header carmelia 01.jpgheader carmelia 02.jpg

Santo Andreas Corsini

User Rating:  / 2
PoorBest 

 

1. Riwayat Hidup

Florence atau yang sekarang dikenal dengan nama Firenze merupakan kota yang cukup besar dan ramai di Italia. Bahkan sekitar tujuh abad yang lampau, kota ini sudah cukup ramai dengan lalu lalangnya para pedagang, seniman, juga para wisatawan dari kota-kota lain. Di sebuah sudut kota yang ramai, tampaklah seorang pemuda bersama kawan-kawannya, tertawa terbahak-bahak, mengoceh tidak karuan, seolah dunia telah berhenti berputar dan mereka tak perlu memikirkan masa depan lagi.

Andreas Corsini lahir sebagai anak dalam dua belas bersaudara dari pasangan keluarga kaya Nicholas Corsini dan Gemma Degli Stracciabende pada tanggal 30 November 1302 di Florence, Italia. Pada masa mudanya, ia suka berfoya-foya dan melakukan tindakan yang tidak terpuji. Sebaliknya, ibunya adalah seorang yang saleh dan taat. Tentu saja tingkah laku anaknya ini membuat sang ibu merasa sedih dan prihatin. Keprihatinannya yang dalam ini membuat sang ibu bijaksana berlutut dari waktu ke waktu mendoakan putranya, mohon rahmat pertobatan tercurah untuk Andreas.

Sebetulnya Andreas Corsini merupakan seorang anak yang kelahirannya didambakan oleh kedua orang tuanya. Ketika ia lahir, segera kedua orangtuanya mempersembahkan bayi mungil mereka itu kepada Tuhan Yesus dan Bunda Maria. Oleh karena itu, salah satu nasihat yang diberikan oleh ibunya adalah agar dia berbalik dari cara hidupnya.

Batu karang yang keras lama-lama terkikis pula oleh sapuan riak lautan. Demikianlah doa dan nasihat sang ibu yang tak kunjung putus akhirnya mendatangkan rahmat yang besar dalam diri Andreas Corsini. Mendengar nasihat ibunya untuk bertobat, ia akhirnya bertekad untuk meninggalkan cara hidupnya yang lama dan memutuskan untuk masuk biara Santa Perawan Maria dari Gunung Karmel (Ordo Karmel). Pemuda yang hidupnya tak karuan itu pun kini telah tiada, berganti dengan seorang biarawan yang sangat tekun mengejar kekudusan dan hidup dalam kesalehan. Siapakah yang menyangka bahwa pemuda nakal itu dapat menjadi seorang imam, bahkan akhirnya menjadi seorang Santo? Ia ditahbiskan menjadi imam dalam Ordo Karmel pada tahun 1328. Nama Andreas Corsini pertama kali disebut pada tanggal 3 Agustus 1338 sebagai anggota ke-18 dari 52 rahib di Biara Karmel di Florence.

Pada pertengahan April 1343, Andreas Corsini pindah ke Pisa karena adanya kontrak antara para religius dengan perkumpulan dari Battuti. Akan tetapi, kiprahnya di Pisa tak berlangsung lama. Setahun kemudian, Pimpinan Gereja dari Provinsi Tuscan menunjuk Andreas Corsini sebagai konselor biara di Florence dan sekaligus untuk para pemuda di sana sampai bulan Mei 1347. Oleh karena itu, Andreas pun kembali ke kota kelahirannya.

Pada tahun 1348, Andreas Corsini pergi ke Paris untuk pertemuan para pemimpin biara di Metz. Ternyata di sana dia diangkat menjadi Superior untuk Provinsi Tuscan dan melaksanakan tugasnya sampai tahun 1350. Superior merupakan istilah dalam hidup membiara yang berarti pemimpin. Sungguh menakjubkan, bukan? Si nakal tukang foya-foya itu bisa masuk biara, bahkan menjadi imam, dan lebih dari itu, akhirnya bahkan menjadi seorang Superior. Betapa besarnya rahmat Tuhan bekerja dalam mengubah dan memperbarui jiwa yang mau terbuka kepadanya.

Pada tahun kedua masa tugasnya sebagai Superior, Andreas dihadapkan kepada situasi yang sangat serius dan menyita teramat banyak waktu, pikiran, tenaga, dan lebih-lebih beban mental. Saat itu dilakukan pembangunan sebuah gereja Karmel. Namun menurut daftar tercatat bahwa pada tahun 1348-1349, lebih dari seratus orang meninggal dunia dalam pembangunan gereja tersebut. Meskipun demikian, pembangunan gereja tersebut tidak dihentikan dan pada akhir masa jabatannya tahun 1350, Andreas Corsini harus menghitung biaya yang dikeluarkan akibat pembangunan gereja tersebut. Iman dan ketabahan Andreas patut dikagumi pada masa-masa itu, sehingga akhirnya bangunan gereja bagi umat Allah terbangun.

Dalam waktu yang hampir bersamaan, yaitu masih pada tahun kedua masa tugasnya sebagai superior Provinsi Tusca, Paus Clement VI dengan surat kuasanya menunjuk Andreas Corsini sebagai Uskup Fiesole untuk menggantikan Uskup sebelumnya, yaitu Filignus Oliveri Carboni yang meninggal dunia. Kebaikan hati dan kesucian Andreas Corsini sudah dikenal oleh umatnya. Oleh karena itu, keputusan pengangkatannya sebagai uskup disambut gembira oleh banyak kalangan.

Andreas Corsini dikenal sebagai uskup yang memiliki keinginan untuk selalu tinggal dekat dengan umatnya. Ia hidup sangat sederhana dan merakyat. Bangunan gereja tempat tinggalnya di keuskupan saat itu terancam roboh dan membutuhkan banyak perbaikan. Selain itu, perabotan yang ada di dalamnya pun sangatlah minim. Akan tetapi, Bapak Uskup satu ini tak terlalu menghiraukan karena hati dan pikirannya lebih tersita untuk kepentingan umatnya. Ia hidup bersahaja dan selalu membatasi keperluannya hanya untuk hal-hal yang penting saja. Ia tinggal bersama dua orang karmelit lainnya sehingga ia dapat tetap hidup berkomunitas sebagai seorang biarawan. Andreas sendirilah yang memimpin kehidupan membiara itu.

Sebagai seorang uskup yang merakyat, ia sering berkeliling mengunjungi umatnya. Dari jauh orang sudah dapat mengenalinya karena jubahnya yang coklat panjang. Dia mengenakan jubah karmelit dengan sebuah rantai kecil dari besi di pinggangnya. Konon, rantai besi yang biasa dipakainya dahulu itu masih dipelihara sampai saat ini. Dengan seksama, dia sendiri yang mengurus semua administrasi biara, biaya keuskupan, dan juga bantuan untuk Paus. Dia bertanggungjawab dan memimpin berbagai pekerjaan di Gereja dan rumah sakit. Uniknya lagi, para pekerja rata-rata mempercayakan pendapatan yang mereka kumpulkan bersama selama mereka bekerja dengan dia.

Dia berusaha memperbaiki pendapatan Gereja dan mengupayakan agar semua kegiatannya tidak hanya semata-mata untuk mencari keuntungan. Dia menyatakan dengan tegas bahwa pendapatan itu mempunyai nilai kekudusan. Kepiawaiannya dalam mengurus keuskupan dan mengatur segala sesuatu diakui oleh banyak orang. Dalam pengelolaan segala sesuatunya, dia menugaskan dua orang vikaris yang membantunya dalam keuskupan dan tiga orang vikaris lainnya ditugaskan di Casentino, suatu tempat yang agak jauh dari Fiesole.

Bisa dibilang Andreas Corsini adalah seorang yang sibuk luar biasa. Akan tetapi, ia selalu mempunyai waktu untuk menjalin relasi yang mesra dengan Tuhannya, dan selalu mempunyai hati untuk umatnya. Oleh karena itu, situasi hidup rohani yang sehat dalam keuskupan menjadi salah satu pusat perhatiannya. Dia secara pribadi bertanggungjawab terhadap situasi religius dengan mengadakan visitasi berdasarkan hukum Gereja. Dia selalu menempatkan kewaspadaan sebagai hal yang sangat diperlukan untuk menjaga tingkah laku para imam dari kebodohan, kebiasaan buruk, berjudi, dan hal-hal duniawi lainnya. Para imam diwajibkan untuk hadir dalam setiap kurun waktu tertentu untuk dimintai pertanggungjawaban. Dia tidak memberikan toleransi terhadap para imam yang gagal dalam melaksanakan kewajibannya dalam hal kemurnian. Bagi para imam yang tidak tinggal di parokinya masing-masing, diberi tindakan tegas, yakni penarikan kembali kedudukannya di dalam Gereja.

Dengan tujuan untuk membentuk para imam yang lebih baik, pada tahun 1372 dia membentuk suatu lembaga persaudaraan para imam yang akan membantu dalam pembinaan moral dan pendidikan para imam di masa mendatang melalui cara hidup dan pekerjaan mereka. Dia juga memberikan pelayanan dalam pengajaran sehingga di kuburannya terukir pujian yang menyebutnya sebagai “yang luar biasa dengan keteladanan dalam hidup dan kefasihan berbicara”. Akan tetapi, semuanya ini tidak melebihi kepeduliannya terhadap orang miskin. Andreas menyebut dirinya sendiri sebagai “bapak dan administrator orang miskin”. Banyak orang miskin yang mendapat perhatian dari beliau terutama selama tahun pertama dia menjadi Uskup sebagai akibat dari bencana pada tahun 1348-1349. Dia mengusahakan sumbangan untuk orang miskin dan juga untuk perbaikan pelbagai gereja. Dana yang ditujukan bagi orang sakit dan para peziarah digunakan secara baik.

Oleh karena kepeduliannya yang begitu besar terhadap tempat ibadat, dia melanjutkan perbaikan terhadap Gereja Katedral yang sudah dimulai oleh uskup sebelumnya dan di samping itu dia memperbaiki pula beberapa gereja, di antaranya adalah Gereja St. Mary di Florence, Gereja Figline Valdarno. Gereja Figline ini terletak di tempat yang cukup hening, jauh dari keramaian Fiesole. Oleh karena itu, sesungguhnya jauh di kedalaman hati Andreas, ada kerinduan untuk tinggal di sana di masa tuanya. Selain itu, ia juga mendirikan biara untuk para biarawati “Ancoresses of St. Mary of the Flower atau of Lapo.”

Kepeduliannya terhadap pembinaan para saudaranya, biarawan Karmel, juga sangat besar. Di sela-sela kesibukannya yang demikian padat, ia masih dapat menyempatkan diri untuk menulis buku-buku pengajaran bagi mereka. Sepanjang hidupnya ia telah menuliskan duapuluh empat jilid buku dari berbagai subjek pengajaran untuk Biara Karmel.

Salah satu hal istimewa yang dilakukan oleh Andreas Corsini adalah upaya perdamaian yang dilakukannya untuk menyelesaikan persoalan antara para pemimpin Gereja dan pedagang kaya dari Florence dan Fiesole, warga yang berkuasa dari Prato, Pistoia, dan warga lain. Dia bertindak sebagai penengah yang netral dan jujur. Kewibawaannya yang penuh karisma membawa kedamaian yang merukunkan banyak pihak.

Andreas Corsini meninggal pada tanggal 6 Januari 1374. Meskipun dia meninggalkan pesan untuk dikuburkan di biara Carmel di Florence, para imam dari Fiesole tetap menguburkan Andreas di kota mereka. Akan tetapi, para religius dari Florence tidak putus asa. Dengan izin dari uskup baru, yang tidak lain merupakan saudara Andreas sendiri, Neri Corsini, mereka datang ke Fiesole pada tanggal 2 Februari 1374 dan mengambil tubuh Andreas Corsini untuk kemudian dibawa ke Florence. Mereka disambut dengan meriah oleh para imam dan tubuh Andreas diperlihatkan kepada orang banyak selama tiga hari sebelum dikuburkan. Dua belas tahun tahun kemudian, jenazah Andreas Corsini diletakkan di monumen yang didirikan oleh sanak saudaranya di Biara Karmel. Sayang sekali monumen ini hancur dilalap api dalam sebuah kebakaran pada tahun 1771. Meskipun demikian jenasahnya masih dapat diselamatkan dan sampai saat ini disemayamkan di Biara Lo Spirito Santo.

Semangat yang muncul karena kebijaksanaan St. Andreas tidak pernah padam setelah kematiannya dan bahkan tetap terpelihara hingga kini. Beberapa orang mengalami mukjizat Allah yang mereka percaya sebagai akibat campur tangan dari St. Andreas Corsini. Di antaranya yang paling terkenal adalah pertempuran Anghiari pada tahun 1440. Pada tanggal 5 Juni 1440 tentara Piccinino dikalahkan oleh pihak Anghiari setelah perarakan di kuburan St. Andreas, perarakan yang memang diinginkan oleh beliau sendiri untuk diadakan pada tanggal 5 Juni 1440.

Sebagai konsekuensi dari kemenangan ini diadakanlah perayaan dengan upacara khusus di sekitar jenasah St. Andreas. Hal ini dianggap setara dengan upacara beatifikasi dan sejak masa Paus Eugene IV, orang diizinkan untuk melakukan perayaan ini setiap tahun. Bahkan setiap Minggu kedua dalam bulan Juni, diputuskan untuk mengadakan perarakan ke Biara Karmel sambil mempersembahkan lilin di altar St. Andreas. Selain itu, setiap tanggal 29 Juni diberikan derma dalam jumlah yang cukup besar kepada dua puluh orang miskin untuk mengenang kepeduliannya akan orang miskin. Pada tahun 1466, penguasa baru memberikan dispensasi untuk tidak melakukan perarakan lagi dan dari sejumlah derma yang cukup besar terkumpul setiap tahunnya, sebagian diberikan kepada Novisiat Karmel dan sisanya disumbangkan kepada dua puluh orang miskin.

St. Andreas Corsini dikanonisasi pada tanggal 29 April 1629, tahun yang sama ketika ikonnya mulai muncul. Guido Reni menggambarkan St. Andreas Corsini yang sedang berdoa dengan pakaian uskupnya, berdiri dengan mata memandang ke surga. Sedangkan tiga patung untuk Kapela Corsini di Gereja Karmel di Florence menggambarkan tiga peristiwa penting dalam hidup St. Andreas, yaitu penampakan Bunda Maria pada hari St. Andreas mempersembahkan misanya yang pertama, janji kepada Bunda Maria untuk menerima tugas sebagai uskup di Fiesole, dan penampakan St. Andreas Corsini kepada pasukan Florentine saat perang Anghiari. Peringatan akan St. Andreas Corsini dilakukan dengan setia dalam Gereja Katolik sedunia setiap tanggal 9 Januari.

 

2. Teladan Kesucian

Walaupun tidak ditemukan dokumen yang menguraikan secara detail tentang siapakah St. Andreas Corsini, namun dari beberapa uraian di atas kita dapat melihat teladan hidupnya:

  • Dia adalah seorang pendosa yang bertobat dan memanfaatkan saat yang berahmat sebagai titik balik bagi kehidupannya. Selanjutnya ia mengabdikan dirinya secara utuh kepada Allah dengan menjadi seorang imam Karmelit. Teladannya ini menyadarkan kita bahwa sebesar apa pun dosa yang telah kita lakukan, kasih Tuhan jauh lebih besar lagi dari segala dosa-dosa kita. Asalkan kita mau bertobat dan bekerja sama dengan rahmat-Nya, Tuhan akan menjadikan kita manusia yang baru, yang mulia, sesuai dengan rencana dan kehendak-Nya atas hidup kita sejak semula.
  • Dia juga memiliki kepedulian terhadap orang miskin dan menghayati kaul kemiskinannya secara maksimal dengan berlaku hemat dalam menjalani kehidupan dan terutama dalam pengelolaan keuskupannya. Bukankah Yesus sendiri mengatakan berbahagialah mereka yang miskin di hadapan Allah karena merekalah yang empunya kerajaan surga? (bdk. Mat 5:3)
  • Dia juga tampil sebagai penengah dalam pertikaian antara pemerintah dan rakyat di Bologna, Italia. Hatinya yang bersatu dengan hati Kristus membawa kedamaian bagi orang-orang di sekitarnya.
  • Dia juga memiliki kepedulian terhadap kehidupan rohani para imam sehingga dia sangat tegas dalam menerapkan aturan bagi para imamnya. Ia sangat peduli dengan kehidupan rohani umatnya, dan ia sadar betul bahwa kesucian para imam akan memberikan dampak yang sangat besar bagi pertumbuhan rohani umatnya.
  • Dia dikenal sebagi uskup yang memiliki sifat kebapaan dan sangat dekat dengan umatnya dan bahkan memiliki kerinduan untuk tetap tinggal di keuskupannya walaupun bangunan yang ditempatinya nyaris roboh. Tentu saja yang mendasari seluruh sikapnya ini tidak lain adalah cintanya yang besar kepada Kristus, yang pernah hidup di dunia ini dalam kemiskinan yang besar, dan senantiasa hadir di tengah para murid dan umat-Nya.
www.carmelia.net © 2008
Supported by Mediahostnet web hosting