Print
Hits: 8027

User Rating: 4 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Inactive
 

 Orang Katolik Indonesia pada umumnya mengetahui adanya perbedaan Kitab Suci Katolik dengan Kitab Suci Protestan. Kitab Suci Katolik lebih tebal. Terbitan LBI (Lembaga Biblika Indonesia) menambahkan bagian yang dikenal sebagai ‘deuterokanonika’.

Kata ‘deuterokanonika’ secara harfiah berarti ‘kanon kedua’. Secara teknis, dalam Gereja kata ini mengacu pada sembilan kitab, yaitu Kitab Tobit, Yudit, Kebijaksanaan Salomo, Yesus bin Sirakh, Barukh, Surat Yeremia, Tambahan Daniel, dan 1-2 Makabe dan Tambahan Ester. Kata ini dibedakan dengan ‘protokanonika’ atau ‘kanon pertama’. Penggunaan dua istilah ini perlu dimengerti lebih dalam karena dapat disalahmengerti.

Adalah pengertian yang keliru kalau orang mengartikan deuterokanonika adalah tambahan terhadap kanon yang ada sebelumnya. Seolah-olah ada kanon pertama yang diakui Gereja. Konsili di Hippo (tahun 393) dan Karthago (tahun 397) sudah sejak awal memasukkan kitab-kitab itu ke dalam kanon Gereja yang resmi. Sebagaimana diketahui, konsili-konsili hanya menetapkan secara tertulis apa yang sudah diterima Gereja sejak zaman para rasul. Untuk ini perlu dipahami terlebih dahulu latar belakang kanon Perjanjian Lama pada zaman Yesus dan para rasul.

LATAR BELAKANG TERJADINYA KANON PERJANJIAN LAMA

Kata ‘kanon’ (bahasa Yunani), dalam pengertian harfiahnya berarti ‘alang-alang’ atau ‘galah’, sejenis tanaman air yang tumbuh di air atau dekat air. Dalam dunia arsitektur, kata ini berarti ‘tongkat pengukur standar’. Kata ini kemudian digunakan secara metaforis dengan arti ‘norma/aturan’. Lebih khusus lagi dalam arti teologis: ‘aturan-aturan yang ditarik dari kebenaran yang diungkapkan’. Dengan demikian, kanon Kitab Suci berarti kitab-kitab yang diakui memiliki nilai mengikat secara hukum berdasarkan kebenaran teologis yang dimilikinya.

Pada zaman Yesus (abad I M) di kalangan orang Yahudi diterima dua kanon. Pertama, kanon Yamnia yang lebih singkat. Kanon ini terdiri dari: Taurat (Torah), Tulisan Para Nabi (Nebi’im) dan Kumpulan Tulisan (Ketubim). Kumpulan ketiga bagian ini terdiri atas 22-24 kitab, yang kemudian terkenal dengan kumpulan Tanak. Kumpulan inilah yang dikenal sekarang dengan istilah ‘protokanonika’. Kanon kedua yang lebih panjang adalah kanon Aleksandria. Kanon ini terdiri atas Tanak dan beberapa kitab tambahan dari Septuaginta (LXX).

Septuaginta adalah kumpulan Kitab Suci Yahudi yang diterjemahkan dalam bahasa Yunani. Tujuan utama dari kumpulan ini adalah para orang Yahudi di perantauan, yang kebanyakan sudah tidak lagi menguasai bahasa Ibrani. Dalam proses penerjemahan (tahun 250 - 4 SM), beberapa kitab baru ditambahkan. Kitab-kitab ini menjadi populer dan seringkali dikutip oleh orang-orang Yahudi pada zaman itu. Akhirnya Gereja menganggap beberapa kitab itu sebagai terinspirasi.

Baik kanon Yamnia dan kanon Aleksandria diterima secara umum oleh orang Palestina. Studi terakhir menunjukkan bahwa para penulis Perjanjian Baru pun mengutip atau setidaknya dipengaruhi secara mendalam oleh Septuaginta. Misalnya, pendekatan pastoral Paulus dalam surat-suratnya sangat dekat dengan teologi Kebijaksanaan Salomo. Tambah pula, pengalaman membaca Kitab Sirakh dapat membawa orang masuk ke dalam khotbah-khotbah Yesus sendiri.

Jelas bahwa para rasul juga menerima kanon Aleksandria. Yang menjadi masalah sekarang, pada tahun 90 M, sekolah Yamnia memaksakan kanon yang lebih singkat sebagai satu-satunya kanon bagi semua orang Yahudi. Suatu tindakan yang sampai sekarang alasannya belum dimengerti secara jelas. Ada indikasi bahwa tindakan ini dilakukan sejalan dengan gerakan anti-kristiani yang merebak pada waktu itu. Namun, alasan ini pun masih diperdebatkan.


KANON PROTESTAN

Gerakan reformasi Protestan membawa imbas yang sangat besar dalam Gereja. Seiring perjalanan waktu, para reformatoris semakin menjauh dan membedakan diri dari Gereja Induk mereka. Salah satu perbedaan yang paling jelas adalah perbedaan kanon Perjanjian Lama yang diterima. Beberapa reformatoris, seperti Kalvin dan kalangan Fanatik bahkan pernah bertindak lebih jauh mau ‘membuang’ beberapa kitab Perjanjian Baru, seperti Surat Yakobus dan Wahyu. Namun, karena tidak memiliki dasar yang kuat, hal tersebut tidak jadi dilakukan.

Beberapa alasan mereka menolak ‘deuterokanonika’:

 

TANGGAPAN KATOLIK ATAS KANON PROTESTAN

Alasan-alasan di atas perlu dikaji lebih lanjut:

Sebagaimana sudah ditulis di atas. Kitab-kitab ini sudah dimasukkan ke dalam kanon Gereja sejak akhir abad ke-4 (bdk. DS, 186). Sampai sekarang kanon itu tetap tidak berubah. Konsili Trente hanya menegaskannya kembali. Kanon kristiani mendasarkan penetapan bukan hanya atas dasar rekonstruksi historis, tetapi lebih-lebih atas dasar teologis: konsistensi Gereja dalam penggunaan kitab-kitab tersebut. Sekarang terserah, menerima kanon orang Yahudi (kanon Yamnia) atau kanon kristiani, kanon yang diterima oleh para rasul.