User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active
 

Pengantar

Dalam kehidupan Gereja, figur seorang imam dipandang sebagai gembala yang mampu memberikan teladan, panutan, dan harapan umat beriman. Oleh karena itu, seorang imam harus mempersiapkan seluruh hidupnya baik intelektual, emosional, maupun spiritual. Seorang imam hendaknya menjadi pribadi yang dapat melaksanakan tugas dan karya-karyanya sesuai dengan panggilan imamatnya. St. Yohanes Krisostomus adalah salah seorang imam yang setia dengan panggilannya dan martabat imamat yang diembannya.

Riwayat Singkat

Yohanes Krisostomus lahir di Antiokia, Syria tahun 344 M dari keluarga bangsawan. Ayahnya Secundus, seorang bangsawan di Antiokia bekerja sebagai komandan pasukan berkuda kerajaan dan ibunya bernama Anthusa.

Pada usia kedua puluh, Yohanes Kristotomus muda belajar retorika di bawah bimbingan Libianus, seorang ahli pidato yang terkenal dan dibaptis menjadi Katolik. Bersama dengan beberapa orang temannya, Krisostomus memutuskan untuk mendalami hidup membiara di bawah bimbingan Diodorus dari Tarsus seorang teolog Antiokia. Pada tahun 386 M, ia ditahbiskan menjadi imam oleh Uskup Flavian I dari Antiokia. Kepandaiannya dalam berbahasa sangat menonjol dari kefasihannya berbicara dan keindahan gaya bahasanya. Pengetahuannya yang luas dan pemahaman yang mendalam terhadap ayat-ayat Kitab Suci menjadikan dia seorang tokoh karismatis terutama dalam khotbah-khotbahnya.

Oleh karena khotbah-khotbahnya yang brilian dan memukau banyak orang, ia mendapat julukan Krisostomus yang berarti “Si Mulut Emas”. Ia meninggal pada tanggal 14 September 407.

Karya-karyanya

Di antara para Bapa Gereja Yunani tak satu pun yang meninggalkan literatur yang begitu luas selain Yohanes Krisostomus. Tulisan-tulisannya dilindungi karena gaya bahasa yang indah dan merupakan warisan Iman Kristiani pada zaman itu. Umumnya, karya-karya Krisostomus berupa khotbah-khotbah, memberikan pesan-pesan tentang konsep kehidupan Iman Kristen yang patut dihayati pada masa itu maupun pada zaman ini. Adapun karya-karyanya sebagai berikut:

Homili eksegetis terhadap Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, mengungkapkan kedalaman pikirannya dalam bentuk eksposisi. Homili-homili tentang Kitab-kitab dalam Perjanjian Lama (Kitab Kejadian, Kitab Mazmur, dan Kitab Yesaya). Homili-homili tentang Kitab-kitab dalam Perjanjian Baru (Injil Matius dan Yohanes, Kisah Para Rasul, Surat Roma, Korintus, Galatia, Efesus, Filipi, Kolose, Tesalonika, Ibrani).

Homili-homili Dogmatik, dibagi atas tiga bagian: Pertama, tentang kodrat Allah. Kedua, katekese tentang pembaptisan. Karya-karya ini ditemukan oleh A. Wenger pada tahun 1955 di Biara Strivonikita di gunung Athos. Ketiga, Homili-homili melawan Yahudi. Seluruh khotbah ini hendak menunjukkan bahwa orang-orang Yahudi telah menolak Mesias, seperti yang telah dikatakan oleh para nabi.

Diskursus moral (pembelaan iman terhadap okultisme, tahyul, magi dan kebiasaan-kebiasaan buruk pada masa itu).

Khotbah-khotbah berbagai pesta Liturgi (Khotbah Natal 25 Desember 386 dan Khotbah Trihari Suci).

Ajarannya Tentang Hidup dan Karya Imam

Dalam karyanya yang berjudul Treatise Concerning The Christian Priesthood yang terdiri dari enam buku, St. Yohanes Krisostomus menulis tentang uraian hidup dan karya imam. Dalam karyanya ini, ia memulai percakapannya dengan sahabatnya, yakni Basil dan mereka berdiskusi tentang kehidupan seorang imam. Menurut Yohanes Krisostomus, seorang imam adalah seorang gembala yang mencintai dan membimbing umat yang dipercayakan kepadanya, seperti yang diteladankan Yesus kepada murid-muridnya, "Gembalakanlah domba-domba-Ku.” (Yoh. 21:15-17) Lebih dari itu, ia bahkan berani pula melindungi umatnya dari musuh-musuh jiwa “perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara.” (Ef. 6:12)

Hendaknya seorang imam berjiwa besar dan berhati mulia dalam membimbing umat-Nya dengan sabar dan tanpa paksaan, “Bukan karena kami mau memerintahkan apa yang harus kamu percayai, karena kamu berdiri teguh dalam imanmu. Sebaliknya, kami mau turut bekerja untuk sukacitamu.” (lih. 2 Kor. 1:24) Bahkan, ia rela mempertaruhkan nyawanya ketika umatnya berada dalam keadaan bahaya, “Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya.” (Yoh. 15:13) Seorang imam hendaknya meneladankan kekuatan cinta kasih Kristus kepada umatnya, “Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi.” (Yoh. 13:35) Hidup dan teladan seorang imam hendaknya sesuai dengan harapan Yesus sendiri “Siapakah hamba yang setia dan bijaksana, yang diangkat oleh tuannya atas orang-orangnya untuk memberikan mereka makanan pada waktunya?” (Mat. 24:45)

Seorang imam dalam kacamata Yohanes Krisostomus adalah seorang yang rendah hati dengan tidak mengejar kemuliaannya sendiri. Kebesaran seorang imam justru nampak dalam pengakuannya bahwa dia tidak melayani Tuhan untuk kemuliaannya sendiri. Hidup seorang imam harus berpadanan dengan Yesus yang melayani setiap orang tanpa menuntut jasa apapun. Seorang imam adalah pelayan Tuhan, karena itu dia seharusnya tidak mengejar kemuliaan yang sia-sia dan ambisi untuk menjadi mulia harus dibuang jauh-jauh dari pikirannya. Dia seharusnya seorang yang bijaksana dan murah hati, mempunyai pikiran yang bersih, bertahan dalam penderitaan bahkan ketika dia dilecehkan dan dihina. Kehidupan seorang imam dalam pandangan Krisostomus haruslah dipenuhi dengan keutamaan-keutamaan.

Yohanes Krisostomus juga merujuk pada St. Paulus yang begitu terpesona dengan kehidupan seorang imam. Ia melihat bahwa tidak ada seorang pun yang lebih mencintai Kristus dari pada St. Paulus. Hidup St. Paulus hendaknya menjadi contoh bagi seorang imam. Satu hal yang menarik dari kehidupan Paulus adalah totalitas-nya dalam melayani Yesus. Dia takut kalau dirinya tidak mampu melayani Yesus dengan baik. Seorang seperti St. Paulus begitu menyadari kelemahannya tetapi justru dalam kesadaran akan kelemahannya itu, dia memperoleh kekuatan. Hal inilah yang hendak ditekankan oleh Krisostomus dari teladan hidup St. Paulus. Seorang imam seharusnya sadar bahwa dia seorang yang lemah. Oleh karena itu, dalam karyanya dia tidak bisa mengandalkan kekuatannya sendiri, tetapi sepenuhnya bergantung pada rahmat dan belas kasihan Tuhan.

Seorang imam adalah sosok yang lemah, penuh kekurangan bahkan tidak berbeda dengan manusia-manusia lain yang selalu berada dalam kecenderungan untuk berdosa. Seorang imam harus berusaha dengan keras supaya hidupnya menjadi semakin sempurna serta semakin menyerupai kehidupan Kristus sendiri. Kekudusan hidup ini merupakan suatu syarat mutlak bagi seorang imam supaya dia dapat melaksanakan tugasnya sebagai pewarta sabda dengan baik dan mencapai tujuannya.

Kekudusan hidup ini juga harus diimbangi dengan kerja keras dan belajar tanpa kenal lelah. Kerja keras berarti dia harus menyiapkan segala sesuatu yang akan diwartakannya dengan baik. Dia harus mampu memasukkan semua aspek dari hal-hal yang akan dijadikan bahan khotbahnya. Dia harus tahu untuk apa dan kepada siapa dia berkhotbah. Ini penting supaya dalam berkhotbah, seorang imam mampu menyampaikan sesuatu yang bermanfaat bagi para pendengarnya. Persiapan sebelum berkhotbah juga penting supaya seorang pengkhotbah tidak jatuh dalam humor-humor yang justru akan mengaburkan tujuan utama dari khotbah tersebut. Menurut Krisostomus, tujuan utama seorang pengkhotbah hanyalah menyenangkan Tuhan. Menyenangkan Tuhan berarti apa yang dikhotbahkannya haruslah berisi hal-hal yang berguna bagi perkembangan iman umat Allah.

Hal lain yang perlu diperhatikan oleh seorang imam adalah mengabaikan pujian dan juga kritikan tajam yang ditujukan untuk menyerang khotbah-khotbahnya. Pujian hanya akan membuat seorang imam jatuh pada kesombongan dan mendengarkan serangan atas khotbah-khotbahnya hanya akan membuat dia menjadi menaruh dendam dan iri hati pada orang lain. Jadi, menurut Krisostomus tidaklah penting apakah setelah berkotbah orang akan berkomentar baik atau buruk tentang khotbah yang disampaikan, yang terpenting adalah bahwa seorang pengkhotbah harus mewartakan kebenaran yang datang dari Tuhan meskipun itu terasa menyakitkan bagi para pendengarnya.

Memang menjadi seorang pengkhotbah yang baik bukanlah suatu hal yang mudah. Banyak aspek yang harus diperhatikan. Selain kepandaian dan kerja keras dalam menyiapkan khotbah, satu hal yang tak kalah penting yang harus diperhatikan adalah bahwa seorang imam haruslah menjaga seluruh kehidupannya supaya selalu kudus di hadapan Tuhan. Seorang imam harus mampu menjadi saksi iman dengan menjalankan semua bentuk keutamaan kristiani. Hal ini memang tidak mudah. Yohanes Krisostomus tahu hal ini dengan jelas, karenanya dia membandingkan kehidupan seorang imam dengan kehidupan yang dijalani oleh para rahib dalam biara. Seorang rahib yang tinggal di biara dengan mudah bisa menjalankan segala askese demi kemajuan iman tanpa ada hambatan, karena para rahib tinggal menjalankannya tanpa ada gangguan yang berarti. Sebaliknya, seorang imam harus menjalani askesenya sembari hidup di tengah-tengah dunia yang penuh dengan aneka tantangan bagi imannya.

Dalam pandangan Krisostomus, para rahib bisa menjalani hidupnya dengan tenang. Mereka bisa beristirahat tanpa ada gangguan yang berarti sebab semuanya sudah diatur sedemikian rupa sehingga mereka tinggal menjalani keutamaan-keutamaan kristiani dengan baik. Sementara para imam yang hidup di dalam dunia ramai lebih sulit mencari waktu untuk istirahat dengan tenang. Dia harus siap setiap saat demi pelayanan terhadap umatnya. Semua kesulitan ini harus dilalui oleh para imam. Bila seorang imam mampu menjalaninya, maka ia akan memperoleh manfaat yang besar dari tugas-tugas pelayanannya. Dengan menjalani askese dan keutamaan-keutamaan di tengah hiruk-pikuk dunia, imam tersebut dapat mewartakan Sabda Allah dengan baik dan memberikan teladan yang baik demi kemajuan iman umatnya.

Teladan Hidupnya

Dengan mengacu pada ajaran Yohanes Krisostomus tentang Hidup dan Karya Imam, seorang imam harus memiliki kecakapan tinggi dalam mewartakan sabda Tuhan. Tidak hanya terampil, tetapi juga memiliki wawasan luas dan pengetahuan yang komprehensif tentang imannya itu. Oleh karena itu, imam dituntut mempersiapkan khotbahnya dengan baik dan mengerti apa yang disampaikannya kepada umat. Memang berkhotbah atau pewartaan iman adalah karunia Allah. Akan tetapi, karunia tersebut akan berkembang apabila cara-cara berkhotbah dipelajari, dilatih, dan diperdalam terus menerus.

Tugas seorang imam adalah membimbing dan mengembalakan domba-dombanya. Oleh karena itu, para imam pun hendaknya menghayati apa yang dikhotbahkannya. Dalam penghayatan ini ia rela mempertaruhkan hidupnya untuk melindungi, mengayomi, dan menjaga umatnya dari musuh-musuh jiwa yakni setan, dunia, dan daging. Imam hendaknya berjiwa besar dan sabar terhadap umatnya tanpa memaksakan kehendaknya kepada umatnya. Tentu saja tanpa melupakan peran imam yang utama, yakni menghadirkan Kristus dan meneladankan cinta kasih Allah di tengah-tengah umatnya yang hidup dalam dunia yang penuh pergolakan dan sarat dengan aneka tantangan dan kesulitan.

Mengingat dewasa ini banyaknya tuntutan umat terhadap citra seorang imam, maka seorang imam harus membekali dirinya dengan mempelajari filsafat dan teologi agar mampu mempertanggungjawabkan iman kepercayaannya kepada orang lain. Seperti yang dikatakan Rasul Petrus, “Tetapi kuduskanlah Kristus di dalam hatimu sebagai Tuhan! Dan siap sedialah pada segala waktu untuk memberi pertanggungan jawab kepada tiap-tiap orang yang meminta pertanggungan jawab dari kamu tentang pengharapan yang ada padamu, tetapi haruslah dengan lemah lembut dan hormat.” (bdk. 1 Ptr. 3:15) Dengan taraf pendidikan intelektual yang cukup seorang imam dapat mempertanggungjawabkan imannya. Hal ini perlu untuk menunjang keselarasan isi pewartaannya dengan kerinduan terdalam yang ada dalam hati manusia yang haus akan Allah.

Tugas para imam dalam membawa umat pada persatuan cinta kasih dengan Allah tak akan berhasil, jika mereka tidak menghayati kehidupan rohani yang mendalam. Seorang imam hendaknya mendasari seluruh panggilan hidupnya dalam doa dan kontemplasi sebagaimana yang diteladankan oleh Yohanes Krisostomus sendiri. Johannes Quasten dalam buku Patrology – Vol. III menyatakan bahwa St. Yohanes Krisostomus menghayati apa yang diajarkannya. Terbukti dia adalah seorang pendoa yang tekun dan pernah menghabiskan waktu beberapa tahun sebagai seorang pertapa atau rahib. Ia sadar seorang imam mempunyai tugas yang besar dalam menggembalakan domba-domba yang dipercayakan kepadanya kepada keselamatan yang berasal dari Allah. Oleh sebab itu, doa memegang peranan yang penting dalam menjalankan tugasnya yang luhur itu.

Penutup

Bagaimanapun juga peranan imam dalam kehidupan menggereja dan pembinaan iman umat tiada pernah sirna. Hanya saja, dalam perkembangan sejarahnya, cara, bentuk, dan modus (jalan) dapat berubah-ubah. Akan tetapi, hakekat seorang imam sebagai Kristus yang lain tetap sama sepanjang sejarahnya. Apapun tantangan yang dihadapi seorang imam, hendaknya ia mendasari seluruh hidup, panggilan, dan pelayanannya kepada Yesus Kristus yang telah memanggilnya sebagai imam, raja, dan nabi. Kita diharapkan mendukung tugas dan perutusan seorang imam di tengah-tengah umat. Alangkah baiknya, imam tidak diganggu dalam menjalankan tugas-tugasnya. Namun, harus disadari pula bahwa kualitas seorang imam tidak hanya ditentukan oleh khotbah-khotbahnya yang memukau tetapi juga dalam penghayatan hidupnya sehari-hari. Dengan dukungan kita sebagai umat, para imam akan bersuara lantang di dunia dengan menghayati panggilan hakiki mereka, yakni menggembalakan, mengajar, dan menguduskan umat Allah.

www.carmelia.net © 2008
Supported by Mediahostnet web hosting