Print
Hits: 5277

User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active
 

Pembaharuan karismatik telah memberikan suatu fenomena baru dalam Gereja Katolik dewasa ini terutama bagi mereka yang terbuka terhadap karisma-karisma Roh Kudus. Hal ini memperlihatkan apa yang telah diungkapkan oleh nabi Yoel :

"Kemudian dari pada itu akan terjadi, bahwa Aku akan mencurahkan Roh-Ku ke atas semua manusia maka anak-anakmu laki-laki dan perempuan akan bernubuat; orang-orangmu yang tua akan mendapat mimpi, teruna-terunamu akan mendapat penglihatan-penglihatan. Juga ke atas hamba-hambamu laki-laki dan perempuan akan Kucurahkan Roh-Ku pada hari-hari itu." (Yoel 2:28-29)

Dalam pembaharuan ini banyak orang mengalami sentuhan dan jamahan kasih Allah melalui karisma-karisma Roh Kudus, seperti yang disebutkan oleh rasul Paulus dalam 1 Kor. 12:7-11, antara lain: nubuat, sabda pengetahuan, penyembuhan, mukjizat dan sebagainya. Suatu karya Roh Kudus yang indah dan berharga, sehingga banyak orang mengalami pembaharuan dalam hidupnya dan mengalami perjumpaan pribadi dengan Tuhan Yesus, oleh karena kuasa Roh Kudus yang bekerja melalui karisma-karisma itu. Karisma-karisma ini sangat berharga dan penting untuk pelayanan yang membuat pelayanan menjadi efektif dan menyentuh hati orang secara langsung. Demikian juga dengan pewartaan atau pengajaran menjadi sangat efektif, apabila disertai karisma-karisma Roh Kudus yang menyertainya, sehingga pewartaan itu akan langsung diteguhkan oleh karisma-karisma itu.

Karisma ini sesungguhnya bukanlah hal yang luar biasa, tetapi merupakan hal yang biasa yang seharusnya menyertai kehidupan Gereja yang normal. Karisma-karisma itu mau menyatakan bahwa Yesus sungguh-sungguh hidup dan Allah mau terlibat secara langsung dengan kehidupan manusia. Dari banyak kesaksian, banyak orang dewasa ini mengalami pertolongan Tuhan dan dapat kembali kepada Tuhan dan Gereja, karena jamahan Tuhan melalui karisma-karisma Roh Kudus itu.

Karisma-karisma Roh Kudus ini merupakan karunia pelayanan dan tidak secara otomatis menunjukkan kesucian seseorang. Tuhan dapat memakai siapa saja seturut rencana kehendak-Nya. Dia dapat memakai "bejana-bejana tanah liat", supaya nyata bahwa kekuatan yang berlimpah-limpah itu berasal dari Allah, bukan dari manusia (bdk. 2 Kor. 4:7).

Dalam fakta sejarah dapat dijumpai bagaimana orang-orang yang dipakai dengan karisma yang luar biasa, ternyata dapat mengalami kejatuhan. Ada yang jatuh dalam godaan kesombongan, misalnya: merasa diri mempunyai "power" yang besar, penuh dengan Roh Kudus. Dan yang lain jatuh dalam penyimpangan karisma-karisma itu, misalnya melakukan penipuan-penipuan atas nama pelayanan, jatuh dalam ekses-ekses tertentu yang tidak sehat, motivasi yang tidak murni dan sebagainya.

Di sini kita akan melihat fakta-fakta kejatuhan itu, bukan untuk mengadili, tetapi untuk mempelajari dan membuat kita waspada terhadap kejatuhan-kejatuhan serupa. Kita sebagai manusia lemah, tanpa rahmat dan perlindungan Tuhan tidak akan terluput dari kejatuhan-kejatuhan ini, bahkan mungkin lebih parah. Oleh karena itu, hanya kerahiman Allah yang dapat menjauhkan kita dari godaan-godaan ini.

Beberapa contoh konkret dapat dilihat mulai dari bilangan para rasul, bagaimana Yesus suatu ketika mengutus ketujuh puluh murid-Nya untuk pergi berdua-dua melakukan pekerjaan-pekerjaan Tuhan. Kemudian ketika mereka kembali, mereka menyatakan bahwa setan-setan pun takluk kepada mereka (bdk. Luk. 10:1-11; 17-20). Akan tetapi di antara para murid ini, dapat dijumpai kejatuhan Yudas Iskariot yang mengkhianati Gurunya dan Petrus yang menyangkal Gurunya. Yudas tidak bertobat sedangkan Petrus bertobat oleh kerahiman Allah dan Tuhan tetap mau memakai Petrus bahkan menjadikan dia sebagai pimpinan Gereja.

Kasus-kasus penyimpangan juga terjadi di kalangan Gereja lain. Ada pasangan suami-istri hamba Tuhan di Amerika Serikat yang dalam perjalanan waktu telah melakukan penyimpangan dalam pelayanan mereka dan akhirnya terbongkar. Sang suami setelah berkotbah, biasanya melanjutkan dengan doa-doa dan memakai sabda pengetahuan, tetapi akhirnya terbongkar bahwa rupanya dia memasang mikrofon di telinganya, sedangkan istrinya dari luar menyebutkan kebutuhan-kebutuhan doa yang telah dicatat umat lebih dahulu. Tentu ini sebuah penipuan berkedok sabda pengetahuan.

Demikian juga banyak terjadi ekses dalam pelayanan dengan mengatasnamakan doa pembebasan. Ada pelayanan-pelayanan, baik secara perorangan maupun kelompok, cenderung jatuh dalam ekses melihat setan di mana-mana, sehingga pelayanan mereka bukan membawakan damai sejahtera, tetapi membawakan kegelisahan dan ketakutan. Bahkan ada seorang pelayan doa pembebasan dan penyembuhan batin yang menuliskan buku yang cukup sehat. Dalam buku itu dia menyoroti dan memberikan contoh kasus-kasus, bagaiman hamba-hamba Tuhan tertentu karena tidak bisa membeda-bedakan kebutuhan antara doa pembebasan atau penyembuhan batin dan cenderung main hantam langsung mendiagnosa bahwa orang yang didoakan butuh doa pembebasan. Hal ini disebabkan karena ada kebiasaan melihat setan di mana-mana, sehingga pelayanan itu seringkali merugikan dan berdampak negatif.

Contoh konkret dapat juga kita temui dalam kelompok yang beroperasi sampai saat ini. Dari pengalaman konseling-konseling yang kami terima, kami sering mendapat masukan tentang kelompok yang beroperasi itu, cenderung melihat setan di mana-mana, terutama mereka melihat setan di permata-permata, barang-barang antik dan sebagainya. Kemudian mereka dengan begitu meyakinkan meminta barang-barang itu untuk "dibebaskan". Tentu ini tidak benar sehingga lebih tepat disebut tindakan kriminal, yang menipu atas nama pelayanan doa pembebasan. Padahal dalam praktik yang benar, kalau seandainya benar-benar ada jimat berupa barang-barang berharga, cukuplah didoakan untuk menetralisir barang tersebut atau mematahkan ikatan yang ada pada barang tersebut, lalu barang berharga itu dapat dikembalikan kepada pemiliknya. Akan tetapi bukan semua permata atau barang antik, dianggap ada setannya, tentu ini ekses dan tindakan kriminal.

Contoh-contoh lain pelayanan yang merugikan dan tidak sehat cukup banyak. Akan tetapi bila dilihat secara keseluruhan maka ekses-ekses ini dibandingkan buah-buah indah yang dihasilkan pelayanan dengan karisma Roh Kudus yang sungguh-sungguh sehat dan benar maka ekses-ekses itu hanyalah prosentase kecil. Lalu bagaimana semangat yang benar, agar pelayanan dengan karisma Roh Kudus dapat menjadi sungguh-sungguh efektif dan aman, juga berguna baik bagi orang yang dilayani maupun yang melayani?

Ada 5 unsur yang perlu menyertai pelayanan dalam karisma Roh Kudus :

1. Pengertian yang benar dan sehat

2. Pertimbangan akal budi yang sehat

3. Kelepasan

4. Kerendahan hati

5. Cinta kasih

1. Pengertian yang benar dan sehat

Sebelum orang terjun dalam pelayanan dengan karisma Roh Kudus, pertama-tama orang perlu mempelajari dan mengerti dengan baik, bagaimana pelayanan yang benar dan sehat yang berkaitan dengan karisma-karisma itu. Oleh karena itu orang dapat belajar dari buku-buku atau orang lain atau kelompok yang pelayanannya sehat dan dapat dipertanggungjawabkan. Jikalau yang dipelajari keliru maka akan berakibat keliru juga.

2. Pertimbangan akal budi yang sehat dan seimbang

Keterbukaan pada karya dan bimbingan Roh Kudus melalui karisma-karisma Roh Kudus perlu diimbangi dengan pertimbangan budi yang sehat. Kadang-kadang dijumpai pelayanan yang "aneh-aneh" seperti yang disebutkan di atas, yang mengatasnamakan pelayanan dengan karisma Roh Kudus. Maka seharusnya apabila orang memakai pertimbangan budi yang sehat, yang disertai dengan “discernment” maka seharusnya ekses-ekses itu tidak perlu terjadi. Misalnya : apabila ada kecenderungan melihat setan di mana-mana maka jelas ini tidak benar. Sebagai orang Kristen kita percaya akan adanya realitas roh jahat, tetapi kita seharusnya lebih menyadari kehadiran Tuhan di mana-mana dan berusaha mengarahkan hati kepada Tuhan, bukan melebih-lebihkan kehadiran setan. Maka di sini penting menggunakan pertimbangan budi yang sehat.

3. Kelepasan

Santo Yohanes Salib menekankan pentingnya semangat kelepasan, juga termasuk kelepasan pada barang-barang rohani, termasuk karisma. Seperti yang dikatakan SantoYohanes Salib : "Jika engkau memiliki, milikilah tanpa keinginan." Semangat ini sangat penting karena jika orang melayani janganlah dia melayani didorong hawa nafsu atau keinginannya sendiri. Pelayanan itu harus didorong sebagai pelaksanaan kehendak Allah. Di samping itu, kelekatan pada karisma-karisma akan membawa orang jatuh pada cacat cela lainnya, seperti kesombongan rohani, kerakusan rohani dan sebagainya.

Kelekatan pada karisma akan membuat orang cenderung mengejar prestasi dan sukses dalam pelayanan. Ada ungkapan indah dari Beata Teresa dari Kalkuta, agar kita tidak melekat pada kesuksesan dalam pelayanan : "Saya diciptakan bukan untuk kesuksesan, tetapi untuk kesetiaan". Pada awal orang melayani sering kali orang masih mencari dan menemukan kepuasan atau kesuksesan, tetapi dalam perjalanan waktu, ketika orang mulai mengalami kebosanan dan kejenuhan, dia harus berjalan dalam kesetiaan dan ketekunan.

Untuk menghindari kelekatan ini orang harus sadar bahwa karisma ini hanya sarana bukan tujuan. Tujuan pelayanan dengan karisma ini adalah agar Allah semakin dikenal dan dikasihi. Karisma adalah sarana yang efektif untuk menghantar orang kepada Allah, jadi Allahlah yang harus menjadi tujuan.

4.Kerendahan hati

Dalam pelayanan dengan karisma Roh Kudus, orang dapat digoda menganggap diri hebat, memiliki "power" yang besar atau orang dapat menjadi lupa daratan karena "kesuksesan" pelayanan dan sebagainya. Untuk itu kita perlu melihat teguran Santo. Paulus kepada umat di Korintus :

"Sebab siapakah yang menganggap engkau begitu penting? Dan apakah yang engkau punyai, yang tidak engkau terima? Dan jika engkau memang menerimanya, mengapakah engkau memegahkan diri, seolah-olah engkau tidak menerimanya?" (1 Kor. 4:7)

Oleh karena itu, pelayanan ini perlu berakar pada kerendahan hati, yang merupakan pondasi segala kebajikan. Tanpa kerendahan hati, pelayanan itu menjadi begitu labil dan berbahaya. Banyak orang yang pada awal mula dipakai Tuhan dengan kuasa yang luar biasa, tetapi dalam perjalanan waktu orang tidak tahan dengan godaan kesombongan, sehingga akhirnya pelayanan itu tiba-tiba menjadi runtuh begitu dahsyat.

Kerendahan hati ini berarti kesadaran bahwa Allahlah yang mengerjakan segala pelayanan itu dan kita hanyalah alat di tangan-Nya, seperti yang dinyatakan oleh Santo.Paulus:

"Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya."(Flp. 2:13)

Jikalau kita mengalami keberhasilan, harus disadari bahwa kita hanyalah "keledai Kristus". Ketika Yesus masuk Yerusalem, Dia menunggangi keledai. Maka ketika penduduk Yerusalem mengeluk-elukan, yang dieluk-elukan adalah Yesus, bukan keledainya.

Aspek kerendahan hati lainnya ialah sebuah kesadaran bahwa karisma itu milik Allah. Allahlah yang mempunyai karisma itu dan karisma itu dipinjamkan kepada kita. Karena Allah yang mempunyai maka hubungan pribadi dengan Allah harus menjadi dasar karisma. Apabila tidak ada hubungan pribadi dengan Allah maka karisma itu dapat berkurang dan lenyap.

Akhirnya setelah melakukan segala pelayanan, seperti yang diajarkan Yesus sendiri, hendaknya semangat kerendahan hati selalu menjiwai kita :

“Demikian jugalah kamu. Apabila kamu telah melakukan segala sesuatu yang ditugaskan kepadamu, hendaklah kamu berkata: Kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang kami harus lakukan." (Luk. 17:10)

5. Cinta kasih (diambil dari Statuta KTM 2005 no. 67)

Orang yang melakukan pelbagai macam pelayanan dengan karisma Roh Kudus, hendaknya selalu mengutamakan hubungan pribadinya dengan Tuhan dalam iman dan cinta kasih. Nilai seseorang di hadapan Tuhan tidak tergantung dari banyaknya karisma yang dipakai, melainkan dari kadar cinta kasih yang menjiwai seluruh hidup dan pelayanannya. Seperti dikatakan Santo Yohanes Salib: "Pada akhir hidup kita, kita akan diadili menurut cinta kasih".

Orang yang melayani dalam karisma Roh Kudus hendaknya selalu ingat akan "Pedoman Emas" yang diberikan Santo Paulus dalam 1 Kor. 13:1-3 sehubungan dengan pelayanan dan penggunaan karismata.

"Sekalipun aku dapat berkata-kata dengan semua bahasa manusia dan bahasa malaikat, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama dengan gong yang berkumandang dan canang yang gemerincing. Sekalipun aku mempunyai karunia untuk bernubuat dan aku mengetahui segala rahasia dan memiliki seluruh pengetahuan; dan sekalipun aku memiliki iman yang sempurna untuk memindahkan gunung, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama sekali tidak berguna. Dan sekalipun aku membagi-bagikan segala sesuatu yang ada padaku, bahkan menyerahkan tubuhku untuk dibakar, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, sedikitpun tidak ada faedahnya bagiku.” (1 Kor. 13:1-3)

Harus juga diperhatikan Sabda Tuhan yang bunyinya: "Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga." (Mat. 7:21)

Hal ini harus sungguh diperhatikan, agar pada hari pengadilan jangan sampai kita mendengar Sabda Tuhan ini: "Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepadaKu: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mukjizat demi nama-Mu juga? Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!" (Mat. 7: 22-23)

Sebaliknya bila kita melayani dalam semangat kasih yang sejati maka pada akhir hidup, kita boleh berharap mendengar sabda Tuhan yang berikut ini: "Maka kata tuannya itu kepadanya: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; engkau telah setia dalam perkara kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu." (Mat. 25:21)