Santo Serafim dari Sarov

User Rating:  / 8
PoorBest 

Awal Kehidupan

ProKhor Moshnin lahir di Kursk pada tahun 1759, dalam sebuah keluarga saudagar yang cukup terkenal di daerahnya. Keluarganya dikenal saleh dan sejak masa kanak-kanaknya Prokhor sudah mulai membaca kitab suci dan literatur devosional lainnya. Selama beberapa waktu ia membantu kakaknya berdagang. Namun pekerjaan ini membuatnya tidak betah. Nampaknya ia seorang yang berjiwa kontemplatif, bahkan ia pernah mengalami penglihatan tentang kehidupan di surga. Pada umur 19 tahun ia masuk biara di Sarov sebagai seorang novis dan mengambil nama Serafim. Ia mencukur rambutnya dan dengan taat melaksanakan perintah-perintah suci. Seringkali ia harus meninggalkan perayaan misa karena ia sering mengalami ekstase (suatu keadaan dimana jiwa sepenuhnya terarah kepada Allah). Akhirnya pada tahun 1794 dengan berkat dari pimpinannya, Serafim mulai menjalani hidup sebagai pertapa eremit di sebuah hutan yang disebut “padang gurun” yang berada tidak jauh dari biaranya.

Pertapa Eremit

Selnya disebut “padang gurun” terletak di sebuah pohon cemara yang lebat, di tepi sungai Sarovka. Di atas sebuah bukit, kira-kira lima atau enam mil dari biara, menghadap ke timur, dimana matahari di musim dingin terbit. Pertapaan ini terdiri dari sebuah pondok sederhana yang di dalamnya terdapat sebuah tungku perapian, dan sebuah obor dengan sebuah ruang depan yang sederhana. Di sekeliling pondoknya, Serafim mendirikan pagar untuk melindungi sayur-sayuran yang ditanamnya. Sayur-sayuran ini diberi pupuk dari lumut yang diambilnya dari rawa-rawa, ia juga menanam bawang dan sayur-sayuran yang lain sebagai persediaan makanan di musim panas. Selain bercocok tanam ia juga beternak lebah yang menghasilkan madu yang amat manis. Jika musim dingin tiba ia akan membuat perapian dan memasukkan potongan-potongan kayu ke dalam tungku perapiannya. Setengah perjalanan antara padang gurunnya dan biara induk, terdapat rahib-rahib yang tinggal dalam pondok-pondok sederhana yang terpisah. Pondok-pondok yang tersebar ini mirip pertapaan-pertapaan yang ada di Gunung Athos, Serafim menyebut padang gurunnya dengan nama Lembah Athos, begitu juga dengan tempat-tempat di hutan itu, ia namai dengan nama yang khusus, seperti Nazaret, Yerusalem, Betlehem, Tabor, Lembah Kedron, Sungai Yordan, dan lain sebagainya.

Sepanjang hidupnya, Serafim mengenakan pakaian yang sederhana: jubah putih yang longgar, sarung tangan kulit, lebih suka berjalan tanpa alas kaki daripada memakai sandal, memakai pelindung kepala yang sudah lusuh dan kotor. Di dadanya ia mengenakan kalung salib pemberian ibunya yang memberkati dia, ketika ibunya mengijinkan dia masuk biara dan di punggungnya ia mengenakan tas yang terbuat dari karung goni yang berisi kitab suci. Selama musim dingin, ia mengenakan kain yang sudah lusuh. Ia melatih diri dalam doa yang tak kunjung putus, membaca buku-buku rohani, menyiksa dirinya dengan keras, taat menjalankan peraturan doa S. Pakomius, dan menyanyikan doa-doa pendek, serta peraturan-peraturan suci selama ia bekerja. Jika Serafim bertemu dengan orang lain di Hutan Sarov, ia biasanya menundukkan kepalanya dengan penuh kerendahan hati dan ia kembali meneruskan perjalanannya, tanpa memulai suatu pembicaraan. “Tak seorangpun pernah memecahkan keheningannya.”

Hingga akhir hidupnya ia membangun hidupnya sebagai pendoa, ia berlutut pada sebuah batu besar sepanjang malam. Untuk menghindari serangan roh-roh jahat, ia senantiasa berdoa, baik berdiri atau berlutut dengan merentangkan kedua tangannya seperti yang sering dilakukan S. Pakomius dan ia menangis tersedu-sedu penuh penyesalan akan dosa-dosanya sambil berseru, ”Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini!” Dan latihan rohani ini dilakukannya setiap hari khususnya sepanjang malam ketika matahari mulai terbenam.

Ia setia dan tekun menjaga keheningan dan kesunyian karena ia sadar di situlah letak kekuatannya dalam mengabdi Allah. Ia turun untuk mengunjungi biara induk pada hari minggu dan hari-hari raya. Pada hari minggu seorang rahib akan datang ke pondoknya untuk mengantar makanannya, khususnya pada musim dingin.

Seorang Pertapa Reklus

Sudah menjadi kebiasaan Serafim mengunjungi biara induk pada hari minggu dan hari raya untuk menyambut komuni suci. Karena sudah terbiasa berdoa dengan berlutut di atas sebuah batu yang besar, kakinya menjadi sakit sehingga ia tidak bisa berjalan. Akhirnya diputuskan bahwa Serafim harus tinggal di biara induk dan meninggalkan “padang gurunnya” untuk beberapa waktu namun Tuhan menghendaki lain dan sudah menjadi kehendak-Nya ia harus tinggal di biara induk sampai akhir hayatnya.

Pada musim semi 8 Mei 1810, Serafim meninggalkan pondoknya di tengah hutan yang disebutnya “padang gurun” dan tinggal dalam suatu sel di biara induk. Di sinilah ia memulai suatu kehidupan yang lebih khusus lagi yaitu kehidupan sebagai seorang reklus (seorang rahib yang hidup sendirian dalam sebuah pondok yang sederhana, namun hidup dalam komunitas biara). Pada pagi hari ia menghadiri misa pagi di kapela biara untuk menyambut komuni suci, selesai misa ia kembali ke pondoknya dengan tetap menjaga keheningan dan ketenangan batinnya.

Kehidupannya sebagai seorang reklus tidak jauh berbeda dengan kehidupannya di padang gurun. Untuk mengekang keinginannya yang tidak teratur, ia tidak menyimpan sesuatu pun di pondoknya, termasuk barang-barang yang sangat diperlukannya. Di dalam pondoknya hanya terdapat sebuah hiasan lampu dan bunga-bunga kecil yang dirangkainya. Satu hal yang menarik ia tidak pernah menggunakan lampu seumur hidupnya. Walaupun cara hidupnya keras, ia tidak pernah memaksa orang lain untuk mengikuti cara hidupnya.

Ia hanya minum air putih, dan makanannya hanya roti tak beragi (gandum) dan sayur kol (kubis). Jika seorang rahib mengantarkan makanan, ia akan menempatkannya di depan pintu pondok Serafim, dan sebelumnya ia berdoa dahulu. Supaya rahib-rahib lain tidak melihatnya, Serafim melindungi dirinya dengan mengenakan jubah yang besar, lalu berlutut dan mengambil makanan seperti ia menerimanya dari tangan Tuhan. Ia akan membawanya ke pondoknya, dan kembali melindungi dirinya dengan jubah yang besar itu, mengembalikannya dengan wajah yang disembunyikan di balik jubahnya. Ia melakukan ini seperti kebiasaan para pertapa di padang gurun, yang menyembunyikan wajah mereka di bawah kapus mereka “sebagai latihan kerendahan hati” (kapus adalah penutup kepala yang dipakai pada waktu berdoa umumnya menjadi satu bagian dengan jubah). Suatu ketika Serafim tidak mengambil makanan yang telah diantar, itu berarti ia sedang berpantang dan berpuasa.

Penyembuhan Pertama

Michail Vasilievich dan istrinya tinggal di dekat desa Nutcha. Mereka merupakan tuan tanah dan orang-orang yang ramah. Mereka hidup rukun dan harmonis sampai sang suami, Michail Vasilievich menderita sakit parah sehingga ia harus meninggalkan pekerjaannya dan menjual seluruh harta bendanya. Ketika penyakit yang dideritanya semakin parah sehingga tulang kakinya retak, dan keadaannya semakin mengkhawatirkan. Ia memutuskan untuk mengikuti saran teman-temannya untuk mengunjungi seorang pertapa bernama Serafim di Sarov. Setibanya di pondok Serafim, Manturov berdoa lalu Serafim keluar dari selnya dan menyapanya dengan ramah, “Apakah yang menyebabkan engkau mengunjungi Serafim yang miskin ini?”

Manturov menjamah kaki Serafim, mencucurkan air matanya dan memohon dengan sangat kepada pertapa ini untuk menyembuhkan penyakitnya yang parah. Kemudian Serafim mendengarkannya dan bertanya kepadanya sebanyak tiga kali, “Apakah engkau percaya kepada Allah?” Dengan sepenuh hati Manturov menjawab bahwa ia sungguh-sungguh percaya kepada Allah. Pertapa saleh itu berkata kepadanya: “Saya berbahagia! Karena engkau memiliki iman yang hidup, dan percayalah bahwa tiada yang mustahil bagi Allah. Percayalah bahwa kamu akan disembuhkan oleh Allah melalui aku, Serafim yang hina ini, karena itu saya akan berdoa untukmu.” Ia meminta Manturov membuka pelindung kakinya. Kemudian mengoleskan dahi Manturov dengan minyak suci dan mendoakannya. “Dengan bantuan rahmat Allah yang diberikannya kepadaku, kamu adalah pasien pertamaku.” Tiba-tiba mukjizat terjadi, Manturov dipenuhi dengan kegembiraan dan kebahagiaan. Ia menjatuhkan diri di depan kaki Serafim, menciumnya dan berterima kasih kepadanya karena telah menyembuhkannya. Tetapi Serafim mengangkat bahunya dan berkata, “Ini adalah karya Allah yang mengabulkan orang yang takut kepada-Nya dan mendengarkan doa-doa orang saleh dan rendah hati. Sudah selayaknyalah dengan segenap hati engkau bersyukur kepada Allah yang maharahim dan kepada Santa Perawan Maria yang Dikandung tanpa Noda Dosa karena ini adalah pertolongan-Nya.”

Manturov berkata dalam hatinya: “Saya harus bersyukur dan bersyukur kepada Allah.” Rahib yang saleh ini seakan-akan tahu isi hati orang ini dan berkata: “Saya sungguh bergembira! Bahwa kamu bersyukur kepada Allah karena Ia telah menyembuhkanmu.” Manturov hanya tertunduk dan di dalam hatinya ia tersentuh atas perkataan Serafim, lalu ia berkata: “Saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan untuk membalas kebaikan Allah bagiku.” Kemudian Serafim menjawabnya dengan lembut: “Baiklah, saudaraku, serahkanlah kepada Tuhan seluruh harta bendamu dan hiduplah dalam kemiskinan dan kesederhanaan.” Manturov menjadi bingung. Namun Serafim menjawab: “Serahkanlah segalanya dan janganlah khawatir terhadap segala sesuatu yang mengganggu pikiranmu; Allah tidak akan meninggalkanmu baik dalam hidup ini ataupun hidup yang akan datang. Kamu tidak akan berkelimpahan tetapi kamu akan menerima makanan yang cukup.” Akhirnya Manturov menjawab: “Saya bersedia. Apa yang engkau inginkan akan saya perbuat dan berkatilah saya?” Rahib yang bijaksana inipun mendoakan dan memberkatinya.

Kemudian Manturov menjual rumahnya danmembebaskan budak-budaknya dan membeli sebidang tanah kecil di dekat desa Diveyevo. Di tempat itu Manturov tinggal bersama isterinya dan mulai menjalani hidup dalam kemiskinan. Walaupun mendapat sindiran dari teman-temannya, Manturov tabah dan menjalaninya dengan setia. Ia sungguh percaya inilah kehendak Tuhan baginya melalui perantaraan Serafim.

Pembimbing Rohani yang Populer

Setelah Serafim “turun gunung” dari pertapaannya di tengah hutan, banyak orang datang mengunjunginya untuk minta nasehat dan bimbingannya salah satu di antaranya adalah para suster dari biara di Diveyevo. Ia mengatakan kepada para suster, dalam menjalani hidup rohani janganlah menyiksa tubuh dengan puasa atau mati raga yang berat tetapi jauh lebih penting untuk menghindari dosa. Jangan berbuat dosa dan hindarilah dosa itu seperti kita melarikan diri dari api yang besar atau dari serangan ular berbisa. Karena sumber dari dosa adalah kemalasan. “Tidak ada dosa yang paling buruk, yang mengerikan dan menghancurkan jiwa daripada roh kemalasan!” kata Serafim.

Hal senada diungkapkan olehnya ketika seorang suster yang datang kepadanya karena ia bingung apakah yang diperoleh seseorang jika ia telah meninggal dunia. Serafim memandang dia dan berkata: “Janganlah takut dan sedih kita akan memperoleh kedamaian dalam Kerajaan Surga jika kita setia dan taat kepada-Nya.”

Ketika seorang pemuda datang kepadanya karena dia difitnah oleh penduduk di desanya, karena ia membantu dan menolong para suster di biara Diveyevo. Padahal ia membantu para suster bukan untuk kepentingannya sendiri tetapi untuk menolong mereka dalam melakukan pekerjaan-pekerjaan yang tidak bisa dilakukan para suster seperti pekerjaan-pekerjaan kasar yang membutuhkan tenaga kaum pria. Serafim memandang dia, menenangkannya dan mendoakannya. Tiba-tiba Serafim menunjuk sebuah pohon besar di depan mereka. “Jika ini memang kehendak Tuhan dan kamu tidak bersalah di hadapan Tuhan, pohon itu akan menunduk ke tanah, tetapi jika ini tidak benar dan kamu berdusta maka pohon ini akan tetap berdiri.” Setelah beberapa saat pohon itu perlahan-perlahan menunduk dan hampir menyentuh tanah. Setelah kejadian itu, pemuda itu pergi dengan sukacita dan yakin ini semua adalah rencana dan kehendak-Nya. Semua kesusahannya sirna dan akhirnya ia kembali bekerja di biara para suster.

Sering pula terjadi hal-hal yang menakjubkan pada diri Serafim diantaranya ketika para suster mengunjungi Serafim di biaranya dan bersama-sama mengunjungi “padang gurunnya”. Tiba-tiba di tengah perjalanan, ia meminta mereka untuk berjalan mendahuluinya, sedangkan ia berjalan di belakang mereka. Ternyata setelah para suster menoleh ke belakang, mereka melihat Serafim berjalan satu meter di atas rumput, tanpa menyentuh rumput sedikit pun. Mereka terharu dan mencucurkan air mata kemudian menyentuh kakinya dan rahib itu berkata kepada para suster yang menyertainya: “Para suster yang terkasih! Jangan katakan kepada siapapun mengenai hal ini selama aku hidup, saya hanya mengizinkannya jika saya sudah meninggal.”

Menjelang kematiannya, Serafim menerima seorang suster yang telah mencapai kematangan dalam hidup rohani, namun dia masih khawatir akan dosa-dosanya. Itu terjadi pada Hari Raya Bunda Maria Menerima Kabar Sukacita. Serafim kemudian mengajaknya untuk mengulangi doa “Ratu surga, bersukacitalah, alleluia!” Tetapi suster ini semakin khawatir akan dosa-dosanya dan menangis padahal Serafim telah meyakinkannya bahwa hari ini adalah hari besar. Seluruh gereja merayakan Hari Raya Bunda Maria Menerima Kabar Sukacita dan Tuhan menyediakan rahmat yang melimpah-limpah kepada kita. Akhirnya rahib yang bijaksana ini mendoakannya dan menyerahkannya pada perlindungan Bunda Maria.

Tiba-tiba datanglah suara seperti angin dan kelihatan suatu cahaya yang cemerlang dan puji-pujian memenuhi udara di sekitarnya. “Saya tidak dapat melihat atau mendengar selain hanya ketakutan dan khawatir. Saya melihat Serafim berlutut dan mengangkat kedua tangannya ke surga dan berseru, O Yang Terberkati Santa Perawan Maria yang Dikandung tanpa Noda Dosa, Bunda Allah!” Suster itu melihat dua malaikat nan indah datang dengan membawa ranting-ranting daun ditangannya bersama dengan Bunda Maria. Bunda Maria datang bersama dua belas orang kudus lainnya diantaranya S. Yohanes Pembaptis dan S. Yohanes Penginjil. “Saya berlutut dengan penuh kekaguman, sepertinya saya menjadi tidak berdaya dan rasanya ingin mati. Saya tidak tahu sampai berapa lama saya dapat bertahan. Saya tidak mendengar apa yang dikatakan Ratu Surga kepada Serafim. Meskipun saya mendengar apa yang diminta Serafim kepada Ratu Surga. Sebelum peristiwa itu berakhir saya jatuh ke lantai karena lemas tak berdaya”. Saya mendengar Bunda Maria bertanya kepada Serafim: ”Siapakah yang terbaring di atas lantai itu?” Serafim menjawab, “Ini seorang suster yang kupersembahkan kepadamu, Bunda dan ia ingin melihatmu Bunda.” Santa Perawan Maria yang Dikandung Tanpa Noda Dosa mengabulkan permohonan itu, lalu membelai tangan kanan saya dan meminta saya untuk bangkit berdiri. “Bunda Maria meminta saya untuk bertanya kepada kedua belas orang kudus itu, siapa nama mereka dan kebajikan-kebajikan yang mereka lakukan semasa hidupnya di dunia ini. Saya mulai bangkit dan bertanya kepada mereka… Tetapi tiba-tiba semuanya itu menghilang.” Kemudian Serafim menyapa saya bahwa kejadian ini sudah berlangsung selama empat jam. Ketika kejadian itu berakhir saya bertanya kepada Serafim: ”Saya kira saya akan mati ketakutan dan tidak mempunyai waktu lagi untuk bertobat memohon kerahiman-Nya dengan perantaraan Bunda Maria.” Serafim menjawab,”Saya orang yang malang ini telah memohon pertolongan Bunda Maria untuk keselamatan jiwamu dan bukan hanya untuk kamu tetapi juga untuk keselamatan jiwa semua orang. Jangan khawatir, Bunda Maria akan menolongmu. Inilah kegembiraan yang dianugerahkan Tuhan kepada kita bersyukurlah atas rahmat-Nya yang baru saja engkau terima.”

Pertapa dan Dunia

The Igumen Georgy menambahkan bahwa banyak orang datang ke Serafim untuk meminta berkatnya dan meminta bimbingan dari masalah-masalah mereka. Namun banyak juga yang ‘mencobai dia’ sehingga Serafim harus bertindak keras. Ada juga yang datang kepadanya untuk mengikuti cara hidupnya yang unik itu tetapi kebanyakan di antara mereka tidak ada yang serius bahkan orang-orang ini sering jatuh dalam pencobaan lalu mundur dan menarik diri. Mereka seringkali berhenti di tengah jalan dan kembali ke manusia lamanya karena tidak dijalani dengan sungguh-sungguh. Rahib ini menegaskan: “Jalan hidup ini hanya diperuntukkan bagi rahib-rahib yang memiliki panggilan khusus untuk hidup dalam keheningan dan kesunyian, sudah teruji dalam hidup berkomunitas, memiliki pengalaman Allah yang hidup yang mengubah seluruh hidupnya serta matang dalam kepribadiannya. Jika tidak memenuhi persyaratan tersebut, bisa dipastikan rahib-rahib akan gagal dan meninggalkan cara hidup ini. Karena cara hidup ini di satu sisi adalah suatu bentuk hidup yang berbahaya karena banyak sekali kesulitan-kesulitan yang harus dihadapi. Namun di lain sisi merupakan suatu kebahagiaan adikodrati bagi mereka yang terpanggil karena mereka ini mengenyam dalam hati serta mengalami dalam Roh kekuatan kehadiran Allah dan kemanisan kemuliaan surgawi, tidak hanya sesudah kematian di dunia ini, tetapi sudah sejak sekarang dalam hidup di dunia ini.”

Prior padang gurun Vysokogorsky yang menghormati dan mengagumi Serafim berkata, “Serafim dapat membaca jiwa manusia seperti melihat wajah di depan cermin bahkan ia dapat mengetahuinya keadaan seseorang hanya dengan memandang dan mendengarkan keluhan-keluhan mereka”. Namun pertapa ini menyanggahnya dan mengatakan: “Bukan, saudaraku. Jiwa yang sungguh-sungguh terbuka kepada Tuhan adalah jiwa yang sepenuh menyerahkan dirinya kepada Tuhan.Jika Tuhan menghendaki saya mengetahui keadaan jiwanya, semua itu saya lakukan sebagai kehendak-Nya demi keselamatan jiwanya. Jika bukan berasal dari Allah, saya yakin itu berasal dari pikiran saya atau dari si jahat dan saya segera menolaknya”.

Suatu ketika datang seorang tuan tanah mengunjungi Serafim. Ia sudah berkali-kali datang ke Sarov tetapi tidak pernah bertemu dengan Serafim. Setiap orang mengatakan bahwa tuan tanah ini adalah orang yang saleh karena setiap kali menghadiri perayaan ekaristi, ia selalu berdoa dengan meneteskan air mata di hadapan lukisan Santa Perawan Maria. Ketika ia datang ke biara, ia disambut oleh seorang rahib dan rahib ini memberitahukan kepada Serafim. Serafim segera keluar dari pondoknya dan ia menegur rahib tersebut, karena ia yakin bahwa tamu itu adalah seorang pendosa dan seorang pemberontak. Akhirnya rahib ini menemui tuan tanah ini dan mengatakan bahwa Serafim tidak akan menemuinya. Tiba-tiba orang ini menangis tersedu-sedu, dan ia mengakui bahwa ia seorang pendosa berat dan selama ini selalu menipu orang dengan menangis tersedu-sedu ketika sedang berdoa di hadapan lukisan Santa Perawan Maria supaya orang menganggap dia sebagai orang yang saleh. Dengan malu ia meninggalkan tempat itu sambil memukul-mukul diri karena telah mencobai Serafim yang saleh itu.

Setelah tuan tanah itu pergi, datanglah seorang peziarah dari kota Kiev. Pada waktu itu, Serafim sedang memotong rumput liar. Ketika ia mendengar bahwa seorang peziarah dari Kiev datang, segera ia berkata: “Panggillah dia.” Lalu Serafim mendekatinya dan memberkati peziarah itu. Ia meminta peziarah itu untuk kembali ke tempat asalnya dimana isterinya, ibu dan anak-anaknya menantinya, karena telah lama ditinggalkannya. Peziarah itu juga diminta untuk menjadi seorang petani. “Percayalah pekerjaan itu akan sangat menyenangkan.” Serafim menambahkan: “Saya mengenal seorang petani di Yeletz. Temuilah dia dan katakan kepadanya bahwa Serafim yang mengirimmu. Maka ia akan menerimamu sebagai pegawainya.” Dalam perjalanan pulang, peziarah ini menceritakan pengalamannya bahwa ia akan menjadi seorang petani. Dengan demikian ia akan mencari nafkah bagi keluarga yang ditinggalkannya. Tanpa pertolongan Tuhan dan bimbingan dari Serafim ia pasti sudah mengembara ke mana-mana. Akhirnya Ia kembali ke Kiev ke kota asalnya dan sebagai silih atas dosa-dosanya ia berjalan tanpa alas kaki dalam keadaan terikat dan berdoa terus menerus sepanjang perjalanannya.

Seorang pemuda yang menderita suatu penyakit dan kelemahan badan, datang ke Sarov untuk mengunjungi Serafim. Karena ia tidak bisa berjalan, ia dibawa bersama tempat tidurnya. Saat itu Serafim sedang berdiri di depan pintu pondoknya ternyata rahib sudah menunggu pemuda itu. Ia meminta agar pemuda itu, segera di bawa masuk ke dalam pondoknya dan berkata: “Berdoalah dan saya juga berdoa untukmu. Tetapi kamu harus tetap diam dan jangan melihat ke arah yang lain.” Pemuda itu taat kepada Serafim. Tetapi karena ia tidak sabar dan ingin tahu apa yang sedang dilakukan Serafim. Ia memutar badannya dan melihat Serafim sedang melayang-layang di atas udara dalam posisi berdoa. Pemuda itu menangis dan tersentuh melihat kejadian itu. Setelah Serafim selesai berdoa, Serafim mendatanginya dan berkata, “Sekarang kamu akan menceritakan kepada semua orang bahwa saya ini adalah seorang suci, yang berdoa di atas udara. Tuhan akan mengampunimu. Tetapi rahasiakanlah kejadian ini sampai hari kematian saya, atau penyakitmu akan kambuh lagi.” Dan sejak saat itu pemuda iu sembuh dari penyakit yang dideritanya, dan ia tidak menceritakan kepada siapapun mengenai peristiwa itu.

Di suatu tempat seorang pria menderita penyakit demam yang menular dan membahayakan. Ia tinggal di desa bernama Kupriganov dan menulis surat ke saudarinya untuk menemui Serafim agar rahib itu menyembuhkan penyakitnya. Setibanya di sana pertapa tua itu sudah menunggu wanita ini dan mempersilakannya masuk. Lalu Serafim berkata: “Maukah engkau melakukan suatu kebajikan untuk kakakmu yang kau sayangi itu. Karena sebentar lagi kakakmu akan meninggal dunia, namun ia masih dibutuhkan oleh biara untuk membantu panti asuhan anak-anak yatim piatu. Engkau akan meninggal dunia menggantikan kakakmu, apakah engkau bersedia, anakku.” Dengan tenang perempuan itu menjawab, “Baiklah Romo, berdoalah dan berkatilah saya.” Setelah memberkati dan mendoakan wanita itu, Serafim berbicara dengan dia beberapa waktu lamanya, menghibur dia dan menguatkan hatinya. Ia mendengarkan dengan penuh perhatian, tetapi ia menjadi semakin takut dan berkata, “Saya takut untuk mati.” “Mengapa kamu harus takut untuk mati, anakku?” Percayalah kamu akan memperoleh kehidupan abadi di surga.”

Ia pulang dan kembali ke rumahnya. Setibanya di rumah ia langsung merasa sakit lalu beristirahat untuk terakhir kalinya, dan berkata: ”Saya tidak akan bangun lagi.” Dan Ia meninggal di usia dua puluh tujuh tahun, ia sudah tujuh tahun tinggal di desa Diveyevo. Namanya Elena Vasilievna, ia cantik, menarik, tubuhnya tinggi, rambutnya hitam dan wajahnya bulat. Matanya indah dan hitam. Pada waktu kematiannya, jiwanya dipenuhi dengan kegembiraan bahkan ada yang berkata, “Di sana ada seorang wanita termashyur telah dipanggil Allah.”

Kematian Santo Serafim

Pada tanggal 2 Januari 1833 pukul 06.00 pagi hari, seorang rahib keluar dari pondoknya untuk mengikuti misa harian di kapela biara seperti biasanya. Tetapi pagi itu ia mencium bau asap obor milik Serafim, karena merasa ada sesuatu yang mencurigakan di pondok rahib tua itu. Ia segera mengunjungi pondok Serafim dan mengetuk pintu pondoknya tetapi pintunya terkunci dari dalam dan tidak ada jawaban. Lalu rahib ini membuka pintu dengan mendobraknya dan masuk ke dalam pondok itu. Tidak terlihat adanya api, hanya beberapa buku dan artikel-artikel yang lain. Di luar masih gelap karena hari masih pagi dan matahari belum terbit. Mereka menyalakan lilin dan melihat Serafim sedang mengenakan jubah putih, ia berlutut menghadap sebuah altar kecil. Kepalanya ditutup oleh kapus, dan sebuah salib yang terbuat dari logam kuningan tergantung di lehernya. Kedua tangannya tampak menyilang dan sebuah buku yang sering digunakannya untuk berdoa berada di atas altar bersama dengan sebuah gambar suci “Santa Perawan Maria”. Kepalanya terjatuh di pangkuan tangannya. Rahib muda ini mengira Serafim sedang tidur tetapi setelah diselidiki Serafim yang saleh itu telah meninggal dunia. (Disadur dari A Treasury of Russian Spirituality edited by G.P. Fedotov).

www.carmelia.net © 2008
Supported by Mediahostnet web hosting