User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active
 

Masa Kecil

Giuseppe Melchiorre Sarto adalah seorang pelajar miskin dari Italia yang kelak menjadi paus ke-257! Dia adalah paus pertama yang diberi gelar kudus sejak Paus Pius V yang berkarya pada tahun 1566. Dia seorang paus yang sangat menjunjung tinggi nilai-nilai Kristiani. Setelah terpilih menjadi paus pada tahun 1903, dia memilih nama Paus Pius X untuk menghormati paus sebelumnya, yaitu Paus Pius IX yang berkarya pada tahun 1846.

Giuseppe—artinya Yosef—dilahirkan pada tahun 1835 di Riese, Italia, sebagai anak kedua dari sepuluh bersaudara dari pasangan Giovanni Battista Sarto dan Margarita Sanson. Dia dibaptis pada tanggal 3 Juni 1835. Dalam keluarga, ia biasa dipanggil dengan nama kesayangan "Beppi". Ayahnya seorang pegawai pos. Kedua orang tua Giuseppe Sarto adalah orang yang saleh, taat beragama, dan selalu mengajarkan cinta kasih yang mendalam kepada Yesus dan Gereja-Nya kepada kesepuluh anak mereka. Hal ini mereka ajarkan melalui teladan cinta kasih dalam rumah mereka yang mereka anggap melebihi segalanya. Mereka sangat menginginkan dan mencita-citakan agar anak-anak mereka dapat mengenal Tuhan sejak dini. Dalam kehidupan mereka yang sangat sederhana, mereka menggantungkan hidup mereka pada kekuatan cinta Tuhan bagi mereka. Dalam situasi dan kondisi yang penuh cinta kasih inilah Giuseppe Sarto kecil dibesarkan. Semangat cinta kasih yang mendalam mengalir deras dalam dirinya. Inilah buah-buah kasih yang telah ditaburkan oleh kedua orang tuanya sejak dia masih kecil. Di kemudian hari dia menjadi orang yang begitu memerhatikan kebutuhan orang lain. Dia tumbuh menjadi orang yang sangat berbelaskasih terhadap orang lain. Itulah semangat awalnya saat dia memutuskan untuk melayani Tuhan seumur hidupnya.

 

Perjalanan sebagai Imam

Dalam lubuk hatinya yang terdalam, Giuseppe bertekad untuk menyerahkan hidupnya untuk membawa banyak orang ke surga. Ia sangat rindu untuk menjadi seorang imam. Untuk itu ia dan keluarganya harus banyak berkorban agar ia dapat bersekolah di seminari. Ia biasa berjalan bermil-mil jauhnya dengan kaki telanjang ke sekolah agar sepatu yang hanya satu-satunya jangan sampai rusak, namun hal ini bukan masalah baginya.

Ketika berusia 23 tahun, Giuseppe Sarto ditahbiskan menjadi seorang imam. Don[1] Sarto berkarya di paroki-paroki miskin selama tujuh belas tahun. Pada tahun 1867 dia diberi nama Pastor Ars dari Salzano. Salzano adalah sebuah wilayah yang cukup besar di Keuskupan Treviso. Di sinilah dia memperbaiki gereja dan mendirikan rumah sakit dengan menggunakan uang dan tenaganya sendiri. Dia semakin dikenal banyak orang ketika dia melayani para penderita penyakit kolera yang pada saat itu menyebar sampai ke wilayah Italia utara. Karya dan pelayanan ini dilakukannya pada awal tahun 1870-an. Orang-orang miskin yang dia layani telah menjadi bagian dari hidupnya. Di tengah-tengah kesibukannya sebagai pastor paroki yang membuatnya lelah, dia juga menambah pengetahuannya tentang teologi dengan belajar di St. Thomas Aquinas. Ia juga mempelajari Hukum Kanonik. Dia selalu berusaha untuk menyelesaikan tugas penggembalaannya di paroki dengan sebaik-baiknya. Semua orang mengasihinya karena dia melakukan pelayanan tanpa memedulikan kebutuhannya sendiri. Don Sarto juga biasa memberikan segala miliknya demi membantu mereka yang membutuhkan. Seringkali saudarinya harus menyembunyikan sebagian pakaiannya agar Don Sarto tetap mempunyai pakaian untuk dikenakan. Bahkan, setelah diangkat menjadi uskup dan kemudian diangkat lagi menjadi kardinal, Don Sarto masih suka membagi-bagikan apa yang ia miliki kepada mereka yang berkekurangan. Ia tidak menyimpan apa-apa bagi dirinya sendiri. Hatinya sangat tergerak oleh belaskasihan jika menyaksikan penderitaan orang lain. Setelah menjadi paus pun, dia tidak memanjakan keluarganya dengan hal-hal duniawi. Dia tetap membiarkan mereka hidup dalam kesederhanaan. Keluarganya sangat memahami dan menerima hal ini.

Semenjak dia ditahbiskan menjadi imam, ada begitu banyak kegiatan dan tugas yang dilakukannya untuk membantu perkembangan iman umatnya dan untuk kelangsungan hidup Gereja Katolik. Antara lain, ia menjadi pembimbing rohani dan rektor seminari tinggi di Keuskupan Treviso. Selain itu, dia juga menuliskan aturan-aturan untuk gereja katedral di Keuskupan Treviso dan menjadi penguji para calon imam. Untuk membantu perkembangan iman dari anak-anak yang sekolah di sekolah-sekolah negeri, dia membuatkan aturan sedemikian rupa agar kepada mereka pun diajarkan pengetahuan agama Katolik.

 

terpilih sebagai Paus

Pada tahun 1878 Uskup Zanelli meninggal sehingga posisi uskup di Keuskupan Treviso kosong. Maka, Pastor Sarto yang menulis aturan-aturan untuk gereja katedral, menerima tanggungjawab cukup besar terhadap badan hukum di keuskupan dan terutama bertanggungjawab untuk pemilihan vikaris keuskupan yang nantinya akan mengambil alih tanggungjawab uskup sampai uskup baru terpilih. Setahun kemudian Pastor Sarto pun terpilih menempati posisi uskup di Keuskupan Treviso. Mulai tahun 1880 dia mengajar teologi dogmatik dan teologi moral di seminari di keuskupan.

Pada tanggal 12 Juni 1893 dalam suatu rapat gerejani, Paus Leo XIII memberi dia gelar kardinal. Pada tanggal 20 Juli 1903 Paus Leo XIII meninggal. Pada akhir bulan itu juga para kardinal dikumpulkan untuk melakukan rapat umum memilih pengganti Paus Leo XIII. Pada tanggal 4 Agustus 1903, Kardinal Sarto terpilih menjadi paus yang ke-257. Hal ini juga merupakan kali terakhir rapat pemilihan paus dalam gereja Katolik melakukan voting. Pada mulanya, Kardinal Sarto menolak pencalonan untuk menjadi paus, ia merasa tidak pantas dan tidak layak. Para kardinal meminta kepadanya untuk mempertimbangkan lagi. Maka, untuk memutuskan hal ini, ia menyepi dan hidup dalam kesunyian untuk memohon petunjuk Tuhan agar keputusan yang diambil merupakan kehendak dan rencana-Nya. Selain itu, dia juga meminta rekan kardinalnya untuk mendukung dia dalam doa. Akhirnya, setelah doa yang mendalam, dia memutuskan untuk menempati posisi paus yang baru. Dan pada hari minggu berikutnya, yaitu tanggal 9 Agustus 1903, dalam suatu upacara resmi Kardinal Sarto resmi menjadi paus. Dia memilih nama Pius X untuk menghormati pendahulunya, yaitu Paus Pius IX yang sangat menentang liberalisme dalam agama.

Ketika dikunjungi ibunya di Vatican, Paus Pius X menunjukkan kepadanya cincin kepausannya. Si ibu berkata, “Kamu tidak akan mengenakan cincin itu hari ini, jika aku tidak terlebih dahulu mengenakan cincin ini,” kemudian beliau menunjukkan cincin emas perkawinannya dan mengenakannya pada jari putranya. Dengan rasa syukur dan bangga beliau menyaksikan putra tercintanya menjadi paus, menjadi gembala umat Katolik di seluruh dunia. Kini cita-cita keluarga tercapai, yaitu menyerahkan putra mereka untuk melayani Tuhan seumur hidup.

 

Memperbarui Segala Sesuatu dalam Kristus melalui Maria

Di masa kepausannya, Paus Pius X sangat aktif membenahi aturan-aturan gereja yang bertujuan untuk menjaga kemurnian iman Katolik. Dia juga dikenal sebagai paus yang mencintai Maria. Salah satu ensikliknya memuat pernyataannya: “memperbarui segala sesuatu dalam Kristus melalui Maria”. Inilah motto Paus Pius X dalam surat kepausannya yang pertama kepada para uskup. Paus Pius X percaya bahwa tidak ada jalan yang lebih langsung kepada Kristus selain melalui Maria. Ia memandang Maria sebagai ibu rohani kita. Secara rohani, kita adalah anak-anaknya. Kristus adalah Sabda Allah yang menjadi manusia. Secara fisik Ia mempunyai tubuh seperti manusia lainnya. Maria membawa Sang Penyelamat Dunia dalam dirinya dan juga semua orang yang percaya kepada Kristus. Paus Pius X merupakan satu-satunya paus di abad ke-20 yang berkarya mulai dari tingkat paroki. Ia juga mendukung penggunaan bahasa pribumi atau bahasa setempat dalam pemberian katekese.

Secara istimewa Paus Pius X dikenang karena kasihnya yang berkobar-kobar terhadap Ekaristi Kudus. Paus mendorong semua orang untuk menyambut Yesus dalam Komuni Kudus sesering mungkin, bahkan tiap hari! Ia juga menetapkan ketentuan yang mengijinkan anak-anak menyambut Komuni Kudus. Berdasarkan aturan sebelumnya, anak-anak harus menunggu hingga berusia 12-14 tahun untuk dapat menyambut Tuhan dalam Komuni Kudus. Paus yakin sekali bahwa Komuni Kudus memberi kekuatan yang diperlukan untuk melakukan segala sesuatu demi kasih kepada Yesus!

Paus Pius X percaya teguh dan amat mencintai iman Katolik. Ia menghendaki setiap orang Katolik mengenal dan mencintai keindahan kebenaran ajaran iman Katolik. Ia amat peduli terhadap setiap orang, baik mengenai kebutuhan rohani, maupun kebutuhan jasmaninya. Ia mendorong para imam dan para katekis membantu umat mengenal iman mereka.

Paus Pius X juga mengerahkan banyak tenaga untuk memperbarui liturgi. Sepanjang hidupnya ia tertarik pada musik-musik sakral dan mendorong digunakannya lagu-lagu Gregorian di setiap paroki. Namun demikian, ia menjelaskan bahwa ia beranggapan usaha untuk menggantikan segala bentuk musik Gereja lainnya dengan lagu Gregorian tidaklah dikehendaki. Ia mendorong digunakannya juga komposisi modern dalam liturgi, selama komposisi modern ini memenuhi standard musik liturgi Gereja. Paus Pius X juga merevisi Ibadat Harian Gereja.

Paus Pius X teramat menderita ketika pecah Perang Dunia I. Ia tahu bahwa akan ada banyak orang yang terbunuh. Ia bisa merasakan penderitaan dari orang-orang yang menjadi korban peperangan. Dalam suatu kesempatan ia mengatakan, "Aku akan dengan senang hati menyerahkan nyawaku demi menyelamatkan anak-anakku yang malang dari penderitaan yang mengerikan ini." Cinta kasih yang mendalam terhadap orang-orang yang sederhana tertanam begitu kuat dalam dirinya.

 

Akhir Hidupnya

Pada tahun 1913, Paus Pius X mendapat serangan jantung. Dan, pada tanggal 14 Agustus 1914 setahun setelah serangan pertama, Paus Pius kembali mendapat serangan jantung yang kedua kali pada waktu perayaan Maria Diangkat ke Surga tanggal 15 Agustus. Serangan kedua ini membuat kondisi kesehatannya semakin menurun dan kemungkinan untuk sembuh kecil. Akhirnya, pada tanggal 20 Agustus 1914 Paus Pius X menghadap Bapa di surga.

Dalam surat wasiatnya ia menulis, "Saya dilahirkan miskin, saya hidup miskin, dan saya juga berharap mati miskin." Paus Pius X dikanonisasi oleh Paus Pius XII pada tahun 1954. Pestanya dirayakan setiap tanggal 21 Agustus tidak jauh dari tanggal wafatnya.

Paus Pius X dikuburkan secara sederhana dan tanpa perhiasan di dalam gereja bawah tanah, di Basilika St. Petrus. Seperti kebiasaan sebelumnya, dokter-dokter diperkenankan untukmelakukan proses pembalseman pada mayat. Namun, semasa hidupnya Paus Pius X dengan jelas melarang hal ini. Dan, sampai saat ini tidak ada satu pun dari para penggantinya yang memulai ritual tersebut.

Pada tanggal 19 Mei 1944 kuburnya digali untuk proses kanonisasi atau proses pemberian gelar kudus. Relikwinya dipindahkan ke Kapel Patung Salib Suci di Basilika St. Petrus. Setelah itu, barulah dilakukan berbagai macam penelitian.

Banyak peziarah yang berziarah ke makamnya dan mendapat mukjizat penyembuhan. Ada dua mukjizat yang terjadi berkat perantaraan Paus Pius X ini. Yang pertama dialami oleh Sr. Marie-Françoise Deperras, seorang biarawati yang menderita kanker tulang dan mengalami penyembuhan. Selama sembilan hari dia berdoa pada Bunda Maria dan ia menaruh suatu barang peninggalan dari Paus Pius X pada dadanya. Mukjizat yang kedua dialami oleh Sr. Benedetta de Maria, yang menderita kanker juga. Dia berdoa selama sembilan hari pada Bunda Maria dan akhirnya mengalami penyembuhan setelah menjamah suatu barang peninggalan dari Paus Pius X. Ada begitu banyak penyembuhan yang terjadi dengan perantaraan Paus Pius X ini. Pada umumnya, setelah mereka berdoa dan meletakkan gambar atau barang peninggalan pada daerah yang sakit, mereka mengalami penyembuhan.

Pada tanggal 29 Mei 1954, setelah masa beatifikasinya, Pius X diangkat menjadi Santo. Misa kanonisasi dipimpin oleh Paus Pius XII di Basilika St. Petrus dan dihadiri banyak orang dari berbagai penjuru dunia, termasuk para pejabat negara. Paus Pius X menjadi Sri Paus pertama dari abad ke-17 yang diangkat menjadi santo.

“Komuni Kudus adalah jalan tersingkat dan teraman menuju Surga.”

(S. Paus Pius X)

 


[1] “Don” dari bahasa Italia. Artinya “Pater”.

www.carmelia.net © 2008
Supported by Mediahostnet web hosting