header carmelia 01.jpgheader carmelia 02.jpg

Santa Margaret dari Cortona

User Rating:  / 3
PoorBest 

 


Hari mulai menjelang sore, namun matahari masih menyisakan terang yang memadai bagi para pejalan kaki untuk sekedar melanjutkan perjalanannya tanpa tersesat. Suasana biasa-biasa saja. Tidak ada hal luar biasa yang terjadi atau kelihatannya akan terjadi. Hari yang sama seperti hari-hari yang lain di Cortona.

Namun tidak demikian yang dirasakan oleh seorang wanita muda di dalam suatu rumah batu yang terletak di pinggiran kota, mungil namun indah dan bersebelahan langsung dengan hutan. Wanita itu, Margaret, merasa gelisah. “Ah, seharusnya ia sudah kembali sekarang. Tidak biasanya ia pergi sampai sesore ini,” Margaret bertanya-tanya dalam hatinya sambil memain-mainkan jari-jari tangannya yang lentik. Usia Margaret belum mencapai tiga puluh, bahkan paras wajah dan postur tubuhnya yang menarik mencerminkan usia yang jauh lebih muda. Tiba-tiba seorang anak laki-laki kecil berusia sekitar lima tahun berlari keluar dari ruangan sebelah diiringi oleh seorang gadis muda, pengasuhnya. Rupa anak itu begitu tampan menyerupai wajah cantik ibunya. “Ma, mengapa papa belum pulang?” tanyanya sambil melemparkan dirinya ke dalam pelukan ibunya. “Entahlah, nak, mama juga heran,” Margaret menjawab dengan nada khawatir sambil mengelus kepala dan mempermainkan rambut anaknya dengan lembut. “Kamu pergilah mandi dulu dengan Betty, mama mau menyiapkan makan malam sebentar.” Lalu ia berpaling kepada gadis muda tadi, “Betty, tolong mandikan dia dulu.”

Sesudah mereka berdua masuk, Margaret tidak segera menyiapkan makan malam. Kegelisahannya kali ini tidak seperti biasanya, “Pasti ada sesuatu yang terjadi, tapi apa?” Ia pun mencari tempat duduk lalu duduk sambil terus meremas-remas jarinya, suatu kebiasaan yang selalu dilakukannya bila sedang khawatir dan gelisah. Ia merasa sangat cemas dan sesuatu dalam hatinya tiba-tiba mendorongnya untuk melakukan suatu hal yang sudah lama ia lupakan, berdoa.

Margaret memang memiliki semua yang bisa diimpikan oleh seorang gadis desa, anak seorang rakyat jelata yang miskin. Ia memiliki paras wajah yang menarik, uang, kehormatan, pakaian-pakaian indah, makanan mewah, seks, pesta-pesta dan teman-teman yang berpengaruh. Kekasihnya yang kaya, seorang bangsawan, mampu memberikan semuanya itu kepadanya. Mereka telah hidup bersama selama sembilan tahun tanpa mempedulikan bisikan-bisikan dan bahkan teguran-teguran dari masyarakat sekitar mereka. Segala nasihat pastor paroki untuk Margaret berkenaan dengan hubungan yang terlarang ini sama sekali tidak dipedulikan olehnya. Bahkan dari hubungan itu telah lahir seorang anak laki-laki. Margaret merasa sayang untuk melepaskan semuanya itu sekedar hanya untuk melaksanakan tuntutan agamanya.

Namun sekarang, di saat kegelisahan yang tidak lazim itu datang menghampirinya, di saat kekasihnya yang berangkat tadi pagi bersama anjing kesayangannya tidak pulang-pulang, timbullah keragu-raguan baru di dalam hatinya. Ah, mungkin hubungan dengan kekasihnya bukanlah yang paling baik bagi mereka. Mungkin, Tuhan yang telah dihindarinya bertahun-tahun lamanya tidak berkenan akan tingkah laku mereka. Tidak, Margaret tidak mau tahu akan hal itu. Ia segera menampik pikiran-pikiran itu. “Ketika saya sedang kedinginan, di mana Tuhan? Ketika saya lapar, tidak ada tangan dari atas yang menjatuhkan roti bagi saya,” hatinya melawan. “Tempat saya di sini, di mana ada pesta-pesta, musik, pakaian bagus dan makanan yang lezat-lezat,” lalu lanjutnya dalam kegetiran hati, “Tuhan tidak pernah memberikan semuanya itu kepadaku.”

Ketika ia sampai kepada pikiran in entah kenapa, ia masih merasa was-was. Dosa-dosa yang dilakukannya memberikan suatu tekanan dalam batinnya. Tiba-tiba ia merasakan suatu kesadaran baru, kenyataan yang sungguh mengagetkannya, ia tidak bahagia. Ya, ia tidak pernah bahagia. Semua kesenangan itu: seks, pesta pora, mabuk-mabukan, menjadi tidak mempunyai arti, hampa dan sia-sia. Tidak ada yang tertinggal, kosong. Serta-merta ia tersentak, “Tidak... Persetan dengan semuanya itu!” Pikiran-pikiran itu pun akhimya lenyap tersapu bagaikan abu tertiup angin.

Kalau kita membaca kisah Margaret ini, mungkin kita tidak akan terlalu heran. Kita sudah biasa membaca kisah-kisah seperti ini. Tidak ada yang aneh; perselingkuhan, skandal, gosip, kumpul kebo, seks bebas dan pesta pora, yang diiringi kemudian dengan munculnya keragu-raguan dalam hati, hati nurani yang mulai berbicara, kesadaran-kesadaran akan dosa, yang akhirnya kembali ditenggelamkan oleh kenikmatan-kenikmatan duniawi dan rasa cinta diri yang tinggi. Semuanya sudah tidak asing lagi di telinga kita. Namun yang menjadikan kisah yang terjadi pada pertengahan abad ketiga belas ini lain adalah perkembangan yang terjadi selanjutnya.

Saat Margaret baru saja berhasil menepis segala kegelisahan dengan kekerasan hatinya, suatu dengkingan halus di depan pintu rumahnya menyerap perhatiannya. Ia segera mengenalinya sebagai suara anjing kesayangan kekasihnya. Ia langsung berdiri dan dengan langkah-langkah yang panjang berjalan menuju pintu utama dan membukanya. Benarlah, anjing kekasihnya kembali, tapi tanpa kekasihnya. “Di mana dia?” serunya dengan nada kecemasan yang besar kepada anjing itu. Anjing itu, yang seolah-olah mengerti perkataan istri tuannya, segera menggonggong dan berlari ke arah hutan yang biasa dilalui tuannya bila bepergian. Margaret tanpa menunggu lagi, segera berlari mengikuti anjing itu.

www.carmelia.net © 2008
Supported by Mediahostnet web hosting