header carmelia 01.jpgheader carmelia 02.jpg

Memaknai Natal: Sebuah Refleksi

User Rating:  / 3
PoorBest 

Sebuah Kisah

Tempat kediaman ratu Inggris di musim dingin adalah Istana Balmoral di Skotlandia.  Ketika Ratu Viktoria ada di sana, kadang-kadang ia berjalan-jalan di luar benteng istana dengan mengenakan pakaian usang. Pengawalnya, Jhon Brown, mengikutinya. Ketika ia turun ke jalan, ia menghampiri sekawanan domba gembalaan yang digembalakan oleh seorang anak laki-laki. Anak itu meneriakinya, katanya: “Menyingkirlah kamu wanita tua yang dungu!” Sang ratu tersenyum dan tidak mengatakan sesuatu pun. Beberapa saat kemudian, pengawalnya menghampiri anak laki-laki itu dan membentaknya,Diam, itu adalah sang ratu!” “Ya…” kata anak laki-laki itu, “Wanita berpakaian seperti itu adalah seorang ratu!”

 

Titik Alfa dan Omega

Dalam keseharian, kita mengenal garis-garis batasseperti di dalam dunia olahraga sprint, ada batas start dan batas finis. Semua sprinter harus mencermati garis-garis batas tersebut agar mereka bisa mengatur staminanya untuk menempuh jarak yang mau dituju. Dalam dunia filsafatseperti Filsafat Proses, rintisan Teilhard de Chardin, dan lebih jelas lagi dalam dunia teologi Kristenkita mengenal adanya prinsip: Alfa dan Omega. Singkatnya, mau dikatakan bahwa sebagai Pencipta, Allah adalah awal proses perkembangan (Alfa) sekaligus juga akhir (Omega) karena seluruh rangkaian dinamika dunia harus menuju kepada persatuan dengan-Nya. Jadi, proses evolusi dunia dan sejarah umat manusia berjalan ke arah dan tujuan yang sama, yaitu titik omega di mana Allah menjadi semua di dalam semua. Pada saat itu, semua bangsa, budaya, negara, suku, dan agama akan bersatu padu.

Wahyu Yohanes 22:13 menegaskan: “Aku adalah Alfa dan Omega, Yang pertama dan Yang terkemudian, Yang awal dan Yang akhir. Firman, Yesus adalah awal bagi segala yang ada, prinsip kristen dan iman kita. Titik Alfa itu tidak lain tidak bukan adalah sebuah titik awali atau saya menyebutnya sebagai starting point. Ia merupakan awal dan sumber bagi semua yang ada, hidup, dan bergerak. Ia ada dalam keabadian, kekal, dan selamanya. Eksistensinya tanpa causa. “Aku adalah Aku” (dalam bahasa Latin: Ego sum qui Sum), demikian jawab Allah kepada Musa yang mempertanyakan “nama dan identitas” Yahwe (bdk. Kel 3:14). Dan, jauh setelah itu Santo Agustinus, dalam refleksi teologisnya, menyebut bahwa Dia itu Causa Prima dari segala sesuatu yang memenuhi langit dan bumi dan yang bergerak. Dia itu namanya KASIH. Saya menegaskannya bahwa Titik Alfa (starting pont) itu adalah Kasih. Dia bersinggasana dalam semarak keagungan-Nya. Kudus dan sangat terhormat. Dia sangat berkuasa dan melingkupi hidup semua yang diciptakan dengan dan dalam kasih-Nya. Lebih akrab dalam kedalaman nurani dan keimanan, kita menyebut-Nya Allah. Dan, Allah adalah Kasih. Semua noda dosa, cacat-cela dibalutinya dengan kasih dan kerahiman. Segala ciptaan-Nya diarahkan kepada kebahagiaan dalam sebuah mekanisme partisipasi yang tentunya dikuatkan dan disempurnakan oleh rahmat-Nya sebagai bagian dari penyelenggaraan-Nya yang sungguh ilahi. Ini terjadi karena Dia itu Kasih, Hidup, dan berkuasa. Ia menciptakan-mengadakan, menghidupkan dan menggerakan yang lain. Dan, itu termasuk manusia sebagai mahkota ciptaan-Nya. Manusia diciptakan secitra dengan-Nya. Dia menguasai semuanya dan menyelenggarakan secara terus-menerus kelangsungan hidup dalam kasih seturut kehendak-Nya. Manusia diberikan kuasa berpartisipasi memperbarui dunia. Manusia diceburkan dalam kebebasan di mana hak dan kewajiban menjadi bagian integral dari jati dirinya sambil memperhitungkan moral dan etika dalam relasinya dengan yang lain demi sebuah bonum communae.

www.carmelia.net © 2008
Supported by Mediahostnet web hosting