User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active
 

Article Index

Dari semua penjelasan di atas kita melihat karya Allah menyatakan Diri-Nya dan Kasih-Nya kepada manusia. Tindakan penyataan diri Allah ini kita temukan secara utuh di dalam diri Sabda menjadi manusia, yaitu Yesus sendiri. “Menjadi manusia” menjadi sebuah langkah nyata Allah melalui mana manusia menerima Yesus sebagai satu di antara manusia, satu di antara kita dan juga menjembatani ke-Allahan Allah yang mencintai, menghidupkan dan membimbing manusia. Yesus: Allah dan manusia tinggal di antara kita. Seperti Penginjil Yohanes (Prolog 1:14), demikian pula Penginjil-penginjil sinoptik, menampilkan dimensi kemanusiaan Yesus khususnya asal-usul manusiawi Yesus” seperti yang terbaca dalam sejumlah perikop Injil. Lebih lanjut kita lihat kutipan-kutipan berikut:

Injil Matius berkisah tentang Silsilah Yesus Kristus (1:17) dan Kelahiran Yesus Kristus (1:18-25), lagi pula, Injil Lukas menulis tentang Pemberitahuan tentang Kelahiran Yesus (1:26-38), tentang Kelahiran Yesus (2:8-20), juga tentang Silsilah Yesus (3:23-38).

 

Penginjil-penginjil sinoptik, khususnya dengan semua kutipan di atas, bermaksud memperlihatkan asal-usul manusiawi Yesus. Kita arahkan penelusuran kita tentang  kutipan-kutipan tersebut.

Yang pertama, tentang “Silsilah Yesus Kristus” (Mat 1:17; Luk 3:23-38). Ada pesan pewartaan di balik catatan tentang Silsilah Yesus. Penginjil Lukas memperlihatkan bahwa Yesus: Anak Allah, Anak Manusia. Makanya setelah Yesus dibaptis oleh Yohanes Pembaptis di sungai Yordan, Penginjil menyisipkan Silsilah Yesus dalam cerita perikop ini. Dengan maksud menekankan pentingannya pengurapan Yesus oleh kuasa Roh Kudus pada saat dipermandikan. Daftar silsilah Yesus dari Lukas terlihat ada perbedaan dengan yang ditulis oleh Matius. Tanpa bermaksud mencermati perbedaan itu, kita hanya mau melihat bahwa Lukas menulis Injilnya untuk komunitas pembacanya: bangsa-bangsa lain, dengan penekanan bahwa Yesus membawa keselamatan bagi semua anak-anak  Adam. Lukas menekankan makna universal dengan melacak garis ketuturnan Yesus mulai dari Yusuf sampai Adam bahkan dalam ayat 38 tertulis “...anak Allah.” Di seputar kisah tentang silsilah Yesus ini ada sejumlah rincian biografis yang tentunya menarik perhatian kita tetapi sebenarnya tidak relevan untuk dianalisakan dalam konteks refleksi singkat ini. Yang jelasnya, dalam menulis garis keturunan Yesus, Lukas melacak nenek moyang Yesus mulai dari asal-usul keallahan Yesus dan turun ke Adam sampai pada Yusuf.  Sementara itu, Penginjil Matius menulis dan menempatkan kisah tentang silsilah Yesus ini pada awal Injilnya. Dia menulis: “Inilah silsilah Yesus Kristus, anak Daud, anak Abraham (Mat 1:1). Yesus ditempatkannya dalam tradisi Yahudi. Matius memulai narasi itu  dari Abraham sampai Daud bahkan garis keturunan itu berkelanjutan sampai sesudah pembuangan tahun 587 SM. Matius bermaksud memperlihatkan posisi dan kedudukan Yesus sebagai orang Yahudi. Perlu juga kita ketahui bahwa komunitas pembaca Matius adalah Kristen-Yahudi. Maka di dalam kerangka besar penulisan silsilah ini, penginjil berusaha meletakan asal-usul Yesus dari Nazaret dalam pewarisan umat pilihan Allah, bangsa Israel, sehingga bisa terbaca bahwa sejarah Israel dimulai dari Abraham dan memuncak pada masa Raja Daud dan setelah melewati masa pembuangan di Babel tercapailah kepenuhannya di dalam diri Yesus Mesias. Singkat kata, Penginjil Matius menggarisbawahi dua aspek penting dari silsilah Yesus ini yaitu penekanan pada kesinambungan Yesus dengan tokoh-tokoh besar umat Allah (Anak Abraham...Anak Daud) dan juga mempersiapkan kisah kelahiran Yesus dengan hal-hal yang luar biasa dan unik yang terjadi di seputar kisah kelahiran tersebut. Maka jelas, sebagai kesimpulan bahwa kedua Penginjil Penulis silsilah ini melacak nenek moyang Yesus melalui dan sampai pada Yusuf, ayah Yesus yang sah menurut hukum.

Yang kedua, tentang pemberitahuan tentang kelahiran Yesus (Luk 1:26-38 ) dan Kelahiran Yesus itu sendiri menurut Matius dan Lukas (Mat 1:18-25; Luk 2:8-20). Menyoroti soal pemberitahuan tentang kelahiran Yesus, penginjil Lukas melukiskannya dengan sangat indah. Sebuah perlukisan yang ditempatkannya dalam konteks  waktu, tempat dan penampilan tokoh-tokoh penting yang berperan di dalam kisah dialog tersebut. Maksudnya pemberitahuan yang terjadi pada bulan yang keenam, di sebuah kota di Galilea yang disebut Nazaret. Aktor utama dalam panggung dan pemberitahuan ini, antara lain: Allah sendiri, Malaikat Gabriel, Perawan Maria yang bertunangan dengan Yosef dari keluarga Daud. Yang terpenting di sini terlihat adanya inisiatif Ilahi, yakni dari Allah sendiri, keterlibatan Gabriel sebagai utusan Allah, dan Perawan Maria yang kepadanya disampaikan pesan Allah menyangkut kelahiran Sang Mesias. Maria menjadi tokoh yang penting dalam proses bagaimana Allah mau mewujudkan karya keselamatan bagi umat manusia. Kisah dialog itu ditutup dengan fiat Perawan Maria: “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.” Dari fiat Perawan Maria ini kita menemukan bagaimana Perawan Maria memosisikan dirinya sebagai hamba Tuhan dan sikap pasrahnya kepada rencana Tuhan yang disampaikan kepadanya. Katanya “...jadilah padaku menurut perkataanmu itu.” Di balik fiat Maria itu ada nilai-nilai teramat luhur yang menjadi muatannya adalah iman Maria dan kesediaannya menerima dan melaksanakan kehendak Tuhan. Maksudnya dalam sebuah kepasrahan yang total yang dibangunnya atas dasar imannya kepada Tuhan. Perawan Maria memberi diri sebagai sebuah bentuk partisipasinya dalam perwujudan rencana Allah bagi dunia dan manusia itu.

www.carmelia.net © 2008
Supported by Mediahostnet web hosting