita yang berniat aborsi atau pun bagi para wanita yang ada dalam bahaya melahirkan:

Santa Gianna Beretta Molla adalah seorang awam dan martir cinta keibuan. Sejak masa mudanya, dia telah menerima karunia iman dan pendidikan kristiani yang benar melalui orang tuanya. Akibatnya, Gianna mempraktikkan hidup sebagai suatu anugerah yang mengagumkan dari Tuhan. Dia juga mempunyai iman yang kuat akan Tuhan. Dia percaya akan perlunya dan kekuatan (efektivitas) doa.

Dia rajin membekali dirinya dalam studi selama tahun-tahun pendidikan lanjutan di universitas. Pada waktu yang sama dia menghayati imannya dalam pelayanan kerasulan sukarela di antara orang-orang jompo dan fakir miskin dalam St. Vincent de Paul Society. Setelah memperoleh gelar kedokteran dan ahli bedah dari Universitas Pavia pada tahun 1949, Gianna membuka sebuah klinik pengobatan di Mesero (dekat Magenta) pada tahun 1950. Dia mengambil spesialis ilmu kesehatan anak-anak di Universitas Milan tahun 1952 dan setelah itu Gianna memberi perhatian khusus kepada para ibu, bayi, orang jompo, dan fakir miskin.

Ketika bekerja di bidang pengobatan, Gianna mengembangkan pelayanan sukarelanya pada Gerakan Katolik (Catholic Action) terutama di antara anak-anak. Di tengah kesibukannya, Gianna melakukan hobby dan cintanya pada alam ciptaan Tuhan dengan bermain ski dan mendaki gunung. Melalui doa-doanya dan hal-hal lain yang dilakukannya Gianna menyadari bahwa pekerjaannya adalah karunia Tuhan.

Gianna bertunangan dengan Pietro Molla dan merasakan sukacita dan kebahagiaan selama masa pertunangan mereka. Gianna tak lupa untuk bersyukur dan memuji Tuhan. Setelah memutuskan untuk menikah, Gianna melakukannya dengan penuh semangat dan mempersembahkan dirinya “untuk membentuk keluarga Kristen yang sejati.” Pietro Molla dan Gianna Beretta menikah pada tanggal 24 September 1955 di Basilika St. Martin, Magenta. Gianna menjadi seorang istri yang bahagia. Pada bulan November 1956, pada puncak kegembiraannya, dia menjadi ibu Pierluigi, bulan Desember 1957 lahirlah Mariolina dan bulan Juli 1959 lahirlah Laura. Dalam kesederhanaan dan keseimbangan, dia memadukan tuntutan sebagai seorang ibu, istri, dokter, dengan semangat hidupnya.

Masa Kanak-kanak

Gianna Beretta Molla lahir di Magenta (Milan), Italia pada tanggal 4 Oktober 1922. Dia adalah anak kesepuluh dari tiga belas bersaudara. Ibunya bernama Maria dan Bapaknya Albert Beretta. Gianna lahir dari pasangan Albert Beretta dan Maria. Gianna dan saudara laki-laki maupun perempuan sungguh diberkati karena mempunyai seorang ibu yang selalu menemani mereka untuk menghadiri Misa harian. Dan Gianna selalu kembali ke gereja untuk mengikuti ibadat sore dan berpartisipasi dalam doa rosario bersama keluarganya di rumah.

Sejak masa mudanya Gianna sudah menjadi anggota Gerakan Katolik (Catholic Action), sekelompok orang yang merasul yang membuat Yesus dikenal dan dicintai dengan menyebarluaskan nilai-nilai kristiani di dalam masyarakat. Cita-cita Gerakan Katolik ini terdiri dari kesetiaan dalam ekaristi, tindakan kerasulan dan kesucian kepahlawanan. Tiga konsep kunci yang dipegang setiap anggota Gerakan Katolik adalah ‘Doa, Perbuatan, dan Pengurbanan’ (Prayer, Action, and Sacrifice, PAS).

Pada musim semi tahun 1938, pada usia 15 tahun, Gianna mengikuti suatu retret dengan berpatokan pada latihan rohani Santo Ignatius. Gianna menulis dalam catatannya yang berjudul “Rekoleksi dan Doa-doa Gianna Beretta, 16, 17, 18 Maret 1938.”Dia menulis satu doa pada Tuhan kita ‘memohon untuk mengenal Kehendak Suci-Nya dan rahmat kepercayaan akan kebenaran.’ Doa ini dimulai dengan:
“Aku berjanji kepada-Mu, Yesus, untuk menyerahkan diriku pada semua yang Engkau ijinkan terjadi padaku. Biarkan aku mengetahui kehendak-Mu.”

Gianna juga membuat doa sebagai berikut:
“Saya melakukan segala sesuatu untuk Yesus. Saya menyerahkan semua pekerjaan saya, semua kekecewaan dan penderitaan saya kepada-Nya. Untuk melayani Allah, saya tidak ingin pergi ke bioskop kecuali saya mengetahui sebelumnya bahwa hal itu berharga, bermoral, dan tidak mempermalukan. Saya lebih baik mati daripada melakukan dosa berat. Saya takut akan dosa berat seperti seekor naga. Dan saya ulangi lagi, saya lebih baik mati seribu kali daripada melukai hati Tuhan. Saya meminta pertolongan pada Tuhan untuk tidak pergi ke neraka dan untuk menghindarkan segala sesuatu yang dapat membahayakan jiwaku. Saya akan berkata “Ave” setiap hari sehingga Tuhan menganugerahi saya kematian suci. Saya memohon pada Tuhan untuk menolong saya memahami Kerahiman-Nya yang besar. Saya berniat menghormati Ibu Malatto dan belajar meskipun saya tidak menyukainya, karena cinta akan Yesus. Sejak hari ini, saya berlutut dan berdoa pagi hari di gereja seperti yang saya lakukan di kamar saya dan pada sore hari di kaki tempat tidur saya.”

Masa Remaja

Selama tahun-tahun kuliahnya di Milan dan Pavia, Gianna tidak pernah melupakan kebiasaan sejak kecilnya. Di sela waktunya Gianna selalu menghadiri Misa harian pada pagi hari, belajar, dan berdoa rosario setelah makan malam. Apabila dirasakan waktu belajarnya sudah cukup, waktunya dihabiskan dengan bermeditasi di gereja.

Dalam salah satu suratnya, Gianna mencatat sebuah buku yang dibacanya berjudul “Kesucian Saat Ini” yang menyenangkan dan menolongnya. Kata-kata dalam buku itu adalah, “Mari kita mempercayakan masa lalu pada Kerahiman Allah dan masa depan pada kehendak Allah. Tugas kita adalah untuk hidup suci saat ini.”

Di dalam kehidupan ini, orang selalu membutuhkan perhatian, jamahan dan kasih dan tidak mudah untuk dinasihati dengan kata-kata. Berbicara dengan baik tidak cukup, kita juga harus menunjukkannya dengan contoh-contoh. Kita harus menjadi saksi hidup atas kemuliaan dan keindahan hidup Kristen. Untuk melakukan kebenaran yang akan terpancar dalam diri kita dan memberikan kebenaran sejati, kita harus mempersembahkan diri sebagai sesuatu yang penting dan jika perlu dengan contoh kepahlawanan.

Jangan takut untuk membela Allah, Gereja, Paus, dan para imam. Inilah saatnya bagi kita untuk bertindak. Menentang anti religius dan orang-orang yang tidak bermoral adalah sesuatu yang tidak dapat diabaikan. Gerakan Katolik yang diikuti Gianna menyatakan bahwa mereka harus menjadi yang pertama dalam membela dasar yang sehat dan kesucian Tradisi Kristen di negara mereka.

Kita harus juga bertindak dan masuk ke dalam semua bidang sosial, keluarga, dan politik. Dan bekerja, karena semua kegelapan dan kekuatan ancaman iblis sangat kuat dan bersatu. Penting bagi kita untuk menyatukan kekuatan kebaikan dan membentuk semacam bendungan, sebuah rintangan dengan berkata, “Tidak bisa lewat sini”.

Gianna juga seorang yang cukup berdevosi kepada Maria dan seorang pendoa. Hal ini nampak pada doa-doanya yang berikut ini:

“O Maria, ke dalam tangan keibuanmu aku meletakkan diriku dan aku melepaskan diriku seutuhnya. Aku yakin akan memperoleh apa saja yang aku mohon kepadamu. Aku percaya padamu karena engkau adalah ibu yang manis, aku percaya padamu karena engkau adalah Ibu Yesus. Dalam kepercayaan ini saya meletakkan diriku. Aku yakin akan didengarkan dalam segala hal; dengan kepercayaan ini di dalam hatiku aku menyebutmu ‘ibuku, kepercayaanku,’ aku membaktikan diriku sepenuhnya kepadamu, memohon kepadamu untuk mengingat bahwa aku adalah milikmu, bahwa aku kepunyaanmu; peliharalah dan belalah aku, o Maria yang manis dan dalam setiap peristiwa hidupku hadirkan aku pada putra-Mu, Yesus.”

Dan inilah doa yang disusun Gianna kepada Yesus:

“O Yesus, aku berjanji pada-Mu untuk menyerahkan diriku dalam segala hal yang Engkau ijinkan terjadi padaku, buatlah aku hanya mengenal kehendak-Mu.”
 
“Yesusku yang sungguh baik, Allah Kerahiman yang tak terbatas, Bapa termanis jiwa kami dan terutama bagi kaum yang paling lemah, yang paling merana, yang paling sakit, bagi jiwa-jiwa yang Kaubawa dengan kelembutan hati yang luar biasa dalam keilahian tangan-Mu, aku datang kepada-Mu, bersyukur atas cinta dan kebaikan Hati-Mu yang Mahakudus, rahmat untuk memahami dan selalu melakukan kehendak kudus-Mu, rahmat untuk percaya pada-Mu dan rahmat untuk beristirahat dengan aman pada waktunya dan keabadian dalam keilahian tangan-Mu yang penuh kasih.”

Sebagai Dokter

Dalam pekerjaannya sebagai dokter, Gianna pernah ditentang seorang gadis yang akan melakukan aborsi. Dr. Gianna secara jelas mengatakan pada gadis itu bahwa dia sepenuhnya menentang aborsi karena perbuatan aborsi sungguh-sungguh suatu kejahatan melawan Allah.

Tidak itu saja, sebagai seorang dokter, Gianna juga menulis bermacam-macam penegasan tentang misi para dokter yang sangat penting dan bernilai, dalam lima halaman tulisan yang berjudul “Keindahan Misi Kita”.

“Kita bekerja dalam bidang yang sama di dunia ini pada pelayanan kemanusiaan. Kita bekerja secara langsung dengan orang-orang. Manusia adalah obyek pekerjaan dan pengetahuan kita, dan manusia berkata pada kita “Tolonglah aku!” dan dia mengharapkan dari kita kelangsungan hidupnya.

Yesus mengatakan pada kita bahwa manusia tidak hanya terdiri dari tubuh …. Di dalam tubuh ada roh yang bersifat kekal. Di antara tubuh dan jiwa terdapat jurang pemisah; mereka adalah dua kesatuan yang sangat berbeda satu sama lain. Apa yang Yesus katakan kepada kita? Kamu harus memelihara tubuhmu dengan baik. Allah menyatukan keilahian dengan kemanusiaan bersama-sama secara erat sehingga apa yang kita lakukan sangatlah berharga.”

Sekarang ini, patut disayangkan karena terdapat banyak kedangkalan terjadi dalam pekerjaan kita. Kita mengobati tubuh dan hal ini, beberapa kali, tidaklah cukup. Gianna menunjukkan empat norma para dokter:
  • Kerjakan apa yang menjadi bagian kita dengan sebaik mungkin. Pelajari ilmu pengetahuan kita dengan baik. Hari ini, selain uang ada sesuatu yang harus dicari.
  • Jujurlah dan jadilah dokter yang beriman.
  • Milikilah perhatian yang penuh kasih, berpikir bahwa setiap orang adalah saudaramu. Milikilah kelembutan tertentu.
  • Jangan pernah melupakan jiwa pasien. Kita yang sudah mempunyai kebenaran pada suatu keyakinan tertentu harus memperhatikan untuk tidak akan pernah mencemarkan jiwa. Ini merupakan pengkhianatan. Jagalah untuk tidak menggunakan bahasa yang dangkal. Sebaliknya, berbuatlah baik selalu.


Gianna membuat beberapa refleksinya:

“Kita mempunyai banyak kesempatan yang tidak dimiliki para imam. Misi kita tidak berakhir bila pengobatan yang kita lakukan gagal; ada jiwa yang harus kita bawa kepada Allah dan kata-kata dokter mempunyai wibawa. Setiap dokter harus menyerahkan orang yang sakit kepada imam. Betapa pentingnya dokter-dokter Katolik!”

Dan ia pun menegaskan: “Yesus berkata: siapa saja yang mengunjungi orang sakit, dia menolong Aku – suatu misi keimaman! Seperti imam yang dapat menyentuh Yesus, kita, para dokter dapat menyentuh Yesus dalam tubuh orang sakit, miskin, tua dan muda atau anak-anak. Yesus membuat Diri-Nya terlihat di tengah-tengah kita. Banyak dokter menyerahkan diri mereka kepada-Nya. Ketika engkau menyelesaikan pekerjaanmu di dunia, jika engkau melakukannya dengan baik, engkau akan menikmati kehidupan kekal karena ketika Aku sakit, engkau menyembuhkan Aku.”

Istri dan Ibu

Dalam catatannya Gianna ternyata seorang yang membaca dan merenungkan tentang panggilan. Segala sesuatu mempunyai akhir tertentu. Segalanya mentaati suatu hukum. Segalanya diusahakan sebelum penentuan akhir. Dalam diri setiap manusia, Allah sudah menentukan jalan-Nya, panggilan, kehidupan fisiknya dan kehidupan rahmat. Kebahagiaan duniawi dan kekal kita tergantung pada pekerjaan baik yang kita lakukan. Apa itu panggilan? Panggilan merupakan suatu anugerah Allah karena panggilan itu datangnya dari Allah! Sebelumnya kita haruslah mengenal kehendak Allah.

Karena itu di dalam kehidupannya Gianna selalu berusaha mencari kehendak Allah. Hal ini juga terjadi ketika Gianna bertemu dengan suaminya. Pertemuan dan perkenalan Gianna dengan calon suaminya, Pietro Molla terjadi ketika Gianna merawat kakaknya, Teresina. Saat itu, Gianna meminta petunjuk dari Bunda Maria sebagai penasihat yang baik untuk masa depannya.

Pengurbanan

Ketika Gianna mengandung anaknya yang keempat, dokter mendiagnosa dirinya bahwa ada sebuah kista besar pada indung telurnya yang harus dioperasi. Dokter ahli bedah menyarankan supaya Gianna melakukan aborsi untuk menyelamatkan hidupnya. Akan tetapi, keputusan Gianna tegas dan tepat: “Aku akan menerima apapun yang akan mereka lakukan kepadaku untuk menyelamatkan nyawa anakku.” Pada bulan September 1961, pada usia 39 tahun, Gianna menjalani operasi untuk mengangkat sebuah tumor besar dalam kandungannya yang menyebabkan rasa sakit dan tekanan pada bayi di dalam rahimnya. Dia menyatakan: “Ya, aku banyak berdoa hari-hari ini. Dengan iman dan harapan, aku mempercayakan diriku pada Tuhan … Aku percaya akan Allah, yah… tetapi sekarang terserah aku untuk melaksanakan tugasku sebagai seorang ibu. Aku memperbaharui persembahan hidupku kepada Tuhan. Aku siap untuk segalanya, untuk menyelamatkan bayiku.” Inilah kata-kata yang diucapkannya sebagai ungkapan kepasrahan dan kepercayaannya kepada Tuhan.

Akan tetapi, operasi itu tidak berlangsung baik. Beberapa hari sebelum melahirkan, Gianna berkata kepada Pietro: “Jika engkau harus memutuskan antara aku dan bayi kita, jangan ragu-ragu pilihlah bayi kita, aku mohon, selamatkan dia.” Pada minggu terakhir kehamilannya, dia selalu mengulangi kata-kata, “Apa saja yang Allah inginkan.” Pada hari Jumat Agung, 20 April 1962, Gianna berangkat ke Rumah Sakit Bersalin Monza untuk melahirkan anaknya yang keempat. Lahirlah seorang anak perempuan yang diberi nama, Gianna Emanuela. Gianna meninggal tujuh hari setelah melahirkan anaknya yang keempat Gianna Emanuela. Gianna meninggal pada tanggal 28 April 1962. Dialah Gianna Beretta Molla pelindung para ibu dan keluarga, meninggal sebagai seorang martir cinta keibuan.

Kanonisasi

Pada tahun 1977, seorang wanita muda beragama Protestan berada di Rumah Sakit di Grajau, Brasil. Dia sekarat dan hampir menemui ajalnya setelah melahirkan bayi yang telah mati dalam kandungannya. Hal yang tak terduga, komplikasi yang sangat serius terjadi karena benjolan pada vagina yang tidak dioperasi di rumah sakit itu. Akhirnya pasien ini harus dipindahkan ke suatu rumah sakit khusus di San Luis bertempat lebih dari 600 kilometer jauhnya. Karena jauhnya perjalanan rasanya wanita muda ini tidak akan bertahan hidup.

Seorang perawat, suster Bernardina di Manaus, seorang suster kapusin, sangat mempedulikan kesakitan pasien ini. Ia berdoa pada Gianna Beretta Molla supaya melalui perantaraannya, ibu yang sekarat ini dibebaskan dari rasa sakit dan perjalanan yang sangat dramatis ke San Luis dapat dihindari. Dengan melihat foto kecil Pelayan Allah ini, suster ini berdoa, “engkau adalah kakak dari Bapak Alberto (Pendiri rumah sakit), buatlah benjolan ini sembuh dan perjalanan ke San Luis dicegah.”

Suster Bernardina bersama dua perawat lainnya bersatu dalam doa memohon untuk kesembuhan wanita ini. Segera setelah itu, menurut pengakuan pasien, rasa sakitnya tidak hanya berkurang, tetapi benjolannya pun hilang sepenuhnya.

Pada tanggal 11 April 1978 Kardinal Giovanni Colombo beserta enam belas Uskup dalam Konferensi Uskup di Lambardy meminta Paus Yohanes Paulus II memperkenalkan sebab-sebab beatifikasi bagi Pelayan Allah Gianna Beretta Molla. Dalam surat pengukuhan mereka, para Uskup memohon dengan sangat pemberian gelar atas istri dan ibu ini, yang menggambarkan dia sebagai “suatu model realitas yang penuh pada dunia ini, yang mudah untuk salah mengerti dan menyangkal hak untuk hidup.”
 
“Lihatlah para ibu yang sungguh-sungguh mencintai anak-anaknya, berapa banyak pengorbanan yang mereka lakukan untuk anak mereka. Mereka siap untuk apa saja, bahkan untuk memberikan darah mereka sendiri supaya bayi mereka tumbuh dengan baik, sehat, dan kuat.”

“Seseorang tidak dapat mencintai tanpa menderita atau menderita tanpa mencintai.”

“Meskipun dalam penderitaan, mari kita berkata: Syukur kepada-Mu Tuhan.”

“Rahasia kebahagiaan adalah hidup dari saat ke saat dan bersyukur pada Allah di dalam kebaikan-Nya atas semua yang Dia berikan kepada kita hari demi hari.”

“Ketika seseorang mengerjakan tugasnya tidak perlu kuatir, karena pertolongan Tuhan tidak pernah datang terlambat.”

“Jika seseorang menanyakan seberapa besar penderitaan Yesus, janganlah orang tersebut melakukan dosa yang paling kecil sekalipun.”

Akhirnya, pada tahun 1994, bersama dengan Isidore Bakanja, Paus Yohanes Paulus II, mengesahkan beatifikasi bagi Gianna Beretta Molla. Dia digelarkan “beata” pada tanggal 24 April 1994, dan digelarkan "santa" pada tanggal 16 Mei 2004 oleh Paus Yohanes Paulus II.
www.carmelia.net © 2008
Supported by Mediahostnet web hosting