User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active
 

Masa Kecil

     St. Hildegard dilahirkan di Bermersheim, di daerah Nahe, Jerman pada tanggal 16 September 1098. Selama masa kecilnya keadaan fisik Hildegard tidak begitu baik. Ia sering sakit. Akan tetapi, sakitnya tidak membuatnya menjadi malas. Hildegard sangat rajin belajar. Ia mempelajari dengan baik cara membaca dan menyanyi dalam bahasa Latin.

Ketika Hildegard berumur 8 tahun, orang tuanya mempercayakannya kepada Jutta, saudara dari Pangeran Meginhard dari Spanheim. Jutta ini dikenal sebagai seorang pertapa yang tinggal di sebuah pondok yang berdampingan dengan gereja biara yang didirikan oleh St. Disibod di Dienssenberg. Di tempat ini Hildegard merasa sangat senang. Ia begitu bersemangat menjalani kehidupannya bersama Jutta. Hildegard tak pernah memedulikan kesehatannya yang kurang baik. Ia selalu tersenyum dan belajar dengan giat. 

Memulai Hidup Membiara

Ketika Hildegard berumur 15 tahun dan dianggap cukup dewasa untuk menjadi seorang biarawati, Jutta menerimanya untuk bergabung dalam pertapaannya bersama dengan beberapa calon lain. Komunitas ini mengikuti regula dari St. Benediktus.

Hildegard hidup dalam komunitas dengan hati yang gembira. Tak ada yang istimewa yang ia kerjakan, namun semuanya selalu membuat ia bersukacita. Memang jika dilihat dari luar, kehidupan Hildegard tidak terlalu istimewa, namun sebenarnya ia bertumbuh dalam rahmat Tuhan yang begitu besar. Setelah bertahun-tahun hidup dalam biara, suatu saat Hildegard menyadari ada sesuatu yang tidak biasa yang dialaminya. Ia merasa dapat mengetahui hal-hal yang akan datang saat ia sedang bercakap-cakap. Seakan-akan ia meramalkan masa depan yang belum terjadi. Ketika ia sedang terserap pada apa yang dilihatnya, biasanya ia akan mengatakan beberapa hal yang aneh bagi orang lain. Hal semacam ini membuatnya merasa malu dan sering menangis, bahkan pernah ia merasa ingin mati saja. Hildegard menjadi ketakutan untuk menceritakan apa yang dilihatnya kepada orang lain, kecuali kepada seorang perempuan yang dipercayainya dan juga kepada beberapa rahib yang dikenalnya.

Menjadi Pemimpin Biara yang Baru

Pada tahun 1136 Jutta meninggal dunia dan Hildegard terpilih untuk menjadi penggantinya sebagai pemimpin biara. Hildegard menerima tugas tersebut dengan hati rela dan dengan rasa cinta yang besar kepada Tuhan. Ia bertekad untuk mempersembahkan segala yang terbaik bagi Tuhan yang dicintainya. Hildegard sangat memperhatikan kehidupan para suster di biaranya. Ia menjadi seorang pemimpin yang baik dan bijaksana.

Pengalaman-Pengalaman Rohani

Hildegard yang begitu dekat dengan Tuhan, semakin hari semakin merasakan ada hal-hal aneh yang dialaminya. Pernyataan-pernyataan dan penglihatan yang diperolehnya membuat Hildegard merasa tertekan. Ia merasa bingung dan tidak tahu harus berbuat apa. Di saat ia merasa tertekan itu, tiba-tiba ia seakan mendengar bisikan halus dalam hatinya yang menyuruhnya untuk menuliskan apa yang dialaminya. Bisikan dalam hatinya itu membuat ia bingung karena ia juga merasa takut akan tanggapan dan ejekan orang lain. Namun, sekali lagi ia mendengarkan dalam hatinya sebuah suara yang lembut berkata, “Akulah Sang Terang Kehidupan dan Yang Tak Terhampiri, dan Aku menerangi siapa saja yang Kukehendaki. Menurut kerelaan-Ku, pada masa ini Aku menunjukkan keajaiban-keajaiban yang lebih besar atas hamba-hamba-Ku daripada pada masa lampau.”

Setelah mendengarkan suara Tuhan itu, akhirnya Hildegard memberanikan diri untuk menceritakan apa yang dialaminya kepada bapa pengakuannya, Rahib Godfrey. Ia juga mengizinkan Rahib Godfrey untuk menceritakan pengalaman-pengalamannya itu kepada Rahib Conon, pemimpinnya. Rahib Conon inilah yang kemudian menyuruh Hildegard untuk menuliskan beberapa hal yang telah dinyatakan Tuhan kepadanya.

Hildegard dan Rahib Conon kemudian mulai membicarakan beberapa hal, seperti: karya cintakasih Kristus, kerajaan Allah, para malaikat kudus, setan, dan neraka. Oleh Conon, tulisan-tulisan itu kemudian disampaikan kepada Uskup Agung Mainz untuk dipelajari bersama para teolog lainnya, yang akhirnya menyatakan keputusan bahwa penglihatan-penglihatan itu memang berasal dari Tuhan. Kemudian seorang rahib yang bernama Volmar ditunjuk untuk membantu Hildegard menuliskan penglihatan dan pesan yang diterimanya dari Tuhan. Hildegard pun kemudian menyusun sebuah buku yang diberi judul Scivias. Buku ini selesai dalam waktu sepuluh tahun dan berisi 26 penglihatan yang berhubungan dengan relasi antara Tuhan dan manusia melalui penciptaan, penebusan, dan Gereja. Selain itu, buku ini juga berisi ramalan-ramalan akhir zaman, peringatan dan ungkapan puji-pujian yang semuanya dinyatakan dalam bentuk simbolik (kiasan).

Pada tahun 1141 Hildegard berkata, “Seberkas cahaya yang mempesona datang dari surga yang terbuka dan menembus pikiran dan hatiku seperti sebuah nyala api yang panas tetapi tidak membakar, seperti sengat matahari melalui sinarnya. Dan tiba-tiba aku tahu dan mengerti penjelasan-penjelasan dari mazmur-mazmur, Injil, dan kitab-kitab Katolik dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, tetapi bukan interpretasi terhadap teks, tanda-tanda baca dan tatabahasanya.”

Pada tahun 1147 ketika Paus Eugenius III datang ke Treir, Uskup Agung Mainz menyerahkan tulisan Hildegard kepadanya. Paus Eugenius kemudian menunjuk sebuah komisi untuk menyelidiki Hildegard dan tulisan-tulisannya. Setelah menerima laporan dari komisinya, ia mendiskusikannya dengan para penasihat, termasuk St. Bernardus dari Clairvaux. St. Bernardus inilah yang kemudian meminta Paus untuk menyatakan bahwa penglihatan Hildegard adalah benar. Paus kemudian menyatakan kekaguman dan kebahagiaannya kepada Hildegard atas karunia Tuhan yang istimewa ini. Beliau mengingatkan Hildegard untuk tetap rendah hati dan tidak menjadi sombong. Beliau juga memberi izin kepada Hildegard untuk mempublikasikan apa saja yang diilhamkan oleh Roh Kudus dan meminta Hildegard untuk hidup bersama para susternya di tempat yang telah dilihatnya dalam penglihatan, serta tetap setia pada regula St. Benediktus.

Pindah ke Rupertsberg

Karena jumlah para suster semakin banyak, sedangkan tempat di mana mereka tinggal saat itu tidak memadai lagi, maka Hildegard memutuskan untuk pindah ke Rupertsberg. Akan tetapi, perpindahan ini rupanya mendapat pertentangan keras dari kalangan para rahib St. Disibod. Hal ini disebabkan pimpinan biara mereka merasa seakan-akan disaingi oleh popularitas relikwi Beata Jutta dan reputasi Hildegard. Ia menuduh Hildegard bertindak sombong. Menanggapi hal itu, Hildegard hanya mengatakan bahwa ia melakukan semua itu karena ia mendapat pernyataan dari Tuhan supaya memindahkan suster-susternya ke tempat yang telah ditunjukkan, yaitu sebuah bukit yang terbuka di atas Rhine, dekat Bingen.

Selama perselisihan dengan para rahib St. Disibod itu, kesehatan Hildegard mulai terganggu dan ia pun jatuh sakit. Mendengar hal tersebut, Rahib Conon segera datang dan menyuruh Hildegard untuk bangkit dan segera pergi ke Rupertsberg. Karena taat, maka ia segera bersiap dan pindah bersama para susternya. Perpindahan ini dilakukan antara tahun 1147–1150.

Setelah menempati daerah yang baru, Hildegard kemudian melanjutkan kehidupannya bersama para susternya dengan gembira. Pada saat-saat rekreasi bersama, Hildegard sering juga menciptakan dan menulis banyak hymne dan lagu Gereja, lengkap dengan notasinya dan cara memainkannya dengan alat musik. Ia juga banyak menciptakan lagu-lagu untuk koor yang disebut Ordo Virtutum.

Tulisan-Tulisan dan Suratnya

Hildegard adalah orang yang senang menulis. Untuk bacaan di refter, ia menuliskan lima puluh kotbah secara alegori. Ia juga menulis surat yang bersifat sangat profetis (kenabian) dan peringatan. Karena surat-surat inilah, ia menjadi terkenal. Di satu pihak banyak orang yang datang untuk berkonsultasi dengannya, namun di lain pihak banyak juga orang yang mencela, menganggap Hildegard sebagai seorang penipu, tukang sihir, atau orang yang kerasukan. Menghadapi semua itu Hildegard tidak menjadi goyah, ia tetap setia menulis surat-suratnya.

Maksud dan isi dari tulisan-tulisan yang dihasilkan oleh Hildegard seringkali tersembunyi dalam simbolisme yang sulit, namun ketika ia sedang marah, ia menulisnya dengan jelas. Pernah suatu ketika Uskup Agung Mainz menulis surat kepada Hildegard dengan maksud supaya mengizinkan seorang susternya yang bernama Sr. Richardis untuk menjadi pimpinan biara di tempat lain. Hildegard menjawab dengan keras. Ia mengatakan, “Semua alasan yang diberikan untuk Suster itu tidaklah berarti di hadapan Tuhan. Roh Allah yang pencemburu berkata, ‘Menangislah, hai Pastor, karena kamu tidak tahu apa yang kamu lakukan. Kamu membagi rahmat demi kepentinganmu sendiri dan menyia-nyiakan rahmat itu untuk orang yang jahat dan tidak percaya. Dan kamu sendiri bangkitlah, karena hari-harimu dihitung.’” Tak lama setelah peristiwa itu, Uskup Agung Mainz diberhentikan dan kemudian meninggal.

Hildegard juga banyak menulis surat kepada para pembesar dan memberikan kritikan-kritikan terhadap mereka yang berbuat tidak baik. Ia pernah menulis kepada Uskup di Speyer dan mengatakan bahwa perbuatan Uskup tersebut sangat buruk sehingga tak mungkin jiwanya dapat hidup. Kepada Raja Conrad III, Hildegard pernah menulis supaya Raja itu mau mengubah kehidupannya, kecuali jika ia tak tahu malu. Walaupun Hildegard banyak memberikan kritikan terhadap orang-orang besar itu, namun ia tidak mengatakan tuduhan itu dari dirinya sendiri. Ia menulis kepada St. Elisabeth dari Schonau, “Saya adalah perahu dunia yang sederhana dan saya mengatakan semuanya ini bukan dari diriku sendiri, melainkan dari Sang Cahaya yang Cerah.” Pernyataan itu mendatangkan kritikan dan kecaman terhadap dirinya.

Perjalanan di Luar Biara

Dalam biara, Hildegard banyak meluangkan waktu untuk menulis. Namun, pada kesempatan lain ia juga melakukan aktivitas di luar biara. Sekitar tahun 1152–1162 Hildegard melakukan beberapa perjalanan di Rhineland. Dalam perjalanannya itu ia mendirikan biara di Eibingen, dekat Rudeshiem.

Hildegard juga melakukan kunjungan resmi pimpinan biara atau biasa disebut visitasi. Ia tak segan menegur para rahib dan suster yang kurang disiplin dalam biara-biara di Rhineland. Dalam perjalanannya itu Hildegard tak pernah berhenti menulis. Dalam setiap kesempatan yang ada, di mana pun ia berada, Hildegard tetap menulis. Karya-karya yang dihasilkannya antara lain dua buku tentang obat-obatan dan sejarah alam. Ia juga menulis tentang tubuh manusia dan tentang sebab, gejala, dan perawatan penyakit-penyakit ringan. Hildegard merupakan seorang yang sungguh-sungguh kuat dan tangguh. Dalam segala keadaan, juga dalam menghadapi berbagai tantangan, ia tak pernah goyah dan mundur.

Jatuh Sakit dan Akhir Hidupnya

Ketika Hildegard mengadakan perjalanan, kesehatannya mulai terganggu. Hildegard pun jatuh sakit. Namun, ia tetap bersemangat dan tidak pernah menunjukkan penderitaannya itu. Ia berusaha untuk terus bekerja dan melakukan akitivitasnya seperti biasa, lebih-lebih ia tetap menulis dan menulis.

Dalam tahun-tahun terakhir hidupnya, Hildegard juga mendapat masalah besar dengan pihak Dewan Gereja Mainz dan keuskupannya. Dengan adanya masalah itu kesehatan Hildegard semakin memburuk. Sakit yang dideritanya semakin membuatnya tak berdaya. Hal ini juga disebabkan oleh matiraganya yang terlalu keras. Hildegard tak bisa berdiri dengan tegak dan harus dibantu untuk berjalan dari satu tempat ke tempat yang lain.

Kondisi yang semakin lemah itu tetap tidak membuat Hildegard berhenti dari segala tugasnya. Ia selalu berusaha melakukan segala sesuatu yang berarti: memberikan nasihat-nasihat, menjawab pertanyaan-pertanyaan yang membingungkan, menulis, mengajar para susternya, mendorong para pendosa yang datang kepadanya untuk bertobat, dan banyak hal lain lagi.

Kondisi tubuh yang semakin melemah membuat Hildegard akhirnya menyerah. Ia meninggal dunia pada tanggal 17 September 1179. Proses kanonisasi untuk Hildegard dilakukan sampai dua kali. Ia terkenal sebagai seorang santa dalam “Roman Martirologi”. Relikwi beberapa bagian tubuhnya disimpan di beberapa keuskupan di Jerman sampai sekarang.

www.carmelia.net © 2008
Supported by Mediahostnet web hosting