User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active
 

     PD tidak identik atau tidak sama dengan pembaharuan karismatik Katolik (PKK), tetapi Persekutuan Doa merupakan suatu unsur pokok dalam PKK. Sebetulnya bila kita bicara tentang PD, ada macam-macam PD yang boleh dikatakan suatu persekutuan, tetapi bukan melulu kharismatik. Sekarang akan dibahas PD yang disebut kharismatik.

     Seringkali PD kharismatik dinilai dari apa yang tampak secara lahiriah, misalnya bernyanyi dengan bertepuk tangan, manari-nari, dsb. Semua itu bisa ada di dalam PD kharismatik, tetapi belum tentu PD itu kharismatik, karena itu tidak bisa dinilai dari apa yang tampak secara lahiriah. Kita harus menilainya dari segi-segi yang hakiki.

PD disebut kharismatik:

  • Bila Roh Kudus mengambil peranan yang nyata di dalamnya.
  • Bila PD betul-betul dibimbing dan dikuasai oleh Roh Kudus.
  • Bila di dalamnya ada juga manifestasi-manifestasi Roh Kudus, di mana kharisma-kharisma Roh Kudus berkembang dalam PD itu.

Unsur-unsur dari PD ini tidak mutlak, tetapi umumnya ada dalam PD kharismatik.

Ciri khas PD kharismatik :

  • Tidak mempunyai struktur yang ketat,  jadi tidak ada urutan yang mutlak.
  • Ada semacam keterbukaan dan kepekaan terhadap dorongan dan bimbingan Roh Kudus.
  • Sehingga bisa dibayangkan suatu PD, suatu saat hampir seluruhnya unsur pujian, yang menonjol sekali, mungkin suatu saat dibawa ke pertobatan, atau lain kali untuk mendoakan orang, dsb. Jadi ada unsur-unsur yang bisa berubah-ubah yang mempengaruhi dan membentuk PD itu, tetapi dalam unsur-unsur itu ada unsur yang konstan, yang tetap, ialah bahwa Roh sendirilah yang memimpinnya.

Tetapi dapat disimpulkan ada unsur-unsur yang selalu kembali, unsur-unsur itu adalah sbb :

Doa Pujian

Salah satu ciri khas PKK ialah doa pujian, pujian ini dapat berupa :

  • Pujian serentak bersama-sama, di mana kita memuji Tuhan bersama-sama.
  • Pujian yang diungkapkan oleh orang sendiri-sendiri, di mana seorang mengungkapkan pujiannya yang lain mendengarkan, lalu dalam doa yang sendiri-sendiri itu harus diusahakan pujiannya baik dan diilhami oleh Roh.
  • Pujian itu juga bisa dalam bentuk suatu yang disebut bisikan doa, dalam arti suatu ketika dalam suasana hening, tetapi bukan hening total,  semua berbisak-bisik berbicara kepada Tuhan. Hal ini menciptakan suatu suasana tersendiri, ini yang disebut bisikan doa.


Bacaan Kitab Suci

     Dalam PD perlu membawa KS. Kalau seorang terdorong untuk membacakan sesuatu dari KS pada saat PD, entah itu yang mungkin menyentuhnya pada waktu itu, atau pada waktu itu orang mendapat dorongan untuk membacakan suatu ayat, yang mungkin bukan untuk dirinya sendiri, tetapi untuk orang lain. Dengan demikian kita diperkaya satu sama lain. Pembacaan KS ini hanya beberapa kalimat saja, jangan panjang-panjang, karena akan mengganggu.

Madah atau Lagu Pujian

     Dalam PD harus ada lagu-lagu, sebenarnya lagu ini mempunyai pengaruh yang besar, tergantung dari lagunya itu menciptakan suasana, karena itu pemimpin persekutuan haruslah peka terhadap suasana, peka terhadap dorongan Roh, juga di dalam memilih lagu-lagu. Kepekaan memilih lagu untuk menciptakan suasana sangat perlu.

Doa dan senandung di dalam Roh

     Kalau sungguh baik dan harmonis, maka nyanyian dalam Roh menimbulkan suasana sakral, suasana kehadiran Tuhan, suatu kehadiran Tuhan yang bisa dialami, sehingga orang merasa disegarkan. Kalau mutu PD itu baik, maka orang dengan senang akan mengikuti, tetapi kalau tidak lama-lama membosankan juga.

Manifestasi atau pernyataan-pernyataan Roh Kudus

     Baik dalam rupa Nubuat, atau pengajaran yang diilhamkan, di samping ada pengajar yang ditunjuk, mungkin seorang terdorong membaca KS, setelah itu memberikan komentar, pengajaran yang spontan, bila ini sungguh diilhamkan, ini sangat membangun dan sungguh bernilai. Itu tidak meniadakan pengajaran yang telah disiapkan, tentu ini tidak boleh panjang-panjang.

     Pengajaran yang diilhamkan ini bisa sangat indah sekali. Kadang-kadang orang yang sederhana bisa dipakai Tuhan, sehingga bisa memberikan pengajaran yang sangat menyentuh bagi yang lain. Oleh karena itu di sini harus dijaga kadang-kadang ada orang yang memang hobinya mengajar, yang merasa tiap kali terdorong untuk memberi nasihat kepada yang lain, orang seperti ini harus belajar mengekang diri, karena kalau itu bukan dorongan Roh Allah, dia bukan membangun, tapi merusak.

     Maka kalau demikian pemimpinnya harus mendekati orang itu, supaya lain kali jangan terlalu mudah memberikan nasihat dan macam-macam. Tetapi dalam PD, kita bisa menguji dan melihat, orang yang betul diilhami, biasanya disambut dengan senang oleh yang lain-lain. Tapi orang yang punya hobi tiap-tiap kali memberi nasihat, yang lain merasa jemu. Hal ini harus dicegah. Peranan pemimpin di sini diperlukan, mungkin suatu ketika harus mendorong orang yang diberi karunia, tetapi masih takut-takut, di pihak lain mengerem yang sering memberi nasihat.

Kesaksian

     Dalam PD orang dapat memberikan kesaksian tentang pengalamannya, tentang karya Allah di dalam dirinya atau yang dilihatnya. Tetapi kesaksian ini juga perlu diperhatikan cara membuatnya, jangan terlalu panjang, singkat, jelas dan padat. Sebagai patokan umumnya kesaksian, kecuali yang sangat istimewa, ialah dalam waktu 5 menit. Jadi kesaksian itu jangan untuk menonjolkan diri sendiri, tetapi tujuan kesaksian itu untuk menonjolkan karya Tuhan dan akhirnya memuliakan Tuhan. Umumnya kesaksian itu untuk menunjukkan bagaimana Tuhan berkarya, misalnya penyembuhan, bagaimana sebelumnya dan bagaimana sesudahnya, sehingga di situ jelas Tuhan yang berkarya.

     Kesaksian ini penting, kesaksian yang benar dan jujur akan membangun, tetapi yang tidak benar justru merusak atau merugikan. Karena itu jangan sekali-kali memberikan kesaksian palsu atau dibuat-buat, padahal tidak ada apa-apa, karena nanti kalau ketahuan kebenarannya, efeknya akan negatif sekali dan membuat orang sama sekali tidak percaya. Tuhan hanya dimuliakan berdasarkan kebenaran, bukan isapan jempol. Kadang-kadang kesaksian itu singkat, kalau itu betul-betul, itu dapat membangun.

Pengajaran

     Pengajaran ini memang penting, karena itu memberikan arah di dalam suatu persekutuan, di dalam suatu kelompok. Mengingat pentingnya pengajaran, maka juga penting siapa yang mengajar, karena siapa yang mengajar juga akan mempengaruhi arahnya. Misalnya : yang mengajar orang yang suka menghasut, maka kelompok akan terhasut juga. Kalau yang mengajar tidak percaya pada sakramen-sakramen, maka lama-lama tidak ada yang peduli lagi kepada sakramen-sakramen, padahal ini suatu sumber kehidupan. Kalau yang mengajar tidak percaya kepada bunda Maria, lalu bisa menimbulkan hal-hal yang berlawanan.

     Sebaliknya bila yang mengajar betul-betul dipenuhi Roh, imannya mendalam, ia akan membawa orang untuk bangkit, membawa orang untuk lebih mengabdi Tuhan. Di sini peranan mengajar penting, tapi bila dibandingkan dengan nubuat, menurut St. Paulus, maka nubuat mempunyai kekuatan lebih besar daripada pengajaran, kecuali bila pengajaran itu pengajaran yang diilhamkan, itu betul-betul membawa orang kepada Tuhan.

     Dari unsur-unsur  di atas kita lihat adanya karisma-karisma Roh Kudus, dan karisma-karisma Roh Kudus di dalam PD Kharismatik harus berkembang secara wajar. Sehingga suatu PD dapat disebut betul-betul kharismatik, kalau karisma-karisma Roh Kudus ini berkembang dengan baik, sedangkan kalau tidak, maka berarti belum.

     Dan dimensi kharismatik dari persekutuan akan tampak dan bisa dialami dari beberapa hal, misalnya dimensi itu akan nyata kalau kelompok itu berdoa atau bernyanyi dalam bahasa Roh dengan sungguh-sungguh secara harmonis. Berdoa atau bernyanyi dalam bahasa Roh ini itu juga harus melihat dan memperhatikan yang lain pula, karena kadang-kadang, apalagi kalau itu baru mulai, yang satu nyanyi dengan keras dan nadanya sumbang, maka orang yang demikian itu perlu didekati, supaya lain kali ikut yang lain dengan pelan-pelan. Sebaliknya ada orang tertentu orang yang menyanyi dalam roh begitu indah, tapi tidak berani keras-keras, sehingga perlu didorong untuk menyanyi lebih keras. Nyanyi dalam Roh ini membangun dan menciptakan suasana kehadiran Allah daripada orang hanya puji-pujian atau bertepuk tangan saja.

     Dimensi kharismatik akan nyata, bila kelompok bersama-sama mendengarkan nubuat. Nubuat merupakan pesan Tuhan yang disampaikan oleh orang yang didorong untuk mengucapkan, maka baiklah yang lain mendengarkan dan menanggapi. Kalau misalnya nubuat itu sungguh menyentuh, maka bisa memuji Tuhan. Biasanya bila nubuat itu sungguh kuat, maka secara spontan kelompok itu memuji Tuhan atau berbahasa roh. Atau orang lain merasa mendapat nubuat yang sama, dikemukakan juga untuk meneguhkan dan menguatkan, bahwa itu bukan pikiran sendiri atau khayalan.

     Biasanya kalau nubuat itu penting, oleh Tuhan diberikan kepada beberapa orang, sehingga diungkapkan dengan cara yang berbeda, tetapi intinya sama. Maka ini juga akan menimbulkan suatu dimensi kharismatik. Namun pada umumnya dalam PD-PD kharismatik Katolik, nubuat itu masih sangat kurang sekali, bahkan banyak kelompok yang tidak ada nubuatnya, kalau ada nubuat semu. Oleh karena itu kita perlu belajar membuka diri terhadap nubuat, kita belajar bagaimana membuka diri, karena kalau tidak ada nubuat, umumnya bukan Tuhan tidak mau berbicara, tetapi karena kita sendiri belum atau tidak membuka diri, atau tidak tahu bagaimana membuka diri terhadap nubuat. Kita yang tidak siap menerimanya.

     Lalu kalau kita memuji Tuhan dengan sungguh-sungguh, itu dapat menimbulkan suatu dimensi kharismatik juga. Yang lain lagi ialah pengajaran yang diilhami, justru ini menunjukkan Roh Kudus betul-betul hadir, mungkin yang dikatakan ini pendek sekali, mungkin hanya 1-2 menit, kadang-kadang cukup dan betul-betul bisa menggerakkan, kadang-kadang 5 menit, tergantung inspirasi dan penyataan-pernyataan, inilah yang menimbulkan respon.

Apa manfaat yang bisa kita harapkan dari suatu persekutuan doa?

  • PD yang otentik akan mendorong para pesertanya untuk berdoa sendiri, juga mendorong dan membangun doa-doa pribadi.
  • PD yang sungguh akan memberi semangat kepada pesertanya, saling mendorong untuk lebih mengabdi dan saling mendorong untuk lebih mengenal Tuhan.
  • Di dalam PD seperti ini karunia-karunia Roh Kudus akan makin berkembang.
  • Dalam PD banyak bahaya bisa dihindari, yang akan dialami bila orang itu berjalan sendirian. Dengan saling membantu, saling meneguhkan, saling bertukar pengalaman, dsb, maka ada bahaya-bahaya tertentu yang bisa dihindari.

Dalam PD kita bisa menerima pengajaran-pengajaran.

     Bagaimana kita bisa menilai suatu PD, maksudnya untuk mengevaluasi supaya makin lama makin baik, atau untuk menghilangkan unsur-unsur yang kurang atau salah? Biarpun kita harus berkata, bahwa PD pertama-tama ialah suatu persekutuan yang dibimbing Roh Kudus, sehingga sukar untuk menilainya, namun Roh Kudus juga bekerja melalui manusia-manusia, dan karena itu sejauh ada kaitannya dengan unsur-unsur manusiawi, kita bisa memberikan suatu penilaian, sesuai yang dikatakan Paulus “Ujilah segala sesuatu”, karena tidak semua berasal dari Roh Kudus, bisa dari roh-roh lain.

PD bisa dikatakan baik, bila ada unsur-unsur berikut:

  • Banyak pujian dan syukurnya, bukan kumpulan doa permohonan, atau sharing saja. Unsur pujian dan syukur merupakan unsur yang penting.
  • Doa-doa itu diungkapkan dengan jujur dan secara sederhana, maksudnya kalau kita berdoa, kita mau memuji Tuhan secara jujur, tidak dibuat-buat, misalnya: suara yang dibuat bergetar, dibuat-buat seperti orang menangis, bertele-tele, dsb. Kadang-kadang ada orang yang demikian, ini tidak asli lagi dan dibuat-buat. Lain kalau orang itu begitu berdoa, merasa terharu dan suaranya tersendat-sendat, itu asli, bukan dibuat-buat. Jadi doa harus diungkapkan dengan baik, bukan untuk mengajar orang lain atau menasihati orang lain, ini doa yang tidak baik. Bila doa itu sungguh diilhami, walaupun panjang, maka itu akan mengangkat hati yang lain dan membawa orang kepada Tuhan.
  • Kalau anggota-anggotanya mengambil bagian secara aktif, tidak dimonopoli oleh orang-orang tertentu, yang tiap-tiap kali hanya orang-orang itu saja. Jadi kalau dimonopoli itu tandanya kurang baik.
  • Karunia-karunia betul-betul aktif, misalnya : nubuat, bahasa roh, sabda kebijaksanaan, sabda pengetahuan, dsb. Pada umumnya Tuhan ingin berbicara kepada kita, tetapi umumnya manusia tidak siap.
  • Mengalami kehadiran Allah. Ini sangat penting. Artinya sebagian besar dari umat yang hadir merasa sungguh mengalami kehadiran Allah, sehingga orang bisa membedakan persekutuan ini beda dengan persekutuan yang lain atau minggu ini sungguh bagus, minggu berikutnya kurang. Pada umumnya kalau orang sebagian besar mengalami kehadiran Allah saat persekutuan, ini tandanya sungguh baik. Tetapi kalau dalam PD orang tidak mengalami kehadiran Allah, maka ini membosankan.

Supaya lebih jelas perbedaannya, maka berikut tanda-tanda bahwa PD kurang baik :

  • Kalau PD tersebut menjadi suatu “song festival”nyanyi terus dari permulaan. Nyanyian baik, tetapi kalau di luar proporsi itu kurang baik. Tidak ada pernyataan Roh, tidak ada nubuat, hanya nyanyi terus.
  • Terlalu banyak pengajaran  atau sharing yang lama. Sehingga bisa dikatakan ini bukan PD, tetapi kelompok sharing, atau kursus pengajaran  tertentu. Pengajaran penting, tetapi proporsi harus seimbang.
  • Kalau karunia-karunia Roh Kudus tidak berkembang, sehingga membuat PD itu tidak stabil, anggota-anggotanya terus keluar-masuk.
  • Saat-saat hening (kalau ada) tidak hidup, tidak berisi. Ada dua saat hening, yaitu hening yang berisi dan yang lain hening yang kosong. Di satu pihak kita tidak boleh takut pada saat-saat hening, tetapi perlu peka apa ini hening berisi atau tidak.

Tidak ada rasa kehadiran Allah, tidak ada pengalaman kehadiran Allah yang menyegarkan.

Pemimpin persekutuan (MC)

    Umumnya di Indonesia yang menjadi pemimpin persekutuan (MC), sekaligus orang yang memimpin nyanyian atau pandai menyanyi. Sebetulnya harus dibedakan antara yang memimpin persekutuan dengan yang memimpin nyanyian, sehingga ada kemungkinan orang yang tidak bisa nyanyi, bisa memimpin persekutuan. Umumnya sampai sekarang yang memimpin persekutuan didominir oleh yang bisa menyanyi, padahal yang bisa menyanyi belum tentu mempunyai kepekaan terhadap Roh Kudus. Oleh karena itu, harus dibedakan, yang memimpin (MC) dicari orang yang peka terhadap dorongan dan bimbingan Roh Kudus, yang tahu kapan harus diam, kapan harus nyanyi, kapan membangkitkan sharing, kapan membangkitkan nubuat, dll.

     Dan kalau demikian yang memimpin (MC) itu harus betul–betul memimpin, dan yang menyanyi itu sifatnya membantu (singers) saja. Umumnya sekarang yang memimpin adalah orang yang bisa menyanyi, padahal tidak menutup kemungkinan orang yang tidak bisa menyanyi juga bisa memimpin persekutuan, tetapi dia memiliki kepekaan dalam memimpin persekutuan. Kepekaan ini jauh lebih penting daripada kalau kita bisa menyanyi saja. Di satu sisi memang dia harus dibantu oleh orang yang pandai menyanyi dan orang yang pandai menyanyi ini harus taat kepada pemimpin persekutuan ini. Dengan cara ini, maka persekutuan akan dapat lebih berkembang dengan baik, seperti yang dikatakan oleh St.Paulus, “Ada rupa-rupa karunia, tetapi satu tubuh”, saling melengkapi satu sama lain.

     Orang yang memimpin harus peka terhadap bimbingan Roh Kudus, bahkan berani “mengubah susunan” atau acara yang telah direncanakan. Artinya rencana yang sebelumnya kita siapkan terkadang dalam PD satu saat bisa berubah oleh dorongan Roh dan tidak menjadi patokan yang mutlak. Ini tidak berarti bahwa kita tidak mempersiapkan diri dan membuat rencana, sebab keliru juga, kalau orang tidak menyusun rencana, tetapi hanya menunggu bimbingan saja. Harus ada persiapan, baik dalam pujian, pengajaran, tetapi tidak dimutlakkan. Sehingga kita sewaktu-waktu bisa menyimpang dari yang telah direncanakan, sesuai dengan bimbingan Roh Kudus.

www.carmelia.net © 2008
Supported by Mediahostnet web hosting