header carmelia 01.jpgheader carmelia 02.jpg

Mengenal Pembaruan Karismatik Katolik Dari Dekat

User Rating:  / 9
PoorBest 

     Pembaruan Karismatik Katolik dilahirkan tepat pada bulan Pebruari 1967 ketika beberapa mahasiswa dan mahasiswi dari Universitas Duquesne (Amerika Serikat) mengalami apa yang dinamakan “Pencurahan Roh Kudus” dalam suatu retret di kota Pittsburgh, Amerika Serikat. Setelah mengalami Pencurahan Roh Kudus, mereka mengalami “karunia-karunia Roh Kudus” dan mempunyai hubungan pribadi yang lebih dekat dengan Yesus. Dari kota inilah, Pembaruan Karismatik Katolik kemudian menyebar ke berbagai kota lainnya bahkan sampai melintasi batas-batas laut dan negara.

Di Indonesia, Pembaruan Karismatik Katolik dimulai pada tahun 1975 dengan berdirinya sebuah kelompok doa yang pada mulanya beranggotakan 12 orang di Malang. Setahun kemudian secara independen juga dimulai di Jakarta dengan sebuah kelompok doa. Dari kedua kelompok doa ini, menyebarlah Pembaruan Karismatik Katolik ke seluruh Indonesia.

Pembaruan Karismatik Katolik mengacu kepada unsur-unsur tertentu dari kehidupan Kristiani, yang biasanya dihubungkan dengan Hari Raya Pentakosta dan karunia-karunia Roh Kudus, yaitu:

 

Pencurahan Roh Kudus

Pencurahan Roh Kudus adalah suatu pengalaman doa di mana Roh Kudus bukan saja merupakan obyek iman, melainkan juga merupakan suatu pengalaman di mana seseorang merasakan penghiburan dan kehadiran Tuhan serta menyerahkan dirinya kepada Yesus sebagai Tuhan dalam hidupnya.

 

Hidup di bawah Bimbingan dan dalam Kuasa Roh Kudus

Dengan pembaptisan, kita sebenarnya telah menyatakan bahwa kita mau menerima Roh Kudus sebagai Pembimbing kita satu-satunya menuju kesempurnaan hidup Kristiani. Tetapi dalam kenyataannya, banyak hal yang membuat kita akhirnya tidak bisa mengalami secara sungguh-sungguh dan nyata bahwa Roh Kudus telah membimbing kita. Pembaruan Karismatik melalui Pencurahan Roh Kudus mengundang dan membuat kita dapat merasakan hal ini sebagai suatu realitas yang nyata. Bukan hanya sekedar teori (lih. ‘Pencurahan Roh Kudus, Hidup Dalam Roh, edisi Januari-Pebruari 1997).

 

Karunia Berbahasa Roh

Salah satu buah dari Pencurahan Roh Kudus adalah kerinduan untuk bertumbuh dalam hidup doa. Dengan kata lain, kerinduan untuk memilik hubungan yang lebih dekat lagi dengan Allah. Allah terlebih dahulu mencintai manusia supaya manusia dapat membalas cintaNya itu. Kalau Dia mengetahui ada manusia yang ingin lebih dekat kepadaNya, menyerahkan diri sepenuhnya dalam bimbingan RohNya, maka dengan senang hati Allah akan menolong. Di antara pertolongan yang diberikan Allah adalah karunia berdoa dalam bahasa roh. Karunia ini biasanya memang diberikan setelah seseorang menerima Pencurahan Roh Kudus (bdk. Kis 2:4; 11:46).

 

Karunia-Karunia Roh Kudus

Seperti sudah dikatakan, Pembaruan Karismatik membuat kita dapat mengalami bimbingan Roh Allah secara nyata, bimbingan itu diwujudkan oleh Roh Kudus melalui berbagai karuniaNya yang dilimpahkan kepada kita (bdk. 1 Kor 12:8-11)

Pembaruan Karismatik Katolik juga merupakan usaha untuk membawa kehidupan Gereja seperti pada zaman para rasul sehingga kuasa yang dialami Gereja Awali juga bisa dinyatakan dalam zaman modern ini. Atau sebagaimana Paus Yohanes XXIII berdoa pada permulaan Konsili Vatikan II, bahwa kita akan mengalami Pentakosta baru di zaman ini.

Pembaruan Karismatik ini tetap dapat disebut “Katolik” karena empat hal yang utama, yaitu:

 

  1. Ekaristi tetap merupakan pusat semua doa dan pujian kepada Bapa.
  2. Pengalaman Pentakosta membangunkan kembali penghargaan akan sakramen-sakramen dan devosi yang sehat kepada Bunda Maria.
  3. Di samping pelbagai karunia dan kuasa Roh Kudus, Pembaruan Karismatik Katolik juga memelihara dan sekaligus mendapatkan makanannya dari pengajaran Gereja, khususnya tradisi teologi asketis (penyangkalan diri dan lain-lain) dan mistik yang dikarang oleh para pujangga Gereja dan para kudus.
  4. Pembaruan Karismatik Katolik menempatkan dirinya secara penuh di bawah para Uskup.

Reaksi Hierarki Katolik Terhadap Pembaruan Karismatik Katolik

Pada permulaannya, para Uskup bersikap menanti, membiarkan saja tanpa melarang, tetapi juga tidak merestui. Namun dalam perkembangannya yang pesat selama hampir 30 tahun ini, para Paus, yaitu Paus Paulus VI dan Paus Yohanes Paulus II, telah memberikan dukungan yang positif terhadap Pembaruan Karismatik Katolik. Dalam ‘Dokumen 109 Uskup Amerika Latin mengenai Pembaruan Karismatik Katolik’, yang dikeluarkan pada tahun 1987, disebutkan dalam nomor 90b, bahwa salah satu sumbangan positif dari Pembaruan adalah membawa kegembiraan rohani, yang pada zaman sekarang ini begitu perlu dan juga suatu entusiasme untuk kerasulan dan persekutuan-persekutuan doa. Konperensi Waligereja Indonesia (KWI) dalam sidangnya Bulan Nopember 1993, mengeluarkan Surat Gembala mengenai Pembaruan Karismatik Katolik yang berjudul: ‘Aneka Karunia Satu Roh’. Kemudian pada tahun 1995, KWI juga mengeluarkan suatu buku pedoman Karismatik Katolik yang berjudul: ‘Pembaruan Hidup Kristiani sebagai Karunia Roh’. Kedua dokumen ini memberikan dukungan dan restu kepada Pembaruan Karismatik Katolik.

 

Tujuan Pembaruan Karismatik Katolik

Pembaruan Karismatik Katolik bertujuan untuk ikut berperan serta dalam memperbarui Gereja. Pembaruan Karismatik Katolik, yang digerakkan oleh Roh Kudus, merupakan salah satu jalan yang dipakai oleh Roh Kudus untuk memperbarui Gereja. Gereja yang dicita-citakan adalah Gereja yang setiap anggotanya merupakan seorang Kristen yang penuh dengan iman dan Roh Kudus (bdk. Kis 6:5), menghayati sakramen-sakramen dan Kitab Suci, serta hidup menurut ajaran Gereja.

Roh Kudus tidak menghendaki Pembaruan Karismatik Katolik terisolir dalam Gereja tetapi hendaknya Pembaruan Karismatik menjadi ragi bagi seluruh Gereja.

Untuk mencapai tujuan ini, didirikanlah kelompok-kelompok doa di paroki-paroki. Dari Pembaruan ini pula muncul berbagai komunitas hidup Kristiani, antara lain ‘Komunitas Tritunggal Mahakudus’. Apa sebenarnya kelompok doa itu? Marilah kita lihat penjelasan singkat tentang hal ini.

 

Kelompok Doa

Kelompok doa merupakan sekelompok orang yang bertemu pada waktu-waktu tertentu untuk memuji Tuhan, memohon pengampunan atas dosa-dosa, menyampaikan doa-doa permohonan serta mendengarkan Sabda Tuhan. Kelompok doa memberi tempat yang penting pada Pencurahan Roh Kudus dan penggunaan karunia-karunia Roh Kudus, baik dalam persekutuan doa maupun dalam doa pribadi sehari-hari.

Ciri-ciri yang seharusnya dimiliki oleh sebuah Kelompok Doa Karismatik Katolik:

  1. Menerima Ekaristi sebagai sarana utama untuk memuji Tuhan. Maka dari itu, persekutuan doa tidak pernah berfungsi sebagai pengganti Ekaristi.
  2. Menerima doktrin-doktrin yang diajarkan oleh Gereja Katolik.
  3. Taat kepada Uskup setempat dan mau menerima bimbingan dari imam. 


Hal-hal yang ditawarkan Kelompok Doa Karismatik Katolik bagi kehidupan Gereja:

  1. Suasana tempat orang dapat bertumbuh dalam kehidupan rohaninya.
  2. Suasana tempat orang bisa membawa orang lain kepada Tuhan.
  3. Suasana tempat orang ingin melewatkan waktu cukup lama untuk berdoa, sharing, dan belajar tentang kerohanian.
  4. Kesempatan untuk mendapatkan ajaran atau bimbingan rohani yang lebih dalam.


Peranan Kelompok Doa Karismatik Katolik Bagi Pembaruan Karismatik Katolik

Kelompok Doa Karismatik Katolik memainkan peranan yang amat penting dalam Pembaruan Karismatik Katolik. Pembaruan Karismatik Katolik tak mungkin berlangsung tanpa kelompok doa. Peran itu antara lain:

  1. Lewat Kelompok Doa Karismatik Katolik, jumlah orang yang terlibat dalam Pembaruan Karismatik bertambah.
  2. Kelompok Doa Karismatik Katolik membawa anggota-anggotanya pada Pencurahan Roh Kudus dan pelayanan Gereja atau Paroki.
  3. Kelompok Doa Karismatik Katolik memperkenalkan karunia-karunia Roh Kudus kepada anggota-anggotanya dan mengajarkan bagaimana menggunakannya dengan benar.
  4. Kelompok Doa Karismatik Katolik mendorong anggota-anggotanya untuk menjalani hidup dalam Roh Kudus secara nyata dan konkret.


Para Pembaca yang terkasih, itulah sedikit penjelasan tentang Pembaruan Karismatik Katolik yang sampai sekarang masih sering disalah-tafsirkan dalam kehidupan Gereja kita. Semoga apa yang ditulis dalam penjelasan ini dapat membantu para Pembaca semuanya. 

www.carmelia.net © 2008
Supported by Mediahostnet web hosting