header carmelia 01.jpgheader carmelia 02.jpg

Santo Paulus, Tinggi Besar?

User Rating:  / 10
PoorBest 

Saulus dari Tarsus

Hanya berselang beberapa tahun sejak kelahiran seorang bayi miskin bernama Yesus di Betlehem yang diikuti oleh pembunuhan besar-besaran bayi-bayi yang tak bersalah oleh prajurit-prajurit Herodes, lahirlah seorang bayi lainnya bernama Saulus di Kota Tarsus. Kedua orang tuanya menamai dia Saulus, nama salah seorang raja masa lampau Bangsa Israel dan keturunan suku Benyamin, dengan harapan besar bahwa anak ini kelak akan termasyhur seperti leluhurnya dan suku yang sama itu. Sesuai kebiasaan pada waktu itu, mereka juga memberikan kepadanya nama yang kedua, nama Yunani, yakni Paulus.

Kota Tarsus, berbeda jauh dengan Betlehem yang hanya merupakan kota kecil di tanah Yudea, merupakan suatu kota pelabuhan nan kaya yang termasyur dalam daerah kekuasaan bangsa Romawi. Pemandangan alamnya sungguh indah: dikeliingi oleh puncak-puncak pegunungan Tarsus yang sepanjang tahun diselimuti saiju dan dialiri Sungai Cyndus yang bermuara langsung ke Laut Tengah. Letaknya juga sangat strategis, yakni berada di persimpangan jalan dataran Silisia, tempat pertemuan antara Timur dan Barat. Semuanya ini menjadikan Kota Tarsus sebuah kota perdagangan yang ramai sekaligus kota peradaban yang kaya dengan bermacam-macam kebudayaan. Dengan segala keunikannya ini, Kota Tarsus menjadi pusat pengajaran pada waktu itu, bersaing dengan Kota Athena dan Aleksandria.

Akibat keterbukaan kota ini ditambah dengan pengaruh pandangan manusia pada masa itu yang sangat menghargai kebebasan dan kecemerlangan pikiran dan gagasan-gagasan yang baru, berkembanglah paham sinkretisme, yaitu suatu paham yang mencampuradukkan berbagai kepercayaan dan agama menjadi satu di kota ini. Paham yang kacau ini selain menimbulkan kebingungan yang besar, juga membuat banyak orang terjerumus ke dalam praktek penyembahan berhala yang gila-gilaan. Kemerosotan moral yang luar biasa, yang sudah merasuki banyak kota-kota besar lainnya, akhirnya tak terbendung lagi memasuki kota ini. Di banyak tempat dalam kota ini bermunculan kuil-kuil dengan praktek-praktek penyembahan berhala yang menjijikkan. Belum lagi ditambah dengan segala tempat pelacuran dan permandian umum.

Namun di tengah segala hiruk-pikuk ini, juga dengan memanfaatkan keterbukaan Kota Tarsus inl, berdirilah sinagoga-sinagoga Yahudi yang menyembah Allah yang benar. Dalam lingkungan keagamaan yang kental dan lingkungan pergaulan yang sangat permeabel inilah, Saulus dibentuk menjadi seorang penganut Agama Yahudi yang keras namun sangat moderat dalam cara berpikir. Sampai sekarang mungkin anda bertanya, “Untuk apa membahas panjang lebar tentang masa lalu seorang Saulus? Mengapa tidak langsung saja melihat pribadi seorang Paulus yang ingin kita kenal lebih dalam?”
Sebabnya adalah apa yang menjadi latar belakang dan seorang Saulus sangat menentukan pribadi dan watak Santo Paulus di kemudian hari. Allah tidak pernah menciptakan manusia baru. Ia menyempurnakan manusia lama dan mengubahnya seakan-akan menjadi manusia yang baru seutuhnya. Jadi untuk mengenal lebih dalam Santo Paulus, kita perlu mengenal manusia lamanya, Saulus.

Sebagai keturunan Yahudi, Saulus mempunyai suatu keistimewaan yang jarang dimiiki oleh kaumnya, yakni kepemilikan kewarganegaraan Romawi. Ia mendapatkan hak kewarganegaraannya itu karena kedua orangtuanya. Ada pun mengenai kedua orang tuanya, menurut Santo Hieronimus, mereka adalah keturunan Suku Benyamin yang berasal dan Giskala, dataran Galilea. Sebagai saudagar, mereka merantau ke daerah-daerah tepi Sungai Cyndus dan akhirnya sampai di Tarsus. Mereka memilih untuk menetap di kota ini. Bagaimana kemudian mereka mendapatkan kewarganegaraan Romawi tidaklah diketahui. Namun yang jelas mereka termasuk golongan yang cukup berada dan terhormat bahkan untuk kalangan warganegara Romawi sekalipun.

Saulus dididik dalam suatu kaum elit orang Yahudi yang disebut Mashab (klan) Farisi. Pendidikannya ini mengharuskan ia menguasai juga Bahasa Ibrani sebagai bahasa Kitab Suci yang dipelajarinya, selain Bahasa Aram sebagai bahasa percakapan antarkalangannya, dan Bahasa Yunani sebagai bahasa pergaulan sehari-hari di seluruh daerah kekuasaan Romawi. Saulus tergolong sangat cerdas sehingga akhirnya ia diutus ke Yerusalem untuk meneruskan pendidikannya menjadi seorang rabbi (sebutan bagi seorang guru dalam agama Yahudi). Gurunya adalah Rabbi Gamaliel, seorang ahli taurat yang sangat saleh, bijaksana, dan terbuka terhadap kehendak Allah.

Di bawah didikan Gamaliel yang bijaksana inilah Saulus berkembang sangat pesat dalam pengetahuan akan Kitab Suci dan penafsirannya sehingga dalam waktu singkat ia menjadi salah seorang ahli Kitab Suci dan pengkhotbah yang disegani. Sayangnya ia tidak mewarisi kebijaksanaan dan keterbukaan akan kehendak Allah dari gurunya. Kefanatikannya akan apa yang dipelajarinya membuat ia sangat agresif terhadap ajaran-ajaran di luar keyakinannya. Kota Yerusalem yang menjadi tempat pertemuan pertamanya dengan para pengikut Kristus, kelak akan menjadi saksi bangkitnya amarah yang berapi-api dan tokoh muda ini terhadap suatu ajaran baru yang diyakininya sebagai ajaran yang tidak masuk akal, ajaran Yesus Kristus.

Bagaimana dengan Kristus? Pernahkah Saulus berjumpa secara pribadi dengan Yesus? Rupanya, saat Yesus muncul di tengah-tengah orang banyak dalam karyaNya selama 3,5 tahun, Saulus tidak berada di Yerusalem maupun Galilea. Ia kembali ke Tarsus untuk melengkapi pendidikannya dengan ketrampilan dalam perdagangan seperti yang lazim dilakukan oleh setiap rabbi. Ia sedang mendalami teknik membuat kemah ketika Sang Mahaguru Cintakasih itu wafat di atas kayu salib di Puncak Golgota. Saulus kembali ke Yerusalem hanya untuk menjumpai kehebohan yang belum usai akibat ulah Tukang Kayu dan Nasaret itu. Tidaklah mengherankan bila sebagai seorang mahaguru muda kaum farisi, ia terpicu untuk segera melenyapkan ajaran yang dianggapnya sangat tidak masuk akal dan sesat ini, apalagi setelah mendengarkan penjelasan yang berat sebelah dari sesama kaumnya. Mulailah ia mengejar-ngejar para pengikut Kristus itu dan ketika ia sedang semangat-semangatnya ingin memberantas mereka, terjadilah sesuatu. Sesuatu yang akan mengubah seluruh hidupnya...

www.carmelia.net © 2008
Supported by Mediahostnet web hosting