User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active
 

KELAHIRANNYA

St. Euphrasia (Euphrasia artinya:pidato yang indah) lahir pada tanggal 31 Juli 1796, dengan nama Rose Virginia Pelletier, di suatu pulau yang indah yaitu Pulau Noirmoutier, Perancis. Ia berasal dari keluarga menengah ke atas, ayahnya seorang dokter bernama Dr. Julien Pelletier dan ibunya Ny.Paelletier memiliki sifat sosial yang tinggi. Ibunya sering membantu karya suaminya, menolong orang-orang yang menderita. Ia diberi nama Rose Virginia Pelletier oleh orang tuanya karena pada saat dilahirkan ia adalah seorang bayi yang kecil, mungil, merah bagaikan sekuntum bunga mawar. Sedangkan Virginia diambil dari nama Bunda Perawan Maria. Ia dilahirkan bertepatan dengan pesta St. Ignatius, dalam masa yang amat sulit akibat revolusi Perancis.

Revolusi dan kekuasan teror menghancurkan segala perdamaian. Yang dirasakan hanyalah penderitaan dan ketakutan. Begitu pula yang dialami oleh orang tua St Euphrasia, sehingga mereka pindah ke Pulau Noirmoutier, tetapi di pulau itu banyak pula gangguan-gangguan besar, Gereja ditutup dan dicemari oleh kaum revolusioner, orang katolik dianiaya, dikejar dan dibunuh. Hidup keluarga Pelletier juga sering diancam bahaya.

Oleh karena bertumbuh dalam suasana yang demikian itu, St Euphrasia dipenuhi cinta yang sangat besar kepada Gereja, punya semangat keberanian dan iman yang teguh. Kejadian-kejadian yang menuntut keberanian dan sikap kepahlawanan merupakan peristiwa yang biasa, tetapi ini meninggalkan kesan yang sangat dalam dan kuat di dalam jiwanya. Ia terus bertumbuh sehat dan kuat, periang dan jujur, disertai semangat yang hidup yang tulus iklas. Orang-orang miskin sering sekali mengunjungi keluarga ini. Keluarga Pelletier banyak menolong orang-orang yang miskin dan juga orang yang tidak memiliki keluarga. Orang tuanya mengajar supaya St. Euphrasia memandang anak-anak yang malang itu sebagai saudara-saudara dalam Kristus. Ia sangat dicintai oleh orang tuanya, namun mereka tetap bijaksana, sehingga cinta yang besar itu tidak berlebihan sampai membahayakan pertumbuhannya. Dia sangat mencintai hidupnya, mencintai orang lain dengan kasih sayang yang hangat dan iapun sangat menyukai alam.

TERTIMPA DUKA

Pada pesta ulang tahunnya yang ke-11 dan juga menjelang komuni pertamanya, St. Euphrasia mengalami peristiwa yang sangat menyedihkan. Ayah yang sangat dikasihinya meninggal dunia, setelah menderita sakit beberapa hari, pada usia 54 tahun. Ia sangat terpukul sekali dengan kematian ayahnya. Segala kebahagiaan dan kesenangan lenyap sama sekali baginya, kematian ini menimbulkan kekosongan yang sangat dalam di hatinya. Dia sudah merencanakan dan membayangkan bahwa di hari pertama menyambut Yesus, ia akan didampingi oleh orang tuanya.

Melihat keadaan putrinya, ibunya tidak lagi menghiraukan dukanya sendiri, ia menghiburnya. St. Euphrasia yang sangat cerdas segera menyadari bahwa ia malahan menambah duka ibunya. Maka demi ibu yang sangat dikasihinya, ia berusaha menyembunyikan perasaan hatinya sendiri.

Komuni pertama yang disambutnya memberikan penghiburan dan kebahagiaan yang tersendiri.Yesus menginginkan dia menjadi mempelai-Nya. St. Euphrasia menyambut keinginan Yesus dengan rela hati, dia bersedia menjadi milik Yesus. Katanya kepada ibunya, “Hari Komuni Pertama sungguh merupakan hari bahagia surgawi.”

Setahun setelah ayahnya meninggal, saat usia 12 tahun, St. Euphrasia harus masuk sekolah yang resmi. Dalam bulan-bulan pertama, dia merasakan masalah yang berat. Peraturan dalam sekolah membuat dia kehilangan kebebasannya. Karena selama ini, ia hanya mendapatkan pelajaran privat saja di rumahnya. Sekolah itu mengalami kesulitan yang besar karena sifat seorang anak yang sangat lincah dan bebas dan ia sendiri juga mengalami siksaan yang sangat berat.

Kata seorang suster kepadanya, “ Kau harus jaga diri sedikit, anakku; dengan tingkah laku seperti itu, kau akan menjadi orang suci…….atau setan?” Dia membelalakkan matanya keheran-heranan. “Mengapa tidak, suster?, Saya ingin menjadi suster!” Suster itu terkejut. Tidak terduga olehnya bahwa ia akan mendapat jawaban demikian dari anak itu. “Dengan kelakuan seperti itu; apa kau benar-benar memikirkan hal itu? St. Euphrasia mengangguk, “aku tahu bahwa aku masih harus banyak belajar, tetapi aku memang ingin menjadi suster.” Ibunya sangat mengerti keadaan anaknya, ia mengerti bahwa ini bukanlah suatu perjuangan yang mudah bagi anaknya. Ibunya sering memberi nasehat kepadanya dan dengan rela hati ia mengikuti nasehat dari ibunya. Perlahan-lahan, dia mulai menyukai sekolah tersebut dan teman-temannya. Akan tetapi keadaanini tidak berlangsung lama, kira-kira pada saat ia berusia 14 tahun, ibunya jatuh sakit. Lalu ibunya memutuskan untuk membawa kedua anaknya yang terkecil pindah ke Shoullans, Perancis; dimana anak-anaknya yang lebih tua telah menetap di sana. Jikalau pada suatu hari ibunya meninggal, dia telah meninggalkan anak-anaknya dalam tangan yang aman, ditengah keluarganya sendiri.

Tentu saja keputusan ini menyedihkan hatinya, dimana dia mulai menyukai sekolah dan teman-temannya, sekarang dia harus meninggalkannya dan masuk sebuah asrama sekolah di kota Tours. Perpisahan dengan ibunya sangat menyedihkan hatinya. Selama ini,dia tidak pernah berpisah dengan ibunya, St.Euphrasia sangat mencintai ibunya dengan cinta yang tulus. Pada saat mengucapkan kata-kata perpisahan, tidak terbayangkan sama sekali oleh ibu maupun anak, bahwa oleh penyelenggaraan Tuhan, mereka tidak akan berjumpa lagi dalam hidup ini. Seandainya dia menyadari adanya kemungkinan terjadi semacam ini, pastilah ibunya tidak akan membiarkan putrinya pergi. Ny. Pelletier meninggal dengan tiba-tiba, sewaktu St. Euphrasia dalam tahun ketiga belajar di sekolah itu. Kesehatannya merintangi dia untuk mengunjungi putri terkasihnya.

Oleh karena Tuhan telah menyiapkan dia, bahwa nantinya ia akan menyelenggarakan sekolah-sekolah yang menyenangkan bagi anak-anak perempuan maka ia sendiri harus mengalami bagaimana rasanya mempunyai seorang kepala sekolah yang tidak simpatik.

Allah menyucikan jiwanya, mengumpulkan tetesan air matanya untuk dijadikan kurban bagi jiwa-jiwa. Memang mahal sekali, tetapi dari pembawaannya St. Euphrasia memang seorang periang dan gemar akan hal-hal yang lucu, dapat mengatasi segala macam percobaan itu.

MENEMUKAN PANGGILAN

Semua pengalaman di masa kecilnya sampai dia dewasa membuat dia rindu untuk menolong sesamanya yang menderita. Maka pada tahun 1814, ia memutuskan untuk memasuki masa Novisiat Bunda Pengasih dari Refuge (perlindungan orang berdosa). Walaupun sempat juga dia mengalami tantangan dari keluarganya, terlebih saudara iparnya, tetapi karena keteguhan niatnya, St. Euphrasia mampu membuktikan kesungguhan tekadnya itu. Di dalam tarekat itulah ia membaktikan dirinya, ia bekerja untuk keselamatan gadis-gadis remaja dan kaum wanita. Ia memang diciptakan dengan kemampuan istimewa untuk menarik dan menghibur jiwa-jiwa dengan kata-kata yang lembut. Pada 9 September 1817, St. Euphrasia mengikrarkan kaulnya dan ia sudah siap menjalankan karya-karya besar yang tengah menantikannya.

PEMIMPIN BIARA TOURS

Dalam tahun 1825, St.Euphrasia diangkat menjadi Pemimpin Biara Bunda Pengasih di Tours. Ia merasa dirinya tidak layak untuk tugas itu dan tidak pernah membayangkan akan menjadi superior para biarawati yang lebih tua dari dirinya. Ia ingin menolak jabatan yang diberikan kepadanya itu melalui dispensasi istimewa dari Bapa Suci, karena umurnya baru 28 tahun, tetapi ternyata tidak dapat. Para suster mengenal dan mengakui bakat-bakat yang menyolok melebihi mereka sendiri dan karena itu mereka mendesaknya untuk menerima pengangkatan itu.

Allah memberkati segala usahanya dengan limpah, suatu karya yang telah dikhususkan oleh Allah ke dalam tangannya yang cakap itu ialah mendirikan Pusat Gembala Baik.St. Euphrasia masuk Tarekat Biarawati Bunda Pengasih Perlindungan Orang berdosa (Refuge) yang didirikan oleh St. Yohanes Eudes. Tarekat itu berdiri pada abad 17. Pada saat St. Euphrasia masuk biara, tarekat itu mempunyai peraturan yang bersifat otonomi, yaitu setiap biara berdiri terpisah satu sama lain.

Dua puluh tahun sesudah St. Euphrasia masuk tarekat itu, ia mencetuskan suatu gagasan untuk menyatukan semua biara dibawah satu peraturan umum dengan satu pimpinan pusat. Dia yakin hal ini akan bermanfaat bagi perluasan karya para suster anggota tarekat itu. Ada beberapa biara yang tidak menyetujui hal ini, biara yang menyetujui gagasan ini segera bergabung, dengan persetujuan dan pengesahan dari Bapa Suci Gregorius XVI. Biara-biara itu bergabung dalam satu ikatan, menjadi tarekat atau Kongregasi Gembala Baik dari Angers dan St. Euphrasia menjadi pemimpin yang pertama.

Calon-calon membanjiri novisiat di Angers, seolah-olah Tuhan menyetujui dan berkenan atas usahanya. Ia segera mengutus suster-susternya ke Eropa, Amerika, Kanada, Australia, Selandia Baru, Irlandia dan negara lainnya. Selama hidupnya, ia mendirikan 110 biara di dunia dan itu terlaksana sekalipun kenyataan di zaman itu sangat sulit untuk bepergian; seringkali hanya bisa ditempuh dengan naik kuda atau dengan menumpang kapal layar.

KARYANYA MENYEBAR

Salah satu dari pekerjaan-pekerjaaan yang dilakukannya adalah membantu misi. Selain itu banyak sekali perbuatan-perbuatan besar yang dilakukan bagi Allah. Ia membuka rumah-rumah penampungan bagi wanita-wanita yang bertobat, panti asuhan untuk anak-anak yang hidup dalam lingkungan-lingkungan yang berbahaya, rumah-rumah yatim piatu dan penampungan bagi gadis remaja yang berada dalam kesulitan besar, yang menjadi masalah bagi mereka sendiri dan masyarakat.

St. Euphrasia mengajar kepada para susternya untuk “Mencintai anak-anak, buatlah mereka berbahagia, berbahagia sekali. Hendaklah selalu bersikap sabar dan penuh pengertian. Jangan hanya memandang lahiriahnya saja, tetapi pandanglah nilai sebenarnya yang ada dalam diri setiap anak-anak itu. Hiduplah untuk mereka, matilah untuk mereka. Cintailah mereka semua, selalu CINTA, CINTA dan sekali lagi CINTA! Janganlah pernah berputus asa, jikalau engkau tidak mencapai hasil-hasil yang kelihatan, jangan takut sebab benih-benih itu, yang ditaburkan sekali waktu, kelak akan mendatangkan hasil yang berlimpah.” Itulah filsafatnya yang membuat hatinya bernyala-nyala oleh keinginan untuk menyebarluaskan karyanya ke seluruh dunia.

AKHIR HIDUPNYA

Rahmat yang luar biasa dianugerahkan berlimpah kepada pendiri tarekat yang saleh ini, yaitu: rahmat untuk memahami jiwa-jiwa, menyembuhkan yang sakit atau yang terluka hatinya, untuk menarik jiwa-jiwa yang tegar dan berdosa kembali kepada Allah.

Pada akhir hidupnya ia memberikan nasehat kepada Puteri-puteri bersama semua anak gadis yang mereka asuh dengan mengatakan“ Cintaku bagimu semua membuat aku terus hidup, ya , cinta merupakan daya hidupku.”

Pada tanggal 24 April 1868, cinta Allah yang tiada batasnya menguasai tubuhnya yang rapuh digerogoti penyakit kanker. Puteri-puterinya berkumpul disekeliling tempat tidur menyaksikan detik-detik kepergian ibu tercinta, dengan hati yang sedih sekali.

“Oh, alangkah indahnya surga, kulihat Tuhan kita di tengah-tengah para kudus-Nya. Kurasakan kehadiran Bunda Perawan Maria di sini, dekat disisiku. Kalau aku bisa mencapai tempat yang ditunjukannya itu, aku akan menemukan Tuhan Maha Pendamai. Aku yakin Tuhan akan menaruh belas kasihan kepadaku.” Lama-kelamaan penampakan gaib itu menghilang dan St. Euphrasia perlahan-lahan tenggelam kembali ke tengah-tengah bantalnya. Pesannya yang terakhir kepada puteri-puterinya ialah “JIWA MANUSIA JAUH LEBIH BERNILAI DARIPADA SELURUH DUNIA.” Inilah motto Tarekat Gembala Baik. Hari Jumat, 24 April 1868, Tuhan memanggilnya ke dalam pangkuan-Nya yang abadi. Ia mencapai usia 72 tahun. Pada tanggal 2 Maret 1940, Suster Maria Euphrasia dinyatakan sebagai orang kudus oleh Paus Pius XII. Banyak doa yang terkabul melalui perantaraannya.

“Cintaku bagimu membuat aku terus hidup dan jiwa manusia jauh lebih bernilai dari pada seluruh dunia,” itulah karya Allah yang dinyatakan dalam diri St. Euphrasia sehingga ia boleh sampai pada tingkat persatuan dengan Allah. Dan pada senja hidup kita kita hanya diadili dengan seberapa besar cinta kita, baik kepada Tuhan maupun kepada sesama. Melalui semangat cinta yang sudah dipelopori oleh St.Euphrasia ini,marilah kita juga berusaha untuk mencintai orang lain dengan cinta yang tulus.

www.carmelia.net © 2008
Supported by Mediahostnet web hosting