User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active
 
 
Di sebuah desa yang jauh dari keramaian, tampak seorang kakek duduk di atas kursi malas dekat perapian sambil memanaskan dirinya. Seluruh ruangan terasa hangat dengan adanya perapian tersebut. Dari kaca jendela terlihat butir-butir salju turun menambah dinginnya malam dan tanda musim gugur hampir tiba. Seorang anak kecil duduk di samping kakeknya sambil memperhatikan kayu yang dibakar dalam perapian. Dengan manja ia meminta kakeknya untuk bercerita. Dan kakek itu pun mengabulkan permintaan cucu yang sangat disayanginya

MASA KECIL

Pada suatu hari, tepatnya di Eisleben, Jerman Utara, seorang bayi mungil lahir dan membawa kebahagiaan baru kepada sebuah keluarga. Bayi yang lahir pada tanggal 6 Januari 1256 ini diberi nama Gertrude. Kelahiran bayi ini bukan saja membawa kebahagiaan bagi keluarganya, melainkan kelak membawa pengaruh bagi Gereja dalam kehidupan orang-orang Kristen di Jerman pada masa itu. Hari lepas hari bayi mungil ini bertumbuh dan terus bertumbuh.

Pada usia 5 tahun, orang-tuanya menyerahkan Gertrude kepada para suster Benediktin di Helfta, Rudalsdorf. Namun sayang, nama kedua orangtuanya tidak diketahui dan tercatat. Para suster Benediktin mendidiknya dengan baik dan penuh kasih sayang. Semakin besar Gertrude pun menunjukkan sikap yang menarik hati dan sangat pandai. Perhatian dan kasih sayang yang diberikan oleh para suster Benediktin yang menggantikan posisi orang-tuanya membuat Gertrude terharu dan mengatakan bahwa ia tidak lagi akan meninggalkan dan pergi dari tempat ini. Gertrude juga memiliki seorang sahabat dan guru yang setia dalam biara tersebut, yang bernama Sr. Mechtildis yang diangkat pula menjadi Santa.

Berkat didikkan dari para suster telah membuatnya menjadi seorang yang bersahaja. Gertrude menyadari bahwa setiap saat kehidupan yang dijalani adalah sebagai perjalanan masuk tempat tamasya yang mengasyikkan, semakin jauh dilewati semakin bagus saja pemandangan yang mengagumkan. Ungkapan yang biasa menyertai seluruh perjalanan bagaikan “Aduh bagusnya yang ini … aduh bagusnya yang ini lagi … dan seterusnya.” Yah, segalanya begitu indah. Apabila kita peka akan rahmat Tuhan, maka membuat kita sadar dan sering bersyukur bahwa setiap hari sadar atau tidak kita selalu menerima anugerah Tuhan yang melimpah. Kehidupan yang dihayati Gertrude selama hidupnya inilah yang membawanya pada suatu kesucian.

Gertrude mendapat pendidikan dalam biara Benediktin dengan belajar bahasa latin. Ia seorang pelajar yang sangat pandai dan mendapat pendidikan yang cukup tinggi. Teman-teman sebiaranya mengatakan bahwa dalam akal budinya tidak ada suatu kesalahan dan dalam hatinya tak terlintas segumpal awan mendung kedukaan. Namun sayang berkat pendidikan yang diterimanya, Gertrude menjadi terserap dalam pencarian atau pengejaran literatur sehingga ia mengabaikan perkembangan spiritualitasnya.

HIDUP DAN PENGALAMAN ROHANI

Pada tahun 1281, ketika berusia 25 tahun, Gertrude mendapat pengalaman rohani yang luar biasa berupa visiun dari Kristus sendiri yang akhirnya merubah cara hidupnya secara mendalam. Pengalaman itu berusaha dijabarkan olehnya:

“Saya sadar bahwa saya masih berada di tempat tidur, namun saya merasa seperti berada di ruang koor, dan saya selalu berada untuk berdoa dengan khusuk dan saya mendengar suara yang mengatakan, ‘Saya akan menyelamatkan dan membebaskan engkau, jangan takut.’ Lalu tangan seseorang yang lembut dan manis itu mengangkat saya, sepertinya untuk meyakinkan saya akan janji-Nya. Setelah itu Dia berkata: ‘Kamu telah menghisap debu dari musuh-musuh-Ku dan minum madu dari duri-duri. Sekarang kembalilah kepada-Ku dan kemanisan Ilahi-Ku akan seperti anggur bagimu.”

Akibat dari kata-kata dan pengalaman rohani ini berpengaruh besar dan membawanya untuk berbalik dari cara hidup lama yang telah dijalaninya. Ia mencurahkan seluruh jiwa raganya pada hidup kontemplatif. Baginya, segala daya tarik pengetahuan duniawi telah terkubur dalam-dalam, seluruh perhatiannya hanya ia curahkan dalam doa yang sungguh-sungguh, pada perayaan ibadat atau ekaristi, membaca Kitab Suci dan tulisan-tulisan dari Bapa Gereja terutama St. Agustinus, St. Gregorius Agung, St. Bernardus, dan sebagainya.

Kehidupan spiritual Gertrude penuh dengan pengalaman-pengalaman rohani yang berturut-turut dikaruniakan Tuhan kepadanya. Gertrude yang mempunyai bakat sastra, menuliskan pengalaman-pengalaman yang didapatkan dan banyak memberi sumbangan bagi kehidupan rohani pada masa itu. Kebanyakan ekstasenya terjadi selama perayaan ekaristi sebagai akibat dari kata-kata atau ungkapan tertentu yang memikatnya penuh perhatian seperti ungkapan St. Bernardus. Memang spiritualitasnya secara dominan dipengaruhi oleh Kristosentris, Gertrude juga mempunyai devosi yang besar pada Ekaristi, penderitaan, dan sengsara Kristus yang membawanya semakin dalam kepada permenungan yang bersifat ketuhanan dan kehidupan doa orang beriman. Dia selalu melihat tugas sebagai sesuatu yang mendasar dan membawanya pada seluruh latihan-latihan suci yang merupakan bagian paling agung dari seluruh waktunya. Kegemarannya pada Sang Penebus merupakan obyek yang utama dari devosinya, dalam bermeditasi tentang hal itu, ataupun saat Ekaristi yang membuatnya seringkali tak mampu untuk menahan aliran deras air matanya yang turun.

Dia berbicara tentang Kristus dan misteri kehidupan-Nya yang menawan hatinya, segalanya bagaikan membawa cinta suci sambil menarik orang-orang yang mendengarkannya. Ekstase dan kegembiraan akan cinta Tuhan yang hebat, karunia persatuan dalam doa dengan kekasihnya membuatnya mengatakan tidak ada satu lidah pun yang mampu mengutarakannya. Pada tahun 1284, Gertrude menerima stigmata dalam suatu bentuk yang tidak dapat dilihat dan juga pengalaman ‘transverberasi hatinya.’ Cinta hebat yang membakar dadanya dan memenuhi jiwanya, kelihatan hanya sumber dari seluruh afeksinya dan untuk kemuliaan berharga ini jiwanya yang murni dipersiapkan oleh penyaliban hatinya bagi dunia dengan penyangkalan diri terus menerus terhadap kehendak sendiri, puasa, ketaatan sempurna merupakan sarana untuk mengalahkan kesenangan daging dan menaklukkan apapun yang tidak sesuai dengan kehendak tersuci kekasihnya dalam cintanya yang besar.

Kerendahan hati dan kelembutan sempurna adalah bagian utama dalam usaha mengalahkan si jahat. Semuanya ini meletakkan dasar dari kebajikan yang tertinggi dan penghormatan kepada Kerahiman Tuhan sebagai Allah yang telah memeliharanya. Gertrude pun terpanggil untuk mendoakan jiwa-jiwa yang berada di api penyucian dan para pendosa. Doa yang diajarkan oleh Yesus sendiri dan diminta untuk didoakan olehnya, dengan janji setiap kali doa ini didaraskan akan membebaskan seribu jiwa di api penyucian. Inilah doa yang dikatakan oleh Yesus sendiri dan direkomendasikan oleh Kardinal Pahiarcha dari Lisbon, Portugal pada tanggal 4 Maret 1936 sebagai sebuah doa:

“Bapa yang kekal, kupersembahkan kepada-Mu, Darah termulia Putra-Mu ilahi, Tuhan kami Yesus Kristus, dalam persatuan dengan kurban Misa Kudus yang dipersembahkan di seluruh dunia pada hari ini, bagi jiwa-jiwa yang berada di api penyucian, bagi para pendosa di manapun mereka berada, bagi para pendosa di dalam gereja juga bagi mereka yang kucintai. Amin.”

Kesahajaan yang ada dalam diri St. Gertrude tidak membuatnya menjadi sombong. Meskipun ia sudah memiliki talenta-talenta alamiah yang besar, karunia yang luar biasa akan penghormatan kepada Tuhannya, tetapi pikirannya hanyalah diisi dengan perasaan paling dalam akan ketiadaan dirinya, kehinaan, dan ketidaksempurnaannya saja. Diungkapkan oleh Gertrude dengan kata-kata yang indah,
“Baginya salah satu hal yang paling besar dari semua mukjizat dari Tuhan yang Mahabaik adalah kekuasaan Tuhan yang Maha agung yang rela menderita di bumi untuk menanggung dirinya yang hina ini.”
Menyadari akan segalanya menyebabkan ia tidak merasa sebagai pemimpin dalam biara, melainkan ia melakukan segala sesuatu seperti seorang pelayan yang paling bawah dalam biara. Gertrude berusaha menerima tugas-tugas yang diperintahkan oleh Martha kepada Maria saudaranya tanpa mengeluh dan membantah dengan berusaha mengurus semua kebutuhan dari setiap orang yang dijumpainya dan menyediakan segalanya bagi mereka, terutama bantuan rohani yang membawa kekasihnya semakin dikenal.

Pengalaman jiwanya yang di dapat bukan saja dari Yesus yang merupakan kekasihnya, tetapi juga dari Bunda Maria yang menampakkan diri kepadanya. Devosinya yang mendalam kepada Bunda Maria bersumber dari cinta kepada Putera Allah.

Gambaran kehidupan dari jiwanya yang murni dan suci dapat dilihat dalam buku yang ditulisnya tentang kemenangan ketuhanan atau komunikasi dan perasaan cinta. Tulisan yang dibuat oleh Gertrude menggambarkan pertobatan rohaninya dan seperti banyak orang mistik yang lain, ia merasa dipilih menjadi pengantin perempuan Kristus, dimana tulisannya menekankan kepada penderitaan dan Hati Kudus Yesus. Tulisan-tulisannya dapat disejajarkan setingkat dengan tulisan dari St. Teresa Avila yang juga merupakan seorang mistikus wanita.

Ia yang termasuk salah seorang wanita mistik akibat pengalaman dan tulisannya yang mengandung suatu cinta dan keadaan kontemplatif, bersama sahabat dan gurunya dalam biara yaitu St. Mechtildis, ia mempraktekkan cara hidup rohani Mistisisme Perkawinan, yaitu hubungan mesra dengan Yesus yang membawa ke dalam hidup Tritunggal Mahakudus. Maka, dikatakan Gertrude adalah salah seorang perintis dan pendevosi Hati Yesus yang Mahakudus yang sangat rajin dan melihatnya seperti sinar kemuliaan, suatu harta kekayaan, sebuah lampu yang tergantung antara surga dan bumi sebagai tempat tinggalnya. Semua pengalaman itu ditulis oleh Gertrude dalam bukunya “Bentara Cinta Ilahi atau The Herald of Divine Love”  Dan tulisan Gertrude yang paling sempurna yaitu “Spiritual Exercise” dimana dalam tulisan ini menunjukkan pula suatu pengaruh Dominikan yang sangat kuat, walaupun lebih dipengaruhi oleh kristologi St. Bernardus.

St. Gertrude sungguh berkenan dihadapan kekasihnya dan berkat latihan-latihan yang telah dilakukan olehnya, membawa perbaikan pada zaman itu akan cinta kepada Tuhan, kecenderungan mengejar suatu hubungan persatuan yang paling dekat dengan Tuhan melalui keinginan yang membakar dan cinta yang paling murni dan ditujukan pada waktu yang sama untuk memindahkan seluruh halangan pada persatuan ini. Gertrude memohon agar jiwanya dibersihkan dan dimurnikan cintanya yang dilakukan dengan air mata penyesalan, dengan penolakan keinginan duniawi dan hawa nafsu, dan penyangkalan diri yang sempurna akan dirinya. Dan ia pun berdoa demi penghormatan kepada cinta Tuhan yang Mahakuasa terutama melakukan latihan-latihan dalam jiwa dengan terus-menerus mengingat kebaikan Tuhan dan keinginan yang kuat untuk mencintai Dia setiap saat, menaikkan pujian dan syukur serta belajar untuk mati bagi diri sendiri dan dengan tulus hati melakukan kerendahan hati, laku tapa, menderita, kesabaran, kelembutan dan penyangkalan diri bagi orang lain untuk mendapatkan belaskasihan Tuhan.

Santa Gertrude dapat diibaratkan seperti seekor kura-kura yang murni yang tidak pernah diganggu rintihan keluh kesah manisnya, mengakui tiadanya hiburan manusiawi yang mampu mengalahkan kegembiraan di dalam pengharapan dan cinta yang menjadi tanda sempurna akan kehendak Tuhan dalam kunjungan Roh Kudus dalam penderitaan untuk membuktikan cintanya kepada Sang Penebus.


AKHIR HIDUP

Pada akhirnya, Santa Gertrude diperkenankan untuk memeluk kerabat surgawinya pada tanggal 16 November 1302. Cinta yang mendalam terhadap Tuhan yang merana, mengalahkan sakit demam yang dideritanya. Doa yang diucapkan sebelum kematiannya telah membuktikan betapa besar cintanya kepada kekasih surgawinya dan kerinduan agar semua di dunia ini menyadari cinta yang telah diberikan kekasihnya. Inilah doa terakhir yang diucapkannya:

“Aku mengucap syukur dengan sepenuh hati, Oh Tuhan, Penciptaku dan Penciptaku kembali, atas belas kasih-Mu yang tiada batasnya, karena dari sumber kebaikan-Mu yang berlimpah, Engkau telah memberitahukan kepadaku bahwa siapapun yang teringat padaku … demi kemuliaan-Mu baik melalui doa bagi orang berdosa, atau melalui ungkapan syukur atas orang-orang pilihan, ataupun melalui perbuatan baik lainnya, ia tidak akan meninggalkan dunia ini sebelum Engkau menganugerahkan rahmat-Mu kepadanya agar berkenan kepada-Mu, supaya menata hatinya sehingga Engkau sudi kiranya berkenan kepadanya. Untuk itu kupanjatkan puji syukur abadi kepada-Mu, syukur tanpa henti-hentinya akan terpulang pada cintakasih abadi, darimana asal cintakasih itu.”
  
Cinta yang besar memenuhi jiwanya dalam penghiburan yang termanis dalam kehadiran Roh Kudus. Kemuliaan kematiannya dirasakan karena ia boleh memandang Tuhannya sebagai kekasihnya.

Segala jasa yang telah dilakukan oleh Santa Gertrude semasa hidupnya dan menyumbang banyak dalam bidang liturgi sangat dihargai dalam ofisi Roma dan segala karyanya disimpan di tempat khusus dalam istana Brunswick-Lunenbourg sebagai sebuah tempat suci yang kaya.

Ditemani sebuah lilin kecil di sebuah pondok sederhana, kini anak kecil itu telah tumbuh berkembang menjadi seorang wanita dewasa, namun kenangan akan cerita kakeknya yang telah lama itu masih membekas dalam hatinya. Nama itulah yang kini dipakainya sebagai ibu rohaninya di dalam menjawab panggilan Tuhan. Dan sebuah permohonan terucap dari bibirnya dan hanya disaksikan oleh sebuah lilin:

“Santa Gertrude doakan putrimu ini yang berlindung dalam namamu agar sampai pada pengalaman yang sama seperti engkau yang telah berbahagia di surga dan mencintai Yesus Kristus Sang Pencipta dan kembali dalam pelukan Sang Pencipta.”

(Sumber: Buttler, The Lives of The Saints, Volume IV, Traditional Catholic Spiritual, dan sumber lainnya)

www.carmelia.net © 2008
Supported by Mediahostnet web hosting