Print
Hits: 15555

User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active
 

PENGANTAR 

Tantangan hidup yang kita alami di zaman modern ini semakin kompleks. Konflik, persaingan, kecemasan, kecurigaan, kebencian merupakan realitas konkrit yang setiap hari kita dihadapi. Stress, cemas, dan depresi berkembang sebagai penyakit-penyakit orang-orang modern. Orang menjadi lelah dan tak berdaya. Keterasingan terjadi, kehidupan batin pun menjadi kering.

Pembaharuan Karismatik Katolik juga menghadapi tantangan kehidupan dunia modern. “Tim Inti” dalam persekutuan doa mau tidak mau harus mempunyai persiapan seandainya ada seorang anggota persekutuan doa dengan segala permasalahan yang dihadapinya datang meminta pelayanan konseling. Diharapkan tim inti dapat memberikan bimbingan, pengarahan, dan dorongan bagi orang yang membutuhkan. Tanggung jawab ini tidak hanya terletak pada beberapa orang tertentu saja (imam, biarawan/wati), tetapi pada kita semua.

Kebutuhan pelayanan ini sangat mendesak, tetapi kita tidak boleh asal melayani saja. Diperlukan suatu pengetahuan yang cukup, baik mengenai dasar-dasar iman, Kitab Suci, juga hukum gereja. Hal lain yang penting bagi seorang konselor ialah ia mengetahui etika pelayanan konseling dan hal-hal yang perlu mengenai pelayanan ini. Tulisan ini bermaksud memberikan gambaran dan dasar yang perlu dimiliki oleh seorang konselor kristiani. Bagi Anda yang karena keadaan harus melayani pelayanan konseling diharapkan tulisan ini dapat membantu Anda dan orang yang Anda layani. Selamat melayani!


DASAR KITAB SUCI

Dalam Perjanjian Lama, kita dapat melihat contoh yang dapat dikatakan sebagai proses konseling. Misalnya, bagaimana Elihu memberi nasihat kepada Ayub di tengah-tengah penderitaannya; Malaikat Tuhan menolong nabi Elia, ketika ia kesepian dan putus asa di padang gurun; Daniel menasihati raja Nebukadnezar; Daud memainkan kecapi untuk menghibur Saul yang murung dan gelisah, dan sebagainya.

Sedangkan dalam Perjanjian Baru, Gereja diibaratkan sebagai Tubuh Kristus, persekutuan orang yang percaya. Mereka berbakti, berdoa, mengabarkan Injil, mengajar dan hidup saling tolong-menolong. Bahkan Tuhan Yesus mengatakan, bahwa tanda orang-orang percaya dan menjadi murid-Nya adalah jikalau mereka saling mengasihi (bdk. Yoh 13:35). Jelaslah, tanggung jawab orang-orang Kristen yang utama adalah untuk menolong orang lain. Dan sesuai dengan rencana Tuhan, Gereja menjadi kesatuan atau persekutuan dari orang-orang yang percaya dan oleh kuasa Roh Kudus diberi kuasa untuk melayani sesama, baik di dalam maupun di luar gereja. Jadi jelaslah, bahwa orang Kristen mempunyai tugas untuk pergi, menghibur, dan melayani orang lain dengan kasih dan konseling merupakan salah satu jalan.

Dalam suratnya kepada jemaat di Roma, Santo Paulus mengatakan, “Demikianlah kita mempunyai karunia yang berlain-lainan menurut kasih karunia yang dianugerahkan kepada kita: … jika karunia untuk menasihati, baiklah kita menasihati … hendaklah ia melakukannya dengan sukacita.” (Rm 12:6-8) dan “Karena itu nasihatilah seorang akan yang lain dan saling membangunlah kamu seperti yang memang kamu lakukan” (1 Tes 5:11) dan “…tegorlah mereka yang hidup tidak tertib, hiburlah mereka yang tawar hati, belalah mereka yang lemah, sabarlah terhadap semua orang.” (1 Tes 5:14)


ARTI KONSELING

Kata ‘konseling’ dalam bahasa Yunani diterjemahkan dalam 2 hal:

1.Bouleou yang artinya menasihati, berunding, konseling

2.Symbouleou yang artinya berkonsultasi, menasihati, berbicara bersama-sama, memberi atau menerima nasihat bersama-sama.

Jay E. Adams dalam bukunya “The Language of Counseling” dan “The Christian Counselor’s Wordbook” mengatakan bahwa konseling adalah suatu proses perubahan yang terjadi bila seorang kristen menolong sesamanya, agar menerapkan pada dirinya sendiri suatu analisa biblis atas persoalannya dan memecahkannya secara Alkitabiah dalam kuasa Roh Kudus.

Dilihat dari sejarahnya, sebenarnya konseling berkaitan erat dengan pemberian nasihat meskipun dalam kenyataannya tidak hanya memberi nasihat, dan juga pelayanan konseling tidak sama dengan berkhotbah. Pada abad ke-20, psikologi dianggap sebagai dasar konseling. Hal ini memang tidak salah, namun pengetahuan ini belum sempurna dan menyangkut banyak aspek yang tidak sesuai dengan kebenaran firman Tuhan. Mengapa? Kita ketahui bahwa hidup kristiani mempunyai pandangan dasar yang jelas tentang manusia yang kadang-kadang tidak dapat seiring sejalan dengan pandangan dasar psikologi tertentu, sehingga kita harus memperhatikan dan melihat unsur adikodrati dan pengalaman religius sebagai fakta atau fenomena yang mempengaruhi hidup manusia. Kita dapat mengunakan ilmu psikologi untuk melakukan pendekatan-pendekatan di dalam konseling. Jadi, psikologi hendaknya dipakai sebagai alat bantu untuk memahami kekayaan dan kedalaman pribadi manusia.

Arti konseling itu sendiri adalah pertolongan dalam bentuk wawancara yang mengharuskan adanya interaksi dan komunikasi yang mendalam antara konselor dan konseli dengan tujuan pemecahan masalah dan perubahan tingkah laku atau sikap serta pengendalian diri, mengembangkan kemampuan, menolong menjadi pribadi yang mantap.

Jadi, dapat dikatakan di sini bahwa konseling merupakan suatu hubungan timbal balik antara dua individu, yaitu konselor yang dipimpin Roh Kudus berusaha untuk menolong atau membimbing dalam mengaplikasikan kebenaran sabda Tuhan atas persoalan-persoalan hidup ini, dan konseli yang membutuhkan pengertian untuk mengatasi persoalan yang dihadapinya.


TUJUAN KONSELING

 Tujuan pelayanan konseling tidak lain merupakan pelayanan pewartaan kasih Tuhan, sehingga seorang konseli dapat menerima anugerah pulihnya hubungan kasihnya dengan Tuhan, dan dengan demikian untuk segala permasalahannya dapat dicari jalan keluarnya bersama Tuhan. Konkritnya, untuk memperkenalkan Tuhan sebagai Juruselamat dan penolong, sehingga konseli memperoleh hidup baru. Melihat hal ini, perlulah mengetahui tujuan konseling itu sebenarnya. 

 

Tujuan konseling antara lain:

 

CIRI DAN LANGKAH-LANGKAH DALAM KONSELING

Ciri dari konseling:

     Sehingga, perlu pula mengetahui langkah-langkah yang harus dilakukan dalam proses konseling:

  1. Membangun hubungan antara konselor dengan konseli.
  2. Mengingat bahwa seluruh proses konseling itu ditujukan bukan untuk sekedar melayani dan pemberian nasihat, tetapi lebih lagi untuk membimbing ke arah keutuhan manusiawi, maka proses konseling demi pertumbuhan itu tidak sesederhana seperti yang diduga. Maka, untuk memberikan pelayanan yang lebih efektif, haruslah diketahui antara lain:


MENELITI MASALAH

Sebelum seorang konselor menetapkan jawaban atau nasihat kepada seorang konseli, haruslah seorang konselor itu meneliti dan mengetahui permasalahan yang dihadapi seorang konseli, apa sebenarnya inti persoalannya. Karena biasanya kisah pengalaman yang diceritakannya itu bukanlah inti persoalan, tetapi lebih-lebih merupakan suatu symptom (gejala) yang kemudian terlihat sebagai akibat dari persoalan utama. Disini biasanya seorang konselor yang diperlengkapi dengan karunia hikmat Allah dapat lebih mudah mendeteksi masalah pokoknya, namun seringkali ia tidak mendapatkan kebenarannya, apabila konseli menyangahnya.


(Sumber: Buku Konseling Pastoral dan Pelajaran Konseling Sr. Agata, P. Karm)


(Bersambung …)