User Rating: 2 / 5

Star ActiveStar ActiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 

APAKAH ARTINYA MENJADI INSAN-INSAN ALLAH?

Insan Allah adalah pria dan wanita yang sungguh-sungguh hidup bergaul dengan Allah secara mesra, memiliki hubungan yang mendalam dengan Allah, dan telah mengalami sendiri kasih Allah dalam hidupnya, yaitu kasih Allah yang mengasihi, mengampuni, meneguhkan, menyembuhkan, memperbaharui, dan menyelamatkan, mengalami penyelenggaraan Allah yang mengagumkan dalam hidupnya. Setelah mengalami sendiri kasih Allah itu ia membawa dan membagikan pengalamannya itu kepada orang lain, agar orang lain juga dapat mengalami sendiri apa yang telah dialami itu. Setelah minum dari sumber air yang menyegarkan jiwanya dan memuaskan jiwanya, kemudian menunjukkan kepada orang lain sumber air itu agar mereka dapat minum sepuas-puasnya dari sumber air yang menyegarkan jiwanya itu. Sumber air itu adalah Tuhan sendiri, Yesus mengatakan tentang Air sumber hidup, yaitu Roh Kudus yang menjadi mata air yang mengalir sampai kepada hidup kekal. Insan Allah adalah seorang yang hidupnya dibimbing oleh Roh Kudus. Hidupnya digerakkan, dijiwai oleh Roh Kudus, dalam segalanya, menyerahkan diri kepada bimbingan Roh Kudus, yang menguduskan dan menyucikan hidupnya. Anak-anak Allah adalah mereka yang dibimbing, dan digerakkan dan dijiwai oleh Roh Kudus (Rm 8:14).

 

NABI ELIA ADALAH SEORANG INSAN ALLAH (1Raj 17 sampai 2Raj 2)

Nabi Elia dengan semboyannya Vivit Dominus in cuius conspectus sto, Allah hidup dan aku berdiri di hadiratNya telah mengalami persatuan yang mendalam dengan Allah. Hidup Elia diresapi oleh kehadiran Tuhan, seluruh hidupnya dilewatkan dalam keheningan dan kesunyian di hadapan Allah. Ia senantiasa hidup di hadirat Allah. Hidup melulu untuk Allah. Segala sesuatu yang dilakukannya berkenan kepada Allah. Elia mengalami persatuan transforman dengan Allah. Santo Yohanes mengatakan bahwa orang yang mengalami persatuan tersebut sangat berharga di mata Allah, segala perbuatannya bersifat ilahi, dan dia sangat berguna bagi Gereja dan dunia daripada ribuan atau jutaan orang yang belum mencapai tahap tersebut, walaupun kelihatannya dia tidak berbuat apa-apa.

Dari persatuannya yang mendalam dengan Allah itu mengalirlah semangat yang besar untuk kemuliaan Allah. “Zelo zelatus sum pro Domino Deo exercituum. Aku bekerja segiat-giatnya bagi Allah semesta alam. Elia tidak dapat bekerja segiat-giatnya bagi Allah, kalau tidak lebih dahulu bergaul mesra dengan Allah, mengalami persatuan yang mesra dengan Allah. Hanya kalau dia bersatu mesra dengan Allah, maka dia dapat mewartakan Allah dengan murni dan efektif bagi Kerajaan Allah.  

Elia bergaul mesra dengan Allah perkataannya dijiwai oleh Roh Kudus, perkataannya seperti obor yang menyala, membakar hati para pendengarnya yaitu nabi-nabi baal, yang telah murtad dari Tuhan.

Dengan iman yang besar dia berdoa dan menurunkan api dari surga yang membakar persembahannya, dia telah menunjukkan mujizat Tuhan, kepada para lawannya, sehingga para nabi baal, para lawannya bertobat dan kembali kepada Tuhan yang benar. Oleh doanya langit tertutup dan hujanpun tidak turun, dan dengan doa pula langit terbuka dan hujanpun membasahi bumi. Elia mengalami penyelenggaraan yang luar biasa, di tepi sungai Kerit dia hidup, diberi minum oleh Tuhan dari sungai Kerit dan mendapatkan makanan dari burung gagak. Oleh kuasa Tuhan Elia membangkitkan orang mati, anak janda yang mati. Allah menyelenggarakan hidupnya lewat seorang janda yang memberi dia makan, Allah telah membuat mujizat di masa kelaparan melalui Elia, sehingga Allah menggandakan tepung dan minyak dalam buli-buli sehingga janda dan anaknya tidak mati kelaparan.

Elia yang gagah perkasa dan kuat itu juga pernah putus asa, ingin mati karena ancaman Isebel, yang mau membunuhnya. Elia takut dan gentar, ia lari dan pergi melarikan diri, namun Tuhan menguatkannya dengan roti surgawi dan Elia bersembunyi di Gua, dalam keheningan dan kesunyian gua, ia mengalami kehadiran Roh Kudus yang hadir seperti angin sepoi-sepoi basa. Elia kembali dikuatkan dan dipulihkan oleh Allah untuk meneruskan perjalanan hidupnya.

Elia teladan kita semua, ia senantiasa hidup di hadirat Allah dan bila Tuhan menghendaki dia tidak segan turun gunung untuk mewartakan Allah kepada umatNya. Semangat kerasulannya yang murni justru timbul dari persatuannya dengan Allah.

 

RAJA DAUD ADALAH SEORANG INSAN ALLAH (1Sam 16 - 1Raj 2)

Daud adalah tokoh yang luarbiasa dalam kitab suci. Daud menjadi Raja Israel menggantikan Saul yang tidak setia kepada Allah, Daud diurapi oleh Samuel menjadi Raja atas Israel. Tuhan memilih Daud bukan karena hal-hal lahiriah yang ada pada Daud. Anak-anak Isai disuruh tampil di hadapan Samuel, apakah mereka layak diurapi atau tidak. Sesungguhnya saudara-saudara Daud perawakannya melebihi Daud, sedangkan Daud kurang diperhitungkan, karena perawakannya kecil, sehingga dia dipanggil terakhir, setelah semua saudaranya tampil di hadapan Samuel. Tetapi berfirmanlah Tuhan kepada Samuel: "Janganlah pandang parasnya atau perawakan yang tinggi, sebab Aku telah menolaknya. Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati" ( 1Sam 16:7).

Daud yang kecil itu berperang melawan Goliat, raksasa yang sombong. Dalam pertempuran itu Daud mengandalkan Tuhan, sehingga Tuhan memberikan kemenagan kepadanya. Daud berkata kepada orang Filistin dalam 1Sam 17:45-47 “Engkau mendatangi aku dengan pedang dan tombak dan lembing, tetapi aku mendatangi engkau dengan nama TUHAN semesta alam, Allah segala barisan Israel yang kautantang itu. Hari ini juga TUHAN akan menyerahkan engkau ke dalam tanganku dan aku akan mengalahkan engkau dan memenggal kepalamu dari tubuhmu; hari ini juga aku akan memberikan mayatmu dan mayat tentara orang Filistin kepada burung-burung di udara dan kepada binatang-binatang liar, supaya seluruh bumi tahu, bahwa Israel mempunyai Allah dan supaya segenap jemaah ini tahu, bahwa TUHAN menyelamatkan bukan dengan pedang dan bukan dengan lembing. Sebab di tangan TUHANlah pertempuran dan Ia pun menyerahkan kamu ke dalam tangan kami."

Daud mengalami kemenangan demi kemenangan dalam pertempuran demi pertempuran karena Daud mengandalkan Tuhan dalam segala-galanya. Hal itu membuat Saul musuhnya iri hati, Saul berniat membunuh Daud, Saul mengejar Daud ke manapun dia pergi. Daud hendak dibunuhnya, namun Tuhan melindungi Daud.

Daud bersahabat dengan Yonatan anak Saul, persahabatan yang sejati, baik Daud dan Yonatan saling mengasihi, Yonatan ingin menyelamatkan sahabatnya yaitu Daud, dari niat buruk ayahnya yang mau membunuh Daud. Yonatan memberitahu niat ayahnya yang jahat itu, dan menyuruh Daud lari dari ayahnya. Daud sangat sedih karena kehilangan sahabat sejati yaitu Yonatan anak Saul, dia meratapi kematian sahabatnya itu dengan sepenuh hati, karena Yonatan telah melindungi nyawanya dan sangat menyayanginya.

Saul diserahkan oleh Tuhan ditangan Daud, mudah saja bagi Daud untuk membunuh Saul, namun dia hanya memotong punca jubah Saul, sebagai tanda bukti bahwa Daud tidak bersalah dan Daud adalah seorang yang baik hati dan tulus hati serta berhati pemaaf, dia sangat murah hati terhadap musuhnya, Daud tidak mau membunuh orang yang diurapiNya, Daud membiarkan Saul hidup, walau tidak henti-hentinya dia berusaha membunuhnya, dua kali Daud membiarkan Saul hidup walau Tuhan telah menyerahkan nyawa Saul di tangannya, Daud tidak mau membunuh musuhnya itu. Daud telah melakukan apa yang mulia di hadapan Tuhan. Kemenangan demi kemenangan diraihnya, dan Daud menjadi raja yang sukses dan besar, serta bijaksana dan mencintai rakyatnya. Kekuasaannya sebagai raja sangat luas dan besar.

Daud raja yang besar atas Israel itu juga seorang pendosa, dosanya sangat besar, yaitu mengambil istri bawahannya yaitu Batsyeba istri Uria, Daud menyuruh Uria pergi ke medan pertempuran di garis depan dengan maksud agar dia mati dan Daud dapat mengambil istrinya, dan Daud jatuh dalam dosa perzinahan dengan Batsyeba, sehingga mempunyai anak, dan anaknya mati. Daud diperingatkan oleh Tuhan melalui nubuat nabi Natan akan dosanya, maka Daud menyesal dan bertobat kepadaNya, dia puasa dan matiraga, berkabung atas kematian anaknya dan menyilih dosa-dosanya, dalam pertobatannya itu Daud mengarang sebuah mazmur yang sangat indah Mazmur 51, mazmur seorang pendosa di hadapan Tuhan yang maharahim, yang tak mengingat lagi dosa-dosanya. Daud diampuni dan dipulihkan oleh Tuhan.

Daud adalah seorang yang takut akan Tuhan, dia mengalami kasih Tuhan di sepanjang hidupnya, dia mengalami penyertaan Tuhan, Daud merasakan bahwa Tuhan adalah Pengasih dan Penyayang, Daud sangat mencintai Allah, Daud merasakan penyertaan Tuhan dalam hidupnya, memberikan kemenangan atas musuh-musuhnya, Daud merasakan Tuhan sebagai Gunung batu tempat perlindungan dan keselamatannya, Daud sangat mengasihi Allah, mengandalkan Allah dalam hidupnya, Daud dengan segenap hati memuji Tuhan dan menyembah Tuhan dengan music dan tari-tarian sehingga Daud dikatakan sebagai seorang sinting karena Tuhan, dia melupakan segala-galanya dan memuji Tuhan dengan permaianan kecapi yang indah, dengan mazmur-mazmur pujian dan penyembahan untuk mengangungkan Tuhan, Daud tergila-gila dengan Tuhan sehingga dia tidak malu menari dan menyanyi dihadapan orang banyak, dan istrinya menyangka bahwa Daud sudah gila, Daud menari dalam Roh dan kebenaran, menyanyi dalam Roh dan kebenaran, segenap jiwa raganya memuji dan menyembah Tuhan. Semua itu karena luapan sukacitanya, kebahagiaannya, karena segala perbuatan Tuhan yang telah dilakukanNya dalam hidupnya.

Sekalipun Daud lemah dan berdosa, namun Daud dikasihi Tuhan, Tuhan memilih Daud menjadi raja besar, dan dari keturunannya akan lahir Mesias, Sang Penebus, Yesus Kristus Juruselamat umat manusia. Daud adalah seorang insane Allah yang hidupnya berkenan kepada Allah, Daud memiliki relasi yang mesra dan mendalam dengan Allah,  Tuhanlah yang memilih dia bukan Daud yang memilih Allah, Tuhan tidak memperhitungkan segala kelemahan dan kekurangan dalam dirinya. Manusia melihat yang lahiriah, tetapi Allah melihat hati. Manusia seringkali salah menilai, karena hanya melihat kulit luarnya saja, sedangkan Allah melihat lebih dalam, Allah melihat hati, Allah menilai dengan kebijaksanaanNya, kerahimanNya, belaskasihNya.  Seringkali penilaian Allah berbeda dengan penilaian manusia. Apa yang dianggap benar oleh dunia, belum tentu benar di hadapan Allah, apa yang dianggap salah di mata dunia, belum tentu salah dimata Allah. Tuhanlah hakim yang adil, keadilanNya diwarnai oleh belaskasihan dan kemurahan, keadilanNya diwarnai oleh kerahiman, sebab Allah adalah kasih.

 

SANTO PAULUS ADALAH SEORANG INSAN ALLAH

Dari Kisah Para Rasul (Kis 9:1-19a), kita dapat melihat pertobatan Paulus. Saulus adalah nama lama dari Paulus, rasul besar yang telah ditangkap oleh Yesus, di jalan menuju Damsyik. Paulus jatuh dari kudanya, ketika dia menganiaya jemaat perdana yang mewartakan Yesus Kristus, dia menganiaya dan membunuh para pengikut Kristus. Dan Yesus menangkap dia dengan bersabda kepadanya “Saulus-Saulus mengapa engkau menganiaya Aku? Siapakah Engkau Tuhan? KataNya Aku adalah Yesus yang Kau aniaya itu, Yesus telah menangkap Paulus di tengah jalan ke Damsyik, Paulus menjadi buta untuk beberapa waktu, perjumpaan dengan Yesus itu sangat menakjubkan Paulus, membuat Paulus mengalami pengalaman Allah yang luar biasa, Paulus mengalami kebutaan, matanya buta, sebab Sinar kasih Yesus yang begitu terang dan tak tertahankan, pengalaman itu membuat dia mengalami ketidakberdayaan, dan oleh Kuasa Roh Kudus dia dipulihkan, dan dijadikan baru, Paulus menerima hidup baru melalui doa dan penumpangan tangan Ananias, Paulus mengalami pencurahan Roh Kudus yang mengubah hidupnya. Paulus mengalami persatuan transforman, pengalaman perjumpaan dengan Yesus yang mengubah hidupnya seratus delapan puluh derajat, dari musuh menjadi sahabat, dari seteru Yesus menjadi pewarta kasih Tuhan, menjadi rasul yang luar biasa.

Paulus mengatakan bagiku hidup adalah Kristus, dan mati adalah keuntungan sebab bertemu dengan Kristus dari muka ke muka. Paulus mengalami bahwa segala-galanya adalah sampah karena pengenalan akan Kristus melebihi segala sesuatu (Flp 3:7-8).

 Paulus adalah seorang mistikus, seorang insane Allah, dia hidup bergaul mesra dengan Yesus, dalam suratnya kepada jemaat di Tesalonika, Paulus mengatakan bersukacitalah selalu dalam Tuhan, berdoalah senantiasa dan ucapkanlah syukur dalam segala keadaan (1Tes 5:16-18).

Paulus adalah seorang rasul yang jatuh cinta kepada Yesus, dan memiliki hubungan yang pribadi dan mendalam dengan Yesus. Sesudah mengalami  sendiri apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, tidak pernah didengar oleh telinga, dan tidak pernah timbul di dalam hati manusia, semuanya yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia (1Kor 2:9). Pengalaman kehidupan kekal yang begitu indah dan tak terkatakan, membuat Paulus melupakan apa yang dibelakang, dan mengarahkan hidupnya ke depan, yaitu panggilan surgawi untuk memperoleh mahkota kehidupan kekal (Filp 3:13).  

Paulus telah mengalami sendiri bagaimana dia dikasihi Tuhan, Yesus begitu sabar terhadap dia, Paulus mengalami bahwa dalam kelemahanlah kuasa Allah menjadi sempurna, Paulus mengalami pergulatan hidup, yang membuat dia dapat berkata, segala yang baik yang ingin kuperbuat tidak terdapat dalam diriku, namun apa yang jahat yang tak kuinginkan itulah yang aku perbuat (Rm 7:13-26) Paulus mengalami duri dalam daging dalam dirinya. Paulus mengalami pergulatan dan kelemahan dalam dirinya yang membuatnya telah berseru kepada Tuhan agar Tuhan mengambil duri dalam dagingnya, namun Allah berkata kepadanya, “rahmatKu cukup bagimu, sebab dalam kelemahanlah kuasa Allah menjadi nyata (1Kor 12:9-10). Kelemahannya telah membuat Paulus rendah hati, bahwa tanpa Allah dia tak dapat berbuat apa-apa.

Paulus menyadari dirinya sebagai orang yang paling berdosa di hadapan Allah, tetapi Yesus telah menebusnya dan mengampuninya, dan dengan pengalaman akan kedosaannya itu Paulus merasakan kasih dan kesabaran Tuhan yang tak terbatas dalam dirinya (1Tim 1:15-17). “Perkataan ini benar dan patut diterima sepenuhnya: "Kristus Yesus datang ke dunia untuk menyelamatkan orang berdosa," dan di antara mereka akulah yang paling berdosa. Tetapi justru karena itu aku dikasihani, agar dalam diriku ini, sebagai orang yang paling berdosa, Yesus Kristus menunjukkan seluruh kesabaran-Nya. Dengan demikian aku menjadi contoh bagi mereka yang kemudian percaya kepada-Nya dan mendapat hidup yang kekal. Hormat dan kemuliaan sampai selama-lamanya bagi Raja segala zaman, Allah yang kekal, yang tak nampak, yang esa! Amin.”

Paulus biarpun lemah dan rapuh dan sangat berdosa namun hidupnya sangat berkenan kepada Allah, dia menjadi rasul dan pewarta Injil yang besar, Tuhan telah membuat dia menjadi besar. Paulus mengatakan celakalah aku, kalau aku tidak memberitakan Injil. Namun dalam pewartaannya, dia mengalami banyak penderitaan, penganiayaan, segala macam penderitaan telah dialaminya: dipenjara, dirajam, dianiaya, ditolak, tantangan, kesulitan, kelaparan, kedinginan, karam kapal, salib, penderitaan dari saudara-saudara palsu, Paulus tidak menghiraukan nyawanya sendiri, dan akhirnya dibunuh demi Kristus. Paulus mengatakan dalam Rm 8:18 “Sebab aku yakin, bahwa penderitaan zaman sekarang ini tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita”.

Yesus pernah berkata kepada Ananias yang meragukan pertobatan Paulus, dan Paulus memang mengalami bahwa dirinya diragukan sebagai rasul dan pewarta Kristus karena orang melihat masa lalunya yang tidak baik, tetapi Yesus berkata “Tetapi firman Tuhan kepadanya: "Pergilah, sebab orang ini adalah alat pilihan bagi-Ku untuk memberitakan nama-Ku kepada bangsa-bangsa lain serta raja-raja dan orang-orang Israel. Aku sendiri akan menunjukkan kepadanya, betapa banyak penderitaan yang harus ia tanggung oleh karena nama-Ku" (Kis 9:15-16).

Paulus tidak pernah putus asa, sebaliknya imannya dikuatkan dan diperkuat oleh Yesus Kristus. Seperti dikatakannya: “Dalam segala hal kami ditindas, namun tidak terjepit; kami habis akal, namun tidak putus asa; kami dianiaya, namun tidak ditinggalkan sendirian, kami dihempaskan, namun tidak binasa. Kami senantiasa membawa kematian Yesus di dalam tubuh kami, supaya kehidupan Yesus juga menjadi nyata di dalam tubuh kami. Sebab kami, yang masih hidup ini, terus-menerus diserahkan kepada maut karena Yesus, supaya juga hidup Yesus menjadi nyata di dalam tubuh kami yang fana ini. Maka demikianlah maut giat di dalam diri kami dan hidup giat di dalam kamu (2Kor 4:8-12).

Namun Tuhan tidak mempermalukan Paulus, Yesus dimuliakan baik dalam hidup dan mati Paulus. Oleh kasih dan rahmatNya hidup Paulus diubah menjadi indah, sebab harta surgawi yang melimpah-limpah tersimpan dalam bejana tanah liat yang rapuh (2Kor 4:7).”Tetapi harta ini kami punyai dalam bejana tanah liat, supaya nyata, bahwa kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah, bukan dari diri kami”.

Paulus dalam hidupnya hanya mengejar satu hal yang penting dalam hidupnya yaitu cintakasih, seperti dikatakan dalam suratnya, tinggal tiga hal ini yaitu iman, harapan dan cintakasih, dan yang paling besar adalah cintakasih (1Kor 13:13). Paulus hanya mengejar cintakasih kepada Tuhan dan sesamanya. Meski Paulus diberi macam-macam karunia Roh Kudus untuk melayani Tuhan dan membangun jemaat,  yaitu karunia penyembuhan, bahasa roh, karunia mujizat, karunia pengajaran, nasihat, pengusiran setan, dan lain-lain seperti tercantum dalam 1Kor 12:1-11, namun dalam segalanya itu semua dipergunakan sesuai kehendak Tuhan yaitu demi kemuliaan Tuhan dan keselamatan umat manusia, dan dilakukan demi cinta kepada Yesus dan cinta kepada sesama. Paulus tetap rendah hati dan menyadari bahwa semua karunia-karunia itu tidak berguna dan sia-sia tanpa cintakasih.

Paulus adalah seorang yang dikagumi banyak orang namun dia tidak lupa daratan, dia juga dimusuhi banyak orang, namun bagi Paulus hal itu tidak membuatnya patah semangat. Dia membiarkan dirinya dihakimi orang lain, namun Paulus sadar bahwa dia tidak dapat memuaskan semua orang, dia tidak terlalu memperhatikan apakah dia dipuji, ataukah dia dicela, emas tetap emas walaupun orang mengatakan perak, harganya tidak menjadi lebih rendah karena dihina, perak tetap perak walaupun orang mengatakan itu emas, orang tidak menjadi lebih tinggi karena dipuji atau disanjung orang,   dan dirinyapun tidak dihakiminya, satu-satunya hakimnya adalah Kristus, yang dia kenal sebagai Allah yang penuh kasih dan belaskasihan. Dalam segala pelayanannya Paulus tidak mencari diri sendiri, namun mencari kemuliaan Tuhan.

Paulus melakukan pelayanannya dengan penuh semangat dia memberi semangat dan nasihat kepada jemaat yang dilayaninya. Meneguhkan dan menghibur mereka yang mengalami semangatnya kendor dan mengatakan bahwa kita harus melayani Tuhan dengan penuh semangat, melayani dengan Roh yang menyala-nyala.

Seperti dikatakan dalam suratnya kepada jemaat di Roma (Rm 12:9-21) “Hendaklah kasih itu jangan pura-pura! Jauhilah yang jahat dan lakukanlah yang baik. Hendaklah kamu saling mengasihi sebagai saudara dan saling mendahului dalam memberi hormat. Janganlah hendaknya kerajinanmu kendor, biarlah rohmu menyala-nyala dan layanilah Tuhan. Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan, dan bertekunlah dalam doa! Bantulah dalam kekurangan orang-orang kudus dan usahakanlah dirimu untuk selalu memberikan tumpangan! Berkatilah siapa yang menganiaya kamu, berkatilah dan jangan mengutuk! Bersukacitalah dengan orang yang bersukacita, dan menangislah dengan orang yang menangis! Hendaklah kamu sehati sepikir dalam hidupmu bersama; janganlah kamu memikirkan perkara-perkara yang tinggi, tetapi arahkanlah dirimu kepada perkara-perkara yang sederhana. Janganlah menganggap dirimu pandai! Janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan; lakukanlah apa yang baik bagi semua orang! Sedapat-dapatnya, kalau hal itu bergantung padamu, hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang! Saudara-saudaraku yang kekasih, janganlah kamu sendiri menuntut pembalasan, tetapi berilah tempat kepada murka Allah, sebab ada tertulis: Pembalasan itu adalah hak-Ku. Akulah yang akan menuntut pembalasan, firman Tuhan. Tetapi, jika seterumu lapar, berilah dia makan; jika ia haus, berilah dia minum! Dengan berbuat demikian kamu menumpukkan bara api di atas kepalanya. Janganlah kamu kalah terhadap kejahatan, tetapi kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan!”

Dalam seluruh hidupnya Paulus rindu untuk mengenal Yesus semakin dalam, dan bersatu dengan Dia dalam penderitaanNya, agar supaya dia menjadi semakin serupa dengan Dia dan memperoleh kehidupan kekal, dan dibangkitkan dari kematian, dan hidup selama-lamanya bersama Kristus. Seperti dikatakan oleh Paulus dalam Flp 3:10-1 ”Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam penderitaan-Nya, di mana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya, supaya aku akhirnya beroleh kebangkitan dari antara orang mati. Dan dia mengatkan juga dalam 2Kor 4:17-18 “Sebab penderitaan ringan yang sekarang ini, mengerjakan bagi kami kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya, jauh lebih besar dari pada penderitaan kami. Sebab kami tidak memperhatikan yang kelihatan, melainkan yang tak kelihatan, karena yang kelihatan adalah sementara, sedangkan yang tak kelihatan adalah kekal”.

 

PENUTUP

Kita telah melihat tiga tokoh dalam kitab suci yang sangat luar biasa, mereka adalah insane-insane Allah, yang hidupnya dibaktikan melulu bagi Allah. Mereka telah mengalami sendiri dalam hidupnya pengalaman kasih Allah yang tak terkatakan, yang melampaui segala pengertian, betapa lebar panjang kasih Kristus melebihi segala pengetahuan. Dan oleh kasih Tuhan hidup mereka menjadi sangat indah dan membahagiakan baik di dunia ini dan kelak di surga. Mereka telah mengalami apa yang dikatakan oleh mazmur “kecaplah dan lihatlah betapa baiknya Tuhan, kasih setiaNya kekal selama-lamanya”. Seluruh hidup mereka menjadi pujian bagi kemuliaan Tuhan sekarang dan selama-lamanya.

 

www.carmelia.net © 2008
Supported by Mediahostnet web hosting