Print
Hits: 264
Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 

Related image

BEATO HILARIUS JANUSZEWSKI, IMAM DAN MARTIR

 

RIWAYAT HIDUP

Beato ini adalah salah satu orang kudus yang pernah tinggal di Centro Internazionale Sant’ Alberto (CISA = rumah studi internasional Ordo Karmel), Roma. Hilarius dilahirkan di Krajenki, Polandia pada 11 Juni 1907. Ia diberi nama baptis, Pawel. Orang-tuanya bernama Martin dan Marianne. Ia mendapat pendidikan Kristiani dengan baik di dalam keluarga. Kemudian orangtuanya pindah ke Kota Greglin (1915) dan Hilarius juga bersekolah di kota tersebut, tetapi karena alasan ekonomi, ia sempat putus sekolah. Kemudian, ia melanjutkan sekolah ke Krakow dan di kota ini ia mengenal Ordo Karmel yang kemudian dimasukinya pada tahun 1927 dengan nama biara, Hilarius.

Satu tahun kemudian, pada 30 Desember 1928, Hilarius mengikrarkan kaul pertama dan melanjutkan studi filsafat teologi. Kemudian ia melanjutkan studi di Roma, di Centro Internazionale Sant’ Alberto. Di pusat studi ini, Hilarius hidup dengan Karmelit yang berasal dari berbagai negara untuk studi filsafat teologi atau spesialisasi. Ia ditahbiskan menjadi imam pada 15 Juli 1934 di Roma.

Setelah menyelesaikan spesialisasi di Angelicum, Roma, Hilarius kembali ke Polandia dan menjadi dosen dogma dan sejarah Gereja. Di samping tugas-tugasnya dalam pendidikan, pada tahun 1939 ia juga menjadi Prior di komunitas studi tempat ia tinggal, di Krakow.

Sayang, ia menjabat tugas ini sangat singkat karena pada 1 September 1939, Jerman menyatakan perang kepada Polandia. Saat-saat genting muncul di mana-mana di Polandia. Duapuluh hari kemudian (21 September 1939) Soviet (sekarang Rusia) juga memerangi Polandia dari Timur untuk membendung serangan Jerman. Polandia terjepit di tengah-tengah. Banyak masyarakat meninggal dalam suasana mengerikan dan banyak biarawan-biarawati ditawan di kamp konsentrasi Jerman.

Para Karmelit Krakow juga tidak luput dari penangkapan, seperti A. Urbanski, A. Wszelaki, M. Nowakowski dan P. Majcher. Pada waktu itu P. Konoba dari komunitas Hilarius, seorang Karmelit tua dan sakit-sakitan, juga akan ditangkap. Tetapi Hilarius menawarkan diri untuk menggantikan Konoba. Tentu sikap ini adalah sikap pengorbanan yang paling berharga dalam hidup Kristiani, berani mengorbankan hidup untuk saudara.

Hilarius pun ditangkap dan dipenjarakan di Gunung Serigala, di Krakow dan kemudian ia dipindahkan ke kamp konsentrasi Jerman, di Dachau. Ia meninggalkan tulisan: Inquisitio historico critica in quaestionem de consecratione ciborii ex oblivione extra corporale derelicti, Theologia moralis, Swietymi badzcie: Konferencje i teksty ascetyczne dan Wspomnienia, 1835 – 1877.

Pada tahun 1945, kekuatan militer Jerman semakin melemah dan suasana di kamp konsentrasi semakin tidak terkendali baik itu dalam pemeliharaan dan terutama dalam kesehatan. Penyakit kolera dan tifus menimpa banyak tahanan. Pada waktu itu di kamp ini juga terdapat beberapa Karmelit, termasuk Titus Brandsma. Suasana seperti ini, Hilarius bertindak sebagai penolong mereka yang sakit. Dalam suatu kesaksian tahanan, ia berkata kepada Bernard Czaplinski (yang kemudian menjadi Uskup Chelm, setelah perang dunia), “Saya sadar bahwa saya tidak bisa keluar dari tempat ini hidup…”Memang benar, ia tidak meninggalkan Dachau sebelum ia meninggal. Ia juga tidak luput dari penyakit tifus dan setelah 21 hari sakit, ia menghembuskan napasnya yang terakhir di Dachau pada 26 Maret 1945, beberapa hari sebelum hari pembebasannya dari kamp konsentrasi. Jenazahnya dikremasi di Dachau.

KULTUS

Proses beatifikasi Hilarius berjalan lancar dan tidak mengalami hambatan berarti. Hasilnya, ia sudah dinyatakan Beato pada 13 Juni 1999. Perayaan Hilarius dirayakan secara fakultatif setiap tanggal 12 Juni. Jadi, peringatannya tidak disesuaikan dengan tanggal kematiannya, tetapi lebih ditekankan pada hari beatifikasi.