Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 

Jika ada pejabat tinggi, misalnya presiden atau kepala Negara, yang mau berkunjung atau lewat, pada umumnya terjadilah persiapan tempat atau  jalan alias ‘pembersihan’, dengan harapan pejabat yang bersangkutan selamat di perjalanan atau yang didatangi puas karena memperoleh pujian atas kesuksesan dalam penyambutan pejabat tinggi. Sebagai contoh ketika presiden dari tempat tinggal atau rumahnya hendak menuju ke kantor/istana presiden, maka di perempatan/pertigaan jalan polisi telah mempersiapkan jalan antara lain dengan menghentikan kendaraan-kendaraan lain, kemudian pengawal mendahului rombongan kendaraan/mobil dimana presiden berada di dalamnya. Persiapan memang merupakan usaha yang penting dan perlu untuk melakukan segala sesuatu, dengan persiapan yang baik kiranya apa yang kita harapkan atau dambakan mendekati kenyataan atau kita berharap apa yang akan kita lakukan berhasil dengan baik. Pada hari ini kepada kita ditampilkan tokoh Yohanes Pembaptis, sebagai bentara kedatangan Yesus, Penyelamat Dunia, yang dengan rendah hati berkata: “Sesudah aku akan datang Ia yang lebih berkuasa dari padaku; membungkuk dan membuka tali kasut-Nya pun aku tidak layak. Aku membaptis kamu dengan air, tetapi Ia akan membaptis kamu dengan Roh Kudus.” (Mrk 1:7-8). Maka marilah dalam mempersiapkan kedatangan Penyelamat Dunia, Pesta Natal, yang akan datang kita mawas diri dengan cermin Yohanes Pembaptis.

 

Ia yang lebih berkuasa dari padaku; membungkuk dan membuka tali kasut-Nya pun aku tidak layak.” (Mrk 1:7)

 

Kita semua dipanggil untuk menjadi bentara-bentara kedatangan Tuhan, Penyelamat Dunia, di tengah-tengah atau dalam kehidupan bersama dimanapun dan kapanpun. Sebagai bentara kita dapat berpedoman pada apa yang dikatakan oleh Yohanes Pembaptis :”Bertobatlah dan berilah dirimu dibaptis dan Allah akan mengampuni dosamu."(Mrk 1:4). Tentu saja diri kita masing-masing juga telah bertobat atau sedang dalam proses pertobatan, maka marilah dengan rendah hati kita saling mengingatkan dan membantu dalam proses pertobatan. “Rendah hati adalah sikap dan perilaku yang tidak suka menonjolkan dan menomorsatukan diri, yattu dengan menenggang perasaan orang lain. Meskipun pada kenyataannya lebih dari orang lain, ia dapat menahan diri untuk tidak menonjolkan dirinya” (Prof Dr Edi Sedyawati/edit: Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka Jakarta 1997, hal 24).

Siapapun yang merasa menjadi pemimpin atau atasan hendaknya menjadi teladan dalam hal keutamaan kerendahan hati ini, sebagaimana diusahakan oleh para gembala kita/para uskup, yang senantiasa menyatakan diri sebagai ‘hamba yang hina dina’.Maka untuk mengusahakan dan menghayati kerendahan hati kiranya kita juga dapat bercermin pada pada hamba/pembantu rumah tangga, yang pada umumnya bertugas ‘membersihkan apa yang kotor’, entah kamar/ruangan, pakaian, halaman dst.. Selain tugas membersihkan mereka juga mempersiapkan, misalnya makanan dan minuman atau aneka kebutuhan yang dilayani. Pembantu rumah tangga yang baik pada umumnya rendah hati, peka terhadap kebutuhan mereka yang harus dilayani, dan dengan demikian yang dilayani dapat melaksanakan tugas pengutusannya atau menghayati panggilannya dengan baik. Kita semua juga dipanggil untuk ‘membersihkan dan mempersiapkan’.

Marilah kita bersihkan dan persiapkan hati, jiwa, akal budi dan tubuh kita untuk menyambut kedatangan atau kelahiran Penyelamat Dunia. “Men sana in corpore sano “ = Dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang sehat, demikian kata sebuah motto yang sangat terkenal. Marilah pertama-tama kita mengusahakan agar tubuh kita sehat wal’afiat, antara lain dengan : makan dan minum sesuai dengan motto ‘empat sehat lima sempurna’, hidup teratur, istirahat cukup, teratur berolahraga, dst.. Pengamatan dan pengalaman saya ketika tubuh sehat maka dengan mudah mengusahakan kesehatan hati, jiwa dan akal budi alias cerdas beriman. “Berilah dirimu dibaptis”, demikian seruan Yohanes Pembaptis. “Dibaptis” berarti dibersihkan, disucikan atau disisihkan seutuhnya bagi Tuhan, sehingga orang yang bersangkutan menjadi suci/bersih, senantiasa hidup dan bertindak sesuai dengan kehendak Tuhan. Kepada orang suci/ bersih akan datang banyak orang kepadanya, sebagaimana dialami oleh Yohanes Pembaptis, untuk mengaku dosa alias bertobat. Sebagai bentara cara hidup dan cara bertindak kita diharapkan memikat banyak orang untuk mendekat serta bertobat.

 

“Sesuai dengan janji-Nya, kita menantikan langit yang baru dan bumi yang baru, di mana terdapat kebenaran. Sebab itu, saudara-saudaraku yang kekasih, sambil menantikan semuanya ini, kamu harus berusaha, supaya kamu kedapatan tak bercacat dan tak bernoda di hadapan-Nya, dalam perdamaian dengan Dia “ (2Ptr 3:13-14)     

 

Kita semua “harus berusaha supaya kedapatan tak bercacat dan tak bercela di hadapanNya, dalam perdamaian dengan Dia”. Secara konkret tugas pengutusan ini kiranya sungguh berat dan sarat dengan tantangan dan hambatan, maka baiklah kita saling membantu dan mengingatkan. Rasanya mereka yang ‘kedapatan tak bercacat dan tak bercela di hadapanNya’  adalah bayi-bayi atau anak-anak balita, yang senantiasa dalam keadaan membuka diri, ceria, dinamis, siap sedia untuk diperlakukan apapun oleh orang lain. Memang, lebih-lebih atau terutama bayi-bayi harus didekati dan diperlakukan dalam dan dengan kasih, tanpa kasih mereka akan menolak dan membenontak antara dengan menangis. Maka mungkin baik dalam hal mawas diri apakah kita dalam keadaan tak bercacat dan tak bercela antara lain dengan menyapa atau membelai, menyentuh seorang bayi; jika mereka kita sapa atau belai memberontak atau menangis berarti kita dalam keadaan cacat dan tercela.

Untuk mengusahakan tak bercacat dan tak bercela di hadapanNya hendaknya kita berpegang atau berpedoman pada apa yang dikatakan oleh Yesaya ini :”Setiap lembah harus ditutup, dan setiap gunung dan bukit diratakan; tanah yang berbukit-bukit harus menjadi tanah yang rata, dan tanah yang berlekuk-lekuk menjadi dataran; maka kemuliaan TUHAN akan dinyatakan dan seluruh umat manusia akan melihatnya bersama-sama; sungguh, TUHAN sendiri telah mengatakannya.”(Yes 40:4-5) ‘Lembah, gunung, berbukit-bukit, tanah yang tidak rata dan berlekuk-lekuk’ memang mengganggu perjalanan atau memperlambat dan menghalangi perjalanan. Kita semua sedang berada dalam perjalanan menuju ke pemenuhan hidup terpanggil atau pelaksanaan tugas pengutusan kita masing-masing, menuju hidup bahagia abadi di sorga setelah dipanggil Tuhan, meninggal dunia.

Marilah dengan rendah hati dan bantuan rahmat Tuhan kita bersihkan segala sesuatu yang menghambat penghayatan panggilan atau pelaksanaan tugas pengutusan kita masing-masing, yaitu dosa-dosa, misalnya:” percabulan, kecemaran, hawa nafsu, penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah, kedengkian, kemabukan, pesta pora dan sebagainya” (Gal 5:19-21)  agar kita dapat hidup bersih serta menghasilkan buah-buah atau keutamaan-keutamaan “kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri” (Gal 5:22-23) . Sikap hidup dan cara bertindak yang dijiwai oleh keutamaan-keutamaan inilah sebagai cirikhas bentara-bentara kedatangan atau kelahiran Penyelamat Dunia.

 

“Aku mau mendengar apa yang hendak difirmankan Allah, TUHAN. Bukankah Ia hendak berbicara tentang damai kepada umat-Nya dan kepada orang-orang yang dikasihi-Nya. Sesungguhnya keselamatan dari pada-Nya dekat pada orang-orang yang takut akan Dia, sehingga kemuliaan diam di negeri kita. Kasih dan kesetiaan akan bertemu, keadilan dan damai sejahtera akan bercium-ciuman. Kesetiaan akan tumbuh dari bumi, dan keadilan akan menjenguk dari langit.Bahkan TUHAN akan memberikan kebaikan, dan negeri kita akan memberi hasilnya. Keadilan akan berjalan di hadapan-Nya, dan akan membuat jejak kaki-Nya menjadi jalan.” (Mzm 85:9ab-14)

 

www.carmelia.net © 2008
Supported by Mediahostnet web hosting