header carmelia 01.jpgheader carmelia 02.jpg

Beato Adolph Kolping

User Rating:  / 1
PoorBest 

Beato Adolph Kolping: Teladan bagi Gereja Masa Kini

Pada abad ke-19, terjadi revolusi industri di Negara Jerman. Revolusi industri ini membawa dampak sangat besar terhadap kehidupan masyarakat Jerman waktu itu, baik dampak positif maupun dampak negatif. Di awal masa industrialisasi ini, lahirlah seorang bayi laki-laki di suatu pedesaan. Bayi laki-laki inilah yang nantinya akan membawa pengaruh besar bagi masyarakat Jerman, khususnya bagi para tukang dan buruh muda. Beato Adolph Kolping, dialah orang kudus di masa industrialisasi tersebut. Kehadirannya yang tidak terduga mampu membuka jalan bagi suatu tata tertib sosial Jerman, baik melalui pendidikan maupun pembinaan demi penyelesaian masalah-masalah sosial. Pandangan dan ajaran Kristiani yang begitu luhur dinyatakannya dalam dunia sosial. Titik perhatian utamanya adalah memperdalam iman dan mempersatukan umat, membentuk organisasi kaum muda sebagai jawaban atas permasalahan sosial, dan memperbarui pastoral keluarga.

awal masa hidupnya

Adolph Kolping lahir dari pasangan Peter dan Anna Maria Kolping, pada tanggal 8 Desember 1813 di Desa Kerpen, kurang lebih 20 km dari Kota Köln, Jerman. Ia adalah anak keempat dari lima bersaudara. Peter Kolping adalah seorang yang buta huruf dan tidak memiliki pekerjaan mandiri. Peter bekerja sebagai seorang gembala upahan di desanya. Sehari-hari Peter bertugas menjaga dan memelihara kawanan domba dari seorang tuan tanah bernama Meller. Oleh karena itu, Peter beserta istrinya, Anna, harus bekerja keras untuk menghidupi keluarga besarnya. Meskipun demikian, keluarga Kolping memiliki kehidupan rohani yang sangat baik. Selain itu, Peter dan Anna selalu berusaha agar anak-anaknya tidak boleh alpa dari ajaran di sekolah. Kesederhanaan keluarganya ini membentuk Adolph menjadi seorang pribadi yang tekun dan mandiri. Bahkan, ia menjadi seorang yang sangat suka belajar, menambah ilmu, mencari tahu, berdiskusi, dan berpikir.

Bakat yang luar biasa dari seorang anak gembala domba ini ditangkap oleh gurunya, Yakob Wilhelm Statz. Adolph sangat menghormati dan mengagumi gurunya ini. Tak jarang pula Adolph kecil meluangkan banyak waktu untuk pergi ke rumah guru tersebut untuk membaca buku, mendengar cerita, menerima nasihat, dan bermain dengan anak-anaknya. Salah satu anak guru ini, Karl, menjadi sahabat karib Adolph hingga akhir hidupnya.

masa sulit di usia muda

Pada usia tiga belas tahun, Adolph belajar cara membuat sepatu dari berbagai ahli sepatu yang pernah ia jumpai. Ia menggeluti pekerjaan ini sampai usia 23 tahun. Pada usia inilah ia memutuskan untuk menjadi seorang imam. Untuk sampai kepada keputusan ini, ada banyak hal pahit yang harus ia lewati.

Adolph benar-benar merasakan dan menyadari benih panggilan suci ini, namun keadaan perekonomian keluarganya tidak memungkinkan dirinya untuk menanggapi panggilan suci ini. Suatu kali ia pergi berkonsultasi dengan salah seorang pastor parokinya, Leonhard Joecken. Pastor parokinya ini tidak membantunya sama sekali. Malahan dengan tegas pastor parokinya ini menolak keinginan Adolph dengan mengatakan, “Tukang sepatu, tinggallah pada kulitmu!” Penolakan dari pastor parokinya ini tidaklah memadamkan semangatnya untuk mengabdi Tuhan secara khusus.

Adolph sadar bahwa tanpa dukungan dan persetujuan dari seorang imam, ia tidak akan mungkin dapat berjalan terus pada jalan panggilan yang ingin dijalaninya ini. Lalu, ia pergi berkonsultasi dengan Pastor Leonhard Lauffs, pastor paroki tetangga. Apa yang dirasakannya selama ini, ia ceritakan semua kepada Pastor Lauffs. Rupanya Tuhan mulai membukakan jalan bagi Adolph melalui pastor ini. Dengan uraian yang sangat bijaksana, Pastor Lauffs mengungkapkan segala kesulitan yang harus diatasinya dan perjuangan yang diperlukan untuk mencapai panggilan suci ini bagi seorang seumur Adolph. Uraian dan nasihat dari pastor tersebut tidaklah mengecilkan niatnya untuk terus berjalan menanggapi panggilan suci ini. Adolph bersedia menerima semua halangan dan rintangan apa pun.

Melihat kesungguhan dan keteguhan hatinya, Pastor Lauffs akhirnya menawarkan bantuan dan persahabatan kepada Adolph dengan menjadi pembimbing rohaninya. Atas nasihat darinya, Adolph kembali melanjutkan pekerjaannya di Kota Köln sambil belajar dasar bahasa Latin di malam hari. Kurang lebih tiga bulan kemudian Adolph meminta Pastor Joecken untuk menguji pengetahuannya dalam bahasa Latin. Pastor Joecken begitu terkesan atas kesungguhan dan kemajuan Adolph. Akhirnya Pastor Joecken memberikan dukungan penuh kepada Adolph untuk menjadi seorang imam.

Dengan uang simpanannya selama bekerja, di usianya yang ke-24 tahun, Adolph mendaftarkan diri ke SMU Marsellus, suatu sekolah katolik dengan reputasi yang sangat baik dan guru-guru yang kompeten. Baginya, masa sekolah ini merupakan salah satu masa yang paling sulit dan penuh dengan tantangan. Pada usia 24 tahun ia harus belajar berdampingan dengan murid-murid lain yang berusia jauh lebih muda darinya. Namun, karena ketekunan dan bakatnya yang luar biasa, Adolph dapat menyelesaikan sekolahnya dalam waktu tiga setengah tahun saja. Padahal dibutuhkan waktu lima tahun bagi murid-murid lainnya untuk dapat tamat SMU.

Semasa ia sekolah di SMU ini, ia masih mengalami kesulitan untuk memperoleh biaya hidup dan studinya. Untuk mengatasi kesulitan keuangan ini, Adolph memberikan les tambahan pada sore hari kepada beberapa murid muda. Karena memberikan les tambahan ini maka jam belajarnya menjadi berkurang. Ia hanya bisa meluangkan waktu untuk belajar di malam hari.

menuju imamat suci

Beberapa bulan setelah Adolph tamat SMU, seorang wanita muda bernama Maria Helena Meller mendatanginya saat ia sedang berlibur di rumahnya. Nona Meller ini adalah putri sulung dari Tuan Meller, tuan tanah tempat ayahnya bekerja. Nona Meller mencarinya dengan tujuan untuk berterima kasih atas kerelaan dan bantuan Adolph kepadanya. Lalu, Nona Meller mengajak Adolph untuk berbicara berdua di dekat salib di pinggir jalan.

Beberapa bulan sebelum Adolph tamat SMU, ia pernah membantu menjaga seorang laki-laki yang mau meninggal dunia. Laki-laki tersebut adalah guru pribadi bagi anak-anak Tuan Meller. Dan rupanya secara diam-diam Nona Meller jatuh hati pada laki-laki tersebut. Begitu Nona Meller tahu bahwa laki-laki ini sakit parah dan hampir meninggal, ia berangkat secara sembunyi-sembunyi untuk melihat keadaan pujaan hatinya itu. Namun, Nona Meller tak bisa tinggal lama untuk mendampingi pujaan hatinya ini, maka ia meminta Adolph untuk mendampingi pujaan hatinya itu hingga meninggal dunia dan memakamkannya secara hormat dengan upacara gerejawi.

Setelah menyerahkan pujaan hatinya kepada Adolph, ia pulang ke rumahnya. Di perjalanan pulang, Nona Meller berhenti sejenak di dekat salib pinggir jalan, tempat mereka sedang berbicara. Di depan salib itulah ia membuat komitmen untuk membantu seorang calon imam miskin untuk mencapai cita-citanya. Dan, Adolph adalah orang yang akhirnya dipilihnya sebagai pemenuhan komitmen tersebut. Mendengar hal ini, Adolph tidak dapat menjawab apa-apa dan ia meminta waktu untuk memikirkan tawaran Nona Meller ini.

Tiga minggu kemudian mereka bertemu di tempat yang sama. Adolph memberikan keputusan untuk menerima bantuan dari Nona Meller, namun dengan syarat. Syaratnya adalah Adolph tidak ingin bantuan ini menjadi pengikat antara dirinya dengan Nona Meller, baik dalam status, tugas, dan keputusannya. Nona Meller menerima syarat yang diajukan Adolph tanpa keraguan sedikit pun. Akhirnya, Adolph dapat pindah ke kota studinya dengan hati lapang.

Adolph meneruskan studinya di Kota Munich. Di Universitas Munich ini Adolph menjalankan studinya selama tiga semester. Adolph mengambil mata kuliah dengan dosen-dosen yang merupakan para ilmuwan terkenal, bahkan salah satu dosennya merupakan penulis ternama pada waktu itu. Bulan November 1842, Adolph melanjutkan studinya selama tiga semester di Universitas Bonn sebagai syarat untuk menjadi imam di Keuskupan Agung Köln.

Tanggal 20 Maret 1844 adalah hari terakhirnya di Kota Bonn. Kemudian, ia masuk seminari tinggi di kota Köln sebagai calon imam praja. Tanggal 13 April 1845 Adolph ditahbiskan menjadi imam di Gereja Minorit, Köln. Hari itu adalah hari yang membahagiakan sekaligus menyedihkan baginya. Saat perarakan calon imam menuju gereja, ia diberitahu kakak dan adiknya bahwa ayahnya telah meninggal dunia malam sebelumnya. Dua hari setelah tahbisannya, ia mengantar jenazah ayahnya ke makam dekat gereja paroki di Kerpen.

Karya pastoral dan persekutuan tukang muda

Di usianya yang ke-32 tahun, Adolph menerima tugas pertamanya sebagai pastor pembantu di Gereja St. Laurensius di Elberfeld, Wuppertal. Di sana ia juga mengajar agama di SLTP dan SMU. Di bulan November 1846, melalui seorang temannya yang sangat aktif dalam pembinaan masyarakat Katolik di Kota Elberfeld, Johann Georg Breuer, seorang guru agama Katolik, terbentuklah sebuah persekutuan tukang muda Katolik yang pertama. Tujuan utama dari persekutuan ini adalah menyediakan tempat bagi para tukang muda untuk mendapatkan pendidikan, perlindungan, dan perhatian yang lebih baik.

Atas anjuran guru Breuer, yang menjadi pimpinan persekutuan ini adalah seorang imam. Pastor Steenaerts dipilih menjadi pimpinan pertama persekutuan ini. Tahun 1847, Adolph menggantikan posisi Pastor Steenaerts sebagai pimpinan persekutuan ini karena Pastor Steenaerts pindah ke paroki lain. Saat itu anggota persekutuan ini telah memiliki 120 anggota.

Tanggal 4 April 1848, Adolph diangkat menjadi pastor vikaris di Katedral Köln atas permintaannya sendiri. Hal ini makin memudahkannya untuk mengembangkan persekutuan ini. Tanggal 6 Mei 1849, bersama dengan tujuh tukang muda pilihan, Adolph mendirikan persekutuan tukang muda di Cologne. Dan, di akhir tahun ia telah mengumpulkan 550 anggota baru. Di musim gugur tahun 1850, telah muncul berbagai cabang di banyak kota sekitar Rhine.

Semasa menjadi pastor vikaris, Adolph banyak melakukan sederetan usaha sekaligus, antara lain mengadakan perundingan, menulis banyak surat, berkhotbah, berpidato, menjadi pimpinan persekutuan tukang muda, serta menulis banyak artikel dan buku. Dalam artikel-artikel yang ditulisnya, tak jarang ia menuliskan pandangannya mengenai keluarga, kehidupan perkawinan dan misteri cinta kasih antara suami-istri, imamat orang tua di rumah, persiapan perkawinan yang matang, kedudukan ayah dan ibu dan kebersamaan mereka dalam keluarga, tempat keluarga dalam masyarakat, dan pendidikan dalam keluarga.

Bulan Oktober 1851 hingga tahun 1864, Adolph melakukan perjalanan misi untuk mengembangkan persekutuan tukang muda yang dipimpinnya. Ia tidak hanya melakukan perjalanan di kota-kota Jerman, namun juga sampai ke negara-negara lain, termasuk Austria, Berlin, Bohemia, Hongaria, Kroasia, Swiss, Paris, dan Triest di Italia. Perjalanan misi yang panjang ini sangat menguras tenaga dan merugikan kesehatannya, namun tidaklah mematahkan semangatnya.

Demi menyebarluaskan ide-idenya, Adolph menggunakan berbagai macam media yang sesuai dengan zamannya. Mulai tahun 1850-1854, ia menerbitkan Surat Umat Rhenania. Kemudian, surat umat tersebut dilengkapi dengan lampiran Buletin Perserikatan. Buletin ini ditujukan demi pembinaan persekutuan tukang muda. Pada perkembangan selanjutnya, nama buletin ini diganti menjadi Jam Senggang. Pada tanggal 1 April 1854, Adolph menerbitkan majalah mingguan Katolik, Mingguan Rakyat Rhenania. Majalah ini dalam waktu singkat mencapai oplah cukup besar menurut ukuran zaman itu. Semua usaha ini dilakukannya demi melaksanakan salah satu tugas panggilannya, yaitu menjadi “guru rakyat”.

Akhir hidupnya

Adolph menyadari bahwa usaha-usahanya ini cukup berhasil, namun juga menjadi beban berat baginya. Meskipun demikian, Adolph berusaha untuk terus bersyukur kepada Tuhan setiap hari. Karena keseriusannya dalam menjalankan tugas panggilannya ini, Tuhan memberikan banyak sahabat, pendukung, dan penasihat yang dengan rela hati ikut mengurus karyanya.

Tahun 1862 Adolph dibebaskan dari tugasnya sebagai vikaris Katedral Köln dan diangkat menjadi Rektor Gereja Minorit. Keadaan gedung gereja ini sungguh memprihatinkan sehingga diperlukan renovasi. Kemudian, persekutuan tukang muda menggunakan gereja ini selama kurang lebih dua belas tahun.

Karena merasa bahwa kondisi tubuhnya mulai menurun, maka ia pergi ke Roma untuk bertemu dengan Sri Paus. Tujuannya menemui Sri Paus adalah memberitakan persekutuan tukang muda yang dipimpinnya sekaligus meminta berkat Bapa Suci bagi dirinya sendiri dan karyanya. Pada tahun 1862, Adolph bertemu dengan Sri Paus dalam audiensi pribadi. Dalam audiensi tersebut, Bapa Suci menyatakan dukungan sepenuhnya terhadap persekutuan tukang muda. Sebagai bukti dan hadiah kenangan dari audiensi pribadi ini, Bapa Suci memberikan kasula misa dari kapel pribadinya kepada Adolph. Kasula ini disimpan Adolph sebagai relikwi dan pusaka paling berharga di Gereja Minorit hingga saat ini.

Tahun-tahun berikutnya, setelah menerima berkat dari Sri Paus, dilewatinya dengan penuh perjuangan, khususnya melawan kekuatan tubuhnya yang perlahan-lahan makin berkurang. Meskipun demikian, Adolph tidaklah menyerah begitu saja. Ia tetap dengan giat dan dengan tenaga yang masih ada mengembangkan persekutuannya dan menyebarkan ide-idenya. Tanggal 17 September 1865 adalah saat terakhirnya tampil di depan umum. Selanjutnya, selama delapan minggu ia harus berjuang melewati sakratul mautnya. Pada tanggal 4 Desember 1865, Adolph meninggal dunia. Jenazahnya dimakamkan di makam Melaten di Kota Köln. Tanggal 30 April 1866, kerangkanya dipindahkan ke dalam Gereja Minorit. Oleh Paus Yohanes Paulus II, Adolph diberi gelar Beato pada tanggal 27 Oktober 1991. Kini Gereja mengenangkan Beato Adolph Kolping tiap tanggal 4 Desember.

Teladan hidupnya

Kehidupan dan karya Beato Adolph diwarnai oleh berbagai karakter yang berbeda: ia adalah seorang guru, pendidik, penulis, dan ahli teologi. Ia bukanlah seorang pemikir negatif, ia tidak pernah mengatakan bahwa tak ada sesuatu yang tidak dapat diselesaikan. Siapa pun yang membaca riwayat hidupnya akan melihat bahwa ia tak mudah menyerah oleh situasi apa pun. Ia akan menggunakan segenap kekuatannya untuk menghadapi segala rintangan dan hambatan yang menghadang. Beato Adolph membaktikan seluruh tenaga dan spiritualitasnya untuk bekerja demi membangun masyarakat yang lebih baik.

Beato Adolph adalah seorang yang memiliki prinsip, baik dalam perkataan maupun perbuatan. Ia bukanlah seorang yang hanya mengeluh tentang keadaan dunia atau situasi yang buruk dan manusia yang tidak baik, namun ia adalah seorang yang memiliki moto “mengulurkan tangan, menyingsingkan lengan baju, bekerja bersama, mengambil tanggung jawab”. Ia juga pernah mengatakan, “Cinta yang diekspresikan melalui tindakan nyata akan menyembuhkan segala luka, sedangkan kata-kata cinta semata akan menambah sakit di hati saja.” Hal inilah yang membuat Paus Yohanes Paulus II menyebutnya sebagai “teladan bagi Gereja”.

www.carmelia.net © 2008
Supported by Mediahostnet web hosting